Promiscuity After

Promiscuity After
Ngibul Sedikit


__ADS_3

Hera memakai kacamata hitam, dengan blazer berwarna putih dan rok berwarna dusty pink yang panjangnya di bawah lutut.


Setibanya di depan kantor Barra, Ia membuka kacamata hitamnya. Terlihat wajah tirusnya yang cantik tanpa kerutan, namun kecantikannya adalah hasil operasi plastik.



"Agar Aku bisa masuk ke ruangannya, aku harus menyamar sebagai kliennya nih," gumam Hera kemudian dengan langkah percaya diri, ia masuk ke dalam kantor yang berarsitektur bangunan klasik.


Ia menghampiri seorang wanita bermata biru dengan rambut coklat, sudah duduk di meja depan lobby. Hera pun menyapa wanita resepsionis tersebut dengan penuh keanggunan.


Hera berbicara bahasa Inggris tetapi pengucapan bahasa Indonesianya sangat kental.


"Apakah Nyonya sudah memiliki janji sebelumnya?" tanya wanita resepsionis itu dengan bahasa Inggris.


Hera menggelengkan kepalanya, "Saya kemari ingin komplain,"


Wanita itu tidak berbohong, sebenarnya Hera benar-benar ingin komplain tetapi bukan masalah bisnis melainkan masalah hati yang di tolak.


"Maaf kalau boleh tahu komplain tentang apa ya? Dan silahkan mengisi formulir kehadiran disini. Serta tuliskan secara singkat masalah yang ingin anda sampaikan," ucap Sang Resepsionis.


Hera bingung harus menulis dari perusahaan mana?


Ah aku ngarang sajalah perusahaan Abals, alias Abal-abal hehe. batin Hera setelah itu ia menyerahkan kembali formulir tersebut pada Resepsionis.


Setelah menunggu beberapa saat, Hera diperbolehkan masuk ke sebuah ruangan. Ruangan itu sepi karena pemilik perusahaan belum datang. Ya jelas saja karena Barra sedang mengantar Cassie ke kampusnya dulu.


Hera duduk, bukan di sofa panjang dengan meja kecil di depannya melainkan ia duduk di depan meja kerja Barra. Dengan lancang ia mengambil foto yang menghiasi meja kerja tersebut.


Foto Barra saat memulai bekerja untuk pertama kali. Dengan kemeja warna putih dan celana panjang limis berwarna hitam, agak kedodoran. Masih terlihat biasa, polos dan tidak keren.


Hera sedikit menangis sambil mengelus foto tersebut dengan satu jarinya.


"Aku kangen kamu Barra, kamu itu cinta pertama aku. Dan aku nyesel karena mengkhianati cinta kamu...," Hera menangis, menyesali semuanya.


Sedikit demi sedikit, ia mengingat potongan kejadian saat berpacaran dengan Barra. Pria itu sangat menjaga kehormatannya. Apalagi mereka tinggal di Jakarta yang rata-rata teman sebayanya sudah melakukan hubungan intimm sejak menginjak SMA.


Barra dan Hera menjalin cinta saat SMA kelas tiga, semua terasa indah.... sebelum dia terobsesi menjadi orang kaya.


Tak lama kemudian, ada suara pintu di buka. Hera cepat-cepat meletakkan foto itu kembali ke tempatnya. Terdengar suara langkah kaki dan sepertinya itu suara langkah kaki seorang pria yang memakai fantofel.


Hera gugup

__ADS_1


Ia memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya agar kegugupan itu hilang. Saat langkah itu berhenti tepat disampingnya, Hera langsung berdiri dan memeluk orang itu .


"Hera," ucap Kenza.


Hera membuka matanya dan melepaskan pelukannya.


"Kenza, ka-kamu ngapain di sini?" tanya Hera


"Loh kamu gimana sih, saya kan kerja sama Mas Barra," jelas Kenza


Hera memperhatikan Kenza dari atas hingga bawah, wanita itu makin cantik. Dan juga Kenza tidak mengenakan High Heels. Kenza lebih menyukai sepatu dengan hak kecil dan lebar. Bukan hak tinggi dan tipis, karena ia mempunyai trauma mendalam saat memakai high heels.


Kaki Kenza pernah bengkak selama seminggu, tetapi sakitnya selama sebulan. Hanya karena jatuh terkilir. Sejak itulah dia tidak ingin memakai high heels.


