Putri Kurir

Putri Kurir
58


__ADS_3

Putri tidak sepenuhnya menerima perintah Ibu, tapi demi menjaga perasaan ibunya ia bersedia untuk diam dan mendengarkan semua sampai selesai. Urusan dilakukan atau tidak, itu menjadi keputusan Putri nanti.


Putri merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan satu tangan menggenggam ponselnya. Ia kemudian membuka aplikasi pencarian terpopuler. Sesaaat ia terdiam lalu mengetik sebuah keyword Kewajiban dan hak seorang isteri. Hasil pencarian tersebut menampilkan beberapa hasil dengan kesimpulan adalah seorang isteri wajib mematuhi suaminya, kecuali untuk hal yang melanggar syariat.


Tidak sampai situ, ia beralih ke aplikasi "Y" yang menampilkan video-video tausiah maupun konsultasi pernikahan. Jawaban yang ia dapat adalah sama.


"Dasar ucapan Ibu tadi apa? Jikalau itu hasil dari sebuah pengalaman, apakah itu semua berasal dari asumsi pribadi semata?" Putri masih saja terpikirkan akan ucapan ibunya yang memang tidak sesuai dengan teorinya. Ia merasa membutuhkan seorang yang bisa membimbing namun berdasarkan teori bukan hanya asumsi atau perasaan semata.


Lelah memikirkannya, ia pun terpejam dan mulai memasuki alam mimpinya.


......................


Sinar pagi sudah memasuki celah-celah rumah dan menyeruak masuk bersamaan udara segar kaya oksigen. Saat jendela rumah dibuka, sang sinar dan kesejukan seakan menghantam tubuh gadis yang sedang membersihkan kusen jendela. Hari ini adalah hari penting baginya, karena hari ini ia akan menyampaikan pilihan imam dunia akhiratnya di hadapan keluarga.


"Teh tamunya datang habis zuhur kan? Tolong WA teh Euis kalau mie glosor bala-balanya diantar jam11 aja" perintah Ibu pada Putri.


"Iya Bu" jawab Putri yang menegakkan sapu pada dinding, kemudian berjalan menuju kamar untuk mengambil ponselnya.


Setelah Putri melakukan perintah ibunya, ia letakkan kembali ponsel di atas meja rias, lalu berbalik menuju pintu. Namun tiba-tiba terdengar sesuatu yang jatuh dari arah belakang.


Pluk


Putri menoleh ke belakang dan dilihatnya sebuket bunga mawar putih yang telah layu yang terjatuh. Ia mendekat lalu berjongkok meraih buket bunga. Buket itu masih dipegangnya dan ditatap dengan lekat.


Sesaat Putri teringat pada kejadian beberapa minggu lalu, saat Yudhistira datang dan mengutarakan rasa cintanya sambil membawa bunga ini.


"Yudhis apakah kebahagiaan ini yang kau maksud? kebahagiaanku yang bukan bersama denganmu" matanya terpejam dan pandangannya mengarah ke langit-langit, seolah posisinya ini mencegah tetesan yang akan turun dari kedua matanya.


"Maafkan aku Yudhistira, mungkin hari ini adalah hari terakhirku boleh mencintaimu. Besok aku harus menepikan rasa ini dan berjalan melangkah dengan cinta baruku" kali ini Putri tak bisa lagi membendung tangisnya.


Tok tok tok


"Teh, ada keluarga Mang Iyus" suara Ibu dari luar kamar.


Putri segera menyeka air matanya dengan kedua tangan.


"Iya Bu sakedap" ucap Putri yang berdiri lalu menaruh buket itu di tempat semula.

__ADS_1


*) Sakedap artinya sebentar


......................


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, Mang Iyus yang mewakili keluarga Bapak sudah berada di rumah orang tua Putri. Hari ini Bi Yati tidak bisa hadir karena sedang menemani Echa yang sedang sakit, ia berjanji akan hadir pada esok harinya yakni akad nikah keponakannya.


Satu jam kemudian, datanglah Arjuna yang mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan celana coklat susu menambah tampilannya yang berwibawa. Selang lima menit kemudian Aldi pun tiba.


Mang Iyus menerima keduanya, lalu memberikan wejangannya mengenai ketentuan jodoh.


"Siapa pun yang dipilih oleh Neng Putri, itu semua sudah takdir Allah SWT, mamang harap yang tidak terpilih nanti bisa berlapang dada dan tetap menjalin silaturahmi dengan kami" ucap Mang Iyus yang dijawab anggukan dari keduanya.


"Iya Mang" jawab Arjuna dan Aldi.


