
...Aldi...
Pagi hari disebuah apartemen berukuran studio di kawasan ibu kota, terlihat bergaya minimalis modern dengan perpaduan warna netral yang memberi kesan bersih, luas, dan manly. Nampak sepasang manusia sedang terlelap di atas tempat tidur queen size.
Sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui jendela kaca balkon kamar, sang sinar seakan memaksa sang penghuni untuk segera membuka mata.
"Zi... Zia.. bangun" ucap seorang laki-laki berparas tampan kepada seorang wanita cantik berwajah innocent namun memiliki mata dan bentuk bibir yang sexy.
"Aahh Aldiii" ucap Zia dengan suara parau dan manja kemudian memeluk perut pria disebelahnya yang nampak bertelanjang namun ditutupi selimut dari pinggang ke bawah.
"Zia kita harus ngantor kan, ayo cepetan bangun Zi" Aldi mengelus pipi zia untuk membuatnya bangun.
"Iya gw bangun" ucap Zia yang kemudian terduduk di atas tempat tidur.
Ketika Aldi hendak bangun dan berdiri dari tempat tidur, tangan kekarnya ditahan oleh Zia
"Di, please one more baby" pinta Zia dengan jurus Puppy eyes yang bisa meluluhkan siapa saja yang melihatnya.
"Sorry Zi, we'll be late" ucap Aldi yang masih terduduk di atas tempat tidur dengan kaki yang sudah berada di atas lantai.
"Remember that we're friends with benefits. So this time i need them. You call me when you need and also...Me.. Ayolah kamu punya pacar yang bisa sewaktu-waktu memenuhi kebutuhan nafsumu. Sedangkan aku..."Zia tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya terdiam dan terlihat sedih.
"Please jangan sebut kekasihku saat kita sedang seperti ini. Aku merasa sangat ********! Dan jangan samakan dia dengan dirimu Zi! Dia bukan wanita yang mudah disentuh dan aku bersedia melindunginya" ucap Aldi dengan lantang dan mengarahkan tulunjuknya dihadapan Zia.
"Okay I'm so sorry baby. Penuhilah kebutuhanku pagi ini, aku tak menginginkamu lebih dari itu. Because we just friends with benefits right?" Zia kemudian turun dari tempat tidur dan menuntun Aldi masuk ke dalam kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Selamat pagi semua" sapa Putri yang tiba di meja makan keluarga Yudhistira.
"Pagi" jawab semua orang yang sudah ada di sana, kecuali A Juna yang hanya mengangguk dan fokus pada sarapannya.
"Udah beres printnya?" tanya Yudhis.
"Udah nih, makasih banyak ya" ucap Putri pada Yudhis sambil tersenyum.
"Hayo duduk dan sarapan sayang" ucap Mama pada Putri yang masih terlihat berdiri.
"Iya Mama, terima kasih" ucap Putri kemudian duduk dan mulai nyendokan nasi goreng ke atas piring makannya.
"Putri masuk kerja jam berapa? tanya Mama.
__ADS_1
"Jam 9 Ma, tapi hari ini aku mau datang lebih awal karena sore ada kuliah jam 5, jadi harus pulang tepat waktu" jawab Putri.
"Put, maaf aku gak bisa antar kamu karena harus langsung berangkat. Hari ini ada kunjungan ke cabang Cilegon" ujar Yudhis dan segera berdiri berpamitan dengan semua yang ada di meja.
"Arjuna, antar Putri ya" pinta Mama kepada anak sulungnya, sontak membuat Putri terkejut.
"Iya A, kalau bisa anterin ya kasian dari sini kan susah naik umum" Yudhis menatap Kakaknya yang dibalas tatapan tajam dari sang Kakak.
"Eh nggak usah koq, aku bisa pesen ojek online aja" ucap Putri yang saat ini benar-benar sudah malu karena merepotkan keluarga Yudhis. Apalagi kalau harus berurusan dengan Kakaknya yang dingin ini.
"Di luar hujan Sayang. Arjuna bisa antar kan?" ucap Mama Julie dengan suara lembutnya.
"Bisa" jawaban super efisien dan efektif yang keluar dari mulut Arjuna Nataprawira atau Aa Juna.
"Eeh nggak, ga usah koq beneran A. Aku bisa pesen ojek atau taxi online aja" ucap Putri sambil melihat ke arah A Juna.
"Saya panasin mobil dulu. Kamu, saya tunggu di garasi 5 menit lagi" ucap Arjuna sambil menunjuk Putri dengan tatapan killernya.
