
Jovan menemui tamunya duluan, sementara Dina masih harus membenahi riasan make up nya. Jovan bersikap ramah pada Wasabi, Joy dan Barra. Namun saat Joy melihatnya dia langsung merasakan feeling yang tidak enak.
Bukankah dia pria yang pernah bersama Ibu si pencari masalah itu ya? Ah aku tidak begitu memperhatikannya, kemungkinan mirip, batin Joy
Jovan berbicara basa-basi soal perjalanan ke rumah itu apakah terkena macet atau tidak. Lalu berasal dari daerah mana dan lain sebagainya.
Tak berapa lama, terdengar derap langkah sepatu high heels menuju ruang tamu. Dina menyambutnya dengan senyum dan sangat ramah sebelum melihat siapa tamunya.
"Maaf ya lama menung....gu," raut wajah yang tersenyum merekah itu langsung berubah kecut.
Langkahnya terhenti saat dirinya sudah berada di depan kursi, tetapi tidak langsung duduk. Sementara Joy dan Wasabi menoleh ke arah Dina. Mereka semua terdiam sambil menggerutu di dalam diri masing-masing
Dia? kok bisa sih? Bukannya pacarnya Cassie itu Bram? Ah Ini salahku kenapa aku tidak bertanya dahulu, batin Dina
Sial banget, besanan sama dia! si ibu pencari masalah. Arghhh aku ga setuju. Beda jauh banget sikapnya sama Cassie, jangan-jangan Cassie bukan anaknya, batin Joy
Oh tidak, andai aku punya kekuatan telepati seperti Tuan D dan Liana mungkin aku akan mengatakan pada Joy, jangan mencari masalah, batin Wasabi
(Tuan D adalah drakula yang baik dan hidup berdampingan dengan manusia, Cerita ini ada di novel Cinta Ku Tuan Drakula Karya Raja)
Pria itu sungguh takut jika dendam yang terjadi antara Joy dan Ibunya Cassie akan berlanjut pada malam itu. Semoga acara lamaran itu tidak terganggu dengan dendam pribadi. Tapi rasanya tidak akan mungkin, keduanya memutuskan dalam batin untuk tidak menerimanya.
Dina tersenyum miring lalu duduk, dia tidak mungkin mengusirnya langsung. Karena tiba-tiba saja Dina sudah memiliki ide untuk mempermalukan keluarga Barra saat acara lamaran terjadi.
Masih dalam suasana hening.
"Mah, ini Mas Barra dan keluarganya," Cassie memulai pembicaraan,"
"Oh ini toh, Barra dan orang tuanya yang mana sang kepala keluarga sudah tidak bekerja lagi,"
"Maksud Mama? Mama kenal sama Papa Wasabi?"
Astaga panggilannya saja sudah papa, apa-apaan ini, batin Dina.
"Ya saya sudah tidak bekerja karena yah gimana ya, orang yang semakin tua itu pasti akan mengalami masa pensiun. Tapi saya masih bisa menghidupi keluarga Saya," jawab Wasabi masih terdengar santun
"Betul itu pak..." Jovan ingin berbicara lebih banyak tetapi Dina menyenggol lengannya dan menoleh padanya, memberikan isyarat untuk Diam.
__ADS_1
"Ah ya jelas kan yang kerja sekarang cuma istrinya kan? yang banting tulang, sementara suaminya palingan juga di rumah tidur-tiduran," cibir Dina
Cassie mengernyitkan dahinya dengan apa yang dilakukan Mama, malu dengan sikapnya. Gadis itu mencuri pandang ke arah Barra, takut jika pria itu akan ilfill dengan keluarganya.
"Wah hebat ya Ibu, bisa melihat kehidupan orang lain," jawab Joy.
Sementara Barra juga sama seperti Cassie saling tidak enak. Mereka sebagai anak hanya diam. Sebenarnya Barra ingin menengahi namun ia tidak tahu ada masalah apa antara Ibunya Cassie dengan Mamanya. Sepertinya mereka saling kenal atau sudah pernah bertemu sebelumnya
Tak berapa lama, Rio datang.
"Maaf ya, saya terlambat," Rio menghampiri keluarga Barra dan menyalami mereka.
"Saya Rio, Ayah kandung Cassie," Rio memperkenalkan dirinya kemudian duduk di samping Dina, sehingga wanita itu di apit oleh dua pria.
"Dua pria ini, suami Ibu? Wah wah...," ucap Joy yang langsung mendapatkan senggolan di kakinya. Wasabi memberi kode untuk tidak menambah masalah.
"Ehemm karena orang tua Cassie sudah berkumpul jadi bagaimana jika langsung saja memulainya, apa maksud kedatangan kami," ucap Wasabi pada akhirnya
"Oh ya, ya Silahkan," sahut Rio
"Saya Wasabi, Ini Joy istri saya dan Barra anak satu-satunya kami. Kedatangan kami kemari untuk melamar Cassie menjadi menantu kami. Keduanya saling mencintai jadi kenapa tidak jika kita menyatukan mereka dalam ikatan yang sakral dan jalinan kasih yang Sah ke dalam sebuah Pernikahan," ucap Wasabi.
