
Seorang pelayan masuk kedalam ruang VIP, namun sebelum masuk ia mengetuk pintu.
Andy melepaskan Hera seraya memundurkan langkah dan membenahi pakaiannya. Sementara Hera mengambil kaca mini dari dalam tasnya untuk memeriksa lipstiknya. Apakah belepotan atau tidak.
"Ya," jawab Andy
Hera memberi kode jika wajah Andy ikut memerah terutama bagian bibir, dagu terkena lipstiknya
Si pelayan membuka pintu, Andy langsung menutupi bibirnya dengan tisu.
"Maaf ini mau ada tambahan makanan lagi atau tidak ya pak?" tanya si pelayan.
"Ini kita sudah selesai makan kok dan mau pulang,, jadi tidak ada tambahan lagi," ucap Andy
"Owh baiklah kalau begitu, terimakasih sudah berkunjung di restoran kami," ucap sang pelayan
Andy segera membawa Hera keluar ruangan itu dengan menggandeng lengannya yang kurus kecil.
"Masih merah gak?" tanya Andy setibanya mereka di luar restoran
Hera menggeleng, "Enggak. Kamu ngapain sih cium-cium aku," omelnya
"Gemes tau gak!"
"Itu bukan gemes tapi napsuan!"
"Cuma sama Lo doang gue kayak gini, pake pelet apa sih Lo," ujar Andy
Mereka berjalan kaki, menuju halte bus. Pertanyaannya kemana mobil Hera?
"Gue gak pake pemikat apapun ya, jangan pitonah Lo. Ngapain Lo ikutin gue,"
"Lah gue emang jalan kesini, kan gue mau ke halte," jawab Andy
"Hmm kalau aja tu rentenir gak ambil mobil gue, mungkin gue gak kepanasan kayak sekarang," sewot Hera
"Lagian ngutang kok sama rentenir," seru Andy
"Mana gue tahu dia rentenir, temen gue sih tapi pas nagih hutang dah kayak preman,"
"Udah ikhlasin aja Tante, hidup sama gue aja. Sederhana, pake bus merakyat. Makan tercukupi dan kalo kepanasan gue tutupi kayak gini," Andy mengambil tasnya dan meletakkannya di atas kepala Hera, menjadikannya payung.
Beberapa pejalan kaki menyoraki keromantisan yang Andy lakukan untuk Hera.
Gila ni bocah, jujur aja aksinya bikin gue geregetan, tapi juga ngerasa dia cool banget. Barra sama Mas Firman aja gak pernah ngelakuin hal gini, apalagi waktu dia nyosor dengan agresifnya bikin gue..., batin Hera
"Mikirin apa Tan? Mikirin gue ya?" Andy membuyarkan lamunan Hera
"Eh sayang, itu bus tuh. Buruan yuk lari. Entar ketinggalan," ujar Andy
"Duh mana bisa gue lari pake high heels gini,"
__ADS_1
Andy membungkuk di depan Hera.
"Naik punggung buruan Gak Pake Lama!" seru Andy
Hera lalu naik ke punggungnya, Andy langsung berlari sambil memegangi kedua kakinya yang bergantung di samping.
"Bang tungguin Woy!" teriak Andy saat bus hendak melaju. Dan si kernet pun memberikan aba-aba untuk menghentikan busnya menunggu Andy dan Hera.
"Hufff capek juga gendong Lo Tan, kelihatannya kecil tapi berat juga," Andy ngos-ngosan. Ia menggerutu setelah masuk di dalam bus.
Mereka berdiri dan tidak dapat kursi duduk
"Ah lemah, gimana kalo mau gituan coba ronde satu paling Lo Udah teler,"
"Jadi...." Andy mengatur napasnya yang tersengal-sengal, "Itu tandanya Tante nantangin gue...Ayok...besok kita ke KUA, gue tunjukkin kemampuan gue,"
"Gak mau,"
"Hilih sok-sokan gak mau, tadi juga nikmatin ciuman gue kan,"
Dan mereka terus berdebat bagai kucing dan tikus yang sebentar akur dan sebentar musuhan.
Dekatin terus aja Andy. Jangan menyerah.
.
.
.
Wajahnya terekam di kamera cctv, namun belum tentu mereka mempunyai masalah pada Oscar.
Virus dengan mudahnya mengangkat tubuh pria berbadan besar itu dengan mencengkeram kerah pria itu. Sampai terdengar bunyi sobekan pada kerah itu.
