Promiscuity After

Promiscuity After
Curhat Dong Ma


__ADS_3

"Duda... kalo Mama sih mikirnya kalo Duda itu lebih pintar berkomunikasi, terbiasa menghadapi konflik, lebih bertanggung jawab, dan seorang duda tidak percaya dengan "the one" pasangan jiwa makanya dia lebih berhati-hati untuk mencari pendamping hidup. Seperti kamu ini, ya kan?" ucap Mamanya sambil menyentuh ujung hidungnya Barra.


Barra mengangguk, tersenyum tipis menatap mamanya kemudian ia berganti posisi menghadap samping dengan posisi muka ke depan. Dalam hatinya ia bersedih.


"Tetapi Mama Dina menganggap Barra seorang Duda yang menyedihkan, sadboy, gagal dalam membangun rumah tangganya itu artinya tidak dapat membahagiakan pasangannya. Dan tidak pantas bersanding dengan Cassie karena usia kami"


"Dia tidak tahu, persoalan kamu sayang. Dia menganggap perceraian yang kamu hadapi sama seperti dirinya. Bercerai Karena bosan. Kamu tidak begitu. Dan Lagi...mau pasangannya siapa pun, berapa usianya, yang terpenting itu kesetiaan dalam menemaninya. Sampai kapan kamu mampu bersamanya hingga kulit mengerut. Hingga tubuh yang tadinya kencang menjadi gendut. Hmmm kalau Cassie menjadi gendut apa kamu masih mau? Masih kan? Karena itulah cinta. Tidak memandang fisik. Karena cinta itu kenyamanan, Cinta itu teman berbicara, teman hidup hingga maut memisahkan,"


"Jangankan kamu, Mama pribadi juga nyaman dengan Cassie. Dia periang, dia juga pandai mengubah suasana hati yang muram menjadi riang. Karena itu kan kamu gak bisa lupain dia," terka Mamanya


"Ya Ma....Padahal Barra pernah sengaja menjauhinya, tidak menghubunginya dulu. Tetapi rasa rindu itu terus datang menyapa. Berkali-kali Barra meyakinkan diri kalau dia hanya seorang bocil, tapi bayangan itu gak mau pergi. Dia yang bernama cinta, terus tumbuh dan bergejolak di dada dan mengatakan...Kejar dia...atau kamu akan menyesalinya dan berakhir dalam kesendirian hingga maut menjemput," curhat Barra


"Sekarang kamu sudah mampu keluar dari zona kesendirian. Jangan menyerah walau kata restu itu belum kamu dapatkan dari orang tuanya. Mama akan selalu mendoakan kamu yang terbaik, nak," ucap Joy dan mencium pelipis Barra, memberinya semangat dengan menepuk lengannya.


Tiba-tiba saja air mata Barra keluar tanpa diminta. Dia bersyukur memilikinya Mama dan Papa yang pengertian yang tidak terus-menerus mendesaknya untuk menikah lagi. Bersyukur memiliki orang tua yang sayang padanya.


Barra memejamkan mata hingga dia tak sadar jika dirinya sudah tertidur lelap. Joy terus mengelus rambut Barra, sambil melantunkan shalawat, sudah lama Joy tidak seperti itu dengan anaknya. Karena kecemburuan suaminya.


Tetapi Joy tidak tahu, bahwa sebenarnya Wasabi sudah pulang sedari tadi. Ia melihatnya dari kejauhan. Untuk pertama kali Wasabi membiarkan kedua orang yang ia sayangi bersama. Wasabi ikut mendengar apa yang Barra curahkan.


"Apa aku terlalu egois? Joy terlihat sangat merindukan Barra, tapi aku juga gak ingin Joy dekat dengan siapapun kecuali aku. Biarlah di katain egois,...tapi ..Ahh Aku gak kuat melihat kebersamaan mereka. Tidur aja lah," gumam Wasabi yang berada di lantai atas depan kamarnya.


Beberapa menit kemudian, kedua kaki Joy terasa keram, ia pun mengangkat kepala Barra dengan cepat Joy bergerak ke samping dan langsung mengambil bantal pengganti di bawah kepalanya. Lalu merebahkan kembali kepala Barra.


Joy mengambil selimut dari lemari di kamar tamu lalu menyelimuti anaknya, membelainya sambil menatapnya sedikit lama.


