Promiscuity After

Promiscuity After
Interogasi


__ADS_3

Wasabi bersandar di kursi sofa dengan memasang wajah straight face, no senyum dan sangat kaku. Seperti seseorang yang sedang menginterogasi seorang penjahat atau pun saksi. Namun Wasabi menganggap jika Cassie hanyalah korban dan saksi sekaligus.


"Sa-Saya mengenal pria ini," Cassie menunjuk foto Vinno dengan menjawab sedikit gugup.


Seharusnya Cassie tidak memperlihatkan kegugupannya, karena biasanya yang gugup itulah yang salah. Padahal Cassie gugup karena yang bertanya adalah Ayahnya Barra, dan dia takut jika Cassie di cap sebagai gadis nakal yang suka menginap di hotel dengan laki-laki lain


"Hmmm tidak dekat tetapi saya pernah bertemu dan berbicara dengan dia," ralat Cassie


"Kamu tahu nama pria di foto tersebut? Lalu kapan tepatnya kalian terakhir bertemu?" selidik Wasabi


Tak berapa lama Mbak Mar datang membawakan minuman dan cemilan ringan


"Maaf Pak, Non...silahkan di minum dulu," Mbak Mar mempersilahkan


"Terimakasih, Mbak Mar," jawab Wasabi dan di ikuti Cassie setelahnya


"Saya permisi, ke belakang. Kelihatannya kok serius sekali hehe mari pak Wasabi," ucap Mbak Mar yang langsung pergi ke dapur.


"Minum dulu Pah,"


"Ya, terimakasih," Wasabi pun meminumnya sedikit lalu meletakkan kembali gelasnya.


Setelah itu Cassie melanjutkan kembali ceritanya.


"Namanya Vinno, saya bertemu dengannya saat kedua orang tua saya bertengkar hebat dan mereka memutuskan bercerai. Dari situlah saya pergi dan mobil saya hampir bertabrakan dengannya," jelas Cassie Dia mulai menguasai diri dan tidak gugup lagi


"Vinno mengajak saya ke club malam, setelah itu saya minum dan saya tidak ingat apa-apa lagi, saat terbangun Sa-Saya....," Cassie kembali gugup. Apakah dia harus mengatakan jika dirinya terbangun dalam keadaan tanpa busana didepan calon Ayah mertuanya? Haruskah?


"Katakan saja Cassie, saya percaya kepada mu apapun yang terjadi. Dan saya yakin kamu tidak melakukannya kan?" ucap Wasabi


Hemm apa Papa Wasabi sudah tahu jika aku ada di kamar hotel itu? batin Cassie


Gadis itu pun mengambil napas panjang lalu menceritakannya dengan secara jelas.


"Saat terbangun saya sudah berada di dalam kamar hotel tanpa busana, tetapi orang di samping saya adalah Bram. Bukan Vinno. Dan dia masih memakai pakaian lengkap," Cassie terdiam sebentar untuk mengambil napas lalu menceritakan kejadiannya kembali.


"Setelah saya berpakaian, saya marah kepada Bram tapi, saat saya melihat darah yang berceceran di lantai dan juga ada darah membeku di kepala Bram, saya memberikan dia kesempatan untuk bercerita,"


"Jadi malam saat kamu masih tersadar adalah malam terakhir kamu bertemu dengan Vinno,"


Cassie menganggukkan kepala tanda benar

__ADS_1


"Ya pa,"


"Apa yang Bram katakan,"


"Bram bilang dia sempat melihat Vinno membuka pakaian saya, dan dia melarang Vinno untuk tidak berbuat hal diluar batas. Tetapi yang terjadi, malah mereka bertengkar hebat. Bram mengatakan itu darahnya saat Vinno memukulnya dengan botol," jelas Cassie


"Botol? Apakah itu botol whiski?" tanya Wasabi


"Saya tidak tahu, Bram tidak mengatakannya dengan jelas,"


"Botol itu tebal, ada kemungkinan dia tidak langsung berdarah kecuali Vinno memukulnya dengan sesuatu yang lain," Wasabi mulai menganalisa


"Kapan itu terjadi? Dan apa nama hotel itu" tanya Wasabi


"Sekitar dua hemm tidak, tiga bulan yang lalu, Hotel Star" jawab Cassie


Waktu dan tempat yang sama batin Wasabi


"Lalu pria yang satunya lagi? Apakah kamu pernah melihatnya?"


Cassie memperhatikan lagi dengan seksama, lalu ia teringat akan wajah bodyguard yang sempat di tembak oleh Bram, tetapi Bram mengatakan itu hanyalah sandiwara untuk menakuti temannya


"Katakan saja, kamu melihatnya dimana?" sahut Wasabi


"Dia salah satu bodyguard Bram, saya bertemu dengannya saat di sekolah," jelas Cassie


"Bram membawa bodyguardnya ke sekolah?" tanya Wasabi memastikan.


