Putri Kurir

Putri Kurir
62


__ADS_3

"Alhamdulillah segernya habis mandi" Putri membuka kopernya untuk mengambil peralatan salat, lalu melaksanakan salat ashar di kamar Arjuna.


"Ya Allah berilah hamba petunjuk bagaimana seharusnya hamba bersikap sebagai seorang isteri yang diridhoi oleh suaminya. Hamba bingung menghadapi suami hamba Ya Allah. Dia terlihat tidak suka hamba ikut kegiatan besok, namun ketika hamba akan mundur malah dilarangnya. Hamba pasrahkan segala urusan ini pada-Mu ya Rob. Washollallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa’ala alihi wasohbihi wasallam walhamdulillahirobbil’alamin" do'a Putri setelah salat ashar. Ia kemudian melipat dan memasukan kembali alat salatnya ke dalam koper.


Ceklek


Pintu kamar terbuka


"A, sudah salat?" tanya Putri yang sedang merapikan tempat tidur.


"Ini baru pulang dari mesjid" Arjuna berjalan ke depan lemari lalu membuka kemeja kokonya dan menggantungnya kembali di dalam sana.


Putri terkejut saat melihat Arjuna yang bertelanjang dada, setelah beberapa detik ia segera mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur dengan berpura-pura mengibaskan kasur yang sebenarnya sudah bersih itu.


"Ya ampun lemes liatnya, bikin jantung jadi bekerja terlalu keras! Ya Tuhan, suamiku memang keren tapi ini jantung please atuh tau diri" racau Putri dalam batinnya.


Ia mencoba melirik sebentar ke arah suaminya "Syukurlah, sekarang udah pakai baju lagi" suara hati Putri.


"A, sudah mandi?" tanya Putri yang kini berjalan menuju sofa.


"Sudah" Arjuna meraih laptopnya dan duduk di samping Putri.


"A, kalau habis mandi bajunya mau aku siapkan di kamar mandi atau di kamar tidur aja?" tanya Putri yang merasa ia harus sebisa mungkin selalu melayani suaminya dengan baik.


"Nggak usah, nanti aku bisa siapkan sendiri. Buat kamu senyaman mungkin sebagai isteri aku" Arjuna tersenyum lalu mulai membuka laptop.


"Sebentar ya, aku ada kerjaan penting. Nggak akan lama koq" Arjuna menjelaskan sebelum dirinya fokus pada laptop di pangkuannya.


"Iya A, silakan" jawab Putri.


*Ringtone


Suara HP Putri berdering


Panggilan Masuk ZEN EXP Pa Kacab


"Duh tumben Pak Dadang telp hari Minggu gini" suara hati Putri saat melihat nama yang memanggil.


"Assalamua'alaikum.. Iya Pak.. Nggak apa-apa.... Oh begitu.. Baik Pak.. Iya kebetulan saya juga masih di rumah.. Iya Pak... Baik... Terima kasih pak..Wa'alaikumsalam" suara Putri saat bertelepon.


"Alhamdulillah" Putri bersyukur dengan mengangkat kedua tangan lalu mengusapkannya pada wajah.


"Kenapa Put? Seneng banget kayaknya" tanya Arjuna dengan tatapan yang fokus pada laptop namun sesekali melirik ke arah sang isteri.


"Lisensi aku di gantiin sama Alfian. Jadi harus orang HR yang jadi trainernya A" Putri menghampiri Arjuna sambil tersenyum lebar.


" Alhamdulillah, pantesan kamu seneng banget. Tunggu ya aku beresin ini dulu" Arjuna berkata sambil menatap Putri sesaat.


"Iya A santai aja, aku mau baca novel online dulu aja sambil nungguin kamu" jawab Putri.


"Oke, thanks" jawab Arjuna yang tersenyum lalu kembali fokus pada laptopnya.


20 menit kemudian


"Alhamdulillah" ucap Arjuna yang sedang menutup laptopnya.


"Sudah beres A?" tanya Putri.


"Sudah" Arjuna berdiri dan meletakkan kembali laptopnya di tempat semula.


"Kamu mau di rumah aja atau mau jalan keluar?" tanya Arjuna yang kini sudah duduk kembali.


"Terserah Aa aja" jawab Putri yang merasa bingung karena ingin jalan-jalan pun pasti hanya sekitaran dalam kota saja.


