Promiscuity After

Promiscuity After
Menunggu


__ADS_3

Dina menyewa jet pribadi dengan kapasitas penumpang 7 kursi. Wanita itu mendapatkan diskon 70persen dari jasa perusahaan rental jet karena merupakan pelanggan yang rutin bepergian.


Selain mendapat diskon, dia juga mendapatkan fasilitas gratis pulang tetapi dalam kurun waktu sehari. Sehingga keesokan paginya mereka harus pulang.



"Wow, Aku gak pernah naik yang model pribadi gini yank. Harganya bisa berapa itu kalo nyewa?" tanya Joy dengan berbisik pada suaminya.


"Gak tahu, mau ku tanyain gak?" Wasabi balas berbisik


"Ah jangan, malu-maluin,"


Semua memposisikan duduknya, Wasabi dan Joy berada di deretan kursi paling belakang. Wasabi sebelah kiri dan Joy berada disebelah kanan. Sementara Barra memilih berada di hadapan Ibunya.


Kursi di depan Wasabi masih kosong. Di belakang kursi kosong tersebut ditempati oleh Mbak Markonah. Ibu Dina dan Jovan berada di kursi dekat pintu.


"Kursi di hadapan saya ini, siapa yang menempati?" Tanya Wasabi.


"Itu untuk Rio. Kita tunggu Rio dulu ya, katanya sedang dalam perjalannya kemari," ucap Dina pada keluarga Barra


Dan mereka pun menunggu sembari meletakkan tas dan mengatur barang-barang bawaan mereka. Tetapi berbeda dengan mbak Markonah. Dia asik bertiktok live, lumayan cuan terus mengalir di akun mbak Markonah selama dia live. Karena followernya sendiri ada empat ribu followers.


.


.


Kenza masih berada di kantor, bukan untuk menyelesaikan pekerjaannya Tetapi dia malas pulang dan akhirnya sibuk sendiri mencari kesibukan.


Wanita itu menyesap kopinya sambil berdiri bersandar pada jendela kaca dan memandangi lampu-lampu kota Jakarta. Mendengarkan musik yang dia putar lewat komputernya. Liriknya seperti kisah hidupnya.


Malam-malam aku sendiri..Tanpa cintamu lagi, ho-wo-oh-oh


Hanya satu keyakinanku...Bintang 'kan bersinar


Menerpa hidupku....Bahagia 'kan datang, ho-ho-ho


Suara Nike Ardilla, yang melantunkan bintang kehidupan membuat para pendengarnya mampu meneteskan air mata saat dia sendirian apalagi kisah hidupnya seperti dirinya.

__ADS_1


Jenuh akan cinta...


Sendiri...


Kenzo masuk ke ruangannya, saudara kembarnya itu sangat menyayangi Kakaknya, Kenza yang lahir lima menit lebih dulu. Ia mendekati Kenza dan ikut bersandar di dinding kaca.


"Ga pulang Lo?"


"Males, isinya gue disuruh nikah mulu. Pacar aja gak punya, nikah sama siapa?"


"Sorry ya, gara-gara gue," Kenzo menundukkan kepala.


Dia teringat saat Kenzo meminta Ibunya untuk melamar kekasihnya itu. Andy yang sedang berada di Nevada terpisah dari keluarga sebenarnya setuju akan hubungan Kenzo dan pacarnya namun, Ibunya menyuruhnya untuk menunggu Kenza.


Indiana dan Andy dulu bertemu karena perjodohan sehingga Ibunya itu juga melakukan hal yang sama dengan Kenza, lewat perjodohan.


Terjadilah pertengkaran kecil Kenza dan Ibunya yang terus menyuruh dan mendesaknya untuk segera menikah. Indiana, Ibunya Kenza yang mantan seorang polwan itu berniat menikahkan Kenza dengan anak Jendral. Tetapi Kenza menolak.


"Gak apa-apa, Lo kalo mau married ya silahkan. Gue gak masalah kalau Lo mau langkahin gue ya emang belom ada jodohnya mau gimana lagi?" Ucap Kenza


"Sebenarnya gue mau nunggu, Lo nikah duluan. Tapi pacar gue gak mau nunggu lama,"


"Dih... Yaudah ati-ati ya, ni kantor horor. Kadang tuh printer gerak sendiri nanti tiba-tiba di belakang Lo ada hii..hi..hi..hi...," Kenzo sengaja menakuti Kenza dengan menirukan suara tawa kuntilanak.


