
Di kantor Wibi
Rio dan beberapa penanggung jawab proyek, sudah datang untuk membicarakan lebih lanjut mengenai proyek yang akan mereka bangun.
Tetapi sekretaris Pak Wibi menyuruhnya untuk menunggu di depan ruangan. Beberapa menit kemudian sang sekretaris pergi, sementara Rio yang terlalu lama menunggu pun beranjak berdiri sembari sedikit menguping pembicaraan.
"Pak Wibi kenapa menggunakan perusahan Pak Rio untuk pembangunan itu? Kenapa tidak menggunakan jasa pembangunan itu pada orang yang sebelumnya. Maaf Pak, tapi Saya rasa kita rugi banyak waktu dan lagi tenaga yang mereka pakai terlalu berlebihan. Lihat saja target penyelesaian bangunan sampe enam bulan lamanya?"
"Sudah lah biarkan saja. Saya bekerja sama dengannya karena anaknya akan saya jodohkan dengan Bram. Saya tahu, Bram sangat menyukai anaknya. Jadi jangan diperpanjang lagi masalah ini. Nanti pakai uang pribadi saya saja, toh gedung itu nantinya tidak dioperasikan. Akan saya gunakan sebagai gudang," ujar Wibi
Ck aku pikir dia benar-benar menyukai arsitektur bangunan yang aku berikan. Dia tidak menghargai buatanku malah menjadikannya gudang, untuk apa aku bikin bagus-bagus sedemikian rupa, batin Rio
"Pak, Pak Rio mau kemana?" salah satu anak buahnya memanggil saat melihat Rio pergi keluar ruangan.
Rio pun mengurungkan niatnya untuk bertemu Wibi, kemudian ia kembali ke kantor dengan alasan terlalu lama menunggu, "Kita balik ke kantor saja, terlalu lama," titah Rio
.
.
.
Barra memanggil Olive dan bertanya schedule hari itu dan esoknya.
Olive membacakan agendanya panjang lebar, sementara Barra mendengarkan sambil menandatangani dokumen.
"Batalkan semua, dan katakan pada mereka kita tidak bisa bekerjasama karena kendala pembangunan di London mempengaruhi kinerja kita. Apalah alasannya, lalu katakan rekomendasikan kepada mereka jika PT Nugraha Karya bisa membantu kerjasama mereka,"
"Hah pak beneran ini mau dibatalkan semua? Pak bos bisa rugi loh,"
"Soalnya saya dikatain nyerobot rejeki orang, sampe perusahaan dia mau rugi, jadi saya ingin membuktikan kalau hal itu tidak benar," jelas Barra
"Saya masih tidak mengerti jalan pikiran pak Barra," ucap Olive.
Tetapi dia tetap melakukan apa yang Barra perintahkan.Saat Olive mau kembali ke ruangannya, Barra memanggilnya lagi.
"Liv, Olive,"
"Ya pak, apalagi,"
"Karena semua kerja sama saya tolak, dan perusahaan masih mengerjakan proyek yang lama jadi kalian libur saja. Saya juga mau liburan, ada hal yang harus saya kerjakan,"
"Hah? serius pak?" pekik Olive
"Ya tapi tetap ya ada yang menjaga satu atau dua orang di sini. Kalau orang bagian proyek meminta dana, harus ada yang menangani,"
__ADS_1
"Gampang itu pak, bisa diatur,"
"Ok saya pulang dulu," ucap Barra
Hemm enak banget jadi bos, batin Olive
.
.
.
PT Nugraha Karya, adalah kantor milik Rio Ghani Prawirodirjo. Angga, sang asisten menyambutnya dan mengatakan jika ada yang mencari dirinya dan dia ada di dalam menunggu.
"Tamu dari mana?"
"PT sambala sambala bala sambalado
terasa pedas, terasa panas....," Angga malah bernyanyi
"Arghh punya asisten laki-laki kok gini amat ya, terlalu melambai," cibir Rio tetapi asistennya itu malah tertawa.
"Haha tapi terhibur kan pak?"
"Ya... yaudah sana bikinin saya kopi," perintah Rio
Rio mulai darah tinggi, punya asisten yang pembangkang.
"Yaudah potong gaji nih ya," ancam Rio
"Ya ya deh pak Gerak jalan," Angga pun berlalu dan membuatkan kopi untuk Rio dan juga tamunya.
Ceklek.
