Promiscuity After

Promiscuity After
Berteman Atau Menjadikannya Musuh


__ADS_3

Ditengah perjalanan ada kendala hujan badai sehingga penerbangan sempat tertunda beberapa jam, Bram pun lama menunggu di tempat transit. Pesawat yang di tumpangi Bram dan Hera tiba di London pukul tujuh pagi.


Bram di jemput dengan mobil Limousine. Hera yang melihatnya dari jauh sampai mengucek-ngucek matanya.


"Njir, mobilnya seharga 170 milyar," pekik Hera


"Ahh tapi masih bocah yang kaya kan bapaknya," gumam Hera lagi melanjutkan jalannya sambil mendorong troli yang berisi tas-tas miliknya.


Hera bisa ke Inggris karena baru saja mendapatkan warisan dari mendiang berupa tanah, kemudian ia menjualnya. Sebagian hasil jual warisan itu ia pergunakan untuk ditabung dan sisanya tentu saja untuk modal merayu Barra.


Hera dengan mudah melacak keberadaan Barra, karena ia memiliki kantor cabang di Inggris. Ia naik taksi menuju tempat penginapan. Tentu saja penginapan yang murah.


Sesampainya di penginapan yang ia pesan lewat online sebelumnya, Hera terkejut melihat isi kamar penginapan tersebut.


"Aroma rokok, astaga gak dibersihin dulu apa nih kamar jorok banget. Cuma ganti seprei tapi aromanya hemmm," pekik Hera dengan bahasa Indonesianya tentu saja orang Inggris itu tidak tahu apa yang di ucapkan Hera.


Hera pun membuka pintu jendelanya dengan lebar agar udara dan sinar pagi masuk ke dalam kamar sehingga aroma rokok tidak tercium lagi.


"Ahhh sejuk banget," ucapnya kemudian ia mundur dan merebahkan tubuhnya ke ranjang. Tapi sebelum itu Hera menginjak sesuatu dekat ranjang, ada benda basah dan terasa linyit di lantai yang terbuat dari kayu.


Hera mengambilnya tanpa melihat, saat ia mengangkat tangannya ia berteriak terkejut.


"Hiiiyy kondooommmm njiiir," Wanita itu pun membuangnya ke luar jendela.


Setelah itu ia pergi ke toilet untuk mencuci tangan.


"Astaga bener-bener deh jorok banget!" gumamnya sambil mencuci tangannya sampai bersih dengan sabun.


Hera lalu mengendus apakah tangannya bau terkena cairan formula milik orang asing yang tidak tahu siapa pemilik cairan itu.


Setelah tangannya bersih, Hera lalu membasuh wajahnya dan mencucinya dengan sabun. Tetapi saat ia membilasnya, seekor kecoa melintasinya di atas toilet dekat keran.


"Ah!"


Sontak Hera terkejut dengan keberadaan makhluk bau dan terkenal memiliki banyak bakteri. Segera ia melempar sandalnya ke arah kecoa lalu cepat-cepat membasuh mukanya.


"Astaga murah sih murah tapi jorok banget, hikss harus cepat-cepat ketemu Barra nih," gumam Hera


Hera sebenarnya enggan mandi di penginapan tersebut, tetapi mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan.


.


.


Kemari malam, Cassie mengatakan akan ke kampus besok pagi-pagi jadi pagi ini Barra sudah berada di depan rumahnya


"Loh Om pagi-pagi kok udah ke sini? Gak kerja?" tanya Cassie menyambutnya dengan senyum

__ADS_1


"Kan mau ngantar kamu ke kampus,"


"Ihh Cassie bisa sendiri kok, kan mau mandiri," ujarnya


"Biar hemat ongkos,"


"Naik mobil Om malah lebih boros keles, enakan naik bus,"


"Bawel ih, tinggal naik aja sayang," ucap Barra


"Haha, yaudah bentar ya Om, Cassie ambil tas dulu,"


Barra dan Cassie banyak berbincang mengenai pengajaran di kampus.


"Duh jadi deg-degan, kira-kira aku bisa gak ya ngikutin pelajaran disini," tanya Cassie


"Bisa, kamu kan cerdas. Apalagi kamu sedikit mengerti tentang arsitektur. Banyak belajar dan jangan malu bertanya," ucap Barra.


"Udah sampe tuh, mau ditemani gak masuknya?" tawar Barra



"Duh makin deg-degan. Gak usah Om, Cassie bisa masuk sendiri,"


"Deg-degan mana ke kampus atau waktu saya cium," ledek Barra


"Kenapa lagi? Jangan bilang mau cabut bulu saya," ucap Barra sedikit waspada.


