Promiscuity After

Promiscuity After
Sad


__ADS_3

Dari sejak penolakan lamaran itu, Cassie belum makan apapun. Dia masih berada di ruang tamu, duduk di sofa dengan memeluk kedua lututnya. Matanya sembab, begitu juga dengan author yang ikut nangis.


Make up-nya, mascara, eyeliner yang ia gunakan, luntur membentuk guratan hitam di sekitar mata. Cassie masih mengenakan gaun putih panjang. Wajahnya yang putih dan rambutnya yang panjang berantakan seperti kuntilanak yang sedang melamun.


"Astaghfirullah, Non! Mbak kira kuntilanak lagi duduk disitu," ucap Mbak Markonah.


Wanita yang berstatus janda beranak satu itu baru saja menyelesaikan urusannya di dapur. Makanan yang dimasaknya untuk tamu, disuruh buang oleh tuan rumahnya.


Namun dari pada mubazir akhirnya mbak Markonah membagi-bagikannya pada pembantu lain di kompleks itu. Pembantunya aja yang dikasih, sekali makan enak. Begitu pikir mbak Markonah.


Ia menghampiri Cassie di duduk di ruang tamu tanpa penerang. Pintu ruang tamu itu masih terbuka lebar, membiarkan angin membawa kesejukan malam. Sebelum itu Mbak Markonah menutup pintu ruang tamunya.


"Non dari tadi belum makan kan? Makan yuk?" ajak Mbak Mar


Cassie terdiam dalam lamunannya. Kepalanya masih direbahkan di atas lutut yang dia peluk.


Mbak Mar mengusap punggung Cassie, "Mbak ambilin makannya ya? Atau mau disuapin?" tanya Mbak Mar.


"Kenapa Cassie lahir dari keluarga yang broken home dan tidak tahu tata Krama, Cassie sungguh malu mbak,"


"Mungkin ini soal waktu non, Mas Barra suruh aja kesini sering-sering biar Bu Dina tahu, seperti apa sikap Mas Barra sama Non," Mbak Mar berusaha menghibur dengan memberikan solusi kecil.


"Mbak Yakin kok, orang yang baik, dengan niat tulus melamar pasti akan di permudah segala urusannya, Apalagi tujuannya ibadah kan mau menikah. Non Cassie banyakin aja tuh ibadah malam, tahajjud, puasa agar jalannya selalu di ridhoi Allah," ucap Mbak Markonah


Cassie mengangkat tubuhnya dan memeluk Mbak Markonah.


"Untung ada Mbak Mar yang selalu nemenin aku, kalau gak. Mungkin aku udah lupa diri dan mungkin sikap Cassie, gak akan jauh dari Mama. Terimakasih Ya Mbak sudah mengajari ku banyak hal, Cassie sayang mbak," Cassie menangis lagi.


"Sama-sama, Non juga baik sama mbak, sering kasih hadiah lagi sama anaknya mbak. Non udah saya anggap sebagai anak sendiri,"


Sementara di lain tempat.

__ADS_1


"Aku sungguh kasihan sama Cassie, sayang. Kenapa sih kamu gak mikirin perasaanya? Dia udah sedih saat kamu dan Papanya cerai, sekarang kamu lebih membuatnya sedih karena menolak lamaran kekasihnya. Trus kamu mau menambahkan kesedihan itu jadi kesengsaraan? menjodohkannya dengan orang yang tidak dicintai nya?" ujar Jovan


"Kamu sendiri kan yang pernah bilang sama aku, kalau sewaktu-waktu cinta itu akan tumbuh. Perjodohan semacam itu harus dilakukan ini juga demi masa depan Cassie karena aku menjodohkannya dengan anak orang tajir. bukan tajir lagi Konglomerat, the Sultan," jelas Dina.


"Gak usah jauh-jauh deh, contohnya kita. Waktu itu kan aku belum ada rasa sama kamu, tapi kamu terus aja deketin aku, nyosorin diriku. Lama-lama aku juga cinta kan sama kamu, udah deh yakin sama pilihanku ini," Timpal Dina Lagi.


Jovan hanya bisa menasihatinya, tetapi dia tidak bisa memaksa lebih karena Jovan tidak memiliki hak sepenuhnya. Dia hanya Ayah tiri.