Wasabi, batin Rio
Mendadak ia teringat akan Perusahaan sambal yang terus memenangkan tender sehingga perusahaan Rio tidak mendapatkan proyek sama sekali. Dan itu membuatnya sangat kesal
"Saya tidak setuju jika kalian melanjutkan hubungan, Saya menolak lamaran ini," ucap Dina
"Kenapa sayang? Mereka saling mencintai?" bisik Jovan
"Maaf sebelum saya menjawab, Wasabi itu PT. Wasabi bukan?" tanya Rio
"Iya betul, Saya mengambil nama perusahaan saya dari nama Ayah saya," ucap Barra.
"Ooh jadi perusahaan kamu ya yang suka nyerobot tender saya, tahu gak gara-gara itu perusahaan saya hampir tidak ada pemasukan sama sekali. Semua proyek kalian ambil, bersaing sih bersaing tetapi jangan seperti ini," ucap Rio dengan nada suara yang lebih keras.
"Saya setuju dengan mantan istri Saya, Kami berdua tidak menerima lamaran ini. Silahkan melamar anak orang lain ya," ucap Rio
__ADS_1
"Pah! Mah!" pekik Cassie yang sedari tadi menahan malu.
"Aku maluu! Aku malu sama sikap kalian. Mas Barra dan orang tuanya baik-baik mau meminta aku untuk menikah dengan Mas Barra! Tapi yang ada kalian berdua sama-sama mencibir. Apa Papa sama Mama gak tanya perasaan aku? Aku cinta sama Mas Barra, hiks...," ucap Cassie sambil menangis.
"Kalau kalian tidak suka, jangan seperti itu... hargai mereka.... hiks....dan lagi...hiks......," Cassie sesegukan , ia menghapus air matanya lalu melanjutkan lagi, "Ini soal masa depan aku. Hidup Cassie cuma Cassie yang bisa menentukan..hiks..,"
Bentar author cari tisu dulu, ikut nangis soalnya.
Barra menghampiri Cassie yang berdiri, dia menggenggam tangan Cassie.
"Sudah jangan nangis ya, mungkin mereka belum bisa menerima Saya karena mereka belum mengenal. Lain Waktu Saya akan kemari, melamar untuk kamu hingga sebuah restu terucap dari bibir mereka," ucap Barra menenangkan Cassie tetapi sang ibu langsung menjawabnya dengan kasar bahkan mengusirnya.
"Halah mau sampai kapan pun saya tidak akan merestui, sudah sana pulang. Bikin males aja, capek-capek saya menyiapkan ini ternyata.... arghh," Dina beranjak dari duduknya.
Sementara Joy tiba-tiba saja ia menitikkan air mata. Apa karena dirinya, sehingga Barra tidak bisa melamar Cassie.
Joy berdiri, kemudian berlari kecil mengejar Dina. Ia meraih lengan Dina hingga wanita itu berhenti.
"Apaan sih, jangan pegang-pegang," Dina menepiskan tangan Joy.
"Jika ibu dendam sama saya silahkan, dan saya akan perbaiki hubungan kita. Jangan sampai karena masalah pribadi kita, menjadi berimbas ke anak-anak kita," Joy berkata sambil meneteskan air mata. Wasabi tidak tega melihat keadaan yang seperti ini. Ia mendekati Joy dan memeluk bahunya agar lebih tenang.
"Mau pake air mata buaya segala ya buat merayu saya? Hah? Dengar ya? Joy! Saya sudah punya calon suami untuk Cassie, dan dia lebih baik dari anak Kamu!"
"Dina, tolong pikirkan dengan perasaan Cassie. Udahlah cancel aja perjodohan kamu itu. Yang terpenting adalah apakah anak kamu itu mau atau tidak, yang menikah kan Cassie bukan kamu," ujar Jovan
"Dia anakku, dan kalau dia mau menikah harus dengan restu ku," ucap Dina keras
"Iya aku tahu dia, anak kamu, tapi..." ucapan Jovan terputus.
"Kamu tuh ngerti gak sih, Papa kandungnya aja nolak kok kamu yang ribet sendiri, udahlah," Dina beralih ke kamar
Sementara Rio, dia malah keluar rumah menerima panggilan telepon yang masuk.
Cassie menangis di pelukan Barra
"Maafin sikap Mama sama Papa aku ya Om," ucap Cassie sesegukan
__ADS_1
"Kok om lagi, udah bagus panggil Mas, hehe," Barra mencoba menghibur meski dirinya tersakiti.
Penolakan ini lebih sakit dari pada pengkhianatan Hera. Sungguh ingin rasanya dia menampar mulut Dina saat mengatai orang tuanya. Namun sekali lagi, Barra menghormati Orang tua Cassie.