Promiscuity After

Promiscuity After
No One Like you


__ADS_3

Dina pusing dengan pekerjaannya, dia baru beberapa hari diangkat menjadi kepala cabang. Namun malah kinerjanya merosot.


"Apakah karena aku berpisah dengan Rio sehingga rejeki ku ikut merosot? Ahh atau...Bagaimana kalau aku meminta pak Wibi untuk mengambil apartemen itu ya, ah aku ragu. Rumahnya saja mewah mungkin dia juga sudah memiliki apartemen," gumam Dina di ruangannya


Sore menjelang petang, Dina masih berada di kantor padahal semua karyawan sudah pulang. Dia memulai pekerjaannya di bisnis properti rumah dan apartemen.


Awalnya dia hanya seorang marketing biasa, lama kelamaan Dia memegang jabatan kepala Marketing. Jabatan itu semakin naik seiring penjualan yang terus meningkat hingga akhirnya dia dapat memimpin suatu perusahaan di cabang Bandung. Setelah perceraian dia mulai menempati posisinya sebagai kepala cabang sehingga ia sering bolak-balik Jakarta-Bandung.


Akhirnya Dina menghubungi Wibi lewat telepon.


"Boleh Bu Dina, silahkan datang saja ke kantor besok pagi ya, kalau bisa jam 7 pagi karena saya ada meeting di jam 9nya," ucap Wibi.


"Oh terimakasih Pak Wibi, baiklah besok pagi-pagi saya akan datang. Tetapi apakah tidak terlalu kepagian ya pak?" sahut Bu Dina dari seberang telepon.


"Oh tidak Bu, malah biasanya saya sudah datang pukul 6 pagi,"


"Baiklah kalau begitu, sekali lagi terimakasih untuk waktunya pak," Dina mematikan ponselnya setelah Wibi membalas ucapannya.


"Duh pagi banget, mau gak mau malam ini harus ke Jakarta," gumam Dina


Maka segeralah Dina berangkat ke Jakarta. Namun setelah sampai di Jakarta, Dina mengalami musibah kecil. Bannya mendadak bocor. Dia juga tidak membawa ban serep ataupun alat pengganti ban.


Akhirnya ia menghubungi tukang bengkel langganannya. Sembari menunggu tukang bengkel itu datang, Dina pergi ke Indoapril terdekat. Ia membeli sebuah kopi panas yang langsung di seduh di sana, juga beberapa makanan ringan.


Ia duduk di kursi luar dengan meja bundar berpayung. Tempat itu di sediakan Indoapril untuk nongkrong. Sambil membuka tabletnya membaca berita.


"Detective Wasabi di anggap tidak becus bekerja setelah beberapa tahun pensiun," Dina membaca sebuah judul salah satu artikel koran online kriminal lewat tab nya.


"Hah ini bukannya suaminya si soyjoy itu yah hahaha. Lagian udah pensiun juga ngapain masih ngurusin masalah orang," cibir Dina sambil menyeruput kopinya. Dia berbicara sendiri tanpa ada teman disampingnya.


"Jadi sekarang yang bekerja adalah istrinya, sedangkan suaminya hanya ongkang-ongkang di rumah. Hidih gak banget suami apaan tuh. Ntar kayak Rio lagi, istrinya sibuk kerja, dia kerjanya enak bisa pulang cepet taunya selingkuh. Semoga kamu gak diselingkuhin ya Joy,"

__ADS_1


"Haduh lama banget sih tukang bengkel tuh,"


Tak berapa lama si montir yang ditunggu dari tadi, akhirnya datang juga. Si Montir langsung menelepon Dina yang sedang duduk di depan Indoapril.


"Bu Dina saya sudah sampai, Bu Dina dimana?" ucap si montir


"Oh bentar saya kesana,"


Dina buru-buru memasukkan tabletnya ke dalam tas, lalu berlari kecil. Kopi dan cemilan yang di belinya di tinggalkan begitu saja di atas meja, padahal belum habis sungguh sesuatu yang mubazir.


Wanita itu pun menyebrang jalan juga dengan terburu-buru. Dina sedikit silau, karena pandangannya baru saja terkena lampu sorot, hingga ia hampir saja tersenggol mobil.


Tiba-tiba ada yang menariknya dengan cepat.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya seorang pria dengan suara bass.


Dina pun terkejut, ia pikir dirinya sudah tertabrak. Kenapa dia sering sekali ceroboh. Ini yang kedua kalinya Dina tidak melihat dengan benar saat menyeberang.


"Hati-hati menyebrang, saya permisi,"


Tampan, sorot matanya tajam, sedikit lebih tua dari Dina. Tetapi wajahnya familiar. Wanita itu mengingat-ingat


"Itu bukannya Detective Wasabi ya?" Dina sedikit bergumam pelan.


"Ya, itu saya," Wasabi menoleh sembari tersenyum tipis, ia masih bisa mendengar suara Dina meskipun bervolume kecil.


Dina ternganga, wajah yang dilihatnya di koran online itu tidak setampan aslinya. Dilihat dari langsung Wasabi lebih berkharisma. Apalagi Wasabi tersenyum, meski sangat tipis tetapi mampu melelehkan Dina.


Bunga-bunga yang tadinya hampir bermekaran menjadi gugur seketika saat Joy datang mendekati Wasabi. Hampir saja lupa jika Wasabi itu milik Joy. Dan baru saja ia mencibir Wasabi.


Joy menggandeng tangan Wasabi tetapi dia juga melihat Dina yang ada disana.

__ADS_1


"Eh rupanya situ, suka banget ya kita dipertemukan. Atau jangan-jangan situ ngefans ya sama saya hehe," ucap Joy


"Hidih, siapa yang ngefans sama situ. Gak banget,"


"Trus ngapain masih di sini ngeliatin suami saya sampe mulutnya ternganga, situ naksir ya?" terka Joy.


"Hello ini trotoar ya, siapa saja bebas mau jalan, mau lompat mau tiduran sekalian. Lagian gak level ya saya naksir sama suami situ. Gak kerja, cuma pensiunan mantan Detective. Masak istrinya yang kerja gak malu apa ya jadi laki-laki,"


Joy kesal sambil mengepalkan tangan, bersiap meninju. Tetapi Wasabi segera mengambil tangan Joy dari lengannya dan menggenggamnya kemudian memasukkan jemari panjangnya ke sela-sela jemari Joy, menangkupnya lalu mencium punggung tangannya.


Wasabi dengan agresif mencium pipi Joy di tengah jalan itu sembari berbisik, "Ada peri bahasa mengatakan titik-titik khafilah berlalu, yuk buruan ke Indoapril. Habis tu kita ngamar seharian,"


Joy terkekeh geli mendengar bisikan Wasabi. Membuat Dina menjadi iri dengan keromantisan mereka. Joy dan Wasabi masuk, sebelum itu Joy melambaikan tangan bak princess, "Bye...,"


"Bisik-bisik apa sih, malah sok romantis lagi," ucap Dina lalu melanjutkan menyebrangnya.


"Ah tau gitu kamu gak usah nolongin dia, biar aja ketabrak,"


"Ck gak boleh gitu, gak baik,"


"Dia tuh yang numpahin kopi panas ke paha aku. Lagian aku gak suka ya kamu di jelek-jelekin gitu. Pake ngatain kamu gak kerja, Dia gak tau aja tuh butik uangnya kan dari kamu,"


"Ya emang aku udah lama gak kerja kan, aku juga cuma modalin usaha kamu di awalnya aja,"


Joy menggeleng,


"Kamu gak hanya modalin usaha aku, kamu modalin aku segalanya, kamu modalin aku dengan doa, kamu modalin aku dengan nafkah batin yang selalu aku butuhkan, kamu layani aku dengan cinta, kamu modalin aku dengan kasih sayang, kamu modalin aku dengan kesetiaan, kamu juga gak pernah main tangan kamu selalu memperlakukan aku dengan lembut sampai aku terlalu nyaman denganmu dan itu membuat aku semangat hidup, semangat kerja, dan kamu adalah penyelamat saat aku tenggelam, saat ada orang yang meracuni aku. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku udah ga ada di dunia ini,"


"Panjang banget, udah jangan terlalu memujiku, aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai seorang suami,"


Gak ada suami kayak kamu sayang, yang rela bersih-bersih rumah, rela masak buat aku disaat aku sakit, saat aku hamil, kamu rela berganti peran sebagai aku, I Love You Wasabi batin Joy

__ADS_1


__ADS_2