
Setelah kedatangan Hera ke kantor, Kenza langsung menghubungi Tante Joy. Seperti biasa, Kenza selalu memberikan informasi terkini, ter-hits dan ter-hot.
Ia pun masuk ke ruangan Barra meminta klarifikasi. Pria itu harus menjelaskan, kenapa dia bisa menerima mantan istrinya kerja di perusahaannya itu.
"Mas Barra!" Panggilnya
Kenza langsung masuk ke ruangan Barra setelah mengetuk pintu.
"Ya?"
Barra sedang fokus di depan layar komputer membaca email penting yang masuk.
"Kamu kok terima Hera kerja disini sih? Kalau dia ngerusak hubungan kamu sama Cassie gimana?" cetus Kenza
"Hmm bikin kaget aja, kirain ada masalah besar," sahut Barra dengan santainya.
Brak
Kenza menggebrak meja di hadapan bosnya itu
"Aku gak rela ya kalau dia harus kerja disini. Dia itu udah nyakitin kamu!"
"Ya dulu, sekarang udah enggak,"
"Atau jangan-jangan kamu masih suka ya sama Hera," selidik Kenza
Barra menutup laptopnya dan mulai fokus berbicara dengan Kenza.
"Duduk," titah Barra karena Kenza sedari tadi berdiri sambil berjalan mondar-mandir plus menggebrak mejanya pula.
Kenza menurut, dia pun duduk
"Saya harus berbicara dari mana ya?"
"Dari awal!" ucap Kenza sambil melotot.
Barra tersenyum lalu mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Kedua sikunya berada diatas meja dan jemarinya di satukan. Sementara Kenza duduk bersandar menunggu alasan Barra
"Semua, yang kamu tuduhkan itu salah. Gak ada alasan khusus," Barra mulai menjelaskan
"Awalnya....Ya memang sih, Hera terus mengejar Saya, biar Saya kembali lagi padanya. Tetapi dia sepenuhnya sudah merelakan,"
"Kok Mas Barra bisa tahu dia menyerah?" celetuk Kenza
"Cassie yang cerita, katanya Hera mendoakan agar kita segera menikah. Dia malah menasihati Cassie untuk tidak menyakiti perasaan Saya," pria itu berhenti untuk mengambil napas. Lalu berbicara lagi
"Sekarang, Hera sudah memiliki tambatan hati yang baru. Dia butuh pekerjaan, selagi masih bisa bekerja kenapa enggak Kenza? Saya juga gak sembarangan mengambil karyawan. Saat interview, Hera tahu tugas dari posisi manager itu sendiri. Apa yang harus dia kerjakan, lalu kenapa kita gak kasih dia kesempatan? Barangkali dengan kita berbaik hati, akan ada timbal baliknya untuk kita, berupa kesehatan, atau uang Lalu kapan itu dan apa itu adalah rahasia Ilahi," jelas Barra sembari memberikan nasihat pada Kenza
"Ck...Selalu gini, selalu aja maafin orang yang pernah nyakitin kamu. Mas, terkadang ada saatnya kita, jangan terlalu baik sama orang lain. Takutnya dia memanfaatkan kebaikan kita. Seperti karyawan sebelah tuh... saking baiknya, ditikung kan pacarnya dia,"
Barra menggelengkan kepala sambil tertawa kecil, "Kenza-kenza doyan banget sih sama gosip. Udah ah saya mau lanjut kerja ini. Ditinggal sebentar aja kacau,"
"Siapa suruh pake acara libur-libur segala, mumet sendiri kan?" ucap Kenza lalu pergi begitu saja.
Tak berapa lama Barra mendapatkan telepon dari Mamanya.
"Ya Ma....," jawab Barra
"Kamu kok terima Hera di kantor sih? Nanti kalau ada gossip yang gak enak gimana, bisa salah paham semuanya,"
Astaga pasti Kenza ini yang main lapor batin Barra
"Tapi Ma...,"
"Gak ada tapi-tapian," Joy terus berkicau di telepon. Sementara Barra mengusap-usap wajahnya yang gak tahu harus berbuat apa. Baru aja di terima, masak di pecat.
"Kalau begitu Barra tempatkan Hera di butik Mama aja ya. Jadi manager butik," sahut Barra dengan malas
__ADS_1
"No!"
"Yaudah kalau Mama gak bisa kasih solusi, untuk sementara dia kerja disini aja. Kita lihat potensi dia. Mah....Barra beneran lagi mumet nih. Udah dulu ya, Love You Mah...,"
Barra mematikan sambungan teleponnya.
Kenza kembali ke ruangannya, Divisi Marketing. Sesampainya disana sudah ada Hera dan Meyi. Meyi yang posisinya manager Senior, menyuruh Hera, sebagai manajer junior untuk melihat sistem marketing agar dia tahu bagaimana proses perusahaan ini berjalan, sembari sedikit mengenal perusahaan.
