
Jam dinding berdetak, menertawakan Barra yang masih duduk memikirkan apa yang harus di lakukan? Mana yang penting dan mana yang harus diselesaikan lebih dulu.
Dengan menyatukan kedua jemarinya ia berpikir cepat, lalu melirik wireless Interkom yang ada di sebelah kirinya.
"Olive, ke ruangan saya sekarang ya," Barra memanggil Olive lewat sambungan interkom.
"Baik pak, tapi saya kebelakang dulu ya pak," jawab Olive
"Iya silahkan," Balas Barra kemudian Olive langsung ngacir ke kamar
"Meyi, ke ruangan saya sekarang, sekalian bawa laporan kinerja karyawan ya, saya mau evaluasi sebentar," Barra juga memanggil managernya lewat Interkom
"Baik pak Barra," jawab Meyi
Setelah itu Meyi dan Olive berdiskusi secara intern di dalam ruangan Barra. Karena pria itu akan berencana ke London hari itu juga. Dadakan demi si bocil. Tetapi dia kesana juga sekaligus untuk pertemuan dengan kliennya yang tadinya jadwal pertemuan itu untuk minggu depan tetapi akan ia majukan.
"Olive, tolong kamu kirim beberapa orang dari bagian keamanan, di wilayah ini ya karena saya mendapat laporan jika warga disana menentang pembangunan. Ada yang mengeluh, truk besar yang keluar masuk akses jalan mereka, bisa membuat jalanan rusak. Padahal kita sudah mendapatkan ijin resmi dari ketua RW nya. Usahakan pembangunan tersebut tidak menggangu warga sekitar. Jika jalanan rusak segera perbaiki ya," ujar Barra
"Ya Pak, segera,"
"Meyi, akhir-akhir ini kinerja orang lapangan, banyak yang menurun. Ini tugasnya HR sih, cuma saya ingin kamu menggerakkan semangat mereka ya. Kasih bonus atau apa gitu,"
"Ya pak, nanti saya evaluasi lagi," ujar Meyi
Sedikit yang mereka bicarakan kurang lebihnya Barra akan memberikan tanggung jawab yang lebih banyak kepada dua orang didepannya itu selama Barra keluar Negeri.
Meyi dan Olive kembali ke tempatnya.
Barra memesan tiket penerbangan secara online. Belum selesai memesan, di tengah pemesanan ada nomer yang tidak dikenal menelepon di nomer SIM yang utama. Nomer utama hanya untuk keluarga dan kerabat dekat. Nomer kedua SIM untuk pekerjaan bisnis dan karyawannya.
"Siapa yang telepon ya?" gumamnya.
Barra mengangkatnya karena sebenarnya dia malas menerima telepon dari nomer yang tidak dikenal. Seringkali ia menerima panggilan sales menawarkan pinjaman, penawaran kredit.
Pernah juga ada telepon iseng yang mengatakan jika anaknya kecelakaan, padahal Barra belum memiliki anak, begituan saja belum pernah anak dari mana? Sudah pasti itu telepon iseng.
Lalu dari mana mereka mendapatkan nomer telepon Barra?
"Ya Hallo," sahut Barra
"Barra, ini saya Dina. Mamanya Cassie," sahut Dina
__ADS_1
Barra yang tadinya duduk bersandar dan sedikit malas, langsung menegakkan duduknya dan sedikit tegang.
"Eh Mama, Maaf Ma Barra gak tahu kalau ini nomer Mama jadi jawabnya agak lemes ehehe...Ada apa ya Ma?" tanya Barra
"Begini, saya ingin hemmm gimana ya ngomongnya sebenarnya gak enak kalau lewat telepon. Jadi saya ingin mengajak kamu dan keluarga kamu untuk makan malam. Sebagai permintaan maaf saya. Makan malamnya gak di sini, tapi di London tempat Cassie. Sekaligus saya ingin mengulang momen lamaran yang sempat saya tolak. Kamu mau kan? Kamu masih mau melamar Cassie kan?" ujar Dina yang sedikit takut jika Barra tersinggung dan tidak jadi melamar Cassie.
"Wah, saya akan terima undangannya, jadi kalau makan malam disana berarti sekitar besok pagi berangkat? Ya jelas mau lah Ma... jadi ini berarti Mama sudah merestui...," tanya Batra
"Iya saya sudah merestui kalian. Saya ingin Kamu menikah dengan Cassie. Syukurlah kalau kamu setuju. Saya sudah siapkan jet pribadi dengan kursi penumpang 7. Malam ini kita berangkat jadi bisa dipastikan sampai disana pukul enam atau lima pagi. Ya kita healing dulu lah ya. Jadi tolong sampaikan ini sama orang tua kamu ya,"
"Duh kok malah Mama Dina yang membiayai penerbangannya, saya jadi tidak enak. Ya insyaallah saya akan sampaikan sama Mama dan Papa,"
"Justru saya yang tidak enak, soal lamaran kemarin. Ini sebagai rasa permintaan maaf saya. Terimakasih ya Barra, Oh ya jangan sampai Cassie tahu ya jika kita mau kesana,"
Percakapan berlanjut lumayan lama dan berakhir dengan senyum kelegaan.
