Promiscuity After

Promiscuity After
Kebahagiaan Kecil


__ADS_3

Wasabi menyelimuti Joy yang sudah terlelap tidur. Pria itu memiliki pikiran yang sedari tadi membayangi dirinya. Ia pun bergegas ke sebuah ruangan di mana dia bebas berpikir dalam keadaan hening, mana lagi kalau bukan ruang baca sekaligus ruang berkonsentrasi dimana dia memusatkan pikirannya.


"Cassie, wajahnya mirip seseorang siapa ya? Tingginya jika di lihat dan raut wajahnya, sama persis dengan....Ah rasanya tidak mungkin," gumam Wasabi


Ia sedikit menyamakan wanita dengan ciri-ciri seperti Cassie, sama persis dengan wanita yang di bawa ke kamar dengan Bram dan Vinno.


Wasabi membuka rekaman cctv yang dikirimkan Andi, sahabatnya. Memperhatikan setiap detailnya.


"Hmmm baiklah besok aku akan bertanya pada Cassie, jika dia membuka suara mengenal Vinno dan Bram maka habislah Bram, dia tidak akan bisa mengelak,"


Sementara di tempat lain, di rumah Barra.


Pria itu belum tidur, ia memikirkan bagaimana caranya membuat Rio tidak berpikir jika PT. Wasabi, bukanlah biang masalah atas perusahaannya.


Malam itu Barra menelepon Kenzo untuk membantunya dalam hal ini, karena satu-satunya pria yang bisa diandalkan untuk urusan tekhnologi. Lalu apa yang Barra lakukan? Dia ingin menyelidiki, server data milik perusahaan Rio. Bukan maksud mencuri data melainkan melihat celah kesalahan dari perusahaan tersebut.


Setelah mengirimkan copyan file yang dikirim Kenzo ke emailnya. Setelah membaca dan mempelajari, apa dan bagaimana perusahaannya selalu kalah tender. Barra tersenyum seolah-olah ia sudah memiliki jalan keluarnya.


.


.


.


Keesokan harinya.


Sebelum pergi ke kantor, Barra ke rumah Cassie. Waktu yang sangat tidak tepat karena pagi itu Dina masih berada di rumahnya.


Rupanya, Dina tak sengaja membaca pesan mbak Markonah dengan Barra. Saat itu ponsel Mbak Markonah dalam posisi menyala saat wanita itu meninggalkan ponselnya di dapur, sementara Mbak Markonah sedang di kamar mandi. Kebetulan saat itu juga Dina sedang mengambil air minum. Ia pun tak sengaja membaca pesan asistennya dengan Barra.


Maka pagi hari itu Dina memutuskan untuk tidak ke kantor karena jarak kantor yang sekarang dengan rumahnya lebih jauh.


Ting Tong


Cassie berlari kecil, dia senang saat mbak Mar mengatakan Barra akan kerumahnya pagi hari. Jadi sudah bisa dipastikan jika pria itulah yang memencet bel saat ini.


Namun, belum sampai gadis itu membuka pintu. Dina sudah lebih dulu membukanya.


"Barra, mau apa kesini?" sapa Dina dengan nada ketus sambil melipat tangan di depan.


"Pagi Bu, Saya mau bertemu Cassie,"


"Mau ngapain? Lupa ya, situ sudah Saya tolak, jadi jangan pernah menginjakkan kaki ini di rumah Saya," ucap Dina dengan kasar.

__ADS_1


Cassie menganga, tidak menyangka jika ibunya akan mengusir Barra seperti itu.


"Mas Barra....," teriak Cassie lalu menghamburkan dirinya memeluk Barra. Dia tidak peduli jika Dina ada didepannya


Sementara Barra jantungnya hampir saja copot, karena gadis itu menabrakkan dirinya ke tubuh Barra.


"Cassie, hemm lepasin pelukannya. Kamu gak lihat tuh Mama kamu sudah melotot," bisik Barra tetapi jelas terdengar oleh Dina karena jarak berdiri mereka sangat dekat.


"Biarin Mas, biar Mama tahu aku sayangnya sama siapa," ucap Cassie enggan melepaskan pelukan.


"Heh Cassie, dia itu bukan muhrim kamu,"


"Kan Mama yang ngajarin, video call begituan di depan orang lain yang bukan muhrim," Cassie membongkar keburukan Mamanya.


"Jangan sembarang ngomong kamu, ayo lepasin gak,"


Cassie melepaskan pelukannya.