"Tolong dibantu ya Kenza, Saya ada pekerjaan lain," ucap Meyi
"Kebanyakan manager sih ngapain pake dua manager, senior junior pemborosan," gerutu Kenza setelah Meyi pergi dari ruangannya namun ocehannya di dengar oleh Hera.
Entahlah ini hari tersial bagi Kenza. Kenapa? Apa yang membuat wanita itu sudah marah-marah di pagi hari?
Sebenarnya saat bangun tidur tadi, dia membuka media sosial yang menampakkan foto kebahagiaan kecil dari keluarga Oscar.
Flashback On
Dalam potret itu, Kenza melihat foto-foto ulang tahun Oscar yang di rayakan sederhana oleh Marilyn, Virus dan Moza.
"Andai gue yang ada disitu, arghhh kenapa sih Lo gak keluar-keluar dari otak gue!" pekik Kenza
Ia beranjak dari tempat tidur lalu melempar ponselnya hingga membentur dinding. Ponselnya pun pecah dan rusak.
Wanita itu menangis sendirian, ada hal yang tidak diketahui oleh orang lain. Hanya dirinya, Oscar dan Tuhan yang tahu. Apa itu? Apa yang membuat Kenza tidak dapat melupakan Oscar.
Karena kesuciannya terenggut oleh mantan kekasihnya itu. Pergaulan yang amat bebas yang tak bisa ia jaga. Kesalahan yang sangat fatal, perasaan cinta yang terlampau dalam, padahal mereka sama-sama tahu jika mereka tak dapat bersatu.
Wanita itu masuk ke kamar mandi, menyalakan shower dengan putaran yang deras. Mengguyur kepalanya hingga seluruh badan, dengan dosa masa lampau yang ia pikul.
Promiscuity After, hanya ada penyesalan bagi Kenza.
Flashback Off.
Hari itu, semua orang mulai sibuk setelah kantor healing beberapa hari. Stress kembali menyapa secara dadakan. Hingga sore menjelang, Barra belum juga membuka ponselnya.
"Mungkin sibuk, ya udahlah. Kuliah dulu," ucap Cassie yang mempunyai jadwal masuk pukul 10 pagi.
Sore menjelang petang, semua karyawan telah pulang. Namun, Barra berniat untuk kerja lembur. Hera yang saat itu akan pulang, melihat Barra yang sedang memijat pangkal hidungnya, dari kaca jendela yang sedikit terbuka.
Wanita itu segera ke pantry dan membuatkan kopi untuk Barra.
Tok Tok Tok
"Ya Masuk," jawab Barra yang kini bersandar di kursi meluruskan ototnya yang kaku
Hera masuk dengan membawa baki kecil berisi kopi panas.
"Aku boleh masuk kan? Hmm ini Aku buatin kopi biar kamu ga tegang," Hera mengambil kopi dari nampan lalu meletakkannya di atas meja
"Saya gak minta kopi jadi gak usah repot-repot. Tapi, makasih ya," ujar Barra setengah malas.
Hera tersenyum lebar, " Yaudah kalau gitu aku pulang dulu ya," pamitnya
Setelah Hera keluar dari ruangan Barra, pria itu melihat kopi yang baru saja dibuat Hera. Tanpa tahu karena memang Barra sedang butuh kopi, ia pun menyesapnya.
Rasa kopi yang sama, diracik dengan tangan yang sama.
ini bukan kopi kantor, hemm Hera-hera rupanya kamu masih ingat kopi apa yang ku suka, batin Barra
Kopi ini di ambil dari perkebun kopi milik Mama Rasya yang terkenal di Jawa Tengah. Diracik dan dikemas oleh perkebunan kopi.
Sayangnya penjualan kopi tersebut tidak dijual di luar kota, hanya dijual di wilayah perkebunan saja karena jumlahnya terbatas.
"Kenza benar, Hera belum melupakan kenangannya, dia harus ditempatkan di lain tempat.Tidak disini," Barra akhirnya berpikiran yang sama terhadap Kenza.
Barra membuka ponselnya, matanya terbelalak saat mengetahui kekasihnya menghubunginya beberapa kali, dan banyak pesan yang masuk dengan emoticon kesal, marah dan menangis.
__ADS_1
Segera ia menelepon balik sang kekasih, tetapi tidak ada bunyi nada sambungan dari teleponnya. Apakah Cassie marah dan sengaja mematikan ponsel?
Karena ponsel Cassie tidak aktif, Barra pun melanjutkan pekerjaannya. Hingga tak terasa malam sudah larut dan Barra pun tertidur.
