Putri Kurir

Putri Kurir
48


__ADS_3

"Aa serius? Kenapa aku?" tanya Putri.


"Apa yang ku katakan adalah sesuatu yang sudah aku pikirkan baik-baik. Aku serius" Arjuna masih pada posisi tegapnya dengan tangan saling menyatu di atas meja.


"Ya Tuhan kejutan apa lagi ini? kenapa tiba-tiba seperti ini?" guman Putri dalam hati.


"Kenapa bisa aku? Apa baiknya aku buat kamu A? Kita saja belum saling mengenal A Juna!" Putri berkata sambil sedikit menggelengkan kepala. Sungguh ini di luar dugaannya. Saat ini ia merasa bingung karena sedikit pun ia tak pernah memikirkan A Juna. Ia malah merasa kaku jika berada dekat dengan seorang yang dijulukinya manusia semen.


Arjuna meletakkan kedua tangan yang bertautan itu di depan dahinya lalu berkata "Hatiku tegerak untuk memilihmu, pikiranku terpilih untuk memutar ingatan tentangmu. Entahlah aku juga tidak paham kenapa bisa begitu. Semua ini terjadi begitu saja, tapi aku tidak pernah mencoba menolak apa yang kurasakan ini. Bisa kah kita mengenal lebih jauh saat Sang Pencipta sudah merestuinya? Bukankah ia yang menggerakan hati kita? maka jalani saja garisnya sesuai rules yang ada" Arjuna terlihat sudah lebih relax dari sebelumnya, lalu ia meminum air putih yang terisi pada gelas disebelahnya.


"Aku akan mempertimbangkannya. Aku butuh waktu 3 bulan" Putri berniat menyamakan waktunya dengan yang ia berikan pada Aldi.


Arjuna menggelengkan kepala dan tersenyum kecut "Aku akan segera menemui Ibumu" tatapan Arjuna bahkan terlihat lebih pekat dari sebelumnya. Kata-kata maupun tatapannya seakan penuh penekanan.


"Bagaimana dengan Mama? Apa ia sudah tahu?" Putri melempar tanya sambil menggaruk pipi kiri dengan telunjuknya yang tidak gatal. Bertepatan dengan pertanyaannya, munculah Mama.


"Assalamua'alaikum, maaf agak lama ya sayang. Oma minta antar beli topper yang belum sempat dibelinya" Mama menjelaskan sambil menghampiri Putri dan duduk tepat di sampingnya.


"Apa yang mau kamu sampaikan pada Mama sayang?" tanya Mama sambil mengulas senyum menawannya.


"Aku sudah menjelaskan pada A Juna dan Aa tadi..." Putri terhenti berucap karena meragu akan melanjutkan ucapannya seperti apa.


"Kamu sudah memberitahunya Juna?" Mama menoleh ke arah putra sulungnya, sementara sang putra menjawab dengan anggukan.


Mama menarik nafas kemudian berkata "Mama serahkan semuanya kepada kalian berdua, Mama pasti mendukung apa pun yang kalian putuskan. Tentunya, Mama juga akan mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua" Mama berucap sambil mengelus sayang kepala belakang Putri.


Tiba-tiba


Gludug..gludug...


Terdengar suara gemuruh dari atas langit, pertanda alam bahwa tetesan dari langit akan membasahi bumi. Nimbostratus sudah menampakkan wajahnya di atas atap-atap rumah. Tak lama kemudian turunlah cucuran hujan yang membasahi hamparan daratan Kota Hujan.


"Kalian sudah makan siang?" tanya Mama pada Putri dan Arjuna.


"Sudah Ma" jawab Putri. Putri menatap tetesan hujan melalui kaca-kaca ruang keluarga. "Aku harus pulang sekarang Ma" ucap Putri pada Mama.


"Lho koq, baru turun hujan sayang. Kamu tunggu dulu aja di sini sampai reda, nanti pulangnya Arjuna antar" Pinta Mama pada Putri.


"Nggak usah Ma, kan motor putri ada dibengkel pakuan. Nanti dari sini, aku mampir bengkel dulu" jelas Putri pada mama.


"Motor kamu belum selesai" ucap Arjuna yang langsung membuat Putri berkerut keheranan.


"Tahu darimana?" tanya Putri dengan mengerutkan dahinya.


"Aku udah whatsapp ke bengkelnya" jawab Arjuna singkat.


"Whatsapp? emang kamu tau nomornya?"tanya Putri lagi yang masih keheranan.


"Di papan plang bengkel kan ditulis nomor whatsappnya" jawab Juna dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"Tadi aku ga liat kamu nyatet" jawab Putri lagi yang masih belum bisa memahami bagaimana bisa A Juna tiba-tiba sudah whatsapp ke bengkel.


"Aku hanya menghafalnya"jawab Arjuna ringan sambil mengangkat bahunya.


"Oke aku paham" Sial! aku lupa kalau aku sedang berhadapan dengan orang jenius yang mungkin bisa menghafal deretan password gila hanya dalam hitungan detik.


"Kamu masih mau pulang sekarang sayang?" tanya Mama lagi.


"Iya Ma, nanti malam aku ada janji sama teman" jawab Putri singkat yang mendapat jawab persetujuan dari Mama.


Sementara di sisi lain, seorang pria berwajah tenang, yang hampir tak memiliki stok ekspresi lain selain tenang, tegas, dan jaim. Ia terlihat menyipitkan mata dan menahan kekepoan yang tiba-tiba memuncah di dalam dadanya. Suara pikirannya berkata " janji dengan siapa? teman wanita atau pria?".


