Promiscuity After

Promiscuity After
Surrender


__ADS_3

Kenza menelepon Rio meminta pekerjaan apa yang harus ia kerjakan. Sementara Rio bingung, karena memang tidak ada pekerjaan untuk posisi jabatannya. Belum ada karena sebelumnya tidak ada.


Akhirnya Rio menyuruhnya untuk ke ruangannya dan mengambil laptopnya. Tetapi perjalanan menuju ruangan Rio, Kenza bertemu dengan Viena, teman kuliahnya saat di London.


"Kamu," kedua terbelalak kaget.


Bukan senang melainkan sebaliknya. Keduanya bermusuhan karena Oscar lebih memilih Kenza saat itu. Jelas Kenza cantik dan juga mereka telah lama saling mengenal.


"Siang Bu," sapa Nafa karyawannya yang berada di bagian promosi


"Siang," balas Kenza tersenyum


"Kok dipanggil ibu sih?" sela Viena dengan berbisik


"Dia itu istrinya pak bos sekarang," jelas Nafa


"Hah? Serius? Lu sekarang istri pak Rio?" ucap Vie yang seakan-akan mengejeknya.


Viena tidak tahu jika istrinya itu adalah Kenza temannya karena dia tidak datang ke hari pernikahan.


"Memangnya kenapa ya? Salah kah kalau saya menikah dengan Bos kamu? Saya bukan pelakor loh," ucap Kenza


"Haha ya kasian aja, bisa mikir kan?" Vie pun lalu pergi ke ruangannya.


Jabatan Vie lumayan besar, dia sebagai manager di perusahaan itu. Tetapi tidak mempunyai etika kesopanan sama sekali. Kenza sih cuek saja, dia pun masuk ke ruangan Rio.


"Aku belum ngerencanain apa aja yang kamu urus. Sementara kamu off dulu ya, sambil lihat-lihat dokumen atau profil perusahaan aku. Itu datanya ada di laptop cari aja," ucap Rio tanpa menatap Key. Dia sibuk membaca laporan.


"Hemm tau gitu aku jalan-jalan aja," Kenza mengambil laptop dari meja Rio.


"Yaudah sana jalan-jalan," titah Rio


"Males ah ga ada temannya, yaudah aku pelajari dulu profil perusahaan kamu," jawab Kenza lalu pergi dari ruangan Rio.


Di ruangannya, Kenza benar-benar jenuh. Dia pun membuka-buka folder lain. Tetapi malah jatuh ke galeri foto pribadi miliknya.


Foto Rio saat bersama Dina.


Mulai dari foto pernikahannya, foto saat Dina mengandung. Foto mereka berliburan bersama Cassie saat kecil. Dan setelah itu tidak ada lagi fotonya dengan Dina. Hanya ada Foto Cassie dan Rio.


"Mungkin sejak itu mereka udah sering ribut kalik ya jadi ga ada foto lagi," gumam Kenza


Kemudian ia membuka folder yang terkunci.


"Ih ngapain sih dikunci segala," ujar Kenza. Kemudian ia mengirimi Kenzo file tersebut dan menyuruh pria itu membuka kuncinya.


Tak berapa lama Kenzo mengiriminya balik dengan folder yang sudah terbuka kuncinya.


Foto Rio yang hanya mengenakan bokxser hitam putih, dan hanya memperlihatkan keseksian dirinya. Sebenarnya Rio adalah model majalah dewasa saat muda dulu.


Kenza menatapnya tanpa kedip. Naluri wanitanya tergoda, sungguh membuatnya hampir gila. Berbeda dengan sekarang tubuh Rio yang mulai menggendut meski masih terlihat kotak-kotak di perutnya.


Dilihat dari ukuran miliknya, Kenza sudah memikirkan hal yang sedikit kotor.


"Astaga bikin aku basah aja,"

__ADS_1


Tak berapa lama Kenzo mengirimi pesan WhatsApp, "Awas Lo ntar ngences! Haha,"


"Sialan," umpat Kenza tanpa membalas pesan Kenzo.


Kenza pun men-scrollnya ke bawah dan menemukan foto Dina dan Rio yang sedang berciuman plus ada videonya juga.


Tiba-tiba perasaan Kenza tidak senang. Dia menghentikan rekaman video tersebut dan berpikir kembali.


