
Putri menatap langit-langit kamarnya. Rasa sakit kehilangan Yudhis masih ada, namun ia teringat akan pembicaraannya tadi dengan Aldi. Putri sebenarnya sangat ingin memutuskan untuk tidak mempertimbangkan Aldi lagi, namun ia tak tega melakukannya saat melihat kacaunya Aldi tadi. Ia merasa iba dengan masa kecil Aldi yang begitu pahit. Ia membayangkan bagaimana bisa anak sekecil itu harus menanggung penderitaan yang besar.
"Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Rasa sakit dan takut akan perlakuan Aldi masih bisa kurasakan. Namun rasa kehilangan Yudhis yang baru kusadari sekarang betapa aku masih merindukan sosoknya"batin Putri.
Tak terasa air matanya sudah turun. Betapa risaunya perasaan yang dirasakannya saat ini. Ya Tuhan kenapa kisah cintaku serumit ini? kenapa aku harus kehilangan dia jika engkau mempertemukanku lagi dengannya?
Putri menangis dengan menenggelamkan kepalanya pada bantal. Sampai ia teringat untuk menghubungi Mama Julie dan membicarakan masalah vendor pernikahan.
W****hatsapp Mama Julie
Putri : Assalamua'alaikum Mama, apa kabar? maaf sabtu ini Mama ada di rumah ga?
Mama Julie : Wa'alaikumsalam sayangku. Alhamdulillah baik, kamu dan keluarga sehat sayang? Insha Alloh Mama ada di rumah karena Arjuna juga pulang.
Putri : Alhamdulillah kami baik Mama. Nanti Insha Alloh Putri mau ke rumah Mama ya. mungkin sekitar jam10 Ma.
Mama Julie : Oke sayang Mama tunggu.
Putri : Terima kasih Mama.
Mama Julie : Sama-sama sayang.
"Kebetulan A Juna juga ada, walaupun itu bukan uangku tapi rasanya sayang banget kalau hanya kembali 30% dari ratusan juta" batin Putri sambil menatap layar ponselnya.
"Hah udah jam10, duh besok kan ada training" Putri segera menyimpan ponsel di meja samping tempat tidur, kemudian ia rebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Ya Tuhan aku mohon pertemukan aku dengan Yudhis walau hanya dalam mimpi" ucap Putri kemudian mulai memejamkan matanya.
......................
Kesibukan harian Putri di kantor dapat mengurangi kesedihannya pada Yudhistira. Ibu pun sepertinya sudah biasa lagi, berkat bantuan Nini yang sudah menasehati Ibu.
Pagi ini Putri sudah bersiap ke rumah Mama Julie. Ia mulai memanaskan motornya selama beberapa menit. Kemudian berpamitan kepada Ibu dan segera melaju ke jalan raya.
Motor melaju dengan kecepatan sedang. Karena hari ini adalah weekend tanggal muda, maka jalanan kota Bogor sangat padat. Apalagi jalan yang Putri lalui menuju rumah Mama Julie adalah jalan-jalan yang pasti macet saat akhir pekan.
Saat melalui jalan Bina Marga, mesin motor matic Putri tiba-tiba ngebrebet lalu mati. Ia menepi ke sisi jalan yang aman.
"Ya Allah ini motor kenapa lagi? Emang ga pernah aku service sih" Putri kebingungan karena ia tidak tahu tempat service motor di daerah sini.
Akhirnya, Putri mendorong motor sambil pandangannya mencari sosok bengkel di daerah tersebut. Setelah berjalan sekitar 200 meter, ia menemukan bengkel motor di sisi kanan jalan.
"Alhamdulillah" kelegaan meliputi dirinya.
Cuaca cerah mendukung teriknya matahari kota Bogor siang itu. Udara panas bercampur polusi membuat kulit terasa tercekit-cekit kepanasan.
drrrttt
Panggilan masuk Mama Julie
"Wa'alaikumsalam. Iya Ma, aku udah di daerah pakuan. Motor aku mogok, ini lagi dibengkel seberang pakuan Ma. Gak usah Ma, nanti aku pake ojek aja...Baik Ma, Putri tunggu di sini".
