Promiscuity After

Promiscuity After
London Eye


__ADS_3


Sesampainya di sana tepat pukul 3 sore, sebelum mengantri tiket. Barra, Cassie dan Mbak Mar beribadah di dekat London Eye. Walaupun bukan negara Muslim, di sana banyak di temukan 2.000 tempat ibadah muslim di London.


Beruntung pada pukul tiga lewat dua puluh menit, mereka mendapatkan antrian ke lima. Karena memang pada jam itu adalah jam sepi. Biasanya mengantri tiket saja bisa 30 sampai 60 menit.



"Tinggi banget ya Non,"


"Ya mbak Mar, tingginya 135 meter," ucap Cassie


Mereka naik bersama orang lain, satu kapsul bisa menampung 25 orang dengan berat yang normal. Dan saat mereka berada di ketinggian paling atas, Cassie gemetaran.


Barra yang berdiri di belakang Cassie langsung memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Ia terlihat gugup dan wajahnya tiba-tiba pucat. Cassie yang tadinya berdiri akhirnya memilih duduk yang ada di bagian tengah kapsul.



Barra mengikuti gadis itu dan duduk di sebelahnya. Satu tangan kirinya merangkul Cassie dan tangan kanannya menggenggam jemarinya.


"Jangan takut ya, Insyaallah Aman," ujar Barra menenangkan Cassie yang sedang di landa parno


"Makasih Om, kok tahu sih kalo aku takut,"Cassie melayangkan senyumannya.


"Tau lah, kan kamu bagian dari tulang rusuk saya hehe," Barra mencoba bercanda agar Cassie melupakan ketakutannya.


"Ahhahaha bisa aja om,"


"Non kenapa? Pusing? Sakit? Kok pucat?" sembur Mbak Mar dengan berbagai pertanyaan, ia baru tahu kalau Cassie sudah duduk. Tetapi wajah anak majikannya itu terlihat pucat.


Cassie menggelengkan kepalanya, "Aku gak sakit mbak, tapi takut, biasanya juga ga apa-apa tapi pas lihat sungai Thames kok rasanya langsung takut gitu,"


"Mungkin karena ini terlalu tinggi dan udara yang berbeda membuat kita belum bisa beradaptasi dengan oksigen di sini," jelas Barra yang asal mengarang indah.


"Masak karena oksigen yang beda sih? Ah Om Barra ngarang nih,"


"Hehe, kan biar bikin kamu tenang. Sekarang udah gak takut lagi kan?" tanya Barra


"Ya sih, udah berkurang rasa takutnya," ucap Cassie.


"Genggam tangan mbak juga dong, biar ga kayak orang ilang," dan semuanya tertawa.


"Mas Barra sama non Cassie ga ciuman lagi? Ini udah di tengah puncak loh. Katanya sih kalau naik bianglala, pas di puncak atas trus kita cium pasangan kita. Hubungan kita tu bakal awet," ucap Mbak Mar

__ADS_1


"Ah mitos," Sahut Barra dan Cassie berbarengan.


"Buseet bisa samaan gitu yak," seru mbak Mar dan mereka pun bercanda tawa di dalam kapsul bianglala.


Tiga puluh menit waktu yang lumayan lama berada di dalam kapsul dengan menikmati pemandangan kota London. Setelah itu Barra mengantar Cassie dan Mbak Mar untuk pulang.


Lelah, letih, pusing dan haus semua terbayarkan dengan menyaksikan keindahan alam.


Mbak Mar terlihat kelelahan, ia sampai tertidur saat perjalanan pulang. Sementara Cassie mengobrol santai dengan Barra. Sedikit demi sedikit mereka saling berbicara apa yang mereka suka dan tidak suka atau hal-hal yang lucu.


 


Wasabi membanting koran di meja ruang santai. Ruang santai seharusnya menjadi tempat santai. Tetapi Wasabi malah emosi dan kesal dengan peraturan yang ada. Yang berkuasa yang menang begitulah sistem yang ada saat ini.


Napasnya mendera-deru bagaikan banteng yang siap menabrak sesuatu yang berwarna merah atau sesuatu yang mengancamnya.


Joy datang dengan membawa coklat panas, favorit yayang tercintanya. Ia meletakkan gelas yang berisi coklat itu di meja. Aroma khas coklatnya terhirup melewati lubang hidung Wasabi dan menyentuh syaraf-syarafnya yang tegang.


Seketika ia pun melirik sesuatu yang di bawa oleh Joy untuknya.