"Iya, jadi tadinya Bram bersekolah di sekolah yang berbeda dengan saya. Lalu dua atau tiga hari setelah saya pertemuan saya dengannya, dia pindah ke sekolah yang sama dengan saya," jawab Cassie


"Saat itu satu kelas ribut dengan gosip Papa saya yang selingkuh, juga beredar video rekamannya saat Papa Rio bermain dengan wanita lain. Bram tiba-tiba datang menggebrak pintu dan menyuruh mereka menghapusnya. Lalu dia menembak bodyguard yang wajahnya ada di foto itu. Ia menembak untuk memberi ancaman kepada teman-teman. Dia juga mengatakan jika itu hanyalah sebuah drama. Tapi saya sungguh takut, karena terlihat seperti penembakan sungguhan," ucap Cassie


"Disekolah membawa pistol? Sekolah apa itu?" tanya Wasabi sambil mengernyitkan dahi


"Sebenarnya tidak boleh membawa pistol Pah, jika ketahuan ya akan disita. Sekolahan itu memang bebas, mau berdandan, memakai rok mini, mewarnai rambut atau minum alkohol dengan kadar rendah. Yang terpenting prestasi mereka. Dan saat Bram menembak juga tidak ada suara tembakan yang menggelegar. Tapi terdengar seperti jika kita memukul tangan ke dinding, nah seperti itu,"


Bram memakai peredam suara yang tingkat peredamnya 80persen, ini persis dengan pistol yang di miliki Bram. Ada peredam dan berisi peluru yang sama di tubuh Yoga, bodyguardnya, batin Wasabi


"Ada lagi yang kamu lihat mencurigakan?" tanya Wasabi lagi


"Ya ada, Bram mengatakan itu sandiwara, tetapi bodyguard itu di masukkan ke bagasi mobilnya. Seharusnya kalaupun sandiwara, bodyguard itu pasti sudah bangun kan atau kalau dia masih berakting mati setidaknya si bodyguard di taruh di kursi penumpang bukan Wasabi,"

__ADS_1


"Pemikiran yang cerdik Cassie, karena sebenarnya bodyguard di foto itu telah ditemukan tewas,"


"Hah apa?" Cassie terkejut tak menyangka lalu berbagai pertanyaan muncul di kepalanya


"Apakah Bram yang melakukannya? Dia sungguh-sungguh menembak bodyguard itu! Bukan bohongan,"


"Ya, dan Vinno juga ditemukan tewas. Sebenarnya saya sudah mengajukannya ke pengadilan tetapi ada saksi lain yang mengaku itu kamu. Sehingga Bram bebas, Saya sudah merekam pembicaraan kita, lewat kamera kecil ini. Terimakasih ya Cassie sudah membantu memberikan kesaksian,"


"Astaga Cassie gak nyangka, Ya Pah, apapun yang Cassie tahu pasti Cassie beritahu,"


"Hemmm Pah,. Cassie bukan gadis yang suka main ke club. Juga, dia pria itu tidak---," ucapan Cassie terhenti.


"Haha, tidak usah dijelaskan Cassie, Saya percaya kamu bisa menjaga diri," ucap Wasabi kemudian melayangkan senyumnya. Senyum yang membuat orang terpana.


Ganteng banget kalau lagi senyum, sama kayak anaknya, batin Cassie


Wasabi pun pamit pulang setelah itu.


.


.


.


Di waktu bagian lain, London.


"Bola ini tidak bisa memecahkan kaca tebal itu. Kecuali ada sesuatu yang menerobosnya. Juga lihatlah, kaca ini tidak membentuk bulatan maksud papa tidak bulat sesungguhnya . Retakan itu seperti sebuah tembakan peluru," selidik Virus setelah sampai di London.


"Jadi ini benar-benar ancaman," jawab Oscar


"Coba cari apakah ada selongsong peluru yang masuk ke ruangan ini?"


Dan Oscar pun mencari apa yang diperintah Virus, Papanya. Virus juga ikut mencarinya.


"Apakah ini?" tanya Oscar seraya mengambilnya dengan tisu.


"Yah betul itu dia yang memecahkan kaca jendela kantormu. Apa ada orang yang mengancam mu? Apa kau memiliki musuh?" tanya Virus dengan tatapan serius.


Dia takut jika ancaman itu adalah musuh terlama Virus bukan Oscar.


Oscar menggelengkan kepalanya, karena dia tidak pernah memusuhi siapapun.

__ADS_1


__ADS_2