
Hari berganti hari, tak terasa sudah hampir dua bulan Bapak meninggalkan kami. Putri merasakan ada ruang kosong dan nyeri yang jauh tak terjamah dalam rongga dadanya. Entah sedalam apa rasa itu, tapi rasanya sangat sulit untuk dijelaskan dengan logika.
Mungkin orang mengira Putri masih bersedih, namun sebenarnya ia sendiri tidak meyakini akan hal itu. Terlalu rumit perasaan sayang yang ia rasakan terhadap sang Bapak. Anak gadis itu hanya menangis saat mengetahui kecelakaan Bapak. Kepedihan dirasakan karena kepergian yang tiba-tiba.
Putri berdiri dari kasur dan melangkah menuju jendela kamar, lalu dibukanya jendela dengan lebar. Terlihat ada lima anak perempuan sedang bermain karet dengan riang. Ia pun tersenyum tanpa sadar saat lamunannya menuntun kepada kenangan masa-masa kecil. Masa kecil yang sangat ringan tanpa memikirkan berbagai macam kekhawatiran.
Putri teringat masa kecilnya saat Bapak mengobati luka pada lututnya. Luka yang disebabkan karena terjatuh dari sepeda. Bapak sering terlihat sangat cemas, saat kulitku tergores atau luka. Bapak pasti langsung mengobati luka dengan antiseptik sambil mengoceh tentang kecerobohan dan kemalasan putrinya untuk mengobati lukanya dengan baik. Tapi entah ada rasa aneh dari dalam diri Putri yang sampai saat ini masih sulit dimengerti.
Rumit jika melihat kondisi rumah tangga kedua orang tua Putri. Mungkin orang melihat semua seperti baik-baik saja. Akan tetapi, sebagai anak ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Anak sulung itu tak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga mereka. ia hanya menjalani semuanya dengan perasaan yang tegar.
__ADS_1
Sepanjang hidup Putri bersama Bapak, hampir 95% terisi dengan hal-hal buruk yang ia dengar dari pertengkaran-pertengkaran kedua orang tuanya. Bayangkan saja dari bangun tidur sampai malam hari, selalu dipenuhi dengan keluhan dari ibu.
Putri tidak memahami seperti apa kondisi sesungguhnya dari kedua orang tuanya. Seburuk itukah keadaan sebenarnya? Ia hanya ingin hidup normal sebagai anak yang berbakti kepada keduanya.
Teringat olehnya perkataan dari ibu tentang kesulitan biaya pendidikan anak-anaknya. Ibu mengatakan bahwa ia harus berhutang unruk membayar biaya sekolah anak-anaknya. Mungkin saja saat ini Putri masih terlalu muda untuk bisa menyikapi kondisi rumah tangga orang tuanya. Putri hanya tahu bahwa untuk saat ini, ia sudah menjadi anak yatim yang harus bisa menjadi tulang punggung keluarganya.
Putri memejamkan mata saat sudah terduduk di atas tempat tidur. Ia menyadari bahwa dirinya sedang tidak bersedih, tapi di dalam dadanya terasa ada kerinduan serta sebuah penyesalan yang terlalu dalam. Penyesalan yang terkubur di alam bawah sadarnya, karena sebagian besar dalam ingatannya hanya berisi cacian serta kebencian terhadap Bapak.
Putri merasakan kepalanya seakan berputar. Kemudian ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya dengan bertumpu pada satu bantal. Matanya mulai terpejam dengan tangan kanan yang menutupi mata.
__ADS_1
"Dimana salahnya? Apa yang sebenarnya terjadi? Harusnya seperti apa?" suara dalam pikirannya seakan terus berulang di kepala.
"Ya Allah ampuni Hambamu, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tua. Berikanlah kebahagian keduanya di dunia maupun di Akhirat. Lapangkanlah kubur Bapakku, sampaikan maafku padanya" do'a Putri kepada Sang Pencipta.
Bersambung
^_^ Mohon like dan comments ya readers
Terima kasih
__ADS_1