Putri Kurir

Putri Kurir
57


__ADS_3

Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Putri memutuskan untuk tidur dengan Hani di kamar tamu. Ia merasa sungkan untuk tidur di tempat pria yang baru berstatus calon suami ini selagi masih ada kamar lain yang bisa ia tiduri.


Pukul 3 sore, mereka sudah tiba lagi di kondo Arjuna setelah berkunjung dari Marina Bay Sands.


"Gaes, inget hanya satu jam waktu kita berkemas! Sebelum jam 5 kita harus check in bandara" Putri mengingatkan kembali teman-temannya.


"Put, lo kan udah diizinin ke kamar Arjuna, untuk mempersingkat waktu lo mandi di kamar mandi dalam kamar tidur dia aja" usul Vera yang kali ini masih bisa Putri benarkan.


"Iya juga sih, cuma numpang mandi doang ya" jawab Putri tanda menyetujui usul Vera.


Putri meraih pakaian gantinya, kemudian dengan sedikit keraguan ia menekan tombol password yang ada di kamar tidur utama, hingga lampu hijau telihat pada handle sebagai tanda bahwa pintu sudah bisa dibuka.


ceklek


Perlahan Putri membuka pintu kamar Arjuna.



Kamar itu nampak paling luas dibandingkan kamar lainnya, selain itu kamar tidur ini juga sangat rapi dengan desain maskulin yang didominasi oleh warna earth tone memberikan kesan mewah namun minimalis.


"Wah bagus banget!" Putri terkagum dengan kamar pribadi Arjuna. Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar laki-laki kecuali Bika dan sepupunya.


Putri segera menyudahi kegiatan mengagumi kamar ini, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, ia mulai menanggalkan pakaiannya kemudian digantungkan pada hanger yang tersedia.



Ia melihat berjajar perawatan mandi calon suaminya itu, lalu meraih sebuah botol yang bertuliskan shower gel, kemudian dibukanya tutup botok itu dan mulai menciumi aroma fresh dan maskulin dari dalam sana.


"Wanginya! Apa ini aroma tubuh Arjuna ya? Duh selama ini aku gak pernah menyadari khas aroma tubuh dia?" Putri mulai berpikir ke arah pikiran dewasa, kemudian ia segera menepisnya dengan menyalakan shower dan mulai membersihkan tubuhnya.


Setelah Putri berpakaian di dalam kamar mandi, gadis itu keluar kamar dengan rambut basah yang tergelung handuk. Kemudian ia duduk di salah satu kursi panjang dan mulai mengoleskan body lotion di beberapa area tubuhnya.


Saat Putri akan berdiri, perhatiannya tertuju salah satu figura yang tersimpan di lemari dinding. Ia berjalan untuk melihat dengan jelas. Figura itu berisi sebuah foto keluarga yang berlatar belakang Liberty Statue. Terlihat Arjuna dan Yudhistira saat masih remaja, Arjuna memang sangat mirip dengan ayahnya walau mewarisi mata cokelat sang Mama.


Hati Putri terenyuh saat melihat senyum Yudhistira. Jarinya mengusap wajah pada foto itu dan secara tak diundang, air matanya metes turun.


"Maafkan aku Yudhis" suara Putri lirih.

__ADS_1


Setelah beberapa saat memandangi foto pada figura itu, Putri meletakkannya kembali di tempat semula seraya berkata "Terima kasih atas segalanya, aku akan bahagia" sampai ia melangkah keluar kamar dan menutup kembali pintu kamar Arjuna.


"Gaes udah siap kah? pastikan ga ada yang ketinggalan ya! Paspor, ponsel, dompet, dan bawaan lainnya!" Hani berteriak mondar-mandir diantara dua kamar yang ditempati teman-temannya.


......................


"On behalf of The Airlines and the entire crew, I’d like to thank you for joining us on this trip. We are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day!"


"Alhamdulillah kita sampai juga" ucap Putri saat pintu pesawat di buka.


Terlihat beberapa penumpang sedang berbaris menuju pintu keluar yang dibuka. Putri memilih duduk di bangku untuk menunggu antrean keluar telah terurai.


"I love my country! Sebelum balik kita cari nasi dulu yuk" ajak Jihan pada teman-temannya.


"Yaelah baru juga nyampe otak lo mah udah makan mulu!" respon Vera yang menanggapi temannya.


"Gak apa-apa dong Ver. Sopir lo udah dateng belum?" tanya Jihan yang memang berniat untuk makan dulu di Bandara.


"Kayaknya belum sih, lo pada mau makan dulu di sini?" tanya Vera pada ketiga sahabatnya.


