
Andy Gibratal, duduk di teras rumah Barra dengan kedua tangan di lipat dan ia selipkan di ketiaknya yang hangat. Udara kian dingin saat hujan mengguyur dengan derasnya
Pria itu menunggu Barra tak kunjung pulang, sementara Andy tak bisa pulang karena terjebak hujan. Jadi dia memutuskan untuk menunggu Barra sampai pulang.
Kakinya juga ikut kedinginan, karena hanya sepatunya ikut basah dan didalamnya terasa lembab.
Tubuhnya gemetar, sesekali menggigil. Hujan angin itu membasahi hingga teras rumah Barra. Padahal jika hujan biasanya rumah teras tidak ikut basah. Namun sepertinya badai angin ikut menumpang bersama hujan.
Dari kejauhan di tengah hujan lebat, Andy melihat sesuatu berwarna kuning menyala lalu kian mendekat hingga menyoroti matanya.
Akhirnya yang ditunggu datang juga.
Barra membuka pintu mobil serta membuka payung hingga mengembang, kemudian kakinya mulai menuruni mobil. Ia melangkah dengan berhati-hati.
"Andy? Ayo masuk, kok hujan-hujanan?"
Andy masih diam terpaku di tempat duduk, sepertinya dia membeku karena dingin. Setelah Barra membuka pintu rumahnya barulah pria itu berdiri dengan seluruh tubuh yang gemetar.
"Gggrgrgrg," terdengar gigi Andy bergemeretak
"Pak Barra lembur ya?" tanya Andy
"Oh iya, pekerjaan saya banyak hari ini. Sebentar ya Saya ambilkan handuk dan baju ganti," ujar Barra
"Makasih pak, sekalian buatin teh hangatnya ya," pinta Andy
Barra tersenyum dan segera mengambilkan handuk serta pakaian ganti. Lalu memberikannya pada Andy. Disaat Andy berganti pakaian, Ia pun membuatkan teh hangat untuk dirinya dan tamunya.
"Slurp," Andy menyeruput teh hangat dengan bunyi khas dan diakhiri dengan kata 'Ah' tanda jika menikmati sesuatu yang nikmat.
Barra terkekeh kecil, lalu menanyakan maksud kedatangan Andy.
"Kamu kerumah kok ga bilang? Memangnya ada hal apa hujan-hujan kemari? Kan bisa by phone," tanya Barra
"Tadi pas saya kesini belum hujan pak. Trus karena saya lihat sepi, saya pun pulang. Tapi baru melangkahkan kaki keluar teras, tiba-tiba hujan deras jadinya saya balik lagi deh," Andy menyeruput teh hangatnya lagi.
"Trus saya tungguin kok ga berhenti-henti ya, derasnya awet sampe saya menggigil. Mau telepon takut karena ada petir," lanjut Andy menceritakannya dengan detail.
"Oh gitu, trus ada urusan apa kemari?"
"Jadi gini pak, duh saya jadi gak enak,"
"Gak apa-apa ngomong aja, saya gak gigit kok," sahut Barra
"Hemm ada lowongan kerja ga di perusahaan pak Barra. Tetapi posisinya untuk karyawati," tanya Andy
"Karyawati? Kalau boleh tahu untuk siapanya kamu?" tanya Barra
Ngaku pacar aja deh, siapa tahu ketrima batin Andy
__ADS_1
"Untuk pacar pak, eh bukan hmm calon istri," ucap Andy dengan mantap. Agar langsung diterima.
"Calon istri?" Barra mengernyitkan dahinya karena setahu dirinya Andy itu lamba men-jomblo.
Andy menganggukkan kepala dengan cepat sambil menipiskan senyumnya.
"Wah saya kira kamu masih jomblo, dia masih kuliah? Atau lulusan SMA? atau sudah tamat kuliah?" tanya Barra
"Duh gak tahu pak, saya lupa nanya hehe," jawab Andy
"Loh gimana sih? Masak pacarnya gak tahu apalagi sudah mau jadi istrinya, hmm kantor saya lagi libur. Besok lusa saja suruh dia ke kantor ya. Kalau besok saya masih bekerja di kantor lain. Lusa masa kerja saya berakhir disana," jelas Barra
Karena, Barra hanya melamar di kantor pak Rio selama tiga hari bekerja di sana. Jadi setelah tiga hari, pria itu sudah kembali ke kantornya kembali.
"Tapi pasti ke terima kan ya pak?" tanya Andy memastikan.
"Ya saya gak tahu dia lulusan apa jadi gak bisa janji," terang Barra
"Hemm bagaimana kalau besok saja Pak Barra, bertemu di kafe mungkin atau restoran. Soalnya kasihan pak, dia butuh makan,"
Barra menggosok tengkuknya karena dia gemas dengan Andy, dia yang minta kerjaan malah dia yang ngatur bertemu dimana dan kapan. Somplak bener.
Dengan senyum dipaksakan akhirnya Barra pun menuruti keinginan Andy.
