
"Aku paham maksud kamu Yudhis. Aku akan siapkan satu data yang mewakili kesimpulan dari masalah ini. Aku akan buat satu bagan yang membandingkan biaya overtime dengan data inbound, selain itu perbandingan data shifting dengan rekap absensi. Kedua data perbandingan itu akan aku buat dalam 1 lembar kesimpulan, di sana nanti akan terlihat % ketidakcocokannya" ucap Putri panjang dengan gaya bicara yang bersemangat.
"Boleh dicoba, lalu action plan kamu apa setelah itu?" tanya Yudhis kembali.
"Setelah aku mengajukan data itu ke Pak Dadang, aku akan fokus mengamati situasi di inbound" ucap Putri dengan penuh keyakinan.
"Kamu yakin bisa dapat bukti di lapangan dengan cara itu?" tanya Yudhis dengan tatapan skeptis.
"Tadi aku yakin bisa, tapi setelah kamu bilang gitu aku malah jadi nggak yakin" jawab Putri sambil menunduk.
"Putri You are a leader of HR" ucap Yudhis dengan nada bicara meninggi.
" Aku hanya satu tingkat di atas staf" jawab Putri yang kini menaikan pandangannya ke arah Yudhis.
"But you're a highest level of HR now, gak ada salahnya kalau kamu meningkatkan kemampuan kamu di atas level kamu saat ini kan?" Yudhis terlihat menyemangati Putri, namun Putri tetap merasa tidak becus untuk menjadi leader di HR Cabang saat ini.
"Iya aku memang harus banyak belajar Yud" jawan Putri dengan suara lemah.
"Bukan hanya kamu, aku, semua pimpinan juga tetap harus belajar. Jadikan ini moment bagi kamu untuk terdevelop! HR bukan hanya melakukan pekerjaan yang sebatas administrasi kepegawaian. Tapi bagaimana sebagai partner strategis bagi perusahaan untuk bisa mensupport jalannya bisnis ini. Semangatlah ada aku di sini untuk mendukungmu Putri" Yudhis tersenyum hangat dan seketika semangat Putri terasa diterisi penuh kembali.
"Iya benar Yudhis aku pasti bisa. Ini adalah langkah buat aku untuk belajar menjadi bagian strategis bagi perusahaan" jawab Putri dengan tersenyum lebar.
"So, bagaimana cara kamu untuk bisa mendapatkan bukti di lapangan?" tanya Yudhis kembali sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Putri terdiam sejenak, begitu pun dengan Yudhis yang membiarkan Putri memikirkan keputusannya.
"Cara terbaik untuk memahami adalah dengan menjadi teman terbaiknya. Yah, aku harus menjadi mereka. Aku akan menjadi kurir" ucap Putri dengan mantap.
"Kamu yakin akan setotal itu?" tanya Yudhis sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Iya, aku akan memanfaatkan wewenangku untuk melakukan analisa beban kerja. Aku akan menghitung setiap waktunya dan menjadi mereka sampai data yang aku butuhkan sudah cukup" jawab Putri sambil menatap Yudhis seolah membutuhkan persetujuan.
Yudhis menggelengkan kepala dengan pelan dan berkata "Waktunya harus kamu tentukan, agar timing managementnya baik".
"Benar. terima kasih Yudhis. Aku akan melakukannya dalam 2 minggu".
"Tidak! 1 minggu sudah cukup Putri" ucap Yudhis enteng.
"Baik Pak".
"Sudah cukup? atau ada yang perlu dibahas kembali?" tanya Yudhis.
"Cukup, sekarang bolehkah aku pinjam laptop kamu," pinta Putri, kemudian menoleh ke arah kaca dibelakang punggungnya saat terdengar suara hujan deras yang tiba-tiba turun disertai petir.
