Promiscuity After

Promiscuity After
Malam Romantis


__ADS_3

Lama mereka berdiam, semua menunggu reaksi Dina. Sementara Dina bingung harus berkata apa. Di satu sisi, dia sangat berterima kasih dengan perbuatan Barra dan sangat terkesima dengan kehebatan Wasabi.


Tapi disisi lain dia belum bisa menerima Barra karena beberapa alasan, selain umur juga karena Joy. Ada rasa enggan untuk berteman dengannya karena Dina sempat malu dihadapan teman-teman Joy dan Temannya. Mau ditaruh mana mukanya yang sudah mengata-ngatai Joy tetapi malah jadi besan? Itulah yang dia pikirkan.


"Barra...., terimakasih," Dina lalu tersenyum sedikit dipaksakan.


"Sama-sama Mah," Barra balas tersenyum.


"Jangan panggil saya Mama, saya belum merestui hubungan kalian," ucap Dina kembali jutek seperti semula.


Keadaan kembali hening, hanya ada suara sendok, garpu beradu di atas piring seperti sedang berperang. Barra menyelesaikan makannya duluan, lalu menenggak minumannya hingga separuh gelas.


"Apa yang menyebabkan Mama, maksud saya Bu Dina tidak merestui hubungan kami? Apa karena faktor umur?" tanya Barra memberanikan diri. Dia bisa mencari solusi agar dirinya di terima di keluarganya.


"Ataukah ada syarat yang harus saya penuhi, misal membuat seribu candi? Jika iya, Saya akan berusaha memenuhinya," jawaban Barra terdengar sangat jantan ditelinga Cassie.


"Yang jelas perbedaan umur kalian itu sangat mempengaruhi, umur kalian itu beda jauh. Nanti kalau kamu sudah tua, kan kasian Cassie. Lagian status kamu itu Duda! Seakan-akan gak ada cowok lain yang masih muda apa?" Dina mengatakan salah satu alasannya.


"Jodoh itu tidak ada yang tahu. Soal umur juga tidak bisa di prediksi kapan matinya, bisa saja kita mati setelah ini," sela Jovan menakuti Dina


"Saya rasa faktor utamanya bukan itu," selidik Barra.


Kini dia seperti Papanya yang suka menelisik sesuatu.


"Apa ini soal Mama saya?" timpal Barra lagi.


"Hmm intinya saya tidak ingin besanan dengan keluarga kamu. Ini bukan masalah menyatukan dua orang, tapi dua keluarga," jelas Dina


"Berarti jawabannya sudah jelas ini soal Mama," ucap Barra


"Susah ya ngomong sama kamu," Dina meninggalkan rumah makan itu dan pergi menuju mobilnya.


"Barra...Maafkan Mama Dina ya? Saya yakin kamu bisa mengambil hatinya. Hmm...Saya sudah selesai, Dina sudah menunggu. Saya pamit dulu ya mau bayar," Jovan memberi saran sekaligus berpamitan.


"Baiklah akan saya coba, terimakasih Pak," ucap Barra


Jovan membayar makanannya ke kasir


"Maaf Pak, semua makanan sudah di bayar oleh pria yang duduk disana," sambil menunjuk Barra


"Oh terimakasih, mbak,"


Jovan kembali lagi, "Barra kok kamu malah yang traktir sih...Terimakasih ya sudah mentraktir kita, kapan-kapan saya yang traktir kamu. Hmm Dina sudah cemberut tuh, saya permisi duluan ya, Cassie ayo,"


"Hmm belum juga selesai makannya," ucap Cassie masih asik mengunyah.


"Nanti biar saya yang antar Cassie pulang, pak Jovan," ucap Barra


"Ya sudah kalau begitu, saya duluan ya," Jovan meninggalkan Cassie dan Barra


"Om Bewok, habis ini jalan-jalan bentar yuk,"


"Boleh, tapi kamu gak capek, muka saya juga agak bonyok ni," Barra melihat Cassie yang sedang menikmati tulang.


"Soalnya besok Cassie udah pergi ke London lagi. Kuliahnya gak kelar-kelar nanti,"


"Cepet banget, Ya udah mau kemana?"


"Ke KUA,"


"Haha bisa di pelototin Mama kamu, Saya sih siap pake banget,"


"Hemm yang sabar ya ngadepin Mama aku, Orang sabar di sayang....," ucapan Cassie terhenti karena Barra langsung menyela

__ADS_1


"Cassie,"


"Ih kok orang sabar di sayang Cassie, di sayang Tuhan dong,"


"Hehe, udah buruan makannya keburu makin malam,"


.


.


.


Barra membawa Cassie ke sebuah tempat dengan pemandangan malam kota Jakarta. Barra membawa Cassie ke atas tower perusahaan miliknya. Lebih tepatnya di atap kantor karena tower itu terpasang di atap.


"Gilaak tinggi banget," pekik Cassie


Suaranya yang lantang dan nyaring terbang terbawa angin.


Cassie merentangkan tangan bersandar pada dinding pagar atap, merasakan hembusan angin.


Barra mendekati Cassie ikut merentangkan tangannya sambil menggenggam kedua jemari gadis itu.


Cassie menolehkan kepala, tnpa membalikkan bada. Ia menatap Barra yang berada di dekat telinganya


"Kok kayak Titanic ya hehe," Canda Cassie kemudian dia melihat kedepan dan memejamkan mata merasakan angin yang berhembus kencang.


"Saya berharap semoga cinta kita gak berakhir seperti kisah Titanic ya, karena Saya ingin terus bersama kamu,"


"Amiin," ucap Cassie kemudian ia menoleh ke arah Barra lagi


Mereka saling memandang satu sama lain, sama-sama menahan keinginan. Barra berusaha menjaga bibirnya agar tidak asal nyium. Tapi semakin lama dilihat Cassie semakin menarik hatinya. Lentik bulu matanya, manik mata yang bulat indah bersinar, senyumnya yang selalu merekah dari bibir tipisnya yang ranum, leher jenjangnya semuanya membuat Barra tergoda


Barra sedikit menjauh dan berganti posisi, berdiri di samping Cassie mengalihkan perhatiannya.


Duh sial mendung lagi, batin Barra setelah ia melihat bintang yang saat itu tidak kelihatan.


"Mana bintangnya?" Cassie mendongak mencari-cari bintang di langit


"Hehe mendung ternyata, biasanya banyak cil,"


Cassie kemudian sedikit bernyanyi,


"Bintang malam katakan padanya, Aku ingin melukis sinarmu di hatinya," Cassie bernyanyi seakan-akan ia mengambil bintang diatas langit kemudian ia menyentuh hati Barra


"Lanjutin Om, biar kayak film drama musikal hehe," ucap Cassie


"Oke," Barra tersenyum kemudian sedikit berdehem membenahi pita suaranya


"Embun pagi katakan padanya. Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya...,"


"Lanjut lagi Om," pinta Cassie


"Tahukah engkau malam ini....." Barra melanjutkan lalu tangannya menunjuk Cassie.


"Ku ingin bertemu membelai wajahnya," Barra menyentuh wajah Cassie sambil terus bernyanyi


"Ku pasang hiasan angkasa yang terindah. Hanya untuk dirinya....," Barra ikut-ikutan menunjuk sang angkasa kemudian menunjuk kekasihnya.


"Lagu rindu ini ku ciptakan....," Cassie bernyanyi dengan lembutnya.


"Hanya untuk bidadari hatiku tercinta...," balas Barra


"Walau hanya nada sederhana...," lanjut Cassie

__ADS_1


"Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan.....," Barra mengakhiri reffnya sembari menggenggam jemari Cassie


"Hihi," Cassie tersenyum kecil


"Suara Om Bewok bagus ya, mirip vokalisnya kerispatih," timpalnya lagi.


"Suara Cassie juga bagus mirip Sherina Munaf,"


"Wah kita bisa lagi duet nih hihi," Cassie cekikian disusul Barra yang tersenyum sedikit malu-malu.


Entahlah, kenapa dia merasa seperti itu. Barra tidak pernah berduaan di malam yang romantis seperti itu. Bahkan saat dirinya bersama Hera. Ini hal baru baginya.


Malam yang mendung namun tidak hujan, seakan membiarkan Barra dan Cassie bersama dalam keromantisan yang mereka rangkum dalam sebuah lagu.


Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, begitulah yang di rasakan Barra dulu setelah perceraian. (Jangan nyanyi plis)


Namun kini, bunga-bunga itu bermekaran indah di hatinya.


.


.


.


Setelah mengantar Cassie, Barra mampir kerumah orang tuanya.


Joy membuka pintu dan terkejut melihat Barra dengan wajah lembab di bawah mata, luka di pelipis dan sudut bibir yang sobek.


"Astaga wajah kamu kenapa?" pekik Joy menangkup wajah Barra


"Habis berjuang demi cinta mah," ucap Barra lebay, ia melihat Mamanya sedikit pucat.


"Hilih,"


Barra mencium punggung tangan Mamanya kemudian masuk dan melihat keadaan rumah yang sepi.


"Mama kok pucat banget? Papa mana? Kok sepi?"


"Papamu nginap di rumah Kakek, besok kita kesana ya? Tadi siang Mama mau ikut, tapi malah masuk angin,"


"Ya anginnya suruh keluar dong mah, kan udah malem, suruh pulang. Udah minum obat belum Mah?" canda Barra dan diakhiri dengan pertanyaan.


"Anginnya udah pewe jadi gak mau keluar hehe, udah minum kok,"


"Sini Mah, ada yang mau bicarain," Barra menepuk sofa duduknya.


Joy menghampiri Barra setelah menutup pintunya.


"Ini gara-gara mikirin kamu sama Cassie jadi masuk angin," ucap Mamanya


"Makasih ya Mah udah pikirin Barra, tapi sebaiknya Mama juga pikirin keadaan Mama jangan sampe telat makan,"


"Hmm, ada apa?


Barra langsung merebahkan tubuhnya di sofa dan tidur di pangkuan Joy.


"Mumpung ga ada Papa, mau manja sama Mama dulu," ucap Barra. Biasanya jika seperti itu ada beban berat yang ia hadapi. Terakhir Barra tidur di pangkuannya saat dia bercerai dengan Hera.


"Apa yang ingin kamu katakan, cerita aja. Luapin isi hati kamu," ucap Joy sambil mengelus kepala Barra.


"Apa hal yang Mama pikirkan saat mendengar kata duda?" tanya Barra


Hmmm pasti Dina sudah menyinggung hatinya batin Joy

__ADS_1


__ADS_2