"Baiklah, besok siang tepat saat jam makan siang ya. Di Kafe dekat kantor kemarin," jawab Barra
"Kantor yang kemarin? Yang kemarin pagi-pagi saya antar bapak itu?" tanya Andy memastikan
"Makasih ya pak, nanti saya akan sampaikan pada calon istri saya," Andy tersenyum puas.
"Hmm saya tinggal dulu ya, mau mandi," pamit Barra
"Iya pak silahkan, nanti kalau sudah reda, saya langsung pulang," ujar Andy
Pukul sembilan malam, hujan tak kunjung reda. Barra pun menyuruh Andy untuk tinggal disana. Banyak kamar kosong di rumah tersebut.
Orang kaya, rumahnya besar tapi cuma ditempati satu orang? Pemborosan ya, banyak ruangan kosong gak kepake, batin Andy sembari melihat isi rumahnya ketika dia dan Barra menuju kamarnya.
Barra tidak mempunyai pembantu yang tinggal disana. Untuk bersih-bersih harian pria itu bisa membersihkan rumahnya sendiri. Namun secara keseluruhan, sebulan sekali, dia menyewa jasa bersih-bersih.
"Tahu gak kenapa saya bikin rumah besar, Ya gak terlalu besar sih. Tujuannya, kalau saya mempunyai keluarga besar nanti, mereka bisa berkumpul disini. Jadi gak perlu menyewa penginapan lain, atau hotel. Mereka bisa tinggal disini, mungkin ini terdengar seperti pemborosan ya? Tapi ini invest jangka panjang," ujar Barra yang juga mewakili pertanyaan Andy seakan-akan orang itu dapat membaca pikiran Andy.
"Oh jadi itu alasannya,"
"Ini kamar kamu, Saya tinggal ya. Kalau mau bikin minum atau makanan, ke dapur aja. Gak usah sungkan," ucap Barra
"Ya makasih pak,"
Barra kembali ke kamarnya, bukan untuk tidur melainkan untuk bekerja.
__ADS_1
Tak berapa lama telepon berdering, bukan telepon melainkan Video Call.
"Bocil," sapa Barra dari sambungan video call tersebut
"Hai om Bewok? Lagi apa? Kirain udah tidur," Cassie terlihat ada di sebuah cafe.
Disana masih siang, pukul dua.
"Belum nih lagi ngecek laporan dari kantor, kamu dimana sayang?"
"Aku lagi di cafe nih sama teman-teman aku," Cassie menggerakkan ponselnya dan memperlihatkan teman-temannya, "Hai...this is my boyfriend, say hello...," Cassie menyuruh teman-temannya menyapa.
Ia menunjukkan video call nya bersama Barra pada teman-temannya. Temannya ada tiga perempuan dan dua laki-laki. Dan satu laki-laki di samping Cassie merangkulnya sambil melambaikan tangan menyapa Barra.
Barra tidak suka teman prianya itu yang main rangkul, tetapi di luar sana itu hal yang biasa. Mereka berteman dan tidak ada hal yang lebih. Meskipun sedikit cemburu, setidaknya Cassie mengenalkan teman-temannya pada Barra.
"Aku habis kuliah, laper nih mau makan dulu. Om Bewok jaga kesehatan ya, I Love You," ucap Cassie kemudian teman wanitanya menyahut dari kejauhan, "Love You To,"
"Hehe ya sayang, makan yang banyak ya,"
Setelah itu sambung telepon terputus. Sebenarnya Barra ingin berbicara lebih banyak lagi. Tetapi tidak enak juga jika berkumpul dengan teman, malah asik sendiri dengan ponselnya, dan Barra mengerti itu.
.
.
.
Keesokan harinya.
Barra yang janjian bertemu dengan pacar Andy, sudah berada di restoran. Dia mengambil ruangan VIP agar bisa leluasa untuk melakukan sedikit interview.
"Kamu ngomong apa aja sama dia kok bisa dia mau wawacarain aku, namanya apa tadi Barra?" tanya Hera pada Andy ketika mereka sudah sampai di depan restoran.
"Hmm aku bilang aja kamu itu pacar eh bukan, calon istri, biar langsung ketrima gitu, Iya namanya pak Barra," ucap Andy
"Ngacok kamu, aku aja belum benahi surat lamaran ini," ucap Hera
Barra seperti nama mantan ku, Ah semoga bukan Barra yang itu, kan nama Barra banyak. Di Novel aja banyak yang pake nama Barra atau Bara batin Hera
Mereka pun masuk, Andy berjalan duluan dan mencari ruangan VIP yang telah dipesan Barra.
Begitu pintu ruangan terbuka, sepasang mata dari dua manusia yang pernah menyatu dalam ikatan suci terpaku dan saling terkejut.
Hera, jadi ini calon istrinya Andy. Yang bener aja batin Barra
Mampus sorot mata Barra tajem banget, bikin gue salting. Duh gimana nih, Batin Hera
"Sayang, kok diem aja disitu. Ayo sini masuk, duduk sini," sahut Andy.
__ADS_1
Barra dan Hera saling melayangkan pandangannya pada Andy.