Barra tidak jadi memesan, untung saja dia belum menekan pembayaran. Barra meninggalkan kantornya setelah menyerahkan segala urusan ke manager dan sekretarisnya. Ia pun pulang ke rumah Mamanya untuk menyampaikan undangan dari Mamanya Cassie.
"Serius kamu! Dina mengajak kita ke London?" Joy terlontar kaget
"Ya Ma, katanya dia mau mengulang acara lamaran kemarin,"
"Sekalian tunangan ajalah kalian, gimana? Buruan nikahnya jangan nunggu Cassie lulus kelamaan. Keburu Mama makin tua. Ini aja Mama suka lelah," celoteh Joy.
"Hemm mana ada lelah, tiap hari sukanya ngajak begituan...hmmmmppppp," Wasabi asal nyeplos, mendengar hal itu Joy langsung menutup mulut suaminya dengan tangannya serta delikan mata yang lebar
"Ihh kalian tuh...Anak bapak kalau ngomong gak bisa di rem," Joy malu dan pergi ke dapur menyiapkan kopi untuk suami dan anaknya.
"Udah bukan rahasia lagi Mah, Barra aja tuh sebenernya tahu tapi pura-pura gak tahu.. ya kan Bar," ucap Wasabi yang membongkar kartu Joy jika wanita itu selalu tak bisa menahan hasratnya.
"Apaan sih Pa, Barra gak tahu apa-apa masih polos. Disentuh aja belum haha, udah ah mau mandi," ucap Barra lalu pergi ke kamar tamu. Karena kamar Barra saat ini sudah berubah menjadi gudang.
"Kopinya di meja ya sayang," teriak Mama Joy karena Barra sudah masuk ke dalam kamar.
Joy menyerahkan kopi untuk Wasabi. Sore hari enaknya ngopi plus cemilan singkong ditemani pasangan tercinta.
"Singkongnya mana?"
"Ga ada, males bikin," Joy sedikit jutek karena tadi Wasabi membuka rahasianya
"Yaudah aku makan bibir kamu aja," Wasabi langsung mencium Bibir Joy yang sedang cemberut.
"Hemm jangan ledekkin lagi ya, kan malu sama Barra," ucap Joy
__ADS_1
"Iya, maaf ya sayang kan becanda. Biar ga tegang," Wasabi melepaskan kecupannya dan menikmati kopi panas buatan Joy.
"Kenapa sih liatin aku terus?" Tanya Wasabi
"Kita belum beli cincin,"
"Loh cincin yang kemarin kita beli mana?" tanah Wasabi
"Aku jual lagi hehe, habis kesel,"
"Yaudah kalau gitu cepetan siap-siap gak usah bawa baju kalau perlu, beli aja disana," ucap Wasabi
"Mahal, uangnya siapa?"
"Uang kamu dong," jawab Wasabi
"Ahh gak ah, uang aku tinggal dikit. Mau hemat,"
"Coba cek ATM kamu," suruh Wasabi
"Ihh gak percaya nih ya, aku buka mbanking bentar," Joy membuka informasi saldo rekeningnya lewat aplikasi mobile banking
Tetapi dia merasa aneh, kenapa saldonya jadi banyak. Padahal baru kemarin dia kuras habis.
"Kok banyak? kamu ya yang tambahin,"
"Aku mana punya uang sih, kan aku dah pensiun gak kerja," jawab Wasabi
Joy pun mengecek mutasi saldonya. Selama ini dia jarang sekali cek mutasi di rekening pribadi. Dia sering menggunakan rekening untuk transaksi bisnis dan penjualannya.
Begitu Joy mengecek riwayat mutasinya, ada banyak nama Wasabi yang terus mengirimkan uang ke rekening nya.
"Astaga jadi selama ini uang aku gak habis-habis itu dari kamu sayang? Kok gak pernah bilang sih? Dari mana kamu dapat uang itu?"
"Itu kan uang kamu juga sayang. Nanti kalau aku bilang aku punya uang, yang ada kamu makin boros. Aku ada beberapa bisnis sama Virus. Trus main saham juga itupun Virus yang ngajarin,"
"Aku makin sayang sama kamu, Aku beruntung banget punya suami kayak kamu. Kalo dompet istrinya kosong, tahu-tahu besoknya udah ke isi penuh, ahhhh so sweet, muuacch," Joy memeluk Wasabi dan mencium pipi pria itu berkali-kali kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang Wasabi.
"Demi kamu apa sih yang enggak,"
Semoga usaha suami ku ini terus berkembang dan sukses, Amiin, batin Joy
"Udah yuk mandi, mandi bareng," ucap Wasabi sambil berbisik di telinga Joy
__ADS_1
"Yuk," Joy tersenyum lebar
Setelah itu mereka bersiap menyiapkan beberapa pakaian karena malam harinya akan pergi jauh ke London.