Pria itu mengeluarkan darah segar dari mulutnya seraya mengatur napas. Padahal dia baru satu kali menerima tinjuan di perutnya.
Jangan meremehkan kekuatan Virus. Dia menerima formula khusus sejak dirinya berada di dalam kandungan, zat itu menyatu di jaringan organ tubuhnya dan membuatnya menjadi orang yang kuat.
"Aku....aku disuruh oleh,"
Dor
Sebuah peluru menyambar otak pria itu, dari kejauhan masuk lewat kepala bagian samping. Darahnya muncrat mengenai wajah Virus.
Sniper, batin Virus menoleh ke asal bidikan
Pria bertubuh besar yang sedang diinterogasi oleh Virus, tewas tak berdaya. Saksi kunci itu ada tiga orang, dua lainnya mati dan satu orang yang tersisa namun tak terselamatkan.
Virus melepaskan cengkeramannya dari kerah pakaian pria itu dan mendorongnya tubuhnya pelan. Lalu berlari ke tempat asal bidikan. Dia menemukan seseorang berpakaian serba hitam. Di atas atap gedung yang kosong.
Virus sampai di gedung itu, ia terus naik melalui anak tangga hingga atap. Sementara si sniper bersembunyi di balik setelah memasang perangkat. Ia menggenggam alat pemicu bom dan bersiap menekannya saat Virus sudah mendekat.
__ADS_1
Boom
Bom meledak, beberapa balok kayu terjatuh dan menciptakan api. Bunyi ledakan itu juga membuat Virus terpental dan jatuh karena kagetnya. Untung saja dia dapat menghindar meski percikan bom itu sedikit menyengat kulitnya di sisi kanan pada area sekitar lengannya. Percikan Bom tersebut menembus pakaian Virus. Masih untung dia selamat.
Virus menahan sakit, perih padahal hanya sedikit. Ia melihat pria berbaju hitam tersebut berlari kencang dan menghilang dari pandangannya. Virus tak dapat mengejar karena terhalang balok kayu yang berjatuhan. Ia pun berbalik arah dan turun ke jalan semula.
Sesampainya di lantai dasar dia kehilangan jejak.
"Siapa Dia? Bahkan dia tidak menyisakan satu saksi mata untuk bersuara. Semua dibungkam habis sampai mati. Shiit! Awas saja jika dia mencelakai Oscar," gumam Virus
Ia pulang kembali kerumah Oscar dan menceritakan semuanya pada Moza.
"Apa itu musuhmu?" tanya Moza yang sedang menyiapkan kue ulang tahun.
"Aku rasa tidak, Aku tidak memiliki musuh saat ini. Hemm siapa yang ulang tahun?" tanya Virus
Plak
Moza memukul lengan Virus seraya berkata, "Kelewatan, ulang tahun anak sendiri dilupakan," ucap Moza
"Haha aku saja tidak pernah merayakan ulang tahunku, karena hari kelahiranku, adalah hari kematian Ibuku,"
"Oh sayang, aku tidak bermaksud menyinggung mu," ucap Moza membelai wajah tampan Virus dan mengecupnya.
Oscar sedang menemani istrinya berbelanja, akibat teror di kantornya Oscar selalu berjaga-jaga. Apalagi Istrinya sedang hamil.
Marilyn sengaja mengajak Oscar pergi karena Moza sedang mempersiapkan pesta kecil dirumahnya.
Beberapa menit kemudian.
Oscar melihat dari luar jika rumahnya sangat gelap.
"Kenapa gelap sekali? Bukannya Mama dan Ayah sedang dirumah?" tanya Oscar pada Marilyn
"Mungkin mereka pergi," jawab Marilyn
Oscar dan Marilyn keluar dari mobil, lalu mereka berdua mengeluarkan semua barang-barang dari bagasi. Oscar berjalan duluan untuk membuka pintunya terlebih dahulu.
Ceklek.
"Surprise," seru Moza dan Virus
"Happy birthday to you," semua bernyanyi
Oscar terkejut luar biasa, Moza membawa kue ulang tahun yang di buatnya sementara Virus menyemprotkan string spray untuk memeriahkannya.
Marilyn membawakan kado special dari belakang dengan bungkusan kotak yang sangat besar.
"Happy birthday honey," ucap Marilyn dan Oscar menyambutnya dengan kecupan di bibir
__ADS_1
"Thanks sweety,"
"Thanks Mom, Dad," ucap Oscar memeluk orang tuanya bergantian.