
Akhirnya, mobil milik Arjuna sudah sampai di depan gang rumah Putri.
"A, terima kasih sudah antar aku pulang" Putri berkata sambil melepas safety belt. Saat ia turun dari mobil, dilihat olehnya Arjuna pun melakukan hal yang sama.
"Ih ngapain dia ikut turun?" tanya Putri dalam hati.
"Aa ikut turun?" Putri yang memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya, saya kan perlu bicara dengan keluargamu" jawab Arjuna santai yang berjalan menuju Putri.
Kini, mereka berdiri berhadapan. Angin dingin menggantikan hujan seakan membelai kedua insan yang sedang saling menatap dalam diam.
Arjuna berkata "Ayo kita jalan, nanti kamu kedinginan".
"I..iya A" jawab Putri dengan perasaan gugup.
Mereka jalan berdua memasuki gang. Saat semakin dekat dengan rumah, Putri melihat seorang pria yang ia kenal sedang duduk di kursi teras.
"Aldi ngapain sih ke sini lagi" ucapnya dengan pelan sambil mengepalkan tangan ke bawah.
"Kenapa?" Arjuna mendengar ucapan Putri walau tidak jelas.
"Eh.. nggak A" jawab Putri sambil mengibaskan lengannya di udara.
"Assalamua'alaikum" ucap Putri saat telah tiba di teras rumah.
"Wa'alaikumsalam. Kamu dari mana? Pria ini siapa Putri?" tanya Aldi yang berdiri dengan tatapan yang tajam menantang.
"Arjuna" ucap Arjuna sambil mengulurkan tangannya pada Aldi, sebelum Putri sempat menjawab pertanyaan Aldi tadi.
"Aldi" sambut Aldi dengan membalas jabatan A Juna.
"Saya calon suami Putri" tiba-tiba Arjuna berkata yang membuat dada Putri serasa menyempit.
Aldi mengerutkan dahinya seolah tidak memercayai apa yang baru saja dia dengar.
"Apa itu benar Putri?" tanya Aldi pada Putri yang masih mematung dengan wajah pucat.
"Eh itu Putrinya udah pulang" ucap Ibu yang muncul dari dalam rumah.
Putri dan Arjuna mencium tangan ibu.
"Lho kakaknya Yudhis ya? aduh Ibu lupa namanya" ucap Ibu sambil berpikir.
"Arjuna Bu" ucap Arjuna pada Ibu.
"Oh iya Arjuna, maaf ya Ibu suka lupa. Ayo atuh pada di ruang tamu aja" Ibu mengajak mereka masuk.
"Teh Putri, tolong buatin minum ya" pinta Ibu pada Putri.
"Tidak usah repot-repot Bu, saya ke sini hanya sebentar. Mungkin langsung saja saya sampaikan maksud kedatangan saya ke sini" Arjuna berucap sambil melirik pada Putri, lalu beralih kepada Ibu lagi.
"Saya mohon restu dari Ibu untuk menikah dengan Putri" ucap Arjuna dengan suara yang tenang tanpa ada keraguan maupun kegugupan. Namun, perkataannya membuat semua yang hadir di ruang tamu terkejut.
__ADS_1
"Kamu serius mau sama Putri? kenapa? kalian nggak pacaran kan?" tanya Ibu yang sama terkejutnya dengan Putri tadi.
"Putri selalu ada dalam pikiran saya. Saat saya berusaha menolak kehadirannya di sini" Arjuna berucap sambil menekan dada bidangnya, kemudian melanjutkan kembali perkataannya "perasaan itu semakin besar hingga Tuhan meyakini saya bahwa Putri adalah jodoh pilihannya".
Terlihat Aldi mulai nampak gelisah, nampak jelas dari sorot mata yang menahan berbagai sengatan emosi di dalam dirinya.
"Kalau Aldi maksud kedatangannya apa?" Ibu menyadari kondisi di depannya.
"Sebelumnya saya mohon maaf atas kesalahan saya kemarin Bu. Saya sudah menjelaskan semua pada Putri. Saya juga serius ingin menikahi Putri, walau putri meminta waktu tiga bulan untuk mempertimbangkannya. Kedatangan saya kemari hanya ingin membuktikan keseriusan saya pada Putri dan juga keluarga" jelas Aldi pada Ibu dan pastinya didengar juga oleh Putri dan Arjuna.
Ibu menarik nafas panjang, dalam diamnya ia menatap kedua pria itu dengan bergantian. Kemudian ia berkata "Ibu akan merestui apa yang menjadi pilihan Putri".
Putri menatap sayu pada Ibu "Teteh belum bisa putuskan ini sekarang Bu, beri Teteh waktu untuk memikirkan hal ini baik-baik".
