
Keluarga Barra dan Cassie sudah pulang pagi tadi. Sedangkan Barra masih disana karena ada pertemuan penting dengan kliennya.
Seharusnya pertemuan itu untuk minggu depan namun untuk mempersingkat waktu dan biaya maka Barra memajukan pertemuan itu.
Sebelum berangkat Barra melihat Cassie dengan raut wajah yang serius sambil melihat ponselnya. Ia terus mengetik lalu disertai rasa kesal.
"Kenapa Sayang?" Tanya Barra sambil membelai rambutnya Cassie yang tergerai panjang
"Lagi kesel, teman-teman aku gak bisa bantu bawa ni maket. Trus aku disuruh jalan dari rumah ke kampus gitu? Pakai apa dong ke kampus,"
"Mungkin bukan gak mau bantu, tetapi memang gak bisa. Mereka ada yang bawa mobil gak?"
"Ada tapi alasannya mobilnya dipake orang tuanya. Kan bisa pinjem bentar," sewot Cassie
"Yaudah nanti saya minta orang kantor buat antar kamu. Kenapa ga bilang dari tadi sih bocil, kan saya bisa antar kamu duluan kalau sekarang waktunya mepet. Ni bentar lagi harus ketemuan rapat,"
"Ya baru tahu masalahnya sekarang, kirim Mobilnya yang gede ya sayang," Request Cassie
"Mana ada yang gede? Hemm minta tolong Marcel aja kalik ya, dia kan punya mobil yang panjang. Jadi spacenya bisa lebar gitu," usul Barra
"Yaudah buruan telpon takutnya gak bisa lagi,"
"Hemm ya...sabar ya," Barra mengambil ponselnya dan menelepon Marcel.
Beberapa menit Barra mengobrol dengan Marcel, pria itu menutup teleponnya dengan senyum sumringah.
"Alhamdulilah, bisa tuh. Bentar lagi dia kemari sama sopirnya," ucap Barra
"Yess, kalau gitu cassie siap-siap berangkat. Makasih cayangkuu," Cassie mengecup pipi Barra sekilas.
"Haha, tadi aja cemberut, sekarang langsung happy," ucap Barra yang sedang memasang dasinya tanpa bercermin.
"Om Bewok, dasinya miring tuh," Cassie membetulkan posisi dasinya kemudian mengencangkan sedikit
Barra tersenyum-senyum.
"Kenapa?"
"Dah kayak sinetron ya, suaminya mau berangkat kerja trus istrinya benerin dasi,"
"Hiih dibenerin malah ngeledek. Aku sampe belajar ngikat dasi tauk,"
"Makasih ya bocil, eh mbak Markonah suruh siap-siap. Kan Marcel mau kemari," ucap Barra yang ingin mendekatkan mbak Markonah dengan Marcel.
"Oh iya juga ya, yaudah nanti Cassie suruh mbak siap-siap juga,"
"Good, saya berangkat dulu ya. Jemputannya udah datang," Barra menyuruh anak buahnya untuk menjemputnya di rumah Cassie.
"Hati-hati ya sayang. Semangat!" Cassie mengecup punggung tangan Barra. Dah kayak suaminya aja hehe
Barra mengecup kening Cassie seraya berkata, "Semoga lancar presentasinya ya,"
__ADS_1
Mereka sama-sama menyemangati, setelah itu Barra berjalan dengan langkah besar menuju mobilnya yang sudah standby di depan.
Cassie menyuruh Mbak Markonah untuk bersiap-siap dengan alasan membantunya membawa maket ke kampus. Padahal sebenarnya untuk menemani Marcel.
Tak berapa lama Marcel dengan mobilnya yang berukuran panjang datang dengan tepat waktu. Mereka pun membantu Cassie membawakan maket miniatur ke dalam mobil.
Markonah menjadi canggung, biasanya wanita itu sibut berfoto dan live tiktok. Tetapi didepan Marcel dia diam tak berkutik. Padahal tangannya gatal untuk memegang ponsel.
Cassie telah sampai di kampus, teman-temannya yang sedari tadi menunggunya di depan kampus segera mengangkut maket buatan mereka. Tak lupa Cassie berterimakasih pada Marcel dan memintanya untuk mengantar Mbak Markonah.
"Okay, pasti saya antarkan sampai rumah," ujar Marcel dengan bahasa Inggrisnya.
Tetapi Marcel malah menawari mbak Markonah untuk jalan-jalan. Wanita itu menolaknya dan meminta untuk langsung pulang.
Dalam perjalanan pulangnya, Marcel menanyakan pada Markonah apakah wanita itu menerima cintanya. Dan Markonah menjawab dengan sangat tegas.
"Kalau kamu ingin serius berhubungan dengan saya, maka belajarlah berbahasa Indonesia sekaligus bahasa jawa. Karena Saya gak mau ribet kalau harus berbahasa Inggris," ucap Markonah yang berbicara lewat ponsel kemudian ponsel pintarnya mengetikkan teks secara otomatis dalam bahasa Inggris. Marcel membacanya.