Rio masuk ke ruangannya, di sana sudah ada Barra dan di depan mejanya ada surat lamaran dari dirinya.
"PT sambalado, hemm mau apa kesini?" ujar Rio sambil duduk.
"Saya ingin melamar pekerjaan di perusahaan PT Nugraha Karya ini pak," ucapan Barra membuat Rio tertawa terbahak-bahak
"Hahahaa jangan ngaco kamu! Kamu mau kesini tuh, mau mata-matain perusahaan saya kan? Trus kamu mau ambil semua klien saya, hah belagak jadi karyawan,"
"Saya sudah menolak kerja sama dengan 5 perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan saya..." Belum lagi Barra selesai bicara, Rio sudah memotongnya
"Hemm kamu mau menolak mereka atau mau tidak apa urusannya sama saya?"
__ADS_1
"Loh Pak Rio bagaimana sih, kemarin malam kan bilang, kalau saya dianggap mencuri proyek yang seharusnya bapak dapatkan. Nah saya kembalikan saja, saya tolak dan saya merekomendasikan mereka untuk memilih perusahaan ini," jelas Barra
"Nanti Bapak bisa lihat, apakah perusahaan saya menghambat rejeki perusahaan ini? Lalu bapak silahkan memberikan penawaran yang terbaik untuk Mereka. Jika mereka menolaknya, maka bapak bisa memanggil saya sebagai karyawan bapak, saya bisa membantu perusahaan bapak menjadi perusahaan yang maju, tentu saja kita masih tetap bersaing secara sehat dan profesional," jelas Barra panjang lebar membuat Rio tak bisa berkata-kata lagi.
"Saya permisi undur diri, saya tunggu panggilan kerja dari bapak, selamat pagi Pak Calon Mertua," ucap Barra sambil tersenyum.
Rio masih tak menyangka dengan apa yang dilakukan Barra. Ingin membantunya sampai menolak lima perusahaan, bisa-bisa perusahaan Barra mempunyai citra buruk.
Tetapi Rio masih menunggu apakah benar yang dikatakan Barra? Apakah lima perusahaan itu akan datang sesuai rekomendasi Barra?"
Dan terakhir benar saja. Satu persatu perusahaan itu menelepon perusahaan Rio dan mereka juga sudah membuat janji temu hari itu juga. Namun hanya satu dari Lima perusahaan yang menerima tetap melanjutkan kerjasamanya karena satu perusahaan itu sedang tidak terburu-buru.
Lalu dengan rasa sedikit menyesal Rio menelepon Barra sore itu. Padahal sudah jam pulang kerja.
"Hallo," Barra mengangkat ponselnya. Dia tidak tahu nomer siapa yang menghubunginya.
"Hemm Nak Barra, ini saya Rio....,"
"Oh Pak Camer, ya pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Barra dengan senyum lebarnya.
Langkah awal rencana mengambil hati si calon bapak mertua berjalan lancar, tinggal beberapa langkah lagi untuk meyakinkan dirinya jika Barra adalah yang terbaik.
.
.
.
"Papa serius mau jodohin aku sama Cassie?" pekik Bram sambil tersenyum saat Papanya mengabari hal yang menjadi keinginannya selama ini.
Siang itu Bram baru sampai di Bandara dan Wibi menjemput dengan mobilnya sendiri usai rapat dari kantor.
"Benar, tapi kalau kamu tidak bisa mengubah perilaku kamu kepada papa, maka papa akan membatalkan semua ini," ancam Wibi
"Terimakasih Pa..," Bram memeluk Papanya setelah sekian lama.
Terakhir kalinya Bram memeluk Wibi dan mengucapkan terimakasih adalah saat kelulusan SMP. Setelah itu hubungan mereka semakin merenggang.
"Cassie, gue seneng banget Lo, bakal jadi tunangan gue," Bram tersenyum-senyum sendiri sampai mengkhayal tinggi.
"Kamu senang?" tanya Wibi
"Jelaslah Pa, senang banget,"
Nanti malam acara ulang tahun dan sekaligus acara pertunangan kamu dengan Cassie.
__ADS_1
"Saya juga ikut senang melihat mas Bram ceria lagi," ucap Bimo
Tapi gimana dengan calonnya ya, dengar-dengar kan tuh cewek gak tahu soal pertunangan ini, pasti bakal kacau ck ck ck kasian, batin Bimo