"Baiklah sayang, Arjuna tolong antar Putri pulang ya" pinta Mama pada putra sulungnya.


"Iya Ma" jawaban singkat dari Arjuna.


Putri mencium tangan Mama, kemudian ia meraih shoulder bag-nya dari atas meja.


......................


Mobil Arjuna sudah melaju meninggalkan pekarangan tempat tinggalnya. Kecepatan mobil melaju dengan lamban seakan membiarkan waktu tempuh yang lama untuk sampai di rumah.


Keduanya masih terdiam dalam mobil hingga ucapan penyiar radio memecahkan keheningan di sana.


"Ha..ha..ha" tawa Putri secara spontan yang langsung ditutup oleh kedua tangannya. "Maaf A, aku kelepasan abisnya kocak ini DJ nya" kata Putri pada pria disampingnya.


"A, main tebak-tebakan yu" ajak Putri yang merasa bosan dengan kemacetan jalan Pajajaran.


"Boleh" jawab Arjuna kali ini sambil menoleh kearah Putri.


"Aku duluan nih ya. Siapa penyanyi internasional yang doyan naik sepeda?" tanya Putri sambil menaikan kedua alisnya dan tersenyum jail pada orang dibalik kemudi.


"Banyaklah" jawab A Juna.


"Ish, ini tebak-tebakan A. Udah jawab aja" jawab Putri yang sejenak melupakan kekakuan sikapnya pada Arjuna.


A Juna terlihat berfikir sambil mengetuk setir dengan jari-jarinya "Taylor swift maybe" jawabnya sambil melirik Putri.


"Salah! koq bisa kepikiran Taylor Swift?" tanya Putri balik.


"Taylor jika huruf y diganti dengan i, maka akan bermakna tukang jait. Jadi aku kepikiran penjahit yang bekeliling dengan sepeda" Arjuna menjabarkan alasannya.


"Sekilas memang bisa jadi juga sih, namun bukan itu jawabannya" ucap Putri dalam hati.


"Maksud Aa vermak levis ya?"


"Iya"


"Hahahahahaha" Putri tertawa " Salah! jawabannya Selena Gowez" Putri tersenyum penuh kemenangan, sementara Arjuna menggeleng dengan tersenyum.

__ADS_1


"Wow dia senyum. Pemandangan langka banget ternyata mukanya bisa elastis juga" ujar batin Putri.


"Aa punya tebak-tebakan ga?" Putri meminta Arjuna yang bergiliran untuk memberikan pertanyaan.


"Nggak ada. Kamu aja deh. Nanti aku yang jawab"


"Oke. Siap-siap ya A!" pinta Putri sambil mengacungkan telunjuknya. "Hewan apa yang punya dua pabrik?"


Arjuna is thinking


"Ten seconds to go. 10..9..8..7..6..5..4..3..2..1.. Time's up! Nyerah A?" tanya Putri dengan ekspresi jailnya.


"Ya aku nyerah deh" jawab Arjuna pasrah sambil menggoyangkan kepalanya.


"Jawabannya adalaaaaaah bancet! dia punya pabrik ban sama cat"


"Bha....ha.....ha..." Arjuna tertawa lepas hingga membuat gadis disebelahnya membelalakan mata karena terkejut.


"Dia punya sisi gila juga! ternyata orang jenius bisa dikalahin sama tebak-tebakan receh modelan gini" gumam Putri dalam hati.


"Sekarang giliran aku boleh?" Pinta A juna sambil tersenyum kecil pada gadis disebelahnya.


"Boleh..boleh" jawab Putri dengan antusias.


"Mandi apa yang nggak basah?" tanya Arjuna sambil tersenyum jail.


"Hah? mandi tayamum kali ya? atau mandi yang nggak jadi?" ucap Putri merengut karena berfikir.


"Maaf jawaban anda salah semua. Udah nyerah?" tanya Arjuna dengan senyum yang menampakan gigi putihnya.


"Bentar..bentar aku coba pikir lagi" Putri masih mencoba berfikir sambil mengulum bibir dan mengarahkan matanya ke atas.


"Silahkan" jawab Arjuna singkat namun masih dengan senyum langkanya.


"Udah ah nyerah aku" Putri berkata sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Oh udah nyerah ya. Kalau gitu aku jawab aja ya" Arjuna terdiam sejenak lalu berkata sambil menoleh pada Putri. Hal ini bertepatan dengan berhentinya mobil akibat kemacetan di depan.


"Mandi apa yang nggak basah yaitu, Mandirikan rumah tangga bersama kamu" Arjuna berucap kemudian memalingkah wajahnya ke arah kaca luar. Terlihat merah di kupingnya, menjadi pertanda manusia semen ini sedang menyembunyikan rona merah pada wajahnya.


Bukannya tertawa, Putri malah terpaku sambil menatap pria disampingnya sedang tersipu malu. Sementara itu, Arjuna merasa awkward dengan tatapan diam Putri ini.


tin tin tin


Suara klakson para pengendara di belakang, menyadarkan Arjuna bahwa kemacetan di depannya sudah mulai terurai. Ia pun segera melajukan mobilnya.


Setelah situasi canggung itu, tidak ada lagi suara dari mulut mereka. Hanya kicauan DJ radio yang menemani keheningan perjalanan itu.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2