
Putri dan Cindy sudah tiba di gedung tempat WO Christy.
"Put, lo pake WO yang ngetop itu ya?" tanya Cindy sambil berjalan mengikuti Putri.
"Iya, ownernya teman kuliah Yudhis" jelas Putri.
Kini mereka sudah tiba di depan pintu masuk kantor WO Christy.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang karyawan yang wajahnya berbeda dengan yang terakhir Putri lihat.
"Saya ada janji dengan Ibu Christy" ucap Putri.
"Oh dengan Ibu Putri? silahkan bu saya antar ke dalam" ucap karyawan itu sambil mengantar Putri ke dalam ruang Christy, sementara Cindy menunggu di front office.
"Hi Putri. Aku turut berduka cita, mohon maaf dalam kondisi ini, aku malah memintamu datang" ucap Christy sambil menunjukan simpatiknya.
"Ini semua sudah menjadi Kehendak-Nya, aku berusaha untuk mengikhlaskan itu. Terima kasih" jawab Putri menanggapi Christy.
"Kau terlihat jauh lebih tegar dibandingkan dugaanku. Aku juga sebenarnya ingin menunda pertemuan kita ini, namun seharusnya hari pernikahan kalian sudah tinggal 10 hari lagi. Jadi, mau tidak mau aku harus membahasnya denganmu" ucap Christy sambil menatap Putri dengan sayu.
"Aku paham Christy, silahkan lanjutkan" ujar Putri yang mempersilahkan Christy untuk melanjutkan pembicaraannya.
"Yudhis sudah melakukan pembayaran 80% dari total yang disepakati. Beberapa persiapan vendor juga sudah dilakukan, seperti pemesanan berbagai keperluan, maupun perakitan keperluan dekor dan lainnya. Maka dari itu, mohon maaf aku tak bisa mengembalikan semua yang memang prosesnya telah berjalan di vendor" Christy berhenti sejenak kemudian melanjutkan ucapannya lagi.
"Vendor tidak mau ada pemebatalan pemesanan yang sudah siap. Hasil negosiasi timku hanya tembus 30% yang bisa dikembalikan oleh para vendor. Maka dari itu, aku menawarkan solusi kepadamu. Vendor bersedia jika acara diundur maksimal dalam 3 bulan kedepan. Kamu bisa menawarkan dulu kepada teman, keluarga, atau orang lain yang memang akan melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat. Begitu juga dengan aku yang akan menawarkan konsep kalian, kepada klienku yang akan menikah dalam 3bulan ke depan. Kau tak perlu membayar jasa WO kami, cukup bayar para vendor saja" Ucap Christy dengan dengan kecil dibibirnya.
"Tak perlu seperti itu Christy" tolak Putri.
"Tidak, Yudhis teman baikku. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu kalian. Tolong jangan ditolak" ucap Christy.
"Baik, aku mohon bantuanmu untuk menunda hingga 3 bulan. Aku juga akan membicarakan hal ini dengan keluarga Yudhis" jawab Putri yang memang berfikir ini adalah solusi terbaik untuk saat ini.
Sebenarnya Putri sudah enggan memikirkan hal lain. Hati dan pikirannya masih diliputi kekalutan. Sebaik apapun Putri menampilkan rupanya di depan orang lain, tapi hatinya tidak searah dengan tampilan tegarnya itu.
__ADS_1
Ia sudah lelah menghadapi hujatan orang dikantornya. Selain itu, ia juga lelah menghadapi ibunya yang makin dekat hari pernikahannya malah menyuruhnya untuk cepat dapat pengganti Yudhis. Ibu yang sudah merasa malu karena sudah menggembar-gemborkan calon menantu idamannya. Ia sudah kepalang berjanji kepada keluarga dan teman-temannya untuk memberikan seragam terbaik dipernikahan Putri.
Putri telah berusaha mengingatkan kepada Ibu bahwa ini adalah musibah, siapa pun pasti tak mau mengalaminya. Namun Ibu tak mau mengerti. Bahkan Bika juga memilih untuk diam dan menegarkan Putri. Ia juga enggan untuk menasehati Ibu.
"Aku doakan semoga 3 bulan ini bisa terlalui dengan baik tanpa ada kerugian" ucap Christy
"Aku berharap juga begitu" jawab Putri.
"Ada lagi yang bisa aku bantu?" tawar Christy.
"Tidak ada. sudah cukup. Baik Christy, aku permisi dulu. Selamat malam" ucap Putri sambil tersenyum kecil.
"Selamat malam, hati-hati dijalan" ucap Christy dan mereka bersalaman.
Putri dan Cindy berjalan menuju luar gedung.
"Putri kamu nggak apa-apa?" tanga Cindy melihat wajah pucat temannya.
"Kita makan malam dulu ya" ajak Cindy yang merasa khawatir.
"Ga nafsu Mbak" jawab Putri.
"Lah jangan gitu, paksain makan ya" paksa Cindy sambil menarik lengan atas Putri.
Akhirnya mereka memutuskan makan di warung tenda yang menjual aneka nasi goreng. Warung itu terletak di seberang gedung.
Tak banyak yang mereka bicarakan. Cindy yang memahami Putri, tidak memaksanya untuk bercerita. Ia hanya memastikan teman kerjanya itu makan malam dengan baik.
Cindy dijemput pulang oleh pacarnya yang bernama Rendy. Cindy meminta Rendy untuk mengantarkan Putri pulang terlebih dahulu, kebetulan ia memang sedang membawa mobil.
"Bye Mbak Cindy, Mas Rendy makasih banyak ya" ucap Putri sebelum turun dari mobil.
"Sama-sama Putri, Bye" ucap Cindy, sementara Rendy mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Mobil Rendy pun berlalu di depan gang rumah Putri. Saat Putri akan masuk gang, terlihat seorang lelaki mengenakan jaket hoodie hitam terduduk di samping pohon besar.
"Astagfirullah" ucap Putri yang terkejut karena seorang itu berdiri disaat dia lewat didepannya.
" