
Malam itu setelah Barra menyelesaikan pekerjaannya, ia pergi ke rumah Dina untuk mengambil salah satu gaun milik Cassie sebagai patokan ukuran gaun pernikahannya nanti
Sesampainya di sana, keadaan rumahnya sepi dan gelap. Lampu teras dan lampu di dalam rumah tidak dinyalakan. Tidak ada mobil Dina di halaman rumahnya.
Tidak terlihat pak sopir karena biasanya dia datang saat pagi hari. Sementara Mbak Markonah, ikut Cassie ke luar negri agar bisa menjaga sekaligus memantau perkembangannya.
Barra menelepon Bu Dina, sambungan teleponnya terdengar namun tidak ada sahutan. Dia terus memencet bel rumah serta sesekali mengetuk pintu rumahnya.
Suara petir menyambar pertanda akan turun hujan sebentar lagi. Barra mencoba menekan daun pintu dan membukanya. Tidak terkunci.
"Tidak terkunci mungkin Bu Dina didalam dan sedang tidur," gumam Barra
Ia pun masuk sembari berkata permisi. Tetap saja tidak ada jawaban. Barra langsung ke kamar Cassie, tidak mungkin ia mengintip dan membuka kamar Bu Dina. Barra mengambil gaun yang pernah Cassie pakai saat lamaran pertamanya ditolak. Setelah itu ia bergegas pergi.
Tetapi ketika Barra pamit pergi dengan sedikit berteriak.
"Ma..., Barra sudah ambil gaun Cassie. Sekarang Barra Pamit ya," ucapnya dari balik pintu kamar yang tertutup.
Kamar Dina dan Cassie bersebelahan.
Kemudian Barra pulang melewati ruang tengah. Matanya menyapu segala ruangan yang kosong dan berhenti di salah satu sudut.
Ia melihat sebuah kaki yang tertidur di halaman samping. Taman kecil di samping rumah lebih tepatnya di depan ruang tengah ada pintu kaca yang sedikit terbuka.
Barra mendekatinya dan matanya terbelalak terkejut. Bu Dina tergeletak di tepi taman halaman samping.
"Ma...Mama...," Barra menepuk lengan Dina, wanita itu tak bersuara dan tidak bergerak. Dia pingsan.
"Astaga, keningnya berdarah,"
Barra langsung menggendong Dina keluar menuju mobilnya. Tak lupa ia menutup pintu rumahnya.
Ia menghubungi semua orang yang dekat dengan Bu Dina. Pak Jovan tak ada jawaban saat di telepon jadi Barra pun mengiriminya pesan. Lalu ia menghubungi Rio, tidak di angkat. Barra langsung menghubungi Kenza.
"Ya Mas,"
"Kamu dimana Ken? Sama pak Rio gak?" tanya Barra
"Dia mandi, aku lagi bikin makan malam nih sama Mama. Kenapa?" tanya Kenza lagi
"Bu Dina sekarat kayaknya nih. Saya tadi kerumahnya, dia jatuh di halaman samping. Kepalanya berdarah, dan lengan kirinya bengkak. Badannya juga panas, Saya langsung bawa ke IGD. Maaf Ken, Saya hubungi kamu dan pak Rio ga ada maksud lain hanya saja Saya gak bisa hubungi suaminya. Barangkali Pak Rio tahu keluarga Bu Dina yang lain. Yaudah gitu aja ya, tolong sampaikan," ucap Barra
"Astaga, tadi Bu Dina bilang sakit sih makannya dia gak bisa ngurusin acara nikahan Cassie. Tapi dia gak bilang sakit apa. Ya deh nanti aku sampaikan. Nanti aku sama mas Rio kesana," ucap Kenza
__ADS_1
Dan setelah Rio selesai mandi, Kenza yang lagi menyiapkan makanan, langsung menceritakan apa yang Barra katakan. Rio duduk sambil menunggu semua makanan di taruh di meja.
"Dia gak punya keluarga di Jakarta. Semua keluarganya di Kalimantan,"
"Kalau gitu nanti kita tengokin aja Mas. Kasian kan dia sakit tapi gak ada yang nemenin," sahut Kenza
"Kamu aja ya, aku enggak mau masuk,"
"Kenapa? Kamu masih punya rasa sama mantan istri kamu itu? Kalo Mama gak ikut ya, nanti Mama pulang aja dijemput Kenzo," ucap Indi
Kenza mengambilkan makanan dan menyerahkannya pada Rio
"Bukan gitu mah, nanti dia pikir aku masih perhatian sama dia," Rio mengambil makanan yang Kenza berikan
"Makasih sayang," ucap Rio pada Kenza ,"Nanti Rio antar Mama sampe rumah, gak perlu ngerepotin Kenzo,"
"Wah mantu yang pengertian hehe. Ngomong-ngomong, Rio kalau nyipok di leher jangan sampe keatas gitu. Kayak zombie giginya aja hehe,"
"Hehe, ya Mah," Rio menjawabnya dengan malu-malu
"Iya tuh, pantes aja tadi pada ngeliatin aku, rupanya ada stempelnya," gerutu Kenza
"Peace ehhehe," ucap Rio sambil membentuk jarinya huruf V
.
