
Barra, Kenzo, seorang polisi yang bernama Sugeng serta Agus. Sudah berada di TKP, alias Hotel Metro.
Agus menggunakan kamera mini yang mirip kancing baju yang ia selipkan di kantong kemejanya sebelum bertemu dengan Delima.
Sementara yang lain menunggunya di kursi lobby dengan memakai kumis palsu, rambut palsu untuk menutupi penyamaran mereka. Barra mendapatkan barang-barang tersebut dari rumah Ayahnya yang Ia ambil sebelum menuju ke hotel Metro.
Sambil menunggu Delima datang, Agus mengabari temannya Dendy Saputra yang seorang reporter juga jika dirinya tidak jadi meliput di tempat yang sama dengannya.
"Tau gitu gue pergi duluan. Bakal telat nih ambil liputan. Emang Lu dimana sih," balas Dendy pada pesannya
"Gue di hotel metro, Delima nyuruh gue bikin berita gosip lagi. Tapi sekarang gue gak berpihak ma dia. Delima bakal di tangkap langsung pas dia ngejalani aksinya. Rupanya Delima tuh punya ilmu gendam," jelas Agus
"Udah gue duga, dia cewek gak bener. Dia pernah ngecoba gendam gue tapi gak berhasil. Ga semua gendam itu langsung singkron sama korban. Untung-untungan juga sama kayak hipnotis. Gak semua orang bisa dihipnotis," jelas Dendy.
"Jadi lu tahu? Lu mending kesini deh. Biar lu bisa jadi saksi,"
"Saksi apaan, udah ah gua mau liputan dulu. Ntar kalo udah beres baru gue kesitu," Dendy pun menyimpan ponselnya dan langsung pergi ke lokasi berita yang ingin dia liput.
Tak berapa lama Delima datang dengan pakaian seksinya. Dia bertemu Agus dan duduk dengan angkuh. Tas branded miliknya, ia taruh di atas Meja. Kemudian Delima mengeluarkan amplop coklat yang berisi uang dan menaruhnya di atas meja. Lalu mendorongnya hingga di depan Agus.
"Ini DP nya. Sisanya kalau semuanya beres. Inget ya, Lu harus dapetin visual yang bagus ya. Nanti pas target datang, gue nabrak dia. Disitu Lu ambil potret gue sama dia. Trus ambil sebanyak-banyaknya kalah dia mulai kena rayuan gue," ucap Delima
Wanita itu tidak mengatakan jika dirinya memiliki ilmu gendam. Dia hanya mengatakan akan mendekati dan merayu target. Agus berpikir para pengusaha itu memang ada main dan tukang selingkuh. Padahal dibalik itu semua ada ilmu Gendam.
"Kok bisa sih Nona Delima ini merayu secepat kilat dengan orang yang baru ditemui," pancing Agus
"Ya bisalah, kan gue cantik dan seksi," ungkapnya
"Yakin nih bukan karena ilmu hipnotis?"
"Heh hipnotis apaan sih, ini murni soal rayuan. Ibaratnya kucing ketika di kasih ikan dia ga langsung makan," ucap Delima yang mengelak dengan tampak sok cantik.
"Itu orangnya sudah datang," Agus menunjuk seseorang yang baru masuk.
Saat Delima menengok dan melihat orang yang baru masuk ke lobby, dengan cepat Agus memasukkan microphone kecil ke dalam kantongan kecil yang ada disisi kiri.
__ADS_1
"Itu bukan dia, Lu salah orang," ucap Delima
Sementara Agus berpura-pura meletakkan ponselnya di depan meja agar tidak kelihatan tangannya yang baru saja menaruh sesuatu di tas wanita itu
Delima melihat jam di tangannya masih 20 menit lagi. Dia pun bergegas ke toilet sekaligus ingin merapikan riasannya
"Gue ke toilet dulu ya," pamit wanita itu seraya membawa tas branded ya dengan langkah berlenggak-lenggok
Agus memberi kode kepada Barra yang duduk di kursi lain jauh dari tempatnya. Kode jika dia sudah menaruh chip microphone kecil. Chip buatan Kenzo. Dia sangat menuruni bakat Ayahnya yang juga pandai membuat sesuatu alat-alat canggih dan lebih simpel pemakaiannya
"Kali ini gue harus berhasil melancarkan serangan. Semoga aja dia bisa konek sama gendam gue," ujar Delima seraya menebalkan lipstik di bibirnya yang terlihat sedikit pudar.
"Perkataan bunuh diri," gumam Pak Sugeng, salah satu polisi yang ikut mengintai. Dia memakai earphone yang tersambung dengan chip microphone di dalam tas Delima.
