Promiscuity After

Promiscuity After
Baru Tahu


__ADS_3

Tiga hari sebelum hari pernikahan Rio


"Apa? Papa mau nikah?......Sama siapa?" tanya Cassie yang mendapat kabar dadakan dari Papanya


"Hemm lebih baik kamu ajalah. Kenalan sendiri, kamu pulang ya, nanti Papa belikan tiket pesawatnya," ucap Rio


"Hilih pakai rahasiaan segala," sahut Cassie


"Sekalian sama Mbak Markonah ya Pa, dia kangen sama anaknya," timpalnya


"Yaiyalah, nanti papa juga belikan tiket buat Mbak Markonah, kamu sama Mbak Markonah itu kan dah satu paket. Dah dulu ya Papa mau terima tamu," ucap Rio menghentikan pembicaraannya.


"Tamunya siapa Ngga?" tanya Rio kepada Angga Asisten sekaligus sekretarisnya lewat sambungan interkom.


"Namanya Kenza pak,"


"Suruh masuk aja," seru Rio


Tak berapa lama Kenza masuk dengan wajah serba tidak enak. Karena Rio memberikan uang 1Miliar kepada Mamanya untuk acara pernikahannya nanti, padahal menurut Kenza dia tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu kan mereka cuma nikah kontrak saja.


"Ada apa, siang-siang kesini? Kamu gak istirahat makan siang?" tanya Rio


Kenza tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya dan malah bertanya soal hal lain yang terus mengusik pikirannya.


"Kamu kok ngasih uang sama Mama sebanyak itu sih? Acaranya sederhana aja kan bisa, gak perlu mewah sampe ngabisin 1M. Aku jadi gak enak sama kamu,"


"Walaupun kita nikah kontrak, tapi tetep aja kan itu pernikahan dan kamu belum pernah mengalaminya jadi aku pengin bikin kamu bahagia didepan teman-teman kamu. Klien dan teman dekatku juga akan hadir beberapa jadi kalau aku bikin secara sederhana mereka juga pasti akan berbicara yang enggak-enggak bisa-bisa menyangkut ke bisnis Aku,"


"Kamu gak merasa terbebani kan?"


"Enggak, udah jangan pikirin. Sekarang yang jadi masalahnya. Aku baru tahu kamu itu bawahannya Barra,"


"Ya terus kenapa sama Mas Barra? Dia juga teman masa kecil aku,"


Rio memijat pelipisnya kemudian menopang dagunya di atas meja.


"Barra itu calon menantu Aku,"


"Hah?...astaga hahaha," Kenza terkekeh, "Dunia kecil banget ya, Bosku adalah calon anak tiriku haha," Kenza terkekeh lagi


"Kamu seneng banget kelihatannya,"


"Ya senenglah, itu berarti saatnya ngerjain bos sendiri haha. Jadi anak kamu namanua Cassie ya. Aku kenal sama dia. Aku sering ngerjain dia juga,"


"Ngerjain apa? Kamu jahil juga ya orangnya?"


"Ada deh, tapi... jangan sampai Mas Barra tau ya kalau kita cuma nikah kontrak. Bisa-bisa aku diceramahi abis-abisan,"

__ADS_1


"Kamu panggil dia Mas, sedangkan kamu manggil aku cuma 'Kamu' rasanya gak adil banget ya,"


"Iri? Bilang bos, hehe. Yaudah aku panggil kamu, Mas...Mas Rio, si brewok tebal haha," Kenza malah meledek


Rio ikut tertawa karena pembawaan Kenza yang periang seperti Cassie anaknya. Setelah itu Rio mengatakan jika besok, Cassie akan pulang jadi kemungkinan mereka akan bertemu esok lusa.


"Oke gak masalah, aku sama Cassie akur kok?"


"Ya tapi ada satu kendala, kamu harus berhenti kerja kalau nikah sama Aku. Aku tempatin kamu jadi wakil direktur,"


Kenza melongo tak percaya.


"Hah? Serius? Trus setelah kita cerai nanti kerjaan aku tetap aman gak sebagai wakil direktur?"


"Ya kalau kerja kamu bagus ya bertahan, kalau enggak ya turun jabatanlah," ucap Rio


"Oke nanti aku akan kerja sebaik mungkin. Oh ya surat nikah kontrak yang aku minta, udah kamu buat belum Mas?"


Rio langsung membuka laci atas dengan map biru kemudian menyerahkannya kepada Kenza.


"Nih, baca dulu ya, kalau ada poin lagi kamu bisa tambahin,"


"Aku boleh nempatin kamar manapun kecuali kamar utama? emangnya itu kamar siapa?" tanya Kenza setelah membaca beberapa persyaratan.


