
Barra dan Rio semakin banyak berbicara mengenai bisnis. Ponsel Barra yang diletakkan di meja, bergetar namun tidak bersuara. Rio melihatnya dari kejauhan dan membaca nama si penelepon.
"Cassie boncil?" gumam Rio
Barra mendengar gumaman Rio, dia tidak tahu jika ponselnya bergetar. Kemudian Rio menunjuk dengan dagunya ke arah ponsel.
"Oh, hemm permisi pak, saya angkat dulu," Barra mengangkat telepon lalu beranjak dan sedikit menjauh.
"Hallo boncil," sapa Barra
"Pagi Om Bewok, lagi sibuk ga?"
"Ya masih jam kerja sih. Sekarang kan saya kerja di perusahaan papa kamu," ucap Barra setengah berbisik
"Loh kok bisa,"
"Ya ceritanya panjang,"
"Cassie mau pamit ke London pagi ini. Tapi kalau Om Bewok masih kerja sih yaudah kerja aja dulu,"
"Berangkat sama siapa sayang?"
"Sama Mama, Mbak Markonah gak ikut mau ngerawat anaknya dulu. Dia dapat kabar dari tantenya kalau anaknya sakit panas tinggi sama muntah-muntah udah dua hari, dikasih obat tapi belum membaik jadinya harus di opname," cerita Cassie
"Aduh semoga lekas sembuh buat anaknya mbak Mar. Jadi yang antar ini Mama? Pesawatnya berapa jam lagi berangkat?"
"Amiin ya semoga lekas sembuh, tadi Cassie juga udah jenguk anaknya, sekalian antar mbak Mar ke kampung. Satu jam lagi Om. Yaudah Cassie siap-siap dulu ya. Semangat kerja Om cayang...Muachh," Cassie memajukan bibirnya dan mendekatkan bibirnya di telepon. Dia mencium telepon seakan-akan itukah bibir Barra.
"Amiin, ya hati-hati juga ya boncil. Pasti semangat dong, km juga semangat ya....," Barra ingin membalas sun jauhnya. Namun di belakangnya ada Pak Rio
"Kiss nya mana? Kok gak dibales," Cassie menagihnya
"Utang dulu ya, ada papa kamu soalnya," bisik Barra
"Gak mau, kiss dulu!"
"Muuuach, udah kan??" ucap Barra "Hah lagi?....Muach," timpal Barra lagi.
Rio mendengar percakapan Barra di telepon, dia pun sedikit tertawa. Tak menyangka anak gadis satu-satunya sekarang sudah besar, sudah memiliki kekasih yang sangat baik. Rio juga bertekad ingin bertemu orang tua Barra untuk meminta maaf secara pribadi.
"Gak kerasa juga," sahut Barra
"Ahh kena dihati nih, siapa bilang gak kerasa. Nyatanya jantung Cassie langsung berdebar nih,"
"Ada-ada aja, sebelum berangkat kabarin lagi ya?"
Barra dan Cassie mengakhiri perbincangannya di telepon. Setelah itu Barra kembali duduk di sofa.
"Maaf pak agak lama, Cassie tadi ngasih tau katanya mau ke London pagi ini," jelas Barra
"Trus kenapa kamu masih disini,"
__ADS_1
"Ini perusahaan bapak, jadi kurang enak kalau baru masuk kerja trus langsung ijin,"
"Cassie itu kan anak saya, masak saya gak ijinin. Antar sana, nanti kalau kangen saya gak tanggung ya,"
"Jadi beneran boleh ni pak bos camer,"
"Iya boleh, tapi setelah itu kamu langsung ke kantor lagi ya,"
"Siap bos camer,"
Barra pun langsung pamit untuk mengantar Cassie ke London.
.
.
"Hallo," Dina menerima telepon dari seseorang dengan nomer yang tidak dia kenal.
"Hallo Bu Dina, untuk penawaran kemarin apakah masih ada? Jika masih bisakah kita bertemu pagi ini?"
Waduh pagi ini kan mesti ngantar Cassie. Jovan juga udah berangkat. Terima gak yah....batin Dina
"Bisa Bu Mayang, tetapi saya ini sedang di Jakarta, bukan di Bandung. Bagaimana kalau besok kita bertemu?"