"Jangan terlalu lama, hal baik harusnya disegerakan. Yang penting akad nikah dulu, kalau resepsi bisa di kemudian hari" ucapan Ibu sontak membuat Putri terkejut. Berarti aku harus memikirkan ini dengan waktu yang singkat.
"Bismillah" do'a Putri dalam hati sebelum lanjut berkata "Minggu depan Insha Allah aku akan menjawabnya dan apabila kalian serius maka keesokannya akan langsung akad nikah. Apa ada yang keberatan?" tanya Putri pada kedua oria dihadapannya.
"Tidak keberatan" jawab Aldi.
"Aku menyetujui" jawab Arjuna.
"Baik. Hmm.. Mohon maaf bukan bermaksud untuk mengusir kalian, tapi selepas magrib nanti aku ada janji sama Vera, Hani, dan Jihan. Jadi, aku harus bersiap sekarang" ucap Putri dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan keduanya.
Keduanya pun pulang setelah berpamitan dengan Ibu. Putri mengantar kepergian mereka hingga depan pagar.
"Putri, ini aku bawakan untukmu" ucap Aldi yang memberikan Putri setangkai bunga mawar merah dan setengah liter es krim rasa vanilla kesukaan Putri.
Nampak dari situ seorang Arjuna Nataprawira sedang menatap kejadian di depannya dengan tatapan emosi bergelora. Kekesalan itu bisa ia kendalikan dengan baik, sehingga tetap nampak tenang dari sisi luar.
Arjuna belum juga beranjak hingga Putri menutup pintu rumah, lalu ia berbalik menuju tempat mobilnya diparkirkan tadi.
......................
...Di dalam Mobil Arjuna...
Arjuna belum juga melajukan mobilnya, ia membuka ponsel di depan kemudi, kemudian membuka suatu aplikasi dengan icon persegi warna hitam dan kuning yang ada di beranda ponselnya.
Ia mengetik sebuah password di dalamnya, lalu nampak sebuah tampilan gambar yang bisa ia perjelas dengan kebutuhan si pengguna. Aplikasi ini tentu sudah terhubung dengan kamera yang disimpan oleh si pengguna di tempat yang diingikannya. Apabila jari mendekatkan pada objek yang dimaksud, maka objek bisa tergambar dengan jelas dan fokus. Selain itu, kamera ini juga dapat menampilkan tampilan secara infrared untuk kejelasan di malam hari, serta dilengkapi dengan mode berputar hingga 360°.
"Done" ucap Arjuna sambil tersenyum puas saat melihat kameranya sudah tersimpan di teras rumah Putri.
Setelah selesai dengan urusan singkatnya, ia segera melajukan kendaraan ke jalan raya.
......................
Putri dan Vera sudah berada di dekat pintu masuk sebuah Mall yang terletak di daerah Sentul. Ia berangkat ke sini dijemput oleh Vera.
"Put, lama amat si Jihan ama Hani. Mereka berangkat barengan kan?" tanya Vera kepada Putri.
"Iyalah mereka kan bertetangga" jawab Putri yang tak lama kemudian munculah dua sosok gadis yang ditunggu-tunggu.
"Hi, maaf telat ya gaes! Tadi mobil dipakai Mami dulu ngedadak. Jadi kita nunggu dulu deh" ucap Jihan sambil merangkul Vera yang sedang manyun.
__ADS_1
"Iye.. kali ini gw maafin Ibu-ibu" jawab Vera sambil menoleh pada Jihan, sedangkan Hani hanya tersenyum menahan tawa.
"Gw belum makan nih dari siang" ucap Vera.
"Ya udah kita makan malam sambil ngobrol-ngobrol. Kangen juga nih udah lama ga kumpul kayak sekarang kan kita" Hani berkata sambil memandang ke arah teman-temannya.
"Makan sushi yuk" pinta Hani yang kemudian mendapat persetujuan dari mereka semua.
Akhirnya, mereka sudah menempati tempat duduknya masing-masing di dalam resto sushi yang paling enak di Mall itu.
Pembicaraan diawali dengan Vera yang sedang menunggu tes tahap akhir CPNS-nya, kemudian beralih kepada Jihan yang sedang mendaftar untuk meneruskan sekolah apoteker. Setelah itu, giliran Hani yang bercerita tentang proses seleksinya di salah satu BUMN yang bergerak dalam bidang pengawasan, pengujian, dan pengkajian. Hani juga saat ini sedang bisnis online kecil-kecilan yang dipasarkan di sosmed maupun market place.
Setelah semua temannya bercerita, kini saatnya Putri yang menceritakan tentang dirinya terkini. Putri memulai sedari kecurigaannya pada Aldi sampai pada Arjuna yang melamarnya tadi siang.