"Garing amat Lo ahaha,"


Kenzo pun pergi


Rumah yang seharusnya menjadi tempat berteduhnya, saat ini menjadi ancaman. Sang ibu selalu saja menyuruhnya untuk tidak bekerja terlalu keras. Menyuruhnya untuk mencari pendamping hidup karena di usianya sekarang, seharusnya Kenza sudah menikah dan memiliki dua anak.


Kenza lebih muda tiga bulan dari Barra. Bulan depan ulang tahun Barra yang genap 36 tahun. Kenza seringkali iri dengan keluarga Barra yang tidak pernah mendesaknya untuk menikah.


Yah jelas beda, Barra laki-laki berbeda dengan perempuan yang jika terlalu lama belum menikah juga, seringkali menjadi bahan omongan. Itulah Indonesia selalu menyerang psikologis manusia.


Yang belum mendapatkan jodoh terus-menerus didesak untuk menikah. Yang belum memiliki anak, terus menerus di kasih wejangan ini itu sampai dapat anak. Terlalu ngoyo


Manusia mana yang bisa mengatur jodoh? Mengatur kapan punya anak? Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha lalu berikhtiar

__ADS_1


Orang tua Barra tidak ingin menyerang psikologis anaknya. Ini adalah hidupnya, dia yang berhak menentukan mau jadi apa dan bagaimana dirinya kelak. Mau menikah lagi atau tidak. Wasabi selalu memarahi Joy saat wanita itu sedikit tidak sabar dan ingin menjodohkannya dengan wanita lain.


Ponsel berdering, Kenza menyambar ponselnya yang ia taruh diatas meja. Mengangkatnya dan berbicara dengan malas.


"Ken, mau ikut party gak Lo?"


"Dimana?"


"Karaokean tempat biasa, Lo kesini dong biar seru,"


"Ya...yaudah gue otw,"


Sebenarnya Kenza malas dan sangat malas, dia menyetir sambil melamun. Sampai-sampai ia tidak sadar jika mobilnya keluar jalur dan bertabrakan dengan mobil lain.


"Arghhhh! Duh gue nabrak mobil orang, apes!" Kenza panik, langsung tersadar dari lamunannya. Ia menyeimbangkan setir kemudi dan menepikannya. Untung saja mobilnya tidak terbalik dan jalanan saat itu sedang tidak ramai


Kenza keluar dan menyebrang jalan ke jalur kanan, untuk melihat keadaan mobil yang dia tabrak. Mobil itu juga tidak jatuh terbalik, hanya mengalami kerusakan di samping bagian depan, memecahkan lampu sen menggores cat dan membuatnya penyok. Mobil yang ditabrak itu juga telah menepikan mobilnya.


"Duh maaf ya pak...Bapak gak apa-apa kan? Sekali lagi maaf Pak. Nanti biar saya yang tanggung biaya kerusakan itu," ujar Kenza sedikit membungkuk pada pria yang lebih tua darinya.


Pria itu sedang melihat keadaan mobilnya. Yang penyok parah dan lampu sennya hancur.


"Hemm saya juga minta maaf karena saya sedikit mengebut. Jadi saya rasa Ibu, tidak perlu itu mengganti karena ini kesalahan kita berdua," jawab pria itu.


Pria yang brewokan itu memakai pakaian rapi dan parfum yang sangat lembut. Jarang sekali ada pria yang memakai parfum soft seperti itu. Kebanyakan dari para pria suka dengan bau yang manly


"Oh begitu ya, tapi kalau ada kerusakan yang harus saya tanggung katakan saja ya. Ini kartu nama saya. Dan saya belum berkeluarga jadi jangan panggil ibu,"


Pria itu mengambil kartu nama yang Kenza berikan dan membaca namanya


"Kenza...Nama yang bagus, saya pikir kamu sudah berkeluarga. Saya Rio," Rio mengulurkan tangannya berkenalan dengan Kenza.


"Hemm maaf saya terburu-buru mau ke bandara, saya permisi ya,"


Mereka pun berpisah di tengah jalan yang tidak terlalu padat lalu lintas.


Manis juga Kenza, batin Rio

__ADS_1


Pria itu sedikit tertarik dengan Kenza lalu bagaimana dengan wanita yang selama ini menjadi pelakor diantara dirinya dan Dina.


Si pelakor memutuskan hubungannya dengan Rio dan pergi dengan pria yang lebih kaya raya darinya. Kini Rio sendirian lagi. Menunggu cinta....


__ADS_2