"Ya sudah kita jalan di sekitar sini aja. Di sport center sini ada cafenya. Suasana cafenya outdoor dan semi outdoor, jadi pemandangannya kita bisa liat ke arah alam dan kolam renang. Aku pernah satu kali ke sana dan lumayan nyaman. Kamu mau?" tanya Arjuna dengan sedikit menaikkan alisnya.


"Boleh A" jawab Putri sambil mengangguk.


"Pakai jaket ya, aku bawa motor" pinta Arjuna.


"Oke siap"


"Aku tunggu di depan rumah ya, sekalian panasin motor dulu" Arjuna berkata lalu berjalan keluar kamar.


"Iya A"


Putri telah berganti baju dengan mengenakan outer berbahan knitt warna coklat, ia juga sedikit menata rambutnya. Lalu Putri meraih sling bag dan bergegas menemui Arjuna yang sudah berada di depan rumah.



Ia membuka pintu lewat garasi dan melihat suaminya sudah menunggu di atas motor.

__ADS_1


"Ya Allah ganteng amat A Juna, cuma pakai jaket sama kacamata aja udah bikin aku melting! Kenapa setiap dia pakai sesuatu yang baru aku liat aja udah bikin aku mules terus ini! Haduh bahaya! Perut, baik-baik ya mulai sekarang kamu harus latihan sama hal yang beginian" batin Putri yang merasa kacau akibat sensasi barunya.



Arjuna memakaikan helm pada Putri, kemudian isterinya itu mulai menaiki jok belakang. Sebelum motor berjalan, sang pengendara itu menarik lengan penumpang cantik di belakangnya, kemudia ia lingkarkan di perutnya.


Putri memahami bahasa tubuh yang dimaksud suaminya, ia pun berboncengan sambil memeluk tubuh Arjuna hingga sampai tujuan.


"Adem ya A di sini" saat Putri turun dari motor.


"Iya di sini hutannya area kompleks" jawab Arjuna lalu mereka berdua berjalan berdampingan menuju cafe di depan.


"Ini masih lingkungan perumahan, tapi lumayan jauh ya. Berarti luas banget ini" tanggap Putri lagi.


"Ya begitulah" jawan Arjuna singkat.


Arjuna membuka sebuah pintu kaca bertuliskan "tarik", lalu mereka di sambut oleh pelayan wanita di cafe.


"Selamat datang, mau di outdoor atau di dalam?" tanya seorang pelayan itu dengan ramah.


Putri melihat Arjuna yang melirik kepadanya, kemudian ia berkata "outdoor saja Mbak".


"Baik, mari saya antar"



"Masha Allah enak baget A tempatnya" Putri terkagum dengan kenyamanan Cafe ini.


"Alhamdulillah kalau kamu senang" jawab Arjuna yang tersenyum laku merangkul pundak isterinya itu.


Putri memilih tempat duduk luar yang menghadap ke kolam renang. Setelah mereka menyampaikan pesanan pada pelayan tadi, Putri mulai mengambil beberapa foto kebersamaannya dengan Arjuna.


"A, liat deh sini fotonya pada bagus!" unjuk Putri pada Arjuna.


"Iya, kamunya lucu" Arjuna menjawab sambil tersenyum sedikit seperti biasanya.


Putri mendelik "Lucu? Buat diketawain? Tega ih" ucap Putri sambil memajukan bibirnya sedikit ke depan.


"Bukan, tapi maksudnya cute.. I like it so" Arjuna tersenyum lalu mengalihkan pandangan ke samping karena malu.


"Wah dia kalau lagi ngegombal ternyata malu! Ini dia sisi lainnya. Tambah ganteng aja ih suami aku teh" Putri memuji suaminya lewat suara batin.


"Permisi Ka" pelayan datang dengan membawakan pesanan. "Pesanannya sudah lengkap ya Ka, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya dengan sopan.


"Baik, saya permisi dulu" pelayan itu pun berjalan ke arah bagian cafe di dalam.


"Sekalian makan malam nih" ucap Putri yang mulai melahap makanannya.


"Jadi entar malam gak usah makan lagi?" tanya Arjuna.


"Iyalah kalau kebanyakan makan nanti aku gendut" Putri berkata sambil menyentuh perutnya.


Arjuna hanya tersenyum sambil mengangukkan kepala.