Di London pukul empat sore, sementara di Indonesia pukul sebelas malam.
Cassie melihat ponselnya yang baru saja aktif, ada riwayat panggilan telepon dari kekasihnya. Hanya sekali panggilan dan setelah itu tidak ada balasan pesan. Padahal Cassie mengirimkan banyak pertanyaan di pesannya itu.
"Hufff kenapa sih gak di balas, cuma sekali telepon pula. Ayo dong om angkat," gumam Cassie
Sambungan telepon berdering dua kali. Tak berapa lama sambungan terputus.
"Oh kok di matiin sih, kenapa sih. Cassie salah apa coba?"
"Mungkin sibuk beneran kali ya? Atau udah bosen? Ahh positif thinking ajalah," pikir Cassie
.
.
.
Keesokan paginya, masih di kantor Wasabi.
"Liv, Pak Barra udah datang belum?" tanya Kenzo, saudara kembarnya Kenza
"Kayaknya Pak Barra gak pulang Mas, soalnya Dia masih memakai baju yang sama dan sekarang sedang tidur di sofa, plus suara dengkuran ehehe," ujar Olive
"Astaga, pasti semalam dia lembur. Yaudah saya bangunin dulu. Jam sepuluh nanti ada meeting penting soalnya. Kamu atur meja ya jangan lupa snacknya," pinta Kenzo memperingatinya agar tidak lupa.
"Haduh satu jam lagi dong, nah kan hampir aja lupa, makasih Mas," ucap Olive.
Ia segera menyiapkan berkas untuk peserta rapat. Lalu ke ruang rapat dan menyiapkan semuanya seperti proyektor harus menyala dengan baik. Menyiapkan mic serta menyetingnya agar tidak berdenging dan lain sebagainya. Dan menyuruh orang bagian pantry untuk memesan beberapa snack.
Kenzo membangunkan Barra, dia berlutut dan dengan pelan menepuk lengan bosnya itu.
"Mas, Mas Barra....Sudah siang Mas, bangun. Kita mau ada rapat satu jam lagi loh...Mas...," panggilnya membangunkan dengan suara yang pelan.
"Bentar lagi sayang, sini dulu dong," Barra menarik lengan Kenzo hingga pria itu jatuh ke pelukannya. Lalu Barra memeluk Kenzo dengan erat ke dekapannya.
"Mas, aku masih normal. Mas Barra!" Kenzo berteriak hingga membuat Barra terbangun dan membuka matanya.
"Heiii ngapain kamu peluk-peluk Saya," ucap Barra
"Ih Mas Barra tuh yang meluk aku!" Bella Kenzo
"Ngaco kamu ya, saya masih normal,"
"Iya Aku juga normal hiiiyy... merinding jadinya. Mandi sana, nanti kita mau rapat loh Mas," ucap Kenzo yang kemudian duduk dan memainkan gadgetnya.
"Arghh pegel banget ni badan. Saya udah temuin penyebab kesalahan kita. Nih liat, pihak admin dari marketing salah ketik, kurang nominal disini. Pantas aja gak valid. Masak kayak gini harus saya yang nanganin!" Barra ikutan puyeng liat anak buahnya gak ada yang beres. Akibat Healing bukannya Happy, malah bikin pening.
"Wih keren nih bos kita tercinta haha, paling bisa diandalkan. Dah sana mandi. Bau iler," seru Kenzo dengan matanya yang fokus tertuju di ponsel memainkan sebuah game adventure.
"Kenza ma Kenzo sebelas dua belas nih. Seenaknya kalau ngomong sama bosnya," ucap Barra kemudian dia bergegas mandi di kantornya.
Jangan salah. Barra punya kamar pribadi sendiri di kantor. Ada dinding rahasia yang bisa digeser untuk menuju akses kamar daruratnya
Mandi dan bersiap dengan kilat, kini dia mencari ponselnya.
"Batre abis lagi," gumam Barra
Setelah mengisi daya batre ponselnya di ruangan kantornya, Barra keluar menuju ruang rapat. Seharian dari kemarin sampai pagi ini Barra belum juga menghubungi Cassie. Hingga gadis itu bertanya-tanya.
Hera juga ikut dalam rapat, sebelum rapat dimulai wanita itu berselfie ria. Tetapi jauh dibelakangnya tidak sengaja tertangkap wajah Barra.
Cassie sempat menyimpan nomer WhatsApp milik Hera saat pertemuannya di bandara. Kini dia membaca status Hera dengan caption 'Hari kedua Do the best'
__ADS_1
"Itu om Bewok bukan sih yang dibelakangnya. Ih kan ngapain mereka? Ketemuan? Dari kemarin juga ga bisa dihubungi, geregetan sendiri," gumam Cassie sambil mengamati foto Hera di WhatsApp.