Putri Kurir

Putri Kurir
26


__ADS_3

"Ih modus kamu mah" Putri berucap sambil memancungkan bibirnya sekilas ke depan.


"Ha..ha..ha.. kan tidur di kamar tamu Put. Lagian kamu juga udah bawa ransel kayak gitu. Di rumah juga ada Mama sama A Juna" ucap Yudhis masih dengan ekspresi cengengesannya.


"A Juna teh Kakak kamu?" tanya Putri.


"Iya, dia lagi ambil cuti sampai hari Jumat ini atas permintaan Mama" Ucap Yudhis masih sambil menyetir dengan tatapan fokus ke arah depan.


"Emang Aa kamu kerja di mana?" tanya Putri kembali.


"Di Singapore. Dia Jumat nanti mau dikenalin sama anak teman Mama".


"Oh, emang beda berapa taun sama kamu?" tanya Putri lagi.


"Dua tahun" jawab Yudhis singkat.


"Kamu nggak dijodohin juga?" tanya Putri sambil melirik ke arah Yudhis.


"Nggaklah aku sih beda, walau status single tapi aku udah punya calon target. Kalau Aa sih setahu aku cuma fokus sama kerjaannya. Dulu terakhir punya cewek jaman SMA. Kuliah di luar negeri dari S1 sampe S3 aja ga pernah ada cerita deket sama cewek lagi sampai sekarang" cerita Yudhis.


"Baguslah kalau kamu udah punya calon, aku doain semoga bisa kesampaian ya harapan kamu itu" ucap Putri sambil tersenyum manis ke arah Yudhis.


"Aamiin" jawab Yudhis sambil menolah ke arah Putri.


Tak terasa mereka berbincang dalam perjalanan, hingga tiba di depan pagar sebuah rumah yang mewah bergaya minimalis. Yudhis memang tinggal di sebuah perumahan elite di kota hujan. Almarhum Papanya adalah seorang mantan pejabat di perusahaan minyak asing dan meninggal saat Yudhis baru masuk kuliah S1 di UI. Sedangkan Mamanya adalah seorang notaris.



"Ya ampun koq aku deg-degan kaya mau ketemu calon mertua aja" gumam Putri dalam hati.


Putri turun dari mobil Yudhis yang terparkir di depan rumah. Kemudian ia berjalan mengekori Yudhis dibelakang.


"Kita lewat pintu belakang aja ya biar langsung masuk" tanya Yudhis yang dijawab anggukan oleh Putri.


Mereka masuk lewat pintu belakang yang menghubungkan antara bagasi dengan dapur yang terlihat sangat bersih. Diantara kedua ruangan itu, terdapat ruang kecil yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai macam sepatu, payung, serta jas hujan yang tertata rapih dalam sebuah rak.


Yudhis meletakkan sepatunya pada salah satu bagian rak yang kosong, Putri pun mengikutinya lalu menyimpan sepatu miliknya di tempat yang kosong juga. Setelah menyimpan sepatu, mereka berganti dengan sandal rumah yang tersedia di sana. Sandal itu tertata rapih di dalam rak yang lebih kecil dan tertutup oleh kaca bening bersih.


Putri berjalan masuk mengikuti Yudhis, lalu tiba-tiba ia sangat terkejut melihat di salah sudut ruang keluarga ada seorang pria yang sedang melakukan work out dengan bertelanjang dada.



Jantung Putri serasa copot waktu pertama kali melihatnya. Ia sebisa mungkin bersikap biasa seakan tidak melihat apa-apa, tapi sepertinya Yudhis menyadari reaksi Putri yang sangat terlihat jelas dari rona pipinya dan ekspresi kagetnya tadi.


"A, pake baju sana. Ada anak perawan nih yang gak biasa liat gituan" ucap Yudhis sambil menunjuk ke arah dada pria yang tidak ditutup sehelai benang pun itu.

__ADS_1


"Bertamu malam-malam?" jawab Pria itu yang menghentikan aktifitasnya kemudian berjalan menaiki tangga dengan menggelengkan kepala perlahan sambil melirik dan tersenyum sinis ke arah Putri.


"Duh aku malah jadi nggak enak ganggu Aa kamu. Dia jadi ngerasa keganggu kan?" ucap Putri kepada Yudhis dengan wajah yang sangat terlihat tidak enak hati pada penghuni rumah.


"Udah biarin, Aa memang irit kalau ngomong. Nanti juga dia nerusin yoganya di kamar" ucap Yudhis yang menenangkan Putri.


"Iya" jawab Putri.


"Kamu duduk dulu aja nanti aku panggilin Mama. Oh ya mau minum apa?" tanya Yudhis


" Air putih aja" jawab Putri sambil duduk di sofa nyaman ruang keluarga.


"Oke" ucap Yudhis sambil berlalu ke arah kanan dari ruang keluarga.


"Eh ada tamu, apa kabar sayang?" tanya seorang wanita yang terlihat sudah berusia diatas 50 tahun, namun tetap terlihat cantik diusianya berjalan ke arah Putri.



"Alhamdulillah baik Mama. Mama sehat?" jawab Putri sambil berdiri kemudian berjalan mendekati Mama Yudhis dan mencium tangannya.


"Alhamdulillah, baik sayang. Kamu sudah makan malam?" tanya Mama sambil tersenyum.


"Belum Ma" jawab Yudhis sambil membawakan air dalam pitcher yang berisi air putih dan dua buah gelas kaca tinggi.


"Kalian makan dulu yuk, tadi Mama yang masak karena kalau A Juna pulang pasti nagih masakan Mama" ucap mama yang terlalu tersenyum ramah.


