Promiscuity After

Promiscuity After
Game Tantangan


__ADS_3

Kenza menerima pesan dari Cassie, sebuah ajakan bermain airsoft gun.


Tok Tok Tok


Kenza mengetuk pintu kamar Rio yang kini sudah menjadi suaminya. Mereka berada di kamar yang berbeda. Kenza memanggil Rio, Sedikit lama pria itu baru menyahut dari dalam kamar lalu membuka pintu hanya dengan berbalut handuk di bagian pinggang ke bawah. Memperlihatkan tubuhnya yang berotot meski sudah tua. Masih terlihat otot perut Rio yang kini sudah mulai menggendut tetapi tidak buncit. Beberapa latihan olahraga lagi perut pria itu pasti kembali lagi bersobek-sobek.


Rio menggunakan handuk kecil lain untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik Kenza terpana melihat Rio.


Apakah wanita itu tergoda?


Jelas


"Hemm hey...ditanya kok diem sih? Liatin apa?" tanya Rio


Sedari tadi dia bertanya kenapa Kenza memanggilnya tetapi Kenza tak menghiraukan ucapan pria itu.


"Eh hehe," Kenza tertawa kecil


"Terpesona ya liatin aku,"


"Ihh pede," ucap Kenza


Tapi emang bener sih, batinnya


"Cassie ngajak kita main Airsoft Gun, gimana kamu mau ikutan gak mas? Katanya dia, besok udah balik ke London,"


"Yaudah ikut aja, lagian kita mau ngapain dirumah, gak bisa main di ranjang juga kan?" balas Rio menyandarkan sikutnya di daun pintu


"Jangan ngarep!! Yaudah aku balas ya. Abis ni kita berangkat," ujar Kenza


"Kamu kalik yang ngarep, aku mah gak tergoda ma kamu. Kurang montok," ucap Rio mengatai Kenza


"Ih jahat banget mulutnya ini ya perlu di Staples nih kayaknya," Kenza melotot dan dengan berani menarik mulut Rio lalu melintirkan sedikit sembari mendorongnya.


"Hmmmphhh sakit," ucap Rio tak jelas karena mulut yang masih di tarik Kenza. Pria itu berusaha melepaskan tangan Kenza. Tangannya berhasil lepas, tetapi tangannya yang satu malah mencubit bibirnya lagi. Begitu seterusnya


Alhasil Rio mundur hingga tepi ranjang dan terjatuh diatasnya bersama dengan Kenza.


Saat pria itu menduduki ranjang, lipatan handuknya terbuka.


"Kamu sengaja ya menjatuhkan aku ke ranjang, kamu mau merkosa aku?" terka Rio


"Ih pede banget sih bapak satu ini," Kenza pun beranjak berdiri


"Buktinya handuk saya sampe kebuka," ucap Rio, Kenza langsung tertuju pada handuk yang sudah terbuka.


"Arghh!" Teriak Kenza dan langsung menutup matanya


"Curang kamu ya udah liat punya aku," goda Rio


"Eh sumpah ya aku ga ada maksud liat, udah ah sebel," Kenza pergi dengan wajah merah padam dan tawa Rio makin mengeras.


"Mau liatin lama juga boleh kok Kenza, kan udah halal," goda Rio lagi sedikit berteriak karena Kenza sudah keluar kamar. Sementara dirinya terus terkekeh geli.


Sudah lama pria itu tidak tertawa terbahak-bahak seperti tadi. Sepertinya ada yang berbeda di hidupnya sejak mengenal Kenza. Ia pun menyadarinya setelah Kenza keluar dari kamarnya.


Kenza mengomel ga jelas sepanjang menaiki anak tangga menuju kamarnya diatas. Kemudian dia bersiap merias diri ala kadarnya dan memakai baju sporty serta celana model Army yang banyak kantongnya.


"Astaga ngapain sih ini otak kebayang bentukannya dia. Mana bagus lagi bentuknya, sumpah ya gak kebayang bakal liat begitu," gumam Kenza


"Kurang ajar si bapak tua ngatain kurang montok, jelas lah kalau dibandingin sama mantan istrinya ya montokan Bu Dina," Kenza bercermin sembari memegang kedua dadanya yang sebenarnya tidak kecil. Berisi tetapi tidak berlebihan.


"Ahh ngapain juga sih aku megang dada sendiri. Begituan ma bapak beranak satu itu, No....Gak akan!" Kenza pun melanjutkan dirinya memakai bedak.

__ADS_1


Sebuah pesan singkat masuk.


Dari Oscar, tetapi Kenza sudah menghapus nomernya sehingga hanya nomer yang tertera dilayar ponselnya. Tetapi tetap saja dia hapal dengan angka tiap angkanya


Congratulations on your wedding, I hope you find happiness in the future, pesan dari Oscar


(Selamat atas pernikahanmu, semoga kamu menemukan kebahagiaan dimasa depan)


Kenza terdiam mematung, dan tersenyum kecil.