Entah mengapa kata-kata yang keluar dari mulut seorang Arjuna terdengar sebuah kewajiban tak terbantahkan atau harus dilaksanakan. Terasa dari auranya yang sulit dijelaskan dan sangat berkharisma. Ucapannya sedikit namun detail dan jelas.
"Thanks brother" ucap Yudhis sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah A Juna yang sudah berjalan memunggungi kami. "Assalamua'alaikum".
"Wa'alaikumsalam" jawab Putri dan Mama.
"Iya Ma, terima kasih atas kebaikan Mama dan keluarga. Putri pamit ke kantor dulu ya Ma. Assalamua'alaikum" Putri mencium tangan Mama dan kemudian bergegas ke garasi.
"Walau aslinya baik, tapi tetep aja bikin makan ati kalau deket manusia semen ini kan. Eh sejak kapan aku punya julukan buat dia? Gak apa- apa deh biar relax dikit" ucap Putri dalam batinnya.
Terlihat Arjuna keluar dari bagian kemudi mobil Honda Civic hatchback berwarna biru.
"Masuk" setelah berucap, A juna pun kembali masuk ke bagian kemudi mobil.
"Cih kaku amat om kayak kanebo!" umpat Putri dalam hati.
"Katakan nama kantor dan alamatnya" perintah A Juna sambil menempelkan telunjuknya ke layar yang ada dibagian tengah dashboard .
"ZEN Express cabang Bogor, Jalan Baru Bogor" ucap Putri yang secara otomatis langsung terecord di layar kemudian nampak garis-garis pada maps yang membimbing driver dari posisi sekarang ke tempat tujuan. Canggihnya, terdapat index-index lain yang tampilannya sangat menarik dan lebih mudah dibaca dari aplikasi maps yang sudah terkenal saat ini.
"Wow keren banget ini aplikasi apa A?" tanya Putri yang sejenak melupakan perihal manusia semen di sebelahnya.
"Aplikasi ini saya buat untuk pribadi bukan public" jawab A Juna singkat sambil matanya terus fokus berkendara yang entah melihat anggukan Putri atau tidak.
__ADS_1
Sebenarnya ada banyak yang ingin Putri tanyakan seperti, memang kerjanya apa? koq bisa buat aplikasi keren kaya gini? cara buatnya gimana? tapi Putri sekuat tenaga menahan berbagai macam pertanyaan dari rasa kagumnya.
"Lebih baik nanti tanya sama Yudhis aja" ucap Putri dalam hati.
Tak ada sepatah kata lagi yang terucap disepanjang perjalanan dari rumah Yudhis ke kantor Putri. Hingga tak terasa mobil A Juna sudah masuk area Ruko kantor.
"Sebentar" A Juna berkata lalu membuka dashboard di depannya dan diberikannya payung lipat pada Putri.
"Eh nggak usah A, deket koq tinggal lari" tolak Putri secara halus.
"Jangan menolak solusi depan mata saat penyebab masalah dengan jelas terlihat" ucap A Juna datar namun sorot mata killernya seperti berkata no excuse.
"Ah, baik nanti aku titip Yudhis aja ya buat balikin payungnya A" jawab Putri yang kemudian meraih payung di hadapannya.
"Buat kamu saja" ucap Juna dengan ekspresi yang sama.
"Iya deh A, makasih ya. Saya permisi dulu" ucap Putri kemudian keluar dari mobil dan berjalan ke arah kantor.
......................
Pada saat selesai sholat zuhur, Putri mengecek ponselnya dan melihat pesan whatsapp dari Rina.
Rina : Put maafin gw, sore kemarin adik gw kecelakaan dan gw buru-buru balik ke Cianjur bawa motor sampai lupa Hp baru gw charge sekarang.
Putri : Innalillahi sekarang adik lo gimana Rin? iya nggak apa-apa tugas gw udah kelar koq. Semoga adik lo lekas sehat lagi ya. Aamiin.
Pada awalnya Putri kesal dengan Rina, tapi setelah menerima kabar musibah ini jadi merasa kasihan sama Rina.
Saat Putri akan berdiri dari bangkunya, terlihat Pak Dadang sudah bersiap akan keluar kantor. Ia teringat akan action plan investigasinya untuk menjadi kurir selama 1 minggu.
"Permisi Pak Dadang mau keluar?" tanya Putri sopan.
"Iya Mbak Putri, ada yang harus saya tanda tangan dulu?"
" Nggak Pak, tapi ada hal yang perlu saya bicarakan ke Bapak".
"Oke baik 15 menit cukup Mbak Putri?"
" Cukup Pak. Terima kasih waktunya"
Bersama dengan Pak Dadang, Putri masuk ke ruang kepala cabang.
Bersambung,
__ADS_1