Promiscuity After

Promiscuity After
Keharmonisan


__ADS_3

Jam pelajaran Cassie selesai, dia pun bergegas untuk turun. Tetapi saat keluar dari pintu ruang kelas. Bram masih berada di depan kelasnya.


"Loh kok Lo masih disini? Gak kuliah?" tanya Cassie menghampiri Bram


Bram menggeleng, "Tadi gue telat masuk, ya bolos sekalian,"


"Uh kebiasaan. Yaudah gue pulang dulu ya," pamit Cassie


"Ngobrol bentar dong," pinta Bram yang rindu bercanda tawa dengan Cassie


Cassie pun menurutinya, ia melihat ke lantai bawah dan memulai percakapan.



Visual dalam kampus UCL dari lantai atas.


"Bram, sebaiknya Lo rubah perilaku dari sekarang. Lo harus kejar masa depan Lo, fokus kuliah trus Lo bisa kerja atau ngelanjutin bisnis bokap Lo. Berhenti deh nge-club atau konsumsi narkotika. Lo juga musti rehab," Cassie menasihatinya dengan pelan-pelan agar Bram mengerti.


"Ya gue bakal fokus,"


"Ah jawaban Lo ya ya terus. Lo musti berubah bukan demi gue! Tapi demi diri Lo sendiri,"


"Haha,"


"Di nasihatin malah ketawa. Kenapa ketawa?" Cassie sedikit kesal


"Lo mirip Nyokap gue kalo lagi nasihatin, gue rindu dia,"


"Nyokap Lo juga bakal bahagia, kalo Lo berubah untuk masa depan Lo,"


"Gue butuh semangat dari Lo, terus disamping gue ya," pinta Bram


"Ya, Lo pasti bisa jadi lebih baik. Semangat! Tapi gue cuma bisa di samping Lo sebagai teman," Cassie tersenyum lebar sambil menepuk lengan Bram


Di saat itu juga, Bram merasa di perhatikan. Sesuatu yang hilang dari dirinya. Sesuatu yang mengiringi dirinya dengan tulus, perhatian dan dukungan dari orang terdekat.


Mereka turun ke bawah untuk pulang sore itu. Saat keluar dari pintu utama kampus Cassie tertawa dengan Bram. Seperti dulu, mereka bersahabat.


Barra yang sedari tadi menunggunya di depan kampus, melihat Cassie berjalan beriringan dengan Bram


Barra mengernyitkan dahinya. Semudah itu Bram lepas?


"Sayang, dah lama ya? Aku kan udah bilang ga udah di jemput," Cassie menyapa menghampiri Barra.


"Sayang?" gumam Bram pelan.

__ADS_1


"Dia, bukannya...," ucapan Barra terpotong karena Cassie menyelanya


"Aku gak tahu gimana dia bisa lolos, tapi yang jelas Dia udah janji gak akan berlaku jahat lagi," ujar Cassie sedikit berbisik


"Hemm yaudah, yang penting selalu jaga diri. Pulang Yuk, Saya ga nyaman, dia liatin kamu terus hehe," bisik Barra


"Hehe cemburu ya, yaudah yuk," ucap Cassie pada Barra lalu ia melambaikan tangan pada Bram yang beberapa meter ada di belakangnya.


"Bram gue pulang dulu ya," teriak Cassie


"Bukan cemburu, cuma gak suka aja ada cowok yang pandangannya ke kamu gimana gitu, gak kedip-kedip," ujar Barra yang berjalan menuju mobil sambil menggenggam jemari Cassie.


"Ya, aku juga ga nyaman. Tapi mau gimana lagi. Dia kesepian dan butuh teman bicara,"


"Kamu terlalu baik. Jangan sampai kebaikan kamu di manfaatkan oleh orang seperti dia,"


"Aku inget kata-kata Mbak Mar, kita harus ngasi kepercayaan. Semoga aja dia bisa mengubah tingkah lakunya jika kita memberikan dia kesempatan untuk berubah,"


"Ya, semoga,"


Barra membuka pintu mobil untuk Cassie


"Silahkan masuk Princess Bocil,"


Rupanya meskipun mereka mengubah nama panggilan, pasti kembali ke seperti semula, Bocil dan Bewok.


Barra mengatakan pada Cassie jika Mama dan Papanya juga ke Inggris, dan mereka ingin bertemu Cassie.