Saatnya yang ditunggu, target Delima seorang pengusaha ternama sudah memasuki area lobby. Dan saat menuju ke aula dia melewati lorong sepi. Delima menabrakkan dirinya.
Agus sudah memotret beberapa. Berikutnya Delima dan pengusaha tersebut berbicara sebentar. Delima menepuk di bahu pengusaha tersebut saat pamit untuk meeting.
Terkoneksi
Dia melihat ke arah Agus kalau tugasnya memotret dan merekamnya sudah selesai dan pria itu boleh pergi. Sementara Delima masih disana, meminta sesuatu dari si pria tajir didepannya itu.
"Aku minta ATM kamu dong, passwordnya berapa?"
"Boleh, ini," si pria pengusaha tersebut langsung mengambil dompetnya tanpa bertanya dan memberikan kartu ATM miliknya, " paswordnya 911911," lanjut pria itu
"Makasih cintaku, sekalian dong sama jam tangan dan kunci mobil kamu. Boleh kan aku minta," Delima berbicara dengan nada yang lemah lembut.
Di pengusaha pun langsung memberikannya begitu saja.
"Haha terimakasih ya sayang, aku cepat kaya jadinya," Delima mengambil semua barang-barang itu dengan mudah.
"Angkat tangan! Jangan bergerak,"
Delima terkejut, ia pun menolehkan kepalanya dan melihat seorang polisi tengah menodongkan pistol ke arahnya. Wanita itu langsung lari, ke arah sebaliknya. Namun Barra dan Kenzo menghadang jalannya.
__ADS_1
Delima tertangkap, Sugeng berlari mendekati Delima dan memborgol pergelangan tangannya.
"Lepasin, apa salah saya," ucap Delima
Barra mendekati si pengusaha dan menepuk di tempat Delima tadi tepuk. Pria itu pun langsung tersadar.
"Ada apa ini?" pria itu panik karena melihat ada seorang polisi di dekatnya.
Barra lantas menceritakan semuanya.
"Kalau tidak percaya, silahkan cek isi tasnya," ujar Barra
Kenzo mengambil tas Delima dan mengeluarkan barang-barang milik pengusaha tersebut. Kartu ATM yang ditandai dengan sebuah tanda tangan menandakan kepemilikan di pengusaha tersebut. Juga jam rolex dan kunci mobil miliknya yang ada dompet mini berisi STNK jelas tertera nama milik pengusaha tersebut.
"Ini punya saya, kenapa bisa ada di tas wanita itu?" ujarnya
"Ini kan kamu yang kasih ke aku, masak kamu lupa sih? Ada kok buktinya, ada seorang reporter yang baru saja memfoto kita," jelas Delima
"Oh ya, kenapa tiba-tiba Reporter itu berada disini? kebetulan atau sengaja kamu suruh?" selidik Barra.
"Saya Reporter itu, dan dia yang menyuruh saya untuk memotret saat kalian bermesraan. Sama seperti saat dia menyuruh saya memotret pak Barra. Dan ini uang DP yang dia berikan sebagai jasa memotret lalu dia juga menyuruh saya menyebarkan isu itu ke media," ungkap Agus yang berprofesi sebagai reporter.
Delima terkatup diam tak bicara
Wanita itu langsung dibawa ke tempat polisi. Si pengusaha berterimakasih kepada Barra dan temannya juga kepada reporter yang telah bersaksi.
"Terimakasih ya, karena kalian saya masih bisa menjaga nama baik saya. Ini kartu nama saya, lain kali kita bisa berbincang bukan? Maaf Pak Barra, bukannya tidak sopan tetapi saya harus menghadiri rapat meeting penting. Maaf sekali lagi saya undur diri," ucap si Pengusaha yang bernama Albert. Ia pun bergegas pergi dengan langkah besar.
"Pak Barra, Saya punya teman yang pernah di gendam oleh Delima, tetapi teman saya tidak terkoneksi dan aksi gendam itu gagal. Mungkin bisa jadi saksi lain yang bisa memberatkan Delima," ujar Agus
"Boleh saja, katakan padanya untuk langsung ke kantor polisi. Agus terimakasih ya, saya harap berita klarifikasi itu bisa langsung segera terbit,"
"Sudah saya upload di YouTube pak, tetapi untuk cetak mungkin besok pagi akan terbit. Karena mereka menyesuaikan tanggalnya. Terimakasih juga karena pak Barra tidak membawa saya ke jalur hukum,"
"Ya tidak masalah selama kamu bisa memperbaiki nama baik saya,"
__ADS_1
Masalah Delima selesai semoga tidak ada lagi ancaman, isu atau gosip tentang pelakor di kehidupan Barra. Kasihan...mau nikah soalnya