"Kamar pengantinku saat sama Dina. Aku gak mau kamu pake itu, nanti bisa rusak kenangan aku,"


Setelah menandatangani surat perjanjian yang mereka bawa masing-masing satu lembar copyan yang sudah di materai dan di tanda tangani oleh keduanya, Kenza pulang tetapi Rio malah mengajaknya makan siang didepan kantor.


"Shibuya," Kenza membaca plang nama dan hanya menghela napas sedikit .


"Kenapa? Kamu gak suka makanan Jepang?" tanya Rio


"Eneg, gimana ya? lidahku gak terbiasa makan makanan yang setengah matang,"


"Yaudah ganti tempat aja,"


Rio mengajak Kenza ke tempat lain dan berjalan duluan tanpa menggandengnya. Mereka bukan pasangan sesungguhnya jadi untuk apa gandengan.


Saat Rio berbalik, Dina malah barusan masuk ke tempat makan itu. Mereka berpapasan dan saling menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Sesungguhnya keduanya masih belum bisa melupakan cinta mereka. Cinta tapi benci. Jika bertemu selalu perang tetapi jika tidak bertemu keduanya saling rindu.


Kenza menepuk pundak Rio yang berhenti sejenak didepan, karena pintu masuknya terhalang Dina. Kenza mencermati penampilan Dina dari atas ke bawah dan ia sempat berpikir, pernah melihatnya dimana ya.


Tak berapa lama ia teringat jika orang yang ada dihadapannya itu adalah Dina mantan istri Rio. Rio pernah menunjukkan foto Dina sebaliknya Kenza juga menunjukkan foto Oscar ke Rio.


Kenza langsung menggandeng tangan Rio dan bertingkah sedikit mesra seperti layaknya pasangan kekasih.


"Yuk Sayang, kok bengong sih," ucap Kenza menggelendot manja.

__ADS_1


"Oh iya, maaf ya tadi ada nenek lampir didepan," ujar Rio mengatai Dina sebagai nenek lampir.


Dina terpancing sedikit emosi tetapi dia diam dan tidak menegur Rio. Ia terus masuk berjalan melewati Rio seraya menatapnya sinis, "Dasar Biawak, perempuan baru lagi," batin Dina


Setelah berjalan agak jauh, Kenza melepaskan tangannya.


"Kalau ketemu langsung, cantik juga ya mantan istri kamu," ucap Kenza


"Dia gak cantik, cuma menang make up doang. Kamu malah lebih cantik," puji Rio apa adanya.


"Aku emang gak suka pake make up, kerasa berat banget di wajah,"


Dan mereka pun berbincang tentang hal lain dan lain sambil mencari tempat makan yang cocok, ujung-ujungnya Kenza memilih warteg nasi uduk.


.


.


.


Sepulang dari makan siang, Kenza kembali ke kantor.


Barra langsung memanggil Kenza untuk ke ruangannya.


"Kata Mama, kamu mau married? Kok cepet banget sih, tiba-tiba gitu. Trus pasangan kamu siapa?"


"Tante Joy pasti tau dari Mamaku ya, padahal aku belum sebar undangan," ucap Kenza


"Tadi Mama kesini, Tante Indi nitipin undangan ke Mama untuk dibagikan ke orang kantor. Tuh orang kantor udah dapat semua undangannya," jelas Barra


"Hah... kok aku gak tahu sih,"


"Ini Rio namanya mirip banget sama nama Papanya Cassie. Kamu nikah sama papanya Cassie?" Terka Barra


"Ya....gitu deh hehe aku juga baru tahu,"


"Hah! Kenz ini...,"


"Stop Barra aku udah puyeng. Mama aku desak aku nikah sama anak jendral yang songong itu. Aku gak suka, mending aku nikah sama cowok yang udah pengalaman dan dewasa,"


"Oke itu hak kamu ya mau nikah sama siapa? Tapi kamu udah tahu kan bokapnya Cassie seperti apa? Dia suka main perempuan....Ya semoga aja dia udah tobat," ucap Barra


"Hemm aku tahu kok, ya itu sih tergantung pasangannya. Kalau pasangannya gak bisa ngertiin apa yang dia inginkan dan gak bisa memuaskan hasrat pasangannya, pasti mereka akan cari pelarian. Apalagi kalau terus-terusan perang, emosi dan bawel merepet terus kayak Mama aku, pasti gak akan ada yang betah Mas. Nah kan ujung-ujungnya malah ngegosipin Mama aku, hehe maafin ya Mah...," ucap Kenza


"Yaudah semoga kamu bisa mengatasi masalah rumah tangga kamu nantinya. Selamat ya Kenza, bentar lagi kamu jadi nyokap tirinya Cassie itu artinya calon Mama tiri saya hahh lucu,"


"Nanti aja selamatannya, makasih ya. Aku balik kerja lagi,"

__ADS_1


__ADS_2