"Waduh, jadi sekarang kita mau ketemu orang tua Om Bewok?" Tanya Cassie


"Iya, ni mereka nunggu di cafe. Ga apa-apa kan? Soalnya Mama penasaran banget, dan lagi besok mereka udah balik ke Indonesia,"


"Hmmm aku ga ada persiapan Om, masak datang-datang kucel begini kan abis pulang ngampus. Gak bawa bingkisan lagi,"


"Halah ngapain pake dandan segala, udah cantik kok. Nanti kalo kamu dandan terlalu cantik, yang ada Mama tuh cemberut. Dia itu pencemburu, sama kayak Papa. Papa malah cemburu sama anaknya sendiri," Barra menceritakan sedikit tentang orang tuanya sampai Cassie terkekeh mendengarnya


"Haha masak sih? Papanya Om Bewok cemburu kalo Mama deket-deket Om?" tanya Cassie


"Iya gitulah. Tapi Saya salut sama mereka, walau udah berumur tetapi masih mesra,"


"Ihh jadi penasaran deh sama orang tua Om, Jadi pengen tahu apa rahasianya biar mesra sampe tua,"


"Rahasianya itu saling memahami apa yang pasangan kita inginkan, jawabannya selalu begitu kalau di tanya," jelas Barra.


Ponsel Barra berdering, ia segera menjawabnya melalui earphone.

__ADS_1


"Hah? Pantai? Gak jadi di cafe nih? Ya...ya...ok," Barra menutup sambungan teleponnya.


"Ada apa Om? Kok tadi kaget gitu?" tanya Cassie


"Kita puter balik, Mama tadi telp katanya ketemu di pantai, gak jadi di Cafe. Nanti kalau kita kelamaan datang, pasti Mama berubah tempat lagi, jelas Barra


"Haha astaga, yaudah om buruan gas, tapi hati-hati ya,"


Dan Barra pun mengemudikan mobilnya sedikit lebih kencang.


Sesampainya di pantai.


Joy dan Wasabi duduk di jembatan kayu. Di bawahnya ada air pantai. Jika ombak besar datang, maka akan membasahi kayu. Dan itu bisa menjadi spot yang cocok untuk berfoto.


Sesampainya di sana Barra melihat dari kejauhan, ia pun mengernyitkan dahi saat melihat seorang pria ada di dekat dengan ibunya siapa dia?


Barra mulai mengenalnya ketika sudah dekat


"Astaga Papa, Barra sampe ga kenal gara-gara cukur brewok sama kumis," ucap Barra sambil menggandeng tangan Cassie


Joy terkekeh kecil , "Hehe cakep kan, biar kalo di foto papa ga kelihatan tua,"


Joy kemudian melihat tangan Barra yang sedang menggandeng seorang wanita muda, sangat muda. Joy terdiam seketika memandangi Cassie dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.


"Ini calon mantu Mama ya," Joy menghampiri Cassie dan mencium kedua pipinya, "Cantik bener,"


"Saya Cassie, hehe terimakasih pujiannya, Mama juga cantik banget ya, awet muda," jawab Cassie sedikit gugu dan bingung memanggil Joy dengan sebutan apa. Dia panggil kekasihnya saja Om Bewok. Kalo panggil Oma malah nanti cemberut jadi Cassie pun memanggilnya Mama.


"Makasih sayang, sini duduk yuk," ajak Joy ramah


Cantik luar biasa, hmm pantas saja Barra kelepek-kelepek, batin Joy. Dia langsung melihat Wasabi takut jika suaminya terpesona. Rupanya Wasabi sedang sibuk nyemil.


Oh aman, batin Joy lagi karena tahu Wasabi tidak melirik Cassie



Cassie duduk dan sedikit menunduk memberi hormat pada Papanya sembari menyapa, "Salam kenal Pah, Saya Cassie,"


Cassie tidak mengulurkan tangan karena sebelumnya Barra sudah menyuruhnya untuk tidak berjabat tangan dengan papanya karena Sang Mama pencemburu berat.


"Hallo Cassie, saya papanya Barra," Wasabi menyapa dari jauh dan melanjutkan memakan cemilannya


Di tengah mereka tergelar berbagai minuman dan makanan ringan di dalam box berukuran sedang.


Awalnya Cassie sedikit canggung, tetapi lama kelamaan Cassie mulai berbaur, dia sangat menyukai keakraban dan keharmonisan di tengah keluarga Barra.

__ADS_1


__ADS_2