"Anjrittt lo lagi cerita tentang diri lo apa lagi ceritain novel yang lo baca?" racau Jihan yang memang terkejut dengan apa yang Putri alami saat ini.
"Hush! Ga boleh gitu Ji. Temen kita lagi kesulitan gini. Harusnya kita kasih saran dan semangat dong!" Hani berusaha mengingatkan temannya, karena ia mengkhawatirkan Putri yang akan bersedih lagi.
"Maaf ya Putri. Kita turut berduka cita sama Yudhis. Lo yang tabah ya. Sekarang lo udah netapin pilihan belum?" tanya Jihan, sementara Putri hanya menjawan dengan gelengan kepalanya.
"Ini perkara jodoh Put! Ga boleh asal pilih lho. Walaupun jodoh itu sudah ditakdirkan, tapi kita juga harus berusaha menggunakan aset yang kita miliki ini! Lo tetap harus melakukan seleksi secara objektif" terang Vera yang memang paling bijak untuk masalah percintaan. Maklum saja, Vera merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Dengan rentang usia 10 tahun dengan kakak termudanya, menjadikan Vera sering mendapatkan wejangan dari saudara-saudara kandungnya.
"Maksud lo gimana Ver?" tanya Putri sambil mengerutkan dahinya.
"Lo pernah denger istilah orang tua yang bilang kalau pilih jodoh itu mesti dan din dun ga?" tanya Vera lagi.
"Hmm.. Pernah deh kayaknya. Tapi gw lupa itu apa Ver" jawab Putri yang masih menggaruk pipi yang tidak gatal dengan telunjuk.
"Dan itu dandanannya atau tampilan fisik dan attitude, din itu agamanya, dan dun adalah dunianya yang meliputi karir, ekonomi, harta, yah pokoknya hal materialistisnya" terang Vera pada Putri dan seluruh sahabat yang menyimak dengan serius.
"Jadi lo harus bersyukur kalau Tuhan sedang menuntun lo untuk bisa memilih jodoh berdasarkan logika. Memilih dari pertimbangan lain selain perasaan itu lebih baik daripada hanya mengandalkan perasaan semata. Ga jarang kata kakak gw sih, kalau hanya bergantung pada perasaan makanya kedepannya akan berujung pada penyesalan. jadi sebaiknya sebelum tumbuh perasaan lebih, logika harus sudah memilihnya" Vera menjabarkan penjelasan dari kakaknya.
"Terus maksud lo, gw harus buat list parameter dari para kandidat?" tanya Putri.
"Yes babe, nanti lo kasih nilai deh dari hasil pengamatan lo. Bukannya secara ideal dalam sistem seleksi karyawan itu dimulai dari sortir administrasi, psikotes atau tes tertulis, dan yang terakhir adalah wawancara serta tes kesehatan kan? Menurut lo tujuannya untuk apa?" tanya Vera diakhir kalimatnya.
"Untuk mendapatkan yang terbaiklah" jawab Putri singkat.
"Richtig! Jadi sebelum perasaan, lo udah seleksi dulu melalui tes yang tolak ukurnya objektif seperti seleksi admin dan psikotes kan? Selanjutnya baru libatin insting lo melalui interview. Itu aja wajib dilakukan untuk penerimaan calon karyawan, apalagi calon imam dunia akhirat lo? Ga bisa main-main itu gaes" Vera bicara dengan mimik serius dan mengacungkan telunjuk ke depan wajahnya.
"Bener lo Ver! Ini pemilihan imam yang bakal mendampingi kita dengan sisa hidup ini! Luaaaar biasa omongan lo!" Jihan terkagum-kagum sambil menepuk tangan yang tidak bersuara keras.
"Nah, sekarang gw serahkan metode seleksinya sama lo Put. Udah kepikiran lo bakal lakuin apa?" tanya Vera pada Putri yang memang terlihat sedang berpikir dalam diamnya.
"Udah! Gaes ada yang bisa temenin gw ke Singapura ga?" tanya Putri sambil memandang sahabatnya.
"Lah koq malah mikir liburan? bukannya waktu lo cuma seminggu buat kasih jawaban?" tanya Hani yang diamini dengan teman-temannya.
"Arjuna kerja di Singapura, gw cuma pengen cek langsung gimana dia di sana. Gw bakal ambil cuti dari selasa sampai kamis. Ada yang bisa temenin gw nggak?" tanya Putri lagi dengan ekspresi yang meragu.
Hani, Vera, dan Jihan hanya saling memandang. Hingga kemudian, Vera berkata "Hm.. Putri... Kayaknya kita........"
Bersambung,
__ADS_1