__ADS_1
Mama Julie meminta Putri untuk menunggu Arjuna yang akan menjemput. Awalnya ia menolak, namun bujukan Mama Julie tak bisa ia sanggah lagi. Mama Julie sangat mirip dengan Yudhis, pandai berkomunikasi sampai perintahnya tak terbantahkan walau kata-katanya sangat manis.
Beberapa menit kemudian muncul sesosok pria mengenakan kaos berbahan jersey hitam yang sedang memakai helm diatas motor touringnya. Pria itu berhenti tepat di depan bengkel lalu membuka helmnya.
"A Juna" sapa Putri sambil melambaikan tangannya, sementara Juna hanya mengangguk dan tersenyum tipis per sekian detik. Malahan saking tipisnya, senyuman itu nyaris tak terlihat.
Putri berdiri menghampiri Arjuna yang masih duduk di atas motor.
"Motornya baru beres sore atau besok" ucap Putri pada Arjuna yang lagi-lagi hanya dijawab dengan anggukan saja.
"Duh apes banget hari ini. Dijemput sama manusia semen pula. Udah aku ngomong duluan padahal dia nggak nanya, sekarang malah diem ngangguk-ngangguk doang. Ni orang apa nggak sering diomelin bos nya kalau di kantor kelakuannya begini?"batin Putri yang meracau.
"Jadi mau ikut saya atau nungguin motor selesai?" tanya Arjuna yang makin buat Putri kesal.
"Nungguin motor sampai selesai, tapi nunggunya di rumah Mama Julie" jawab Putri dengan lambat namun ada penekanan pada intonasinya.
"Ayo" ajak Arjuna lalu menyerahkan helm penumpang kepada Putri.
Putri naik ke atas motor, lalu tak lama kemudian motor pun melaju dengan kecepatan yang lumayan membuat Putri mencari pegangan ke belakang. Tapi, "sial! motor ini mah nggak ada pegangannya! Atuh Aa kenceng amat ini mah bukan Singapura yang gak jalanannya mulus!" umpat Putri dalam hatinya.
Laju motor semakin cepat hingga Putri secara spontan mencengkram kaos arjuna dari samping pinggangnya sambil memejamkan mata.
Tak membutuhkan waktu lama, motor sudah berada di depan kediaman Mama Julie.
"Mau diantar masuk ke dalam rumah pake motor?" tanya Arjuna yang sudah melepas helmnya.
"Yu masuk" ucap Arjuna sambil cengengesan menahan tawa.
"Duh manusia semen bisa senyam-senyum juga. Eh tapi dia ngetawain apa?" suara batin Putri bertanya.
Putri mengekor Arjuna masuk ke dala rumah lewat pintu garasi. Ia berjalan hingga tiba di ruang keluarga dan melihat Mama Julie sedang membaca majalah masakan di sofa.
"Mama" sapa Putri yang menghampiri Mama kemudian mencium tangannya.
"Sayang! apa kabar? Ibu sama Bika sehat?" tanya Mama Julie dengan senyuman merekah.
"Alhamdulillah, kami semua sehat. Mama sehat?" tanya Putri balik.
"Alhamdulillah sayang. Arjuna mau kemana?" tanya Mama yang melihat putranya menaiki tangga.
"Ke kamar Ma" jawab Arjuna.
"Sini temani Putri dulu. Mama ada perlu sebentar ke rumah Oma Nunik" ucap Mama pada Arjuna.
"Sayang, Mama ke rumah Oma Nunik dulu ya sebentar, cuma beberapa rumah dari sini. Tadi Oma minta tolong buat bantuin decor kue tart" ucap Mama pada Putri.
Ini memang nggak sepenuhnya salah Mama, karena sudah jam 11.30. Insiden motor mogok yang buat Putri jadi telat datang.
"Iya Mama, nggak apa-apa ntar putri tunggu di sini" jawab Putri dengan senyuman.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, Arjuna nanti ajak Putri makan siang ya" perintah Mama pada Arjuna.
