Promiscuity After

Promiscuity After
Oscar


__ADS_3

Oscar menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya yang empuk dan bisa berputar dengan sandaran ya yang tinggi. Ia merebahkan tengkuknya pada atas sandaran yang melengkung sembari melonggarkan dasinya.


Pusing


Rasanya Bosan


Dan kesalahan kecil saja membuatnya marah.


Inilah namanya Bad Mood.


Oscar butuh sesuatu yang mampu membuatnya rileks. Coklat panas serta pijatan yang sering dilakukan sang istri.


Ia lalu menatap fotonya dengan Marilyn di sebuah gereja dengan gaun pengantin. Foto itu diambil setelah dirinya mengucap janji suci lalu mencium sang mempelai wanita.


Oscar mendorong kursi dengan kakinya untuk mendekat ke arah meja lalu ia merai foto tersebut dengan senyum yang merekah.


"Lyn, Aku mencintai mu. Aku benar-benar tidak tenang karena aku berdosa pada mu. Aku tidak ingin menutupinya lagi soal apa yang ku lakukan beberapa hari yang lalu. Semoga kamu bisa menerima kejujuran Ku," gumam Oscar berbicara pada foto istrinya.


Tak berapa lama Marilyn datang dan langsung masuk ke ruangannya, ia sedikit mendengar gumaman Oscar.


"Menerima kejujuran? Memangnya siapa yang sedang berbohong?" Tanya Marilyn dengan membawa sesuatu dan meletakkannya di meja Oscar.


"Lyn, kamu datang? Kenapa tidak memberitahu sebelumnya? Aku bisa menyuruh David untuk menjemput mu," ucap Oscar meraih pinggang Marilyn dan menariknya pelan untuk duduk ke pangkuannya.


Mereka pun bercumbu mesra.


"Aku membawa makan siang, ku pikir tidak perlu memberitahu mu, takut mengganggu,"


"Haha, kamu istriku. Kedatangan mu malah tidak menggangu, justru membuatku semangat," jawab Oscar.


"Aku siapkan makananya ya?" Marilyn beranjak dari pangkuan suaminya dan mengeluarkan bekal makan dari bungkusan kain.


"Terimakasih sayang,"


"Memang ada masalah apa?" tanya Marilyn


"Hah?"


"Tadi kalau aku tidak salah dengar kamu mengatakan 'Semoga kau menerima kejujuran ku' yang itu," ucap Marilyn


"Hmm kita duduk sofa itu yuk, biar kamu bisa duduk," ajak Oscar sambil membawa beberapa bekal makannya. Disusul oleh Marilyn.


"Duduklah, ada yang ingin katakan,"


"Oke," Marilyn duduk dengan memasang senyuman diwajahnya


"Sebelum bertemu denganmu, aku memiliki kekasih, dia teman masa kecilku,"


"Ya aku sudah tahu, kamu pernah menceritakannya," Marilyn masih tersenyum.


Lalu Oscar menunduk dan mengambil kedua tangan Marilyn.


"Aku mencintaimu," ucap Oscar

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu," Marilyn menjawabnya sambil tersenyum. Itulah yang disukai Oscar. Marilyn selalu tersenyum lembut.


"Beberapa hari yang lalu, aku bertemu Kenza, dan aku menciumnya. Sungguh aku tidak tahu apa yang menyerangku...saat aku melihatnya, aku merindukan dirinya. Aku pikir aku telah melupakannya seutuhnya. Tapi....," Oscar melihat Marilyn tanpa senyum


Mereka terdiam....Terlihat perubahan yang drastis dari raut wajah Marilyn dan wanita itu mengeluarkan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Lama kelamaan matanya memerah dan air yang membendung itu membasahi kedua pipinya.


"Aku memilih jujur, karena aku masih ingin bersamamu, aku ingin bersamamu tanpa ada perasaan yang bersalah. Aku mencintaimu, maafkan aku," Mata Oscar juga memerah


Pria itu menangkup wajah Marilyn dan menciumnya.


"Terserah, Kalau kamu ingin memukulku, menampar atau menyiksaku, aku terima. Asalkan kamu memaafkan aku dan terus bersamaku," ucap Oscar.


"Terimakasih sudah jujur, I love You, dan aku akan memaafkanmu. Ini soal waktu,"


"I Love you too, terimakasih sayang, terimakasih sudah mengerti perasaanku,"


Dan keduanya pun berpelukan.


Tak berapa lama ada seseorang yang melempar bola berapi dari luar jendela kantor


Praaang


Bola berapi terlempar masuk kedalam ruangan Oscar memecahkan kaca jendela hingga berserakan di lantai.