"Its over," gumamnya kemudian meneteskan air mata.


Kedua tangannya menghapus air mata itu dan bersiap untuk turun kebawah


"Kamu nangis? Kenapa?" tanya Rio yang datang keatas memanggil Kenza karena Cassie sudah dibawah.


Kenza menggelengkan kepalanya.


"Gak apa-apa kok, cuma...mantan aku tiba-tiba kirim pesan,"


"Oh Oscar Lawalata,"


"Itu nama perancang busana keles,"


"Haha Cassie udah dibawah, aku panggil kesini biar disangka kita gak beda kamar. Senyum ah, nanti disangka aku yang bikin nangis,"


"Nih udah senyum,"


Dan mereka pun turun ke bawah. Tanpa gandengan.


"Kok gak gandengan sih turunnya," goda Cassie.


"Ya ngapain gandengan, kan bisa turun sendiri-sendiri," ujar ayahnya


"Itu sih lebay," ujar Rio lagi, "Udah yuk, ntar keburu malam,"


Mereka pun pergi naik mobil Barra.


Di tempat itu Cassie dan Barra menjadi satu tim, dan musuhnya adalah Rio dan Kenza.


"Yang kalah, harus nyium bibir pasangannya," ucap Cassie


"Itu sih enak di kamu, kan pasti Papa yang menang,"


"No, taruhannya ada yang lain gak?" ucap Kenza


"Kenapa sih, Mama Kenza malu ya," goda Cassie


"Ya yang lain aja masak taruhannya itu sih," ujar Barra


Cassie menginjak kaki Barra dan berbisik dengan mulut yang masih terkatup


"Sekali-kali ngerjain pasangan yang baru nikah Om, aku tuh tahu banget Om Barra jagonya main tembakan,"


"Iya juga ya, oke kalau gitu saya eh aku ga akan biarin mereka menang," ucap Barra berbisik dan semakin optimis.


"Oke kita taruhannya yang kalah, cium bibir pasangannya," seru Barra


Buset tantangannya, dikerjain bocil nih batin Kenza


"Tenang aja, aku sering ngalahin Cassie," ucap Rio pada Kenza


"Awas ya kalau gak menang, kamu bakal tidur di teras," ancam Kenza

__ADS_1


"Dasar Ibu Tiri Kejam," gumam Rio


Dan Game Pertarungan dimulai.


Dor dor dor.


Rio terkena bidikan tembakan Barra


"Ah katanya bisa huuh geregetan deh," ucap Kenza kesal. Mereka bersembunyi di balik dinding papan


"Hehe gak nyangka aja Barra ternyata lebih jago,"


"Ya jelas lah, papanya kan jago nembak. Dia dari kecil udah diajarin nembak," gerutu Kenza


"Bentar aku ngos-ngosan, istirahat bentar ya," teriak Kenza beralasan


"Gak mau Mah, kuy buruan. Nah itu Mama, kelihatan helmnya," ucap Cassie berbohong


Kenza langsung merunduk


"Kamu mau-maunya di bohongin Cassie," ucap Rio yang tahu watak anaknya.


"Eh sini pindah," seru Rio menyuruh Kenza untuk pindah karena dia tadi bersuara.


Tetapi Barra tiba-tiba nongol


Dor


Mengenai baju Kenza.


"Kena kalian," sahut Barra


"Yeeeee kita menang...ye ye ye ye..Papa KALAH! cium cium cium," seru Cassie keasyikan


Kenza terdiam menatap Rio dengan tatapan menakutkan seperti setan yang ingin membunuh dirinya.


"Mampus," gumam Rio


"Kenapa sih? Ayo dong, cium cium, kan udah halalan toyibaaan," goda Cassie terkekeh bersama dengan Barra


Cup


Rio pun mengecup pipi Kenza sekilas.


"Udah ah, lanjut lagi gak mainnya," ucap Rio


"Ah gak seru, masak pipi? Bibir dong. Kan mintanya bibir. Gak sportif nih," sahut Cassie


"Haha iya ini Papa sama Mama Camer ga sportif," sahut Barra ikut-ikutan


"Gimana," tanya Rio sembari menainkan alis pada Kenza


"Enggak ya, lagian kalian masih bocil ngapain liatin kita ciuman, kayak gak ada kerjaan aja," jawab Kenza


"Emang gak ada kerjaan," sahut Cassie terkekeh


"Ayo dong yang sportif," Barra ikut-ikutan


Akhirnya Kenza mendekati Rio dan mengecup bibirnya sekilas.


"Udah, no pengulangan," sahut Kenza yang wajahnya langsung merah padam, dia pun pergi duluan karena malu


Sementara Rio terpaku seperti kena setrum. Dan godaan pun terus berlangsung.

__ADS_1


Cassie dilawan


__ADS_2