"Baik Ma" jawab Arjuna dengan posisi tangan yang dimasukan kedalam saku celana sportnya.
Arjuna duduk di sofa ruang TV, begitu juga dengan Putri yang duduk disamping Arjuna namun terpisah hampir 1 meter.
5 menit
10 menit
15 menit
20 menit
Mereka masih saling diam, pikiran Putri malah terputar dengan kenangan-kenangannya bersama Yudhis. Rasanya terasa tercekit-cekit dalam dada. Namun ia segera menepis jauh perasaan itu. Yudhis tidak pergi selamanya, namun ia hanya pergi lebih dulu ke kehidupan selanjutnya. Ia teringat perkataan Mama Julie saat itu yang membuatnya tegar seperti saat ini.
Tiba-tiba Arjuna berdiri, sementara Putri spontan menoleh ke arahnya "Sudah Adzan dzuhur, aku solat ke masjid dulu. Kamu solat di mushola rumah saja" ucap A Juna dengan tidak menatap Putri.
"Iya A" jawab Putri.
"Cih somse bener deh ngeliat ke arah aku aja nggak" Putri mendecih kecil saat Arjuna sudah tidak di sana.
Putri berjalan menuju mushola rumah untuk melaksanakan sholat dzuhur. Selepas sholat, ia tak menyiakan waktu untuk berdo'a.
Putri mengangkat tangan seraya meminta pada Sang Pencipta. Ia merendahkan suara dan memenuhi hatinya dengan keyakinan do'a didengar oleh Pemilik Semesta.
"Ya Tuhanku, ampuni dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Kasihanilah kami, berikanlah kami kemudahan-kemudahan dari masalah yang ada. Berilah hamba petunjuk dari apa-apa yang hamba ragukan. Dekatkanlah jodohku jika ia baik untukku, jauhkanlah yang meragukanku jika itu memang tak baik untukku. Aamiin". Putri bersujud sambil meneteskan air matanya. Ia berharap untuk diberikan jawaban apakah ia harus menerima keseriusan Aldi ataukah menolaknya.
Selesai sholat, Putri berjalan menuju ruang keluarga. Tak lama kemudian dilihatnya Arjuna sudah kembali dari masjid.
"Kita makan siang dulu" ucap Arjuna yang berjalan ke arah dapur untuk mencuci tangan, lalu berjalan ke meja makan keluarga.
"Dia tuh nawarin apa kasih perintah?" Putri masih terdiam sampai Arjuna menatapnya, sejurus kemudian ia berjalan menuju meja makan.
Mereka makan dalam kekhusyuan menyantap makanan masing-masing. Hingga keduanya selesai makan dalam waktu hampir bersamaan.
"Putri, apa yang akan kamu bicarakan pada Mama? Aku di sini sebagai penanggung jawab keluarga, maka aku harus tahu" ucap Arjuna yang sudah menegakkan posisi duduknya dan menatap Putri.
"Baik, aku akan jelaskan tujuanku ke sini" Putri menatap Arjuna lalu menjelaskan semua yang disampaikan oleh Christy.
"Ini bukan hak aku, karena semua biaya yang dikeluarkan ke WO adalah uang Almarhum Yudhistira" ucap Putri yang sedikit terasa getir saat menyebut nama Yudhis beserta gelar barunya.
Arjuna terdiam sambil tetap melekatkan pandangannya pada Putri, kemudian dengan nafas beratnya ia berkata "Putri, mau kah kau membantuku?"
"Tentu! Apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Putri dengan senyuman.
"Bantu aku menyempurnakan separuh agamaku. Jadilah istriku" ucap Arjuna dengan tatapan yang serius. Tak ada keraguan sedikitpun dari ucapan maupun bahasa tubuhnya. Seolah ini bukan penawaran, melainkan instruksi. Bagaimana bisa Mama Julie memiliki anak-anak yang berkharisma namun berbeda karakter seperti ini.
"Aa serius? Kenapa aku?" tanya Putri.
Bersambung,
__ADS_1