"Hot Chocolate kalau gak mau buat aku aja nih," ucap Joy yang berpura-pura mengambil gelas itu. Namun Wasabi lebih dulu meraihnya.


Joy terkekeh, ia sudah tahu betul bagaimana tingkat emosi Wasabi. Jika sudah ada coklat panas di depannya, masalah berat yang membuatnya emosi langsung berubah menjadi tenang.


Wasabi menyeruput coklat panasnya dengan suara slurup. Ia menyesap hangat dan kentalnya coklat yang langsung memijat otot-ototnya yang kaku menjadi meregang.


"Ada apa sayangku, Kok bete gitu?" Joy sembari memijat kedua bahu Wasabi dengan lembut.


"Ahhh enak banget, lagi sayang...bagian punggung ke bawah tuh.. Nahh iya situ...terus...terus...," seru Wasabi yang langsung memposisikan duduknya menyamping, agar bisa dijangkau Joy yang tadi duduk disebelahnya


"Hemmm keterusan nih,"


"Hehe, nanti gantian aku pijitin kamu. Pake lulur atau mau pake minyak zaitun?"


"Gak usah,"


"Trus maunya apa?" tanya Wasabi, Joy masih meminati dirinya.


"Aku maunya kita bulan madu di London," Joy mendekat sambil berbisik di telinga Wasabi


"Astaga, jauh-jauh ke London. Di kamar juga bisa,"


"Barra tuh posting foto di London sama ceweknya, Mamanya kan juga pengen ke sana," ceritanya Joy iri

__ADS_1


"Jadi dia udah dapet cewek, baguslah. Seenggaknya dia gak belok. Takutnya kayak tetangga sebelah tuh, abis cerai dia malah belok," ucap Wasabi


"Mana mungkin Barra belok, dia lakik tulen. Kenza juga tadi langsung kabarin aku, biasalah dia ratu gosip. Katanya ceweknya tuh masih kecil baru aja lulus SMA, tapi pas aku lihat sih cantik banget,"


"Trus kalau masih kecil kenapa? Yang penting anak kita suka. Aku gak mau ya kamu larang-larang dia. Kasihan,"


"Iya-iya, aku setuju kok. Ih udah ga sabar nih pengen nimang cucu," ucap Joy


"Ehh belum juga nikah,"


"Hehe, sayang kamu tadi belum jawab. Kenapa kok bete gitu?" Joy masih memijat punggung Wasabi.


Wasabi pun menyuruhnya berhenti, ia menghabiskan coklat panasnya dahulu sebelum berbicara.


Sepertinya serius


Jadi Joy memasang wajah serius.


"Bram, bebas dari hukuman. Padahal jelas-jelas, jasad Vinno dan Yoga di temukan terkubur di dekat semak-semak dekat rumahnya. Aku sendiri yang menemukan, dan dua polisi yang menjadi saksi. Ada sidik jari Bram di pakaian Vinno dan peluru yang tertancap di dada Yoga itu peluru milik Bram," Jelas Wasabi


"Kok bisa bebas sih?"


"Katanya, memang sebelumnya Vinno dan dia ada di pesta dan pastilah ada sidik jari Bram di sana. Karena pria itu sempat merangkul dan berpelukan ala sahabat. Sedangkan peluru milik Bram yang tertancap di dada Yoga, ditepis oleh Bram karena salah satu bodyguardnya juga pernah memakai pistol itu,"


"Ada salah satu orang yang mengaku telah membunuh mereka berdua. Dan wajahnya sangat mirip dengan Bram,"


"Kok jadi keinget ya sama penyamaran Virus waktu kamu mau nangkap dia," ucap Joy


"Ya begitulah, intinya Wibi mencari seseorang yang mirip dengan anaknya dan satu perempuan yang bersama mereka saat itu. Tapi sebentar...Dalam rekaman cctv, perempuan itu terlihat tinggi. Tetapi yang mengaku sebagai perempuan dalam cctv itu, dia sedikit pendek. Ah kenapa aku ga berpikir kesana ya," ujar Wasabi


"Hakim sudah memutuskan?" tanya Joy


Wasabi menganggukkan kepala


"Susah kalau naik banding, terlebih lagi kamu sudah gak bekerja dengan mereka sayang," ucap Joy


"Ya makannya aku kesal," gerutu Wasabi.


"Ingat pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat,"


"Kamu akan jatuh juga kepelukanku," ucap Wasabi


"Ahahha astaga sayang ahahha," Joy tertawa lebar

__ADS_1


__ADS_2