"Sok, mangga sekarang Neng Putri yang menyampaikan" Mang Iyus mempersilakan Putri untuk berbicara.


Putri membaca basamalah sebelum berkata "Terima kasih atas maksud dan niat baik dari Mas Aldi dan A Juna. Keputusan ini Putri ambil dengan beberapa pertimbangan dan di kuatkan dengan istikharah" Putri terdiam sesaat dan menunduk. Entah mengapa saat ini ia merasa bayangan Yudhis yang tersenyum tampan terasa melintas dipikirannya.


"Putri memilih A Juna" ucap Putri sambil menatap ke arah kedua pria di sofa depannya.


Arjuna tersenyum simpul, namun terlihat jelas raut kebahagiaan di sana. Sementara Aldi hanya mengangguk dan tersenyum kecut di sampingnya. Namun dengan kelapangan hatinya Aldi memeluk Arjuna seraya mengucapkan selamat.


"Mas Al, maafkan aku" ucap Putri saat mengantarkan Aldi.


"Kita memang tidak berjodoh. Semoga kamu bahagia" Aldi hendak mengelus pipi kiri Putri, namun tangannya di tahan oleh sebuah tangan kekar.


"Jangan sentuh calon isteriku!" tegas Arjuna dengan sorot mata elangnya.


"Sorry bro" Aldi menarik lengannya kembali dan berkata "Semoga kalian berbahagia, bye Putri" Aldi tersenyum dan melambaikan tangannya, kemudian berjalan pergi.


"Ayo Putri, kita ke dalam lagi" ucap Arjuna pada Putri.


Mereka pun duduk kembali di sofa ruang tamu.


"Juna, sekarang bisa ikut Mamang ke rumah Mang Toyib ya, dia teman Mamang yang kerja di KUA. Kebetulan dari kemarin memang sudah diurus, tapi beberapa berkas administrasi perlu kamu tanda tangani" ucap Mang Iyus.


"Siap Mang" jawab Arjuna.

__ADS_1


"Mang Toyib bilang, besok penghulu bisa ke sini jam 7 pagi. Jadi Neng tolong di info ke pengurus mesjid di sini ya" pinta Mang Iyus pada Putri.


"Iya Mang" jawab Putri.


"Yuk Jang, kita berangkat sekarang!" ajak Mang Iyus pada Arjuna. Kemudian mereka berpamitan kepada Ibu dan beberapa keluarga yang sedang di rumah.


*) Jang adalah panggilan Sunda untuk anak laki-laki, kalau bahasa indonesianya Nak.


Ibu menyuruh Bika untuk mendatangi pengurus mesjid yang akan menjadi tempat Ijab qabul Putri nanti.


Nini yang sudah berusia 70 tahun, sedang duduk berselonjor di ruang tamu. Nini adalah nenek Putri dari Ibu.


"Neng, kadieu sakedap" ucap Nini pada Putri


*) kesini sebentar


"Muhun Ni" jawab Putri yang telah selesai mencuci piring.


*) Baik Nek


"Teu karaosnya incu Nini teh bade nikah enjing" Nini mengelus sayang pucuk kepala Putri.


*) Tak terasa yang cucu nenek ini akan menikah besok


"Janten isteri mah kedah matuh ka caroge, ulah ngabentakan salaki, ceuk Apana Nini mah bisi pupusna hese"


*) Jadi isteri itu harus nurut sama suami, jangan membentak pada suami, nanti meninggalnya susah


"Muhun Ni, insha Alloh Neng matuh ka caroge" jawab Putri.


"Alhamdulillah, kedah sieun ka Gusti Alloh. Sanajan salaki kumaha ge da urang mah kedah **** janji urang janten isteri teh janji ka Alloh. Kedah sabar, ulah seueur pangarep ka salaki. Ngarep kabungahan mah nyaeta ngarep ti Gusti Alloh ya geulis. Nini bade ka kamar siram Neng, bantos Nini tatih nya"


*) Harus takut pada Allah. Meskipun suami bersikap bagaimana juga kita harus ingat janji dengan Allah. Harus sabar, jangan banyak berhara pada suami. Mengharap kebahagiaan itu dari sisi Allah ya cantik. Nini mau ke kamar mandi, tolong bantu Nini berdiri.


Putri menawarkan diri untuk mengantarkan Nini ke kamar mandi, namun Nini menolaknya dan memilih untuk ke sana sendiri.


Putri melanjutkan kegiatan bersih-bersih rumah, pikirannya masih teringat nasehat-nasehat Nini tadi.

__ADS_1


"Terima kasih Ya Alloh, Engkau telah memberikan jawabannya melalui Nini"


Bersambung,


__ADS_2