Sebenarnya Rio ingin menyetujuinya saat Cassie menghubunginya lewat telepon. Tapi setelah tahu jika Barra adalah pemilik perusahaan yang selama ini menjadi rivalnya, Rio langsung menolaknya mentah-mentah.


Ketika pria itu sampai di rumah, Rio teringat akan Cassie. Bagaimana nasibnya, kasihan. Jika Cassie memiliki pilihan lain selain Barra maka Papanya akan menyetujuinya. Toh yang bisa menikahkan Cassie menjadi wali nikah adalah dirinya sebagai Ayah Kandung.


.


.


Di kediaman Wasabi, Joy memainkan sendoknya sedari tadi. Sementara Wasabi sudah habis dua piring.


"Makan dong sayang," pinta Wasabi.


"Kamu lihat sendiri kan sayang, Papanya Cassie juga menolak, lantaran Barra itu adalah rival perusahaannya,"


"Tapi kalau si nenek cerewet itu gak punya masalah sama aku, dia pasti bisa bujuk suaminya kan," ucap Joy


"Yang Rio itu mantan suami,"


"Gak tahu ah, pokoknya aku gedek Ama keluarga Cassie. Jangan-jangan tuh Cassie anak orang lain yang dia pungut. Atau anak dia hasil main sama laki lain,"


"Hussh jangan sembarangan ngomong," sahut Wasabi


"Maaf sayang,"

__ADS_1


"Hehe emak-emak tuh harus di jaga perkataanya kalo gak, apa bedanya kamu sama Dina," Wasabi terus menasihati istrinya jika dia salah berucap. Suami yang baik adalah suami yang bisa menasihati istrinya untuk lebih baik.


Sebenarnya saat pertama kali Wasabi bertemu Joy, wanita itu adalah orang angkuh, tidak peduli dengan sesama dan tidak ramah. Tidak memiliki banyak teman di real, tetapi kalau di dunia Maya, temannya bejibun.


Sedikit demi sedikit Wasabi bisa mengubah perilaku Joy menjadi orang yang ramah, lebih santun dan pemaaf. Maka dari itu Joy sangat mencintai Wasabi karena karakternya yang baik.


.


.


Lalu apa yang terjadi dengan Barra? Pria itu mengadu pada sang Khaliq.


"Ya Allah... Apakah Cassie Jodoh Hamba? Dekatkan lah dan permudahkan lah urusan Hamba. Sesungguhnya Engkau yang mampu merubah segalanya," dan masih banyak lagi doa yang pria itu panjatkan.


Selesai melepaskan seluruh isi hatinya, Barra membuka ponselnya. Pesan dari mbak Markonah.


"Alhamdulillah non Cassie sudah makan, tadi saya suapin. Setelah itu dia pergi tidur,"


"Alhamdulillah, terimakasih Mbak sudah mengabari. Soalnya ponsel Cassie tidak aktif," balas Barra


"Ya jelas gak aktif mas, hapenya di lempar sama Cassie tuh sampe pecah. Bentar mbak fotoin hapenya,"


"Gak usah di foto mbak. Loh kok bisa pecah? Bukannya itu hape baja ya tahan banting," balas Barra lagi


"Non Cassie jual hapenya, dan beli hape yang biasa. Katanya dia mau buat usaha kecil-kecilan di London eh malah Nyonya nyuruh dia pulang," jawab Mbak Mar


Cassie mandiri juga ya orangnya, dia gak mau nyulitin orang tuanya. Dia juga ga minta ke Saya, bisa aja kan saya modalin kalau mau bikin usaha. Saya makin mantap untuk menikahinya. Semoga ada jalan untuk hubungan kita, Amiin . Batin Barra


"Ya sudah Terimakasih mbak, besok pagi saya ke rumah,"


"Jangan Mas, nanti kalau nyonya tahu, mas bisa diusir loh," Mbak Markonah ketakutan, takut jika Barra kerumahnya saat ada Bu Dina.

__ADS_1


"Ya biarin. Mau di usir, atau di pukulin saya tetep akan menemui Cassie," balas Barra


"Yaudah, semangat Mas Barra, tunjukkan kalau Mas Barra layak untuk Cassie," kata Mbak Mar dalam pesannya di malam hari itu.


__ADS_2