"Okay demi kamu saya akan belajar bahasa Indonesia, apakah ada syaratnya lagi?" tanya Marcel yang bersedia dengan syarat pertamanya.
Mbak Markonah berpikir apa keyakinan Marcel, tidak mungkin kan dia menikah dengan yang berbeda keyakinan walaupun di luar negri hal itu banyak terjadi.
"Saya muslim, dan agama apa yang kamu anut?" tanya Mbak Markonah dengan berhati-hati karena jika di Indonesia hal yang menyangkut soal agama adalah hal yang riskan.
"Saya juga muslim, itulah mengapa saya dekat dengan Barra karena dia satu-satunya teman bisnis dan juga sahabat yang satu keyakinan dengan saya," jelas Marcel
Mereka masih berkomunikasi lewat ponsel. Sangat tidak efektif dan efisien. Ribet.
"What do you say?" tanya Marcel
"Ora Popo," jawab Markonah, Marcel mengernyitkan dahinya.
"Ora Popo is nothing," jawab Markonah
"Oh, ora Popo," ucap Marcel mengulang ucapan Markonah sekaligus dirinya belajar bahasa Jawa.
Semangat mbak Markonah, terus ajarin Marcel si bule itu belajar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.
.
.
.
Langit indah pagi itu, tetapi tidak seindah pemandangan di belakang Rio. Dua pasangan suami istri yang terlihat bercanda tawa dan berbicara dengan mesranya.
Rio memilih berada di barisan depan, sendirian dan merebahkan tubuhnya di kursi dengan setelan posisi tidur.
Ia menyalakan lagu dari MP3 miliknya dan mendengarkannya lewat headphonenya. Suara pesawat terbang itu sedikit menganggu pendengarannya sehingga ia menyalakan musik agar tidak terlalu berisik.
"Mungkinkah berakhir bahagia...Jalani cerita bersamamu
__ADS_1
tatap kedua mataku...Hapuskan ragu, labuhkan hatimu. Mungkin tak selalu biru...Namun, bersamamu, langitku tak lagi sendu...Kamu langit favoritku," suara pria yang menyanyikan lagu itu terasa enak di telinga Rio namun kisahnya tak seperti dirinya yang sedang galau
Rio pun mengganti musiknya, musim rock yang membuat semangat tetapi anehnya musik itu malah membuatnya tertidur pulas.
Perjalanan kali ini tidak ada transit. Sehingga kurang dari 15jam pesawat itu mendarat di bandara internasional Soekarno Hatta.
Sore itu Rio langsung berpamitan dengan semuanya dan memilih untuk berjalan duluan.
Braaak
Sebuah mobil menghantam bagian depan mobil yang dikendarai Rio saat pria itu ingin keluar dari parkiran. Lagi dan lagi mobilnya semakin hancur.
Rio keluar dan ingin sekali marah, tetapi yang turun dari mobil adalah wanita yang sama malam itu.
"Ken...za...." sahut Rio
"Haduh pak Rio lagi. pak Maaf ya jika mobilnya tidak sengaja saya tabrak. Saya buru-buru mau kabur," ucap Kenza sambil melihat ke arah belakang.
Tin Tin
Sebuah mobil yang mengantri ingin masuk parkiran membunyikan klakson ke arah mereka.
Diwaktu yang bersamaan seorang wanita menghampiri Kenza, umurnya lebih tua dari Rio.
"Kenza.... tolong jangan pergi!" teriak wanita itu dari kejauhan. Kenza buru-buru masuk ke dalam mobil tetapi wanita itu menarik lengannya mencegah Kenza masuk dan menutup mobilnya.
"Tolong nak, jangan pergi,"
"Siapa yang betah sih ma dipaksa nikah? Kenza itu...," sekilas Kenza memikirkan sebuah ide. Dia melirik Pria yang masih berdiri di dekatnya.
"Ini calon suami Kenza, jadi plis mama jangan jodoh-jodohin aku sama anak jendral itu," ujar Kenza yang asal bicara dan mengedipkan mata pada pak Rio agar pria itu mengikuti alur ceritanya.
Kenza sampai menggandeng lengan Rio, sementara Si Rio yang tak tahu menahu permasalahannya hanya melemparkan senyum pada wanita yang berdiri didepannya.
"Ini? Calon kamu?" Tanya Mamanya Kenza.
"Iya Ma ....,"
Tin tin tin
Klakson kembali berbunyi, dan semakin bertambah riuh serta suara marah dari pengendara mobil.
"Ma nanti aja jelasinnya. Mobilnya diparkir dulu," ujar Kenza
Setelah Mamanya pergi kembali ke mobilnya yang berada di beberapa deratan belakang. Kenza memohon pada Rio
"Pak tolong bantu saya ya, pura-pura aja kok. Please," ucap Kenza
"Hemm ,"
"Please," Kenza memohon dengan wajah mengiba.
__ADS_1
Seketika Rio teringat akan lagu yang sempat ia putar di pesawat. Saat Rio menatap binar mata indahnya, langitnya berputar mewarnai dirinya, seakan mengajaknya tuk bahagia. Akankah Kenza menjadi langit baru untuknya?