"A, besok aku mau telp Mbak Christy. Ibu sih nyerahin tanggal resepsi nanti sama aku, cuma ibu minta jangan lama-lama. Kata Ibu nggak bagus kalau aku udah hamil pas resepsi nanti. Kalau Aa gimana? Mau bulan depan aja?" Putri bertanya setelah mengunyah makanannya


"Aku sih terserah kamu aja. Kamu tinggal kabarin tanggalnya, nanti aku atur schedule kerja" jawab Arjuna setelah menyedot lemon tea-nya.


"Aa nggak masalah cuti lagi?" tanya Putri.


"Nggak" jawab Arjuna singkat.


"Iyalah CIO mah bebas, emangnya aku" jawab Putri dalam hati.


"Ya udah bulan depan aku pilih hari Sabtu aja ya, sekalian diskusi sama Mbak Christy tentang kesiapannya. Nanti kalau sudah fix aku infoin Aa lagi"


"Oke" Arjuna menjawab.


"Aa nggak apa-apa besok aku kerja? terus kamu nunggu aku ngapain?"


"Nggak apa-apa. Aku bisa sambil monitoring kerjaan juga di rumah"


"Sambil itu doang A? Nggak bosen? Kan di rumah juga sepi, katanya Mama Julie ikut keluarga Om Hardi ke Bandung" tanya Putri lagi.


"Olahraga" jawab Arjuna. "Saat aku bosan aku berolahraga"


"Gak heran nih body Aa bagus gini, kegiatan favoritnya aja olahraga. Emangnya aku? sebulan sekali juga nggak. Duh malu-maluin nih" batin Putri.


"Kamu keren A, aku aja jarang banget olahraga" Putri menanggapi ucapan suaminya.


"Kalau kamu ga suka, cukup temani aku aja saat olahraga" Arjuna meneliti wajah isterinya yang saat ini jadi view favoritnya.

__ADS_1


"Ha..ha..ha" Putri yang tidak mengerti maksud suaminya memutuskan untuk menanggapi dengan tawaan.


"Aa tuh ngegombal atau memang ngasih jawaban biasa? Orang cerdas kadang ucapannya sulit diartikan" suara pikiran Putri.


Sepasang pengantin baru itu bertukar cerita, baik mengenai keluarga, maupun pekerjaan mereka masing-masing. Hingga kegiatan mereka terusik oleh tetesan air langit yang turun.


Arjuna menarik lengan Putri untuk masuk ke bagian Cafe di dalam.


"Kita pindah ke sini" ucap Arjuna yang menarik Putri untuk duduk di bangku dekat meja cashier.


"Ujannya bakal awet nih. Aa bawa jas hujan?" tanya Putri.


"Aku nggak bawa. Maaf" Arjuna merasa sedikit bersalah karena lupa memperhitungkan bahasa alam di Kota Hujan.


"Nggak masalah A, rumah juga deket. Kalau harus kehujanan juga tinggal mandi aja" jawab Putri yang mengetahui rasa bersalah suaminya sambil menyentuh tangan Arjuna.


Arjuna tersenyum lalu merengkuh tangan isetrinya sambil memberi elusan-elusan lembut. Sementara itu, Putri merasakan kehangatan di dalam dirinya atas perlakuan lembut Arjuna. Ia tersenyum manis dengan sedikit tersipu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Namun hujan nampak tak juga reda.


"A, udah azan. Kita salat dimana?" tanya Putri saat mendengar azan berkumandang dari mesjid sekitaran.


"Di cafe ini ada mushola. Kita salat di sini dulu aja. Semoga setelah salat hujannya reda"


"Aamiin" jawab Putri.


Arjuna dan Putri berjalan menuju mushola yang terletak di bagian samping cafe. Mereka melaksanakan salat berjamaah dengan pengunjung maupun pekerja di sana.


Selesai melaksanakan kewajiban salat magrib, hujan belum juga mereda. Arjuna dan Putri sudah duduk kembali di meja semula.


"Aku bayar dulu" Arjuna berjalan menuju petugas kasir.


"A, kita pulang aja deh. Nanti sampai rumah langsung mandi" Putri berkata ketika sang suami sudah duduk kembali di hadapannya.


"Kamu nggak apa-apa hujan-hujanan begini?" tanya Arjuna yang menyiratkan kekhawatiran kepada sang istri.


"Insha Allah nggak apa-apa. Ini juga kan hujannya besar, Insha Allah gak akan sakit asalkan langsung mandi aja setibanya di rumah nanti A" jawab Putri yang berusaha meyakinkan suaminya.


"Oke" Arjuna membuka jaketnya, lalu memakaikannya pada tubuh Putri "Pakai ini".


