
Barra menyusul Cassie dengan langkah besar, pria itu langsung menghadang sekaligus memberi penjelasan pada Cassie jika dia tidak mengkhianati Cassie
"Cassie, Saya tidak seperti yang kamu tuduhkan. Karena saya tidak melakukan apapun,"
"Hah? Tidak melakukan apapun? Om ini kalau ngelak yang pinter dikit dong, aku jelas-jelas lihat om itu mojokin cewek itu ke dinding trus nyium bibir dia. Itu apa namanya kalau gak selingkuh!" Cassie mendorong Barra pelan disertai Isak tangisan merasa tersakiti
"Tapi Saya tidak merasa melakukan itu. Saya juga heran kenapa saya bisa bersama dengan wanita itu. Tolong percaya saya," Barra meraih tangan Cassie dan menggenggamnya tetapi Cassie langsung menepis tangan Barra.
"Dahlah, gak usah jelasin. Semua cowok tu sama aja kayak papa. Tukang selingkuh! Gak ada yang bisa dipercaya, Gak ada yang setia. Lihat cewek cantik, seksi tuh mata langsung melotot. Iya Cassie akui, Cassie gak se-seksi cewek tadi. Bokong aku tepos, dada aku juga ga gede. Tapi jangan khianati cinta aku dong om!" ucap Cassie yang marah dan meluapkan segala kekecewaannya.
Dia sedang menunggu taksi lewat, tapi mana ada taksi lewat? Cassie masih berada di halaman Gedung. Gadis itu harus berjalan ke luar halaman gedung jika ingin mendapatkan Taksi.
Cassie melepaskan high heelsnya agar bisa leluasa berlari ke depan halaman. Barra tidak henti-hentinya menekankan jika dirinya tidak melakukan seperti yang Cassie tuduhkan. Tetapi di mata Cassie, yang dia lihatlah yang benar.
Setelah berhasil keluar ke halaman gedung, Cassie mencegat sebuah motor dan langsung menaikinya. Padahal motor itu bukanlah Ojek.
"Cepet jalan Bang," perintah Cassie seenaknya
"Maaf neng, saya bukan ojek,"
"Tolong pak anterin sampe depan aja nanti saya bayar lebih, keburu dia datang," pinta Cassie seraya menunjuk Barra
Pengendara motor tersebut lalu mengikuti perintah Cassie. Hanya sampai beberapa meter ke depan.
"Udah neng, sampe sini aja ya," ucap pengendara itu
"Ihhh deket amat yaudah, nih duitnya," ucap Cassie memberi lima ribu rupiah
"Lumayan, makasih ya neng," si pengendara terlihat senang, dengan harga lima ribu ia bisa membeli nasi uduk
Cassie melanjutkan jalan kaki sembari sesekali melihat taksi yang lewat. Pakaiannya pestanya mengundang perhatian warga sekitar, ia mengenakan gaun putih yang mewah diatas lutut meski tidak ada bagian yang terbuka namun riasan wajahnya sangat cantik seperti model iklan.
Barra menyusul dengan mobilnya. Dia mengendarainya dengan pelan, membuka kaca jendela lalu memanggil Cassie untuk masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Cassie tolong berikan saya waktu untuk membuktikan jika saya tidak bersalah," Barra berbicara dari dalam mobil.
Cassie tidak melihat Barra, ia terus melihat kedepan dengan perasaan dongkol kecewa marah sedih. Sakit banget lihat laki-laki yang sudah menjadi tunangannya, bermesraan, berciuman dengan wanita lain di tempat umum. Apalagi dia memergokinya sendiri.
Tetapi langkah Cassie berhenti, tidak mungkin dia berjalan kaki ke rumahnya. Capek....Ia pun masuk ke dalam mobil Barra dengan wajah cemberut.
"Terimakasih kamu sudah memberikan kesempatan untuk saya membuktikan,"
"Jangan Ge-er Om, aku naik karena capek," Cassie masih menatap keluar jendela. Barra ingin tertawa mendengar ucapan wanitanya itu yang sangat polos. Tapi tidak mungkin dia tertawa saat itu juga, Cassie masih merasa di khianati.