Putri sangat tersentuh dengan sikap ramah Mama Yudhis, walau ini pertemuan langsung pertamanya namun rasanya ia seperti sudah akrab.


"Maaf mama gak bisa temani kalian makan malam karena ada beberapa berkas yang harus mama periksa dan selesaikan segera. Putri jangan sungkan di rumah ini ya sayang" ucap Mama dengan tersenyum.


"Iya Mama" jawab Putri yang terbawa suasana dengan memberikan senyum termanisnya saat ini.


"Mama permisi dulu" kemudian Mama pergi ke arah kanan ruang disebelah kanan ruang keluarga tadi yang sepertinya adalah ruang kerja Mama.


"Kita makan dulu aja, habis itu kita bahas urusan kantor, lalu kamu selesaikan tugas kuliah ya" ucap Yudhis yang terdengar sebagai sebuah instruksi di telinga Putri.


"Baik bos" jawab Putri sambil bergaya hormat mengarah pada Yudhis.


Mereka makan berdua dengan khusyu karena waktu sudah menunjukan lewat dari jam makan malam biasanya.


Selesai makan, Putri membantu Yudhis merapihkan meja makan kemudian pergi ke dapur untuk mencuci alat makannya.


"Udah sini aku aja yang nyuci, kamu kan tamu" ucap Yudhis pada Putri.


"Kepalang aku ajalah, sekalian nyuci tangan" jawab Putri yang kemudian meneruskan pembicaraan dengan pertanyaan "rumah sebesar ini gak ada pembantu Yud?"

__ADS_1


"Ada tiga pembantu di sini, tapi Mama punya aturan jam kerja buat mereka sampai jam 7 malam aja, sisanya ya mereka istirahat. Kecuali ada waktu-waktu khusus misalkan ada acara jamuan ya mereka ikutan lembur. Mama biasain anak-anaknya untuk mandiri dan tidak membedakan hak mereka seperti hak pegawai pada umumnya" ucap Yudhis yang makin membuat Putri kagum dengan keluarganya.


"Luar biasa ya orang tua kamu. Makanya anak-anaknya juga pada sukses kayak sekarang. Oh ya kamu mirip sama Mama, kalau Aa kamu mirip Papa ya? tanya Putri sambil tetap menatap ke arah cuciannya.


"Iyap betul banget kalau aku mirip Mama yang blasteran dan Aa mirip Papa yang asli sunda Bandung" jawab Yudhis dengan gaya bahagia setelah berhasil menjawab Quiz.


Setelah selesai dengan urusan cuci piring di dapur, Yudhis mengajak Putri untuk berdiskusi di ruang keluarga samping kolam renang.



"Ya ampun enak banget ada kolam keren gini di rumah. Pantes aja kamu nyebur tiap hari" ucap Putri pada Yudhis.


"Kamu mau renang? nanti aku pinjemin baju renang Mama" tawar Yudhis


"Nggak sekaranglah, udah lanjut ke tujuan utama kita ketemu sekarang" Putri duduk pada kursi berwarna coklat kayu dengan bantalan yang empuk, lalu Yudhis duduk di sisi kirinya.


"Coba kamu jelaskan strategi investigasi ke operasional nanti?" perintah Yudhis yang seketika aura leadernya terpancar, seolah Yudhis yang santai dan friendly hilang seketika.


"Jadi aku dan teamku memang kecolongan karena kami baru ngeh hari ini, setelah kemarin aku ngobrol sama korwil Ali di Rumah Sakit. Jadi Ardy karyawan yang kecelakaan kemarin adalah salah satu impact dari masalah sistem di operasional. Dia mengalami microsleep saat ngurir motor" ucap Putri


"Ya lanjutkan" pinta Yudhis kepada Putri untuk melanjutkan pembicaraan.


"Setelah tadi aku cek data shifting dan rekapitulasi absensi karyawan posisi kurir hampir 75% nggak sinkron datanya. Aku rencananya selama satu minggu ini mau nongkrongin anak inbound untuk cek langsung dimana letak missednya. Untuk itu rencananya besok aku mau diskusi dengan Pak Dadang perihal rencana ini" ucap Putri dengan yakin akan rencananya.


"Kamu yakin kalau langkah kamu ini udah tepat? Apakah kamu udah prediksi faktor-aktor resiko dari tindakan kamu nanti?" tanya Yudhis yang menatap Putri tajam seolah menagih penjelasan lebih.


"Aku cuma ragu kalau hasil dari investigasi aku ini bisa diterima sama anak inbound" ucap Putri sambil mengatupkan bibirnya lalu memandang Yudhis seolah meminta petunjuk.


"Tepat sekali, makanya kamu harus lebih cerdas dalam memprediksi perilaku mereka. Sebagai seorang leader kamu harus memiliki sense of crisis. Gak ada langkah yang tanpa resiko, tapi kita bisa meminimalisirnya dengan perencanaan yang tepat. Apa saja yang akan kamu bawa saat mengajukan kasus ini ke Kepala Cabang?" tanya Yudhis masih dengan tatapan seriusnya.


"Data absensi, shifting, dan laporan piket" jawab Putri.


"Data berupa apa?" tanya Yudhis kembali.


"Ya excelannya aku email ke Pak Dadang"


"Are u sure?" pertanyaan Yudhis kali ini seakan mematikan rasa percaya diri Putri akan rencananya.


"Yes, I am" jawab Putri dengan suara rendah.


"Apa kamu yakin dengan begitu Pak Dadang akan memiliki persepsi yang sama dengan kamu saat membaca lampiran-lampiran tersebut?"


Deg


Putri baru memahami maksud Yudhis ini.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2