"Kamu tumbuh semakin cepat, gak terasa ya Barra ku sudah sebesar ini," Joy tersenyum lalu mencium pipi Barra. Setelah itu ia ke dapur mengambil minum.


Wasabi diam-diam memeluknya dari belakang mengagetkan dirinya untung tidak tersedak


"Sayang...kamu katanya nginep di rumah Papa Setya?" Tanya Joy


Wasabi membenamkan wajahnya di leher Joy, "Mana bisa aku berpisah sedetikpun dari istriku ini,"


Joy berbalik, kemudian memeluk Wasabi, "Aku juga kangen sama kamu,"


Dan mereka pun berciuman di dapur

__ADS_1


"Jangan lakukan di sini, ada Barra,"


"Hmm iya aku tahu, Aku sedikit kesal,"


"Kamu lihat Barra tidur di pangkuan ku?"


Wasabi menganggukkan kepala dan mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.


"Mau sampai kapan kamu cemburu dengan anak sendiri? Kamu seperti anak kecil," Ucap Joy dengan nada sangat lembut


Wasabi menundukkan kepala.


"Aku minta maaf, Ya aku hanya akan menjadi anak kecil di depanmu. Aku egois....Aku tidak akan seperti itu lagi," ucap Wasabi pada akhirnya ia mengalah.


"Tapi jangan sering-sering ya," timpalnya lagi


"Hahaha dasar Wasabi ku, Kamu tahu kan? Seperti apa aku mencintai suami ku ini? Hemmm....,"


"Ya aku tahu, dan kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat ku bertekuk lutut, kamu kelemahan ku," Wasabi mengangkat tubuh Joy, dan wanita itu menjepit kedua kakinya di pinggang suaminya.


.


.


.


Keesokannya


Hidung Barra mengendus sesuatu yang membuatnya terbangun, aroma mie ramen kesukaan Papanya membuat perutnya berteriak meminta makan. Namun tubuhnya terasa sangat sakit dan pegal, akibat perkelahian semalam. Kalau kata orang Jawa 'Njarem'.


Pria itu terbangun, melihat sekelilingnya dan teringat hari kemarin.


"Ahh kemarin ketiduran," gumam Barra


Tiba-tiba dia teringat jika pagi-pagi itu dia harus ke kantor pak Rio. Ia pun melihat jam tangannya.


"Duh terlambat," Barra langsung berdiri dan berpamitan.

__ADS_1


"Maa Barra pamit ya?" teriak Barra


"Gak makan dulu Barra?" tanya Mama dari kejauhan


"Udah telat Ma... Assalamualaikum," sahut Barra dan di akhiri dengan salam


"Wa'alaikumsalam," jawab Joy


Barra mengemudi dengan kecepatan penuh. Gara-gara semalam dia lupa mengerjakan pekerjaannya, bisa-bisa hilang sudah kesempatan yang Rio berikan.


Sedikit waktu yang tersisa, tapi Barra merasa cukup bisa mengejar keterlambatan kalau tidak macet.


Jedueeeer


Seseorang menyundul mobil Barra saat berhenti di rambu lalu lintas.


Barra malas keluar mobil dan meminta pertanggungjawaban jadi dia pun memilih tetap berada didalam mobil menunggu lampu hijau menyala.


Tok Tok Tok


Seorang wanita mengetuk kaca jendela mobil Barra, setelah Barra membukanya wanita itu menunduk memperlihatkan kedua belahan yang menyendul dari balik kebaya merah.


Astaghfirullah, batin Barra yang tak sengaja melihatnya


"Ya, ada apa?" jawab Barra cepat


"Maaf saya tidak sengaja menabrak mobil Anda. Saya bersedia bertanggung jawab, ini kartu nama saya," ucap wanita itu.


Barra tidak mengambil kartu nama itu, dia terlihat cuek.


"Tidak apa-apa, Saya tidak minta ganti. Maaf sebentar lagi lampu hijau saya harus fokus menyetir," Barra lalu menutup kaca jendela tanpa melihat wanita itu lagi.


Lampu hijau menyala, Barra langsung melesat jauh. Sementara si wanita berkebaya merah terpesona dengan tampang Barra yang tidak meminta penggantian kerusakan. Padahal bisa di perkirakan, kerusakan tersebut bisa habis puluhan juta.


Klakson terus bergema karena wanita itu belum juga masuk ke dalam mobilnya. Membuat macet saja.


Siapa wanita itu?

__ADS_1


__ADS_2