"Wah kebetulan saya juga sedang di Jakarta. Saya bisanya sekarang Bu Dina,"
Akhirnya Bu Dina pun membuat janji temu untuk Bu Mayang, adalah anggota dewan pemerintahan yang juga memiliki bisnis yang terbilang sukses. Orang terkaya ke empat di kota Jakarta.
"Ya Ma, Cassie dah biasa kok sendiri," sahut Cassie
Dina mendekati Cassie yang senang memakai bedaknya secara tipis, lalu memeluknya dari belakang.
"Mama tiba-tiba dapat telepon dari orang penting sayang, dan orang itu bisanya bertemu pagi ini. Ayo dong sayang jangan cemberut," ucap Dina.
"Ya Ma..., Cassie ngerti kok Mama kan workaholic,"
Ting Tong
"Bentar ya Mama buka pintu dulu,"
Dina berjalan menuju ruang tamu dan membukakan pintu. Rupanya tamu yang saat ini hadir dihadapannya membuatnya sedikit malas.
"Kamu, mau ngapain?"
"Assalamualaikum Ma...," Barra ingin mengecup punggung tangannya tapi Dina sudah melipat kedua tangannya di depan, sehingga Barra pun sedikit membungkuk.
"Wa'alaikumsalam," jawab Dina lalu melengoskan wajahnya.
"Saya mau ketemu Cassie Ma, sekaligus mengantarnya ke Bandara,"
"Kamu gak kerja? Kok malah mau nganterin emang sekarang kamu sopirnya ya?" ucap Dina
__ADS_1
Eh tapi gak apa-apa sih kalo dia mau antarin, biar Cassie gak cemberut batin Dina
Barra tersenyum tipis sebelum menjawabnya, "Saya...," ucapan Barra terhenti, karena Dina memotongnya
"Masuk deh, tunggu ya Cassie lagi dandan," Dina langsung masuk ke belakang tanpa menemani Barra.
Kirain bakal di usir, tahunya disuruh masuk batin Barra
"Cassie, ada Barra didepan," teriak Dina menuju kamar Cassie
Cassie langsung berlari sampai hampir menabrak Mamanya
"Mama ga bohong kan?" tanya Cassie menyentuh kedua lengan Dina
"Ya, kamu diantar Dia aja ke Bandaranya,"
"Muuacch Mama emang yang terbaik," Cassie langsung mencium pipi Mamanya.
Sesenang itulah Cassie saat Barra ingin mengantarnya. Dina merasa kalau Barra adalah kebahagiaan anaknya. Tapi sekali lagi, dia belum bisa merestui. Dina mengijinkan masuk karena tidak ada orang yang bisa ia percayai untuk mengantar Cassie. Karena sang sopir juga masih baru dan Dina belum terlalu mengenalnya.
.
.
"Pesawat kamu udah manggil tuh,"
"Iya, rasanya gak enak ya berangkat sendiri. Om gak ikut?"
"Pengennya sih, nanti saya akan sering-sering mampir ke sana. Inget ya disana jangan sembarang bergaul. Disana lebih bebas dari sini. Jangan coba-coba minum alkohol," Barra memperingatinya.
"Iya, Cassie janji akan lihat-lihat teman, dan gak akan coba-coba minuman lagi,"
"Om juga jaga diri ya, jangan mainin perasaan ku,"
"Ngapain juga sih saya mainin perasaan kamu. Saya ini sudah gak muda lagi, tujuan saya itu menghalalkan kamu menjadi istri saya secepatnya," ucap Barra
"Udah gak tahan ya kok pengen cepet-cepet,"
Barra terkekeh, "Bukannya gak tahan, tapi biar saya bebas mau ngapain kamu gak terhalang dosa,"
"Emangnya mau diapain," goda Cassie
"Udah sana nanti ketinggalan pesawat," ucap Barra sambil terkekeh kecil.
Pria itu membelai rambut Cassie serta mencium keningnya. Cassie mengambil tangan Barra dan mencium punggung tangannya.
"Cassie pergi ya?" Cassie mulai menjauh melangkah pergi
"Ya, Bye sayang," Barra melambaikan tangan
"Bye Om sayang," Cassie melambaikan tangan sambil tersenyum.
__ADS_1
Cassie menggunakan pesawat biasa, Mamanya tidak bisa menyewa pesawat pribadi lagi karena pengeluaran bulan itu sudah terlalu banyak.