"Udah turutin perintah Mama kamu ya, jangan jadi anak durhaka," Barra menasihati Cassie agar gadis itu tetap pada tempatnya dimana sang Ibu adalah ibu kandungnya.


"Ini buat kamu," ucap Barra seraya memberikan bingkisan kepada Cassie.


Cassie mengernyitkan dahinya sembari mengambil bingkisan yang Barra berikan.


"Apa ini?"


Pria ini perhatian juga, ponsel baru. Ponsel seperti apa yang dia kasih, batin Dina


"Astaga, Mbak Mar tuh suka laporan yah, hmmm. Habisnya tuh Mama nyebelin," Cassie memanyunkan bibirnya.


"Hehe jelek ahh bibirnya kayak gitu," Barra menarik bibir Cassie dengan lembut


"Aduuh sakit tauk, uhh bauk tangannya,"


Barra langsung mencium tangannya sendiri, "Gak bauk kok, ih ngerjain ya,"


"Hahah ketipu, satu kosong weeek,"


"Hey awas kamu ya, Saya gelitikin,"


"Sini tangkap kalo bisa haha," dan Cassie pun berlari di halaman rumahnya karena Barra mengejarnya. Seperti film India-Indiaan yang main kucing-kucingan. Cuma bedanya gak pake penari latar.


Mereka bercanda tawa didepan Dina, memperlihatkan kebahagiaan mereka.

__ADS_1


Cassie tertawa riang sekali, sudah lama aku tidak melihatnya tertawa seperti itu....Astaga kenapa aku malah bersimpati sama Barra sih. Gak-gak boleh, aku tetap gak akan menyetujui hubungan Barra dengan Cassie, batin Dina


"Cassie, ayo masuk," teriak Dina


Tetapi Cassie tidak menghiraukannya, dia pura-pura tidak mendengar.


"Udah-udah, Saya nyerah, udah lama nih gak olahraga, capek hehehe,"


"Uh kalah sama Aku," Cassie pun mendekat tetapi Barra langsung menangkapnya menjepit leher Cassie lalu memberi gelitikin kecil di samping pinggangnya.


"Hahah geli Om... hahaha ampun ahhaa," Pagi ini Cassie terus tertawa setelah semalaman menangis.


Barra juga tidak tega berlama-lama menggelitiki kekasihnya. Dia pun menghentikannya dan berpamitan.


"Sayang, Saya berangkat kerja dulu ya," ucap Barra


"Hemm baru juga bentar, yaudah hati-hati ya Om Bewok Sayang,"


"Ya sayang, kamu yang nurut sama Mama ya," ucap Barra tak lupa mengingatkan Cassie jika gadis itu harus selalu baik pada Ibunya.


Barra juga berpamitan dengan Dina, namun wanita itu malah masuk kedalam dan enggan di pamiti. Setelah Barra pergi, Dina pun pergi. Bukan ke kantor melainkan membeli pakaian untuk Cassie. Karena malam nanti adalah acara ulang tahun sekaligus malam pertunangan Bram dan Cassie.


"Cassie dirumah aja deh Mah, lagian cuma ulang tahun aja kan? Cassie juga punya pakaian yang pantas kok, masih bagus dan jarang di pake,"


"Hemm tapi tuh kamu harus tampil cantik, karena tamu pak Wibi pasti konglomerat semua,"


"Yaudah Mama aja yang beli, kan udah tahu ukuran aku," ucap Cassie yang langsung pergi ke kamarnya.


Dina pun pergi sambil menggerutu.


.


.


.


Tak berapa lama Wasabi datang ke rumah. Untunglah Wasabi datang saat Dina sudah pergi.


"Papa, masuk Pa...hemmm ada perlu apa ya?"


Wasabi kini duduk dihadapan Cassie dengan wajah serius.


"Ada yang ingin saya tanyakan pada kamu soal....Apa kamu kenal dengan kedua pria ini?"

__ADS_1


Wasabi memberikan dua foto kepada Cassie, dengan rasa penuh ketakutan dan penuh pertanyaan, kenapa Papa Wasabi menanyakan soal kedua orang ini kepada Cassie?


Sungguh Cassie sedikit takut, karena tiba-tiba Suasana di sekitarnya terasa horor dengan pertanyaaan Wasabi yang serius dan tatapan yang fokus menatapnya tajam setajam Silet.


__ADS_2