"Hahaha trauma ya hahaa, enggak Om. Sini tangannya," Cassie mengulurkan tangannya dan meminta tangan Barra lewat jendela mobilnya.


Barra mengikuti keinginan Cassie tetapi dia sudah waspada kalau-kalau Cassie mencabut bulunya.


Cassie sedikit menarik tangan Barra mendekatkan ke bibirnya dan gadis itu mencium punggung tangan Barra.


Cupp


"Hati-hati dijalan ya calon suamiku hehe," Cassie lalu pergi masuk kedalam.


Ada rasa yang berdesir di hatinya, saat Cassie mengatakan calon suami. Rasanya pria itu ingin cepat-cepat menghalalkan dirinya. Tapi sabar, jalan Cassie masih panjang.


Barra melihat punggung Cassie yang berjalan semakin jauh, gadis itu terlihat tersenyum ceria menatap sekelilingnya. Setelah Cassie masuk, Barra mulai melajukan mobilnya.



Visual Bram


Bram mengintai dari kejauhan, ia menunggu Cassie datang. Lagi-lagi Pria yang pernah menyerangnya itu selalu berada di dekat Cassie.

__ADS_1


"Siapa pria itu? Apa hubungannya dengan Cassie," batinnya sambil melihat dari kejauhan.


Setelah Barra tak terlihat, Bram mulai memasuki halaman area parkir kampusnya, UCL University College London. Kemudian Pria itu memasuki gedung, menelusuri satu persatu setiap sisi ruangan.


Cassie telah mengumpulkan beberapa berkas yang diminta, dan baru saja ia di berikan kartu akses masuk ke berbagai ruangan sebagai mahasiswa. Cassie rupanya memiliki jadwal kuliah 15 menit lagi. Jadi Cassie memanfaatkan waktunya dengan berkeliling. Tujuan utamanya adalah mencari di mana letak perpustakaannya.


Visual pintu akses masuk ke perpustakaan UCL



Visual Perpustakaan



"Wow, ini keren," gumam Cassie pelan seperti berbisik.


Matanya menyapu seluruh ruangan dengan arsitektur yang klasik. Buku-buku tersusun rapi, dan matanya menatap satu persatu buku. Membaca setiap judul dan gadis itu berhenti di suatu tempat. Novel.


Ada satu judul Novel yang menarik hatinya.


"Promiscuity After, Karya Virus, kelihatannya menarik dan wow tokoh protagonis wanita itu bernama Cassie, seperti namaku," Cassie mengambil judul buku itu dari dalam rak.


"Aah," pekik Cassie terkaget saat wajah Bram terlihat dari seberang rak buku.


"Silent Please," Tegur penjaga perpustakaan.


"So-sorry," Cassie berkata dengan sangat pelan kepada petugas disana.


Ia menundukkan kepala dan berjalan cepat menghindari Bram.


"Cassie, aku ingin berbicara denganmu," ucap Bram seperti berbisik karena disana dilarang berbicara.


Cassie telah sampai didepan petugas yang mencatat bagian peminjaman. Setelah itu Cassie pergi keluar dari perpustakaan secepatnya.


"Bisa gak Lo jauh-jauh dari gue," ucap Cassie ketakutan. Kini dia sudah berada di luar perpustakaan.


"Please, 10 menit aja," pinta Bram.


Cassie tidak mau, dia terus berjalan dan menambah kecepatannya. Bram mengejar dengan langkah besar lalu menarik pergelangan tangan Cassie.


Cassie tertarik dan ia di sudutkan ke dinding.


"Gue minta maaf, sesulit itukah Lo maafin gue? Cass...." Bram menatap Cassie terlihat gadis itu penuh ketakutan.


Bram melepaskan tangannya yang masih menggenggam pergelangan tangan Cassie.


Pria itu menarik napas panjang, "Jangan jauhin gue....Cassie kita bisa kan berteman seperti dulu hah? Gue cinta sama Lo tapi kalau Lo ga bisa terima cinta gue, gue gak masalah. Serius! Gue cuma ingin berteman seperti dulu,"

__ADS_1


Cassie menatap Bram lekat, pria itu terlihat bersungguh-sungguh. Apa yang harus ia lakukan? Memberinya kesempatan dan berbicara baik-baik dan bertanya kenapa Bram menjadi seperti itu? Atau Cassie harus menjauhinya dan menganggapnya sebagai ancaman. Tapi Bram pernah baik padanya.


__ADS_2