"Kepercayaan itu penting dalam hubungan Cassie, kamu sudah kenal saya kan? Saya bukan tipe orang yang langsung tertarik dengan lawan jenis," Barra berhenti berbicara mengambil napas dan mulai menjelaskan lagi
"Saya tidak kenal wanita itu, tetapi dia mengaku mengenal Saya. Pertemuan pertama kita saat dia menabrak mobil saya. Masih ada bekas penyok dibelakang mobil. Dia ingin mengganti, tetapi saya tidak menanggapinya dan terus berlaku cuek. Pertemuan kedua saat di pesta itu. Dia mengaku jika dia adalah adik dari Pak Dibyo yang menggelar acara pertunangan sekaligus klien saya. Mau tidak mau saya harus bersikap sopan, tapi hanya sewajarnya. Dia berbicara dan saya membalasnya tapi hanya sewajarnya Cassie. Setelah itu saya mencari kamu," Penjelasan Barra berhenti dia menelan Saliva karena tenggorokannya sedikit kering
"Saya mencari kamu di tengah acara, tetapi kamu tidak ada disana. Lalu Saya pun mencari ke toilet, setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi dengan saya. Jujur saya tidak tahu Cassie karena memang saya tidak ingat apapun setelahnya. Saya baru sadar apa yang terjadi setelah kamu menepuk bahu saya dan mengatakan jika saya selingkuh? Lalu saya melihat wanita yang tadi mengajak saya bicara ada di dekat saya. Ini aneh karena saya tidak ada niatan apapun untuk mendekatinya. Saya sudah punya kamu, untuk apa saya mencari yang lain? Jika ingin membuktikannya, lebih baik kita kembali ke gedung itu dan lihat apa yang saya lakukan," jelas Barra panjang lebar sementara Cassie diam mendengarkan dengan sesekali sesegukan. Air matanya sudah sedikit mereda.
"Jujur, sulit bagi aku untuk percaya Om, karena jelas berbeda dengan yang aku lihat," Cassie bingung, tetapi dia memilih percaya.
"Karena aku gak ingin pisah dari om, jadi aku memilih percaya. Tapi....," Cassie menangis lagi
"Astaga saya ga khianati cinta kamu. Kita kembali ke gedung tadi ya,"
"Ga usah,"
"Biar kamu percaya bagaimana sikap saya sama wanita yang terus mengajak saya bicara, sementara saya terus menolaknya,"
"Aku udah percaya kok,"
"Tapi sikap kamu masih cemberut, buktinya kamu bicara tanpa melihat saya,"
"Nih aku udah lihat, udah senyum juga, puas," Cassie melihat Barra dan tersenyum sedikit lalu menangis lagi.
Barra membalas senyumannya. Ia membelai pipi Cassie mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
__ADS_1
"Saya sayang sama kamu, terimakasih ya sudah mempertahankan hubungan kita. Saya akan lebih waspada dan lebih mawas diri berjaga sikap,"
"Ya, harus!" Cassie masih jutek
Barra tersenyum menggenggam jemari Cassie dan mengusap-usapkannya ke pipi brewoknya sambil menatap kedepan mengemudi pelan.
"Om bewok...,"
"Ya bocil,"
"Kalo lagi ngomong sama aku, bisa gak pengucapannya aku-kamu. Bisa dong?" Pinta Cassie yang sudah tidak menangis sesegukan.
"Hmm bisa sih, cuma ya gimana ya namanya kebiasaan. Tapi saya coba ya, eh aku coba ya," ucap Barra
"Nah itu bisa. Jalan-jalan yuk!"
"Boleh, mau jalan kemana?"
"Pilih nih, om mau yang mana. Main Airsoft Gun di One Strike penjaringan atau ice skating di bintaro atau matiin waterski di Danau Sunter?" tanya Cassie
"Nanti main waterski kamu jatuh lagi, gak ah," Barra teringat Cassie yang jatuh saat main arung jeram
"Hehe tapi kan seru,"
"Airsoft gun aja kali ya, lebih mikir taktik penyerangan," ujar Barra
"Ok. Itu permainan favorit Papa. Ajak Mama Kenza ah,"
"Eh orang baru nikah ya jangan diganggu, biar mereka berduaan,"
"Kan masih siang Om, berduaannya pending dulu hehe. Lagian aku besok mesti balik lagi ke London," ujar Cassie
"Hemm yaudah deh terserah kamu, kan kamu anaknya,"
__ADS_1
"Om juga kan nanti jadi anak tirinya,"
Dan merekapun tertawa kecil setelah drama ikan terbang hati yang tersakiti. Belajar mempercayai pasangan sendiri itu tidak mudah, tetapi apa salahnya. Lebih memilih mempercayainya dan mempertahankan hubungan karena keduanya masih mencintai.