"Aaachh," Marilyn berteriak terkejut dan segera menunduk dari balik sofa


"Lyn, kamu tidak apa-apa kan? Tetap menunduk, shiit siapa yang melempar itu!" ucap Oscar.


Pria itu segera berlari mengambil gas pemadam kebakaran lalu menyemprotkannya ke arah bola yang berapi. Setelah itu Oscar mengintip dari balik jendela yang pecah. Ada sekawanan pria berbadan besar dan memakai motor besar 'Harley Davidson'.


"Kenapa mereka melemparmu bola api? Apa Kamu punya musuh,"


Oscar menggelengkan kepala


"Tidak, dan aku juga tidak tahu siapa. Sayang sudah aman, lebih baik kamu pulang. Aku takut kamu kenapa-kenapa,"


"Tapi aku takut,"


"Aku akan minta David untuk mengantar mu, sementara itu aku akan mencari tahu siapa pelakunya," ucap Oscar mendekati Marilyn sambil mengusap pipinya


"Hmm baiklah, jaga dirimu ya, Makanannya dihabiskan," sahut Marilyn


"Iya, pasti. Nanti aku akan menghabiskannya. Jaga diri ya dan calon anak kita," ucap Oscar sambil mengelus perut Marilyn yang mulai sedikit membesar.


Setelah itu Oscar memanggil David, asisten sekaligus bodyguard Oscar. Oscar pemilik perusahaan pembuatan senjata. Ia meneruskan usaha Ayahnya lalu mengembangkannya di kota Texas dan London.


Sebelumnya usaha itu dibawah kendali Organisasi Black Knight, tetapi Virus membubarkannya dan hidup damai tanpa ada darah yang mengalir di kehidupan barunya. (Maksudnya tanpa ada peperangan atau pembunuhan)


Sehingga Oscar memulainya dari nol dan menambahkan beberapa item untuk pilihan senjata. Senjata itu bisa dipesan secara custom sesuai keinginan dan bisa menambahkan nama yang tertulis di senjatanya.


Oscar tetap tenang meski dia panik. Baru kali ini ada orang yang mengancamnya dengan melemparkan bola berapi. Dia menghubungi sang Ayah lewat Video Call


"Hallo Ayah,"

__ADS_1


Visual Virus



"Hallo Boy, ada masalah?" jawab Ayah


"Kenapa Ayah bisa tahu?"


"Karena kau anak durhaka, hanya menelpon kalau lagi ada masalah,"


"Haha sorry Ayah, aku sibuk. Tapi memang benar aku sedang dalam masalah,"


"Ayah perlu kesana atau kau yang kemari?"


"Ayah saja yang kemari ya?"


"Oke bayarin ongkosnya ya, kan kamu bosnya,"


"Siap Yah,"


"Katakan dulu apa masalahmu?"


Dan Oscar pun menceritakan detail masalahnya.


"Ayah tidak bisa membantu, jadi percuma jika Ayah kesana. Kamu hubungi saja Paman Wasabi atau Paman Andi,"


Oh no, berhubungan dengan paman Andi, sebaiknya tidak. Dia itu kan Ayahnya Kenza, batin Oscar


"Aku tidak begitu dekat dengan paman Wasabi, yasudah kalau Ayah tidak mau membantu, kalau aku mati jangan cari jasadku," ucap Oscar mengancam Ayahnya.


"Argh kau sungguh tidak bisa diandalkan, baiklah Ayah kesana,"


Dan Oscar pun tersenyum, sebenarnya dia kangen dengan Ayahnya tetapi dia tidak ingin ke Indonesia. Karena tempat itu penuh kenangan saat bersama Kenza.


.


.


.


"Moza, besok pagi aku akan ke London, kau ikut atau tidak?" tanya Virus dengan bahasa Inggris bercampur Indonesia.


"Aku akan ikut, sudah lama aku tidak bertemu Oscar, anak itu memang menyebalkan, dia tidak memikirkan orang tuanya,"


"Dia masih ingat, bukankah dia selalu mengirimi mu uang?"


"Maksudku, apa dia tidak merindukan kita?"


"Aku rasa dia rindu, sehingga menyuruh kita kesana,"


"Seharusnya dia yang kemari,"


"Kalau tidak kita saja yang pindah ke sana, ayo habiskan makan malam mu setelah itu kita pulang,"

__ADS_1


"Aku cinta Indonesia, aku tidak ingin menetap di Nevada ataupun Inggris. I Love Bali,"


__ADS_2