"Kenapa aku gak seneng. Seharusnya aku biasa aja liatnya, karena aku ga ada perasaan cinta sama dia. Apa karena statusku sebagai seorang istri, yang merasa kalau Rio adalah milikku?" Kenza bergumam kecil lalu ia menutup semua galeri dan aplikasi lainnya berniat untuk mengembalikan laptopnya ke ruangan Rio.


Tetapi perjalanan menuju ruangan Rio harus melewati ruangan karyawan di bagian promosi. Kenza melangkah pelan saat tahu dirinya sedang digosipkan.


"Lu tahu gak sih, Kenza tuh udah ga perawan sebelum nikah sama pak Rio," ungkap Vie


"Kamu tahu dari mana?" tanya teman lainnya


"Ya tahu lah, orang mereka sempat tinggal di satu apartemen. Ngapain coba berduaan di apartemen? Udah pasti ngesekkks lah. Apalagi pacarnya yang dulu itu bule pergaulannya lebih bebas, hal kayak gitu udah biasa cuy," desis Vie


Kenza ragu untuk melangkah ke depan, lalu ia memundurkan langkah dan bersembunyi di dinding sekat belakang, ingi. mencari tahu seberapa banyak Viena menceritakan rumor soal dirinya.


Braaak


Rio datang menggebrak meja salah satu karyawan hingga komputernya bergeser karena getaran yang ada. Jantung mereka semua pun berdebar kencang karena bunyi gebrakan yang menggelar di ruangannya karena sedikit bergema.


"Saya punya telinga, punya hak apa kamu menyebarkan isu mengenai istri saya!" Rio memekik tajam dan marah


"Pa-pak Sa-Saya,"


"Memangnya kamu lihat sendiri kalau mereka berhubungan inntiem? Gak kan?! Jadi jangan menyebarkan fitnah, itu artinya kamu juga menghina saya! Sekarang kemasi barang-barang kamu. Kamu saya PECAT!!!" terlihat wajah Rio memerah.


"I don't care, Kamu menghina istri saya tanpa perasaan takut kan? Jadi untuk apa saya pertahankan kamu, kerjaan kamu juga gak bagus!" ucap Rio meninggalkan ruangan karyawannya


Viena masih berusaha membujuk Rio untuk tidak memecatnya.


Sebelum masuk ke ruangan Rio, ada tempat tunggu dan di depan ruangan pak Rio, ada meja Angga.


"Angga, berikan surat pemecatan untuk Viena, kasih dia uang pesangon. Heh Vie, Saya masih baik ya ngasih kamu uang pesangon," tegas Rio


"Dan Angga....bilang sama semuanya, siapapun yang membicarakan keluarga saya. Silahkan angkat kaki dari kantor ini," seru Rio dengan tegas.


Angga mengiyakan perkataan Rio dan segera membuat surat pemutusan kerja.


Kenza bisa melihatnya dengan jelas. Pria tersebut bersikap tegas membela dirinya. Padahal jelas-jelas yang dikatakan Vie adalah benar. Kenza seketika malu pada dirinya sendiri.


Dia kembali ke ruangannya dan menangis.


"Aku ini bodoh, aku melayani pacarku saat itu. Tapi apa yang ku lakukan sekarang. Aku tidak melayani suami ku.....," Air mata Kenza bercucuran.


Kenza bergegas ke toilet dalam ruangannya, mencuci wajahnya dengan air lalu menyambar tisu dan mengusapkannya di wajah agar kering. Setelah itu, ia membenahi rambutnya dengan jemarinya. Melepaskan blazernya dan membuka satu kancing kemejanya.


"Hari ini, aku milikmu Rio," gumam Kenza kemudian tersenyum di depan kaca.


Dengan langkah besar dengan sepatu fantofel tanpa hak tinggi, Kenza tersenyum senang. Dia menyapa semua karyawan yang dilewatinya dan masuk ke ruangan Rio tanpa permisi.


"Ada apalagi Ken?" tanya Rio yang sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Kenza tak menjawab pertanyaan Rio. Ia pun mengunci pintu dan membuat Rio menoleh ke arahnya. Lalu Kenza berjalan mendekati kursi Rio dan berhenti tepat di depannya tanpa terhalang meja.


Wanita itu mengambil ponsel Rio dan menaruhnya di meja, kemudian satu tangannya menyentuh lengan kursi, membungkukkan badannya. Dan satu tangan lagi menyentuh rahang Rio lalu mengecup bibir nya.