.
Kenza datang bersama Rio menghampiri Barra yang sedang duduk di ruang tunggu kamar Operasi.
"Gimana Bu Dina kok sampe di Operasi?" tanya Kenza duduk sebelah Barra tetapi Rio duluan duduk disamping Barra dan menyuruh Kenza untuk duduk disebelahnya.
"Jadi, waktu diperiksa ternyata tulang lengannya patah di dekat sendi sehingga bengkak dan harus di operasi. Untung Saya bawa tas Bu Dina padahal hampir tertinggal. Karena saya butuh data KTP dia. Eh tahunya ada orang bengkel yang kirim pesan memberitahukan jika kalungnya tertinggal di mobil. Lantas saya telepon balik ternyata Bu Dina ini pagi jam-jam 10 itu kecelakaan mobil. Nah dia gak langsung ke rumah sakit mungkin gak ada luka luar jadi dia anggap baik-baik aja," ungkap Barra
"Hemm kasian juga Bu Dina, semoga operasinya lancar," ucap Kenza sementara Rio hanya Diam sambil menganggukkan kepala mengamini dalam hati
Barra menyerahkan gaun milik Cassie yang sudah dia taruh di dalam paper bag, "Ini gaunnya,"
"Sip besok langsung ku serahin tukang jahitnya. Dijamin bagus, harganya juga terjangkau," ucap Kenza
"Makasih ya Ken,"
"Mama kamu itu,"
__ADS_1
"Hehe iya Pah, Mama Kenza. Hemm Itu Pak Jovan gimana ya, dari tadi saya ga bisa hubungi," tanya Barra
"Aku tahu lokasi rumahnya sih, cuma gak tahu pasti sih yang mana rumahnya," jawab Rio
"Yaudah samperin aja Mas,"
"Gini ya, tadi di telpon dia itu bilang lagi berantem sama suaminya. Aku ga enak lah sayang ntar dikira aku ikut campur masalah keluarganya,"
"Ya juga sih, gini aja deh aku ikut Mas Rio. Jadi dengan gitu kan dia jadi ga pikir macam-macam,"
Saat mereka beranjak berdiri, Jovan sudah datang dengan berlari kecil. Bajunya basah terkena hujan saat turun dari parkiran dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Maaf saya terlambat, bagaimana keadaan Dina,"
"Bu Dina sedang ditangani di ruang operasi," jawab Barra
"Barra makasih ya kamu sudah membawa Dina kemari dan menghubungi saya," jawab Jovan
"Ini dia yang ditunggu-tunggu, heh ngapain sih pake matiin ponsel segala? Kita juga kan yang ribet," sahut Rio
"Saya minta maaf Rio, saya sakit hati sama ucapan Dina. Jujur saya akui, kamu hebat bisa bertahan sama dia puluhan tahun. Tapi saya seharusnya gak selemah itu. Saya akan berusaha memperbaiki hubungan ini," ucap Jovan menunduk
"Aku bertahan itu karena Cassie, tapi tetep aja aku itu manusia punya hati,"
"Tapi sekarang hati kamu buat aku," sela Kenza
Rio melirik ke arah Kenza dan terkekeh geli
"Astaga Mama Kenza mulai bucin," goda Barra
Selesai operasi, Dina di bawa keruang perawatan. Jovan menungggunya disana sementara yang lain sudah pamit pulang.
"Jo...," panggil Dina dengan lirih
"Dina... kamu udah sadar, sakit gak?" Jovan mendekat dan membelai rambut Dina
Dina menangis menyesali perkataannya.
"Aku minta maaf....," Dina menangis
"Aku juga minta maaf ya, aku kayak anak kecil yang langsung kabur dari rumah. Dina aku sayang kamu, tapi tolong hargai perasaan aku sebagai suami kamu. Dengan ngerubah cara bicara kamu. Jadi lebih sopan, lebih lembut. Mana ada sih orang yang mau dikatain Tolol, goblok, idiot. Apalagi yang kamu katain itu suami kamu. Aku ngerti kok kamu masih ada rasa cinta sama Rio, tapi seharusnya perlahan kamu lupain dia. Kamu sekarang punya aku. Dan dia udah punya keluarga lain. Ya emang itu gak mudah karena hubungan kamu sama dia udah puluhan tahun...," jelas Jovan dengan lembut.
"Iya aku nyesel udah ngata-ngatain kamu. Tapi itu spontan aja keluar dari bibir aku. Aku ga bisa kontrol, Jo beneran kan kamu maafin aku. Jangan tinggalin aku ya...Bantu aku buat lupain Rio," pinta Dina
__ADS_1
Keduanya saling meminta maaf, untung saja Jovan tidak gegabah dengan tidak mengucapkan kata cerai. Karena memang dia ingin menenangkan hatinya saat itu dan tidak ada keinginan untuk berpisah.
Pelajaran episode kali ini, hargai suami mu atau pasangan kamu dengan berkata lemah lembut. Meskipun dalam keadaan marah. Kalau mau marah, pakailah dengan bahasa yang halus.