"Iya A, makasih" Putri tersipu malu, namun hatinya merasakan kehangatan oleh perhatian sang suami.


"Kamu tunggu dulu di sini, aku ambil motor dulu" Arjuna berlari ke arah parkiran motor. Beberapa saat kemudian ia sudah tiba di depan pintu cafe tempat Putri berdiri. Putri berlari ke arah motor, lalu bergegas naik.


Motor melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada saat berangkat tadi. Cucuran hujan membasahi mereka, dinginnya udara menyentuh bagian syaraf epidermis korpuskula krase, namun tidak mengurangi kehangatan hati seorang putri dari kurir bernama Sodiqin. Ia memeluk erat suaminya sambil tak hentinya memuji Tuhan yang telah memberikan kenikmatan melalui suami yang nyaris sempurna ini.


Mereka tiba di rumah. Arjuna berjalan ke laundry room yang terletak di samping dapur, lalu meraih sebuah handuk berwarna biru muda. Ia mulai menyeka wajah hingga seluruh tubuh Putri yang basah akibat hujan dengan menghiraukan tubuhnya yang masih kebasahan.


"Aa masih basah, sini aku keringkan dulu badan kamu" Putri hendak berjalan ke arah laundry room, namun lengannya ditahan oleh Arjuna.


"Tidak usah, kamu langsung mandi saja ke kamar. Nanti aku mandi di kamar mandi luar" jawab Arjuna sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk bekas pakai Putri tadi.


"Baik A" Putri tidak sanggup membantah suaminya karena ucapan Arjuna terdengar sangat berwibawa, seperti perintah tanpa penolakan. Namun di sana tidak ada kata-kata mengintimidasi, hanya sebuah perintah yang terbalut oleh rasa sayang.


Putri mulai membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di dalam kamar Arjuna. Setelah ia mengeringkan tubuhnya, ia teringat baju tidur berbahan satin dengan bentuk kimono berwarna pastel yang diberikan Mama Julie tadi.


"A Juna sudah baik banget sama aku. Sebaiknya aku buat dia senang dengan pakai ini" ucap Putri yang meraih kimono tersebut lalu masuk kembali ke dalam kamar mandi.



Putri masih menatap pantulan dirinya pada kaca di sana.


"Duh ini sexy banget, tapi lebih mendinglah dibanding pilihan yang lain. Ini bisa dijadikan permulaan untuk latihan menyenangkan hati suami sebelum yang lebih extreme lagi" ucap Putri pada dirinya sendiri.


Deg


Deg


Deg


"Duh deg-degan banget mau keluar kamar" kedua tangan Putri menyilang pada dada untuk memastikan suara gemuruh dalam dadanya yang semakin kencang.


Ia menarik nafas panjang kemudian perlahan berjalan keluar kamar. Pandangannya bertemu dengan Arjuna yang sedang menatap ponsel sambil duduk berselonjor dengan sandaran kepala tempat tidur. Bibirnya menampakkan seulas senyum yang membuat dada Putri semakin bergemuruh kencang.


Putri berjalan mendekati suaminya hingga duduk di tepi ranjang. Arjuna menyentuh pinggang isteri yang terduduk di sampingnya, lalu mulai menariknya untuk menaiki ranjang.


Kini, Arjuna memposisikan dirinya di atas dengan kedua tangan menjadi tumpuan. Ia mencium kening isterinya lalu turun ke hidung, kemudian bergeser ke kedua pipi dan mendarat lama di bagian bibir merah mungil milik isterinya.


Semakin lama ciumannya semakin bergairah hingga salah satu tangannya mulai menarik tali pengikat kimono, hingga tampak dua bagian underware yang masih melekat pada tubuh Putri. Tangannya terus menyentuh area sensitif di bagian atas tubuhnya, lalu turun ke paha dan berakhir pada bagian yang terdapat hymen. Konon hymen atau selaput dara ini menjadi bagian terpenting dari sebuah kejadian pasca pernikahan atau malam pertama.


Arjuna menyentuh bagian vital itu dari luar celana dalam isterinya, namun kegiatannya terhenti saat ia merasakan kejanggalan di sana. Kepalanya naik sejajar dengan wajah Putri, keningnya berkerut seakan menyiratkan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


"Hmmm.. Aa maaf itu pembalut soalnya aku tadi datang bulan" ucap Putri sambil tersenyum getir.


Bersambung,


__ADS_2