Kecupan saja tetapi membuat hatinya bergetar.


Rio terpaku, dan menatap mata Kenza saat wanita itu melepaskan kecupannya.


Keduanya diam. Keduanya saling bergetar dalam hatinya ada sesuatu yang membuat keduanya meremang.


Kemudian Kenza mendekatkan wajahnya lagi sambil melihat bibir Rio dan mengelusnya dengan ibu jarinya. Kenza mengecupnya lagi, kecupan kecil hingga keduanya saling membuka mulut menjadi ciuman dan cumbuan yang menggairahkan jiwa. Debaran demi debaran membuat darah keduanya semakin memanas. Semakin menginginkan sentuhan lain.


Rio menarik tubuh Kenza untuk duduk di pangkuannya. Tangannya menyentuh tengkuk wanita itu. Masih saling mencumbu dan beradu lidah tanpa menyentuh gigi.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Keduanya saling menginginkan.


Tangan Rio mulai bergerilya membuka kancing kemeja hingga bawah dada. Pria itu semakin tergoda saat melihat kulit putih cerah milik istrinya yang ia sebut langit.


Rio mulai mengecup leher jenjangnya hingga tergelitik geli sedikit. Hati Kenza bergetar, wajahnya memerah saat Rio mulai menuruni kecupannya di puncak dadanya. Masih terbalut kain.


Perlahan Kenza mulai melepaskan kaitan kemeja Rio dengan tangan kecilnya. Kelincahannya membuka tak terasa jika kemeja tersebut sudah terbuka.


Kemudian Kenza beralih melepaskan kaitan tali pinggang dan terakhir reselting yang menyembunyikan benda indah milik suaminya.


Kenza mengelus benda indah yang mulai menegang membuat pria itu membunyikan suara lenguhan. Lalu Kenza turun dari pangkuannya dan berlutut tepat dibawah miliknya. Mengeluarkan benda yang mulai memanjang itu sebut saja anaconda dari balik kain segitiga.


Panjang dan Besar, Kenza menyukainya ia pun mencium wangi aromanya sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya.


Rio merasakan kehangat dan ada sesuatu yang menyedotnya membuat Pria itu merasakan gairah yang memuncak. Belum...ia masih menikmati rasa nano nano berbagai rasa membuat matanya merem dan melek.


Cukup


Kini giliran aku, batin Rio


Dia tidak ingin menumpahkan formula putihnya sia-sia begitu saja. Meski Kenza ingin merasakan formula tersebut.


Rio menyentuh bahu Kenza dan mendorongnya sedikit. Pertanda pria itu menginginkan posisi lain.


Kenza beranjak berdiri bersamaan dengan Rio yang berdiri dengan celana yang separuh turun. Pria itu mencium istrinya lagi sembari memainkan jemarinya di area bawah.


Wanita itu merasakan nikmat hingga ia terdorong mundur ke tepi meja lalu mendudukinya. Rio pun melepaskan kain segitiga milik Kenza dan pria itu berjongkok mulai bermain diarea bawah.


Wanita itu sudah basah, tetapi Rio menikmati aromanya yang wangi. Dengan gerakan lidah yang lihai, Kenza semakin basah dibuatnya.


Rio berdiri dan menggendong Kenza dengan ringannya. Seperti tidak ada beban mengangkat istrinya itu. Entah Kenza yang kurus atau Rio yang terlalu kuat.


Pria itu memasukkan anacondanya ke lembah surga. Dengan posisi berdiri tanpa bersandar apapun. Posisi yang pernah diajarkan Wasabi. Otot pria diperlukan disini.


Selanjutnya Rio membawanya ke sofa tamu yang juga berada didalam ruangannya. Dia membuka lipatan sofa menjadi lebih lebar dan bisa menjadi tempat tidur. Mereka pun menyalurkan hasratnya dengan berbagai posisi.


(Maaf tidak bisa diceritakan. Nanti gak kelar-kelar)


"Mas .....," panggil Kenza disertai lenguhan, suarannya pelan pertanda wanita itu tidak kuat lagi dan akan sampai puncaknya.


Rio menambah kecepatan kokangnya dengan hentakan demi hentakan.

__ADS_1


Gairah tersalurkan dengan label halal


__ADS_2