"Hmm kamu pindah ke kantor ini?" Tanya Hera lagi


"Ya gak lah, aku kan calon istri mas Barra, jadi kemanapun dia pergi, akoooh harus ikut. Dan You jauh-jauh deh," ucap Kenza.


Dia sengaja berbohong agar Hera menjauhi Barra yang sedang kasmaran dengan seorang bocil. Kasihan bocil kalau berhadapan dengan nenek lampir dari gunung Merapi.


"Hah! Kamu calon istrinya?" pekik Hera dengan suara lengkingnya, sampai telinga Kenza sedikit berdenging.


Kenza menatap Hera dengan mendongakkan kepalanya sambil berkacak pinggang. Seolah-olah mengatakan, Barra adalah milikku. Padahal sebenarnya cincin berlian itu adalah kenang-kenangan dari Oscar.


"Gak ah, gak mungkin. Kamu bohong kan?" ucap Hera sambil menudingkan telunjuknya.


Tak berapa lama Barra yang sedari tadi di tunggu akhirnya datang juga.


"Nah tuh dia, tanya aja sendiri ya kan sayang. Sini sayang," Kenza berlari kecil menghampiri Barra dan memeluk pria itu sambil mengedipkan mata.


Barra mengerti maksud Kenza, tapi dia tidak ingin pakai acara peluk-peluk segala.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Barra pada Hera dengan dinginnya.


"Hemm gak tau tuh sayang, dia kayaknya mau gagalin hubungan kita. Padahal kita kan mau nikah," Kenza menggelendot manja di lengan Barra.


Kenza, biasa aja kan bisa kenapa mesti pake manja-manjaan sih. Risih banget, lagian Hera gak bakal nyerah sampai disini batin Barra


"Barra, kamu beneran mau nikah sama Kenza?" tanya Hera


"Hmmm," Barra hanya berdehem. Karena dia tidak ingin menjawab iya.

__ADS_1


"Apa! Kalian mau menikah? Alhamdulillah akhirnya anakku mau nikah juga,"


Sontak saja Kenza dan Barra menoleh dengan membelalakan mata.


"Duh Mama," gumam Barra


"Ehh eh Tante Joy, hehehe," Kenza melepaskan lengan Barra lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal


Niat ingin ngibulin Hera malah Ibunya Barra datang.


"Mama ke London kok ga bilang-bilang? Sendirian?" Barra segera menghampiri Joy dan mencium punggung tangannya.


Setelah itu Joy ingin mencium pipi Barra.


"Sini, Mama mau cium, mumpung gak ada papa kamu," Joy langsung mencium pipi anaknya, Barra dengan kilat.


Wasabi datang menyusul masuk ke ruangan Barra lalu ia melihat anaknya itu sedang mengusap pipinya yang terkena lipstik.


"Hemm mau curi-curi kesempatan ya?" selidik Wasabi


"Hehee, kan sama anak sendiri sayang,"


"Dia udah besar ngapain sih pake dicium segala," protes Wasabi yang cemburunya gak abis-abis.


Mereka lupa dengan kehadiran Hera.


"Tante, Om, apa benar Barra dan Kenza akan segera menikah?" Tanya Hera ingin jawaban yang pasti


Joy dan Wasabi saling pandang, kemudian beralih menatap Barra kemudian berganti menatap Kenza yang sedang menunduk bersembunyi di belakang Barra.


"Om sama Tante gak tahu ya? Jadi Kenza kamu itu bohong kan?" Terka Hera


"Saya memang akan menikah, dengan siapa, kapan dan dimana yang jelas bukan urusan kamu. Maaf Hera, saya ada pekerjaan lain,"


"Barra bisa kita bicara berdua, beberapa menit saja. Aku jauh-jauh ke sini cuma buat ketemu sama kamu," pinta Hera


"Apakah kamu bisa tinggalkan kantor saya dan jangan pernah kembali dari kehidupan saya," Ucap Barra tidak menanggapi keinginan Hera.


Hera pun meninggalkan Barra dan semua orang yang ada disana.


Setelah Hera pergi, kini Barra dan Kenza harus menjelaskan apa yang baru saja terjadi kepada Joy dan Wasabi.

__ADS_1


__ADS_2