Mereka makan malam sambil berbincang di sebuah restoran cepat saji yang menyediakan makanan ala Jepang.


"Lo udah punya pilihan sekarang?" tanya Jihan pada Putri.


"Iya, gw udah menentukan pilihan. Insha Alloh gw yakin sama pilihan gw ini. Mungkin besok gw bakal bilang sama ibu" jawab Putri yang mendapat anggukkan dari ke dua teman yang lain.


"Mang Icang udah nyampe gaes, yuk kita cabut" ucap Vera yang mengajak sahabat-sahabatnya untuk segera bersiap menuju lokasi sopirnya menunggu.


......................


Keesokan harinya Putri merasa sangat lelah. Tidur malamnya terasa sangat singkat. Terlihat kantung mata menghiasi wajahnya pagi ini. Rasanya ingin sekali untuk tidak masuk kerja hari ini, namun ia tidak enak pada Pak Dadang yang sudah mengizinkannya mengambil cuti mendadak selama tiga hari. Sebagai seorang mantan HR pun, Putri merasa tetap harus menjadi role model yang baik untuk para karyawan.


Seperti biasa, pagi hari di kantor adalah waktu yang paling sibuk bagi Putri. Terlebih setelah ia meninggalkan pekerjaan selama tiga hari kemarin. Kesibukannya terus berlanjut hingga ia baru sempat makan siang pada pukul 4 sore.


Saat ia sedang meregangkan tubuhnya di kursi kerja, Pak Dadang menghampirinya.


"Mbak Putri, saya dapat instruksi dari GM. Hari senin nanti ikut program lisensi trainer operasional ya" Pa Dadang membaca dari ponselnya.

__ADS_1


"Saya didaftarkan untuk jadi trainer operasional Pak? Berapa lama program lisensinya Pak?" tanya Putri.


"Satu setengah bulan" jawab Pak Dadang.


"Satu setengah bulan Pak?" Putri yang terkejut secara spontan mengulangi ucapan Pak Dadang barusan, ia berharap tadi hanya salah mendengar.


"Iya, kamu bersiap-siap ya. Dua minggu sekali bisa pulang" selesai berucap, Pak Dadang langsung masuk ke ruang admin opersional di samping meja Putri.


"Ya Tuhan, hari Minggu aku mau nikah dan besoknya langsung ikut linsensi 1,5 bulan. Suamiku nanti nerima ga ya?" Putri tidak sepenuhnya menyalahkan Pak Dadang, karena ia belum berencana memberitahukan rekan-rekan kerjanya. Putri dan Ibu sepakat untuk pernikahannya Minggu ini dihadiri keluarga, kerabat dekat, serta tetangga dulu. Undangan lain akan disebar saat resepsi pernikahan nanti.


......................


Tok tok tok


"Assalamua'alaikum" ucap Putri dari luar pintu rumah.


"Wa'alaikumsalam" Ibu menjawab, lalu membuka pintu rumah.


Putri masuk lalu mencium tangan ibunya.


"Teh, jadi siapa suami pilihan kamu?" Ibu langsung bertanya saat itu juga.


"Bismillah" Putri memejamkan mata sejenak, lalu menarik nafas panjang dan berkata "Teteh pilih A Juna Bu".


"Baik, Ibu akan kasih kabar ke Mang Iyus. Nanti mamang kamu yang bakal urus keperluan akad nikahnya, kebetulan Mang Toyib temannya Mang Iyus kan kerja di KUA sini" ucap Ibu sambil mengusap pipi putrinya.


"Sini duduk dulu, ibu mau bicara sebentar" Ibu menarik Putri untuk duduk di sofa.


"Iya Bu" jawan Putri yang mematuhi Ibu.


"Kamu kalau udah nikah mau tetap kerja apa ikut suami kamu?" tanya Ibu yang menatap anak sulungnya.


"Sementara masih kerja dulu Bu, nanti kalau suami aku minta berenti atau kondisinya udah nggak memungkinkan kerja, baru Teteh berhenti" jawab Putri.


"Jangan! Pokoknya kamu nggak boleh berhenti kerja! Itu buat jadi uang pegangan kamu sendiri, jadi gak usah apa-apa bergantung sama suami kamu. Gak usah terlalu layanin dia nanti malah jadi kebiasaan, lama kelamaan malah kamu yang repot. Nurut ya sama Ibu pokoknya jangan terlalu patuh sama suami" ucap Ibu, sementara Putri tak habis pikir apakah memang harus mematuhi segala ucapan ibunya ini?


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2