Selain mendapat julukan sebagai kota hujan, Kota Bogor juga biasa disebut sebagai kota Petir. Sehingga hal ini menjadi sangat biasa bagi warga Bogor untuk menikmati hari-hari bersama suara Petir yang keras dan sering.
Yudhis meletakkan laptopnya di meja depan Putri, kemudian meletakkan berbagai macam camilan di atas meja.
__ADS_1
"Kalau aku ngerjain tugas kuliah di sini, kamu mau ngapain?" tanya Putri pada Yudhis yang duduk di hadapannya.
"Aku tiduran di sofa depan TV aja deh. Nanti kalau kamu butuh sesuatu bilang aja sama aku ya" ucap Yudhis yang kemudian beranjak ke sofa depan TV dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Iya Yudhis, thanks" jawab Putri sambil tersenyum.
Sudah dua jam lebih Putri berkutat dengan tugas kuliahnya sampai ia dikejutkan oleh suara Mama Julie.
"Sayang, nginap aja ya di sini. Sudah malam, hujannya juga makin deras" ucap Mama Julie yang kini sudah duduk di samping Putri.
"Astagfirullah, udah jam 11 malam aja" ucap Putri yang baru melihat ke arah jam dinding ruang keluarga. " Aduh Mama aku gak enak ngerepotin, gak apa-apa aku pulang aja naik taxi online".
"Sudah nginap aja, udah malam banget. Yudhis juga udah tidur tuh" Mama menujuk ke arah sofa depan TV.
duaaarrrr
Terdengar suara petir yang kencang dari luar dengan kilatan cahaya yang menyeruak masuk ke dalam ruangan melalui tembok kaca.
"Iya deh Ma, Putri nginap aja di sini" ucap Putri yang menyerah karena melihat kondisi hujan petir di luar yang tak kunjung mereda.
"Sudah selesai tugasnya? Mama antar ke kamar tamu ya" ucap Mama Julie sambil menunggu Putri merapihkan perlengkapannya.
"Baik Ma, terima kasih banyak" ucap Putri tersenyum hangat.
Putri mengikuti Mama ke lantai atas. Saat menaiki tangga, dilihatnya Yudhis sudah terlelap di sofa. Walaupun ia tertidur di sofa, namun Putri yakin sofa yang ditiduri Yudhis itu lebih nyaman dari tempat tidur di kamar Putri.
"Di lantai sini ada kamar A Juna, Yudhis, dan 1 kamar tamu. Kebetulan kamar mandi yang di kamar tamu sedang rusak, baru lusa dibetulinnya. Kamu nggak keberatan kan kalau kamar mandinya pakai yang di luar dulu?" ucap Mama Julie.
"Nggak apa-apa Ma, aku sudah biasa koq" jawab Putri dengan sopan.
Mama Julie tersenyum dan mengusap lembut pundak Putri, kemudian membuka pintu berwarna putih di depannya.
ceklek
Nampak sebuah kamar bernuansa putih sehingga meninggalkan kesan bersih, nyaman, dan minimalis namun dengan penataan yang modern.
"Ya ampun Ma kamar tamunya aja senyaman ini" ucap Putri dengan jujur kepada Mama
"Kalau kamu suka, tinggal di sini aja temani Mama".
"Waduh nanti Ibu aku ngambek Ma dikira aku minggat ga betah di rumah" jawab Putri sambil tertawa ringan.
"Bisa aja nih kamu Put. Kalau lagi pengen main ya main aja ke sini. Mama bakal senang menerima kamu kapan pun kamu ke sini".
"Mama you're so sweet, may I hug you Ma?" ucap Putri dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Of course sayang" ucap Mama sambil membuka lengannya lebar-lebar seakan menandakan telah siap menerima pelukan dari Putri.
Putri memeluk mama menghadap ke arah pintu kamar yang sedang terbuka lebar, kemudian di lihatnya A Juna melewati kamar dan melirik sebentar ke arah dalam kamar sehingga pandangan matanya bertemu dengan Putri.
"Sekarang sudah malam, selamat beristirahat" ucap Mama sambil melepaskan pelukan dan menangkupkan kedua tangannya ke pipi Putri.
"Terima kasih Ma, selamat istirahat" ucap Putri yang masih merasa haru dan bahagia dengan perlakuan baik Mama Julie padanya karena ia merasa Ibu kandungnya sendiri tidak pernah semanis ini padanya.
Setelah Mama menutup pintu kamar, Putri menyimpan ranselnya di samping tempat tidur king size dengan seprai Putih. Ia teringat belum sempat print tugasnya, namun niatnya diurungkan mengingat tidak tega membangunkan Yudhis yang sudah terlelap. Akhirnya ia memutuskan untuk print tugasnya besok pagi saja.
Putri bersiap-siap berganti pakaian, sholat isya, dan melakukan rutinitas skincarenya sebelum tidur.
Tak perlu waktu lama saat ia sudah merebahkan tubuhnya di kasur nyaman tersebut, ia segera terlelap tidur.
......................
Pukul 5 subuh Alarm ponsel putri berbunyi membangunkan pemiliknya. Ia segera bangun dari tempat tidur walau masih ada rasa kantuknya.
Putri keluar kamar untuk sikat gigi dan berwudhu, kemudian masuk ke kamar lagi untuk sholat subuh.
Selesai sholat subuh, ia segera keluar kamar lagi dan bersiap untuk mandi pagi. Saat memasuki kamar mandi, ia sedikit kesusahan untuk mengunci selotan pintu yang tiba-tiba terasa kesat dan berat untuk digeser. Berbeda dengan tadi pagi ia hanya sikat gigi dan berwudhu, maka ia tidak mempedulikan pintu yang ditutup tanpa dikunci. Namun karena sekarang akan mandi, jadi ia harus memastikan pintu sudah benar-benar terkunci.
Akhirnya dengan sedikit menambah kekuatan, selotan pun berhasil digeser walau hanya 1/4nya. Putri cukup yakin bahwa ini dapat menahan seseorang dari luar yang akan masuk.
"Baiklah aku rasa ini cukup aman" ucap Putri yang kemudian mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu dan menggantungnya ditempat yang tersedia.
Putri sangat menikmati setiap cucuran air yang dia buat sedikit hangat terjatuh dari shower di atas kepalanya sambil bersenandung. Biasanya ia hanya bisa menikmati moment seperti ini saat menginap di hotel saja.
Ia menyabuni seluruh tubuhnya sambil menggosok-gosok perlahan menikmati aroma british rose dari shower gel yang tersedia di sana.
...****************...
...Disisi lain, disaat yang bersamaan.....
Seseorang sedang mencari smartwatch yang menjadi wajib kehadirannya saat sang pemilik berolah raga.
"Akh ya in the bathroom" ucap Arjuna sambil menempelkan telapak tangannya di dahi kemudian segera berjalan keluar kamar menuju kamar mandi luar yang terletak persis disebarang pintu kamarnya.
Arjuna bejalan dengan langkahnya yang lebar dan dengan sekali dorongan, pintu kamar mandi terbuka.
"Shit!" Arjuna terdiam selama beberapa detik sampai ia tersadar dengan apa yang nampak dihadapannya, seketika ia pun langsung menutup pintu kembali. Pria itu sangat syok dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.
"Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku" racau Arjuna dalam hati. Ia segera menuruni tangga sambil mengacak-acak rambutnya dan berjalan ke arah kolam renang.
Ia segera menuruni tangga sambil mengacak-acak rambutnya dan berjalan ke arah kolam renang. Sejenak ia terduduk sambil memijat kening yang tidak sakit namun sekujur tubuhnya terasa tersiksa. Ia pun segera membuka kaos tipisnya dan turun ke kolam renang untuk meredakan kejantanannya yang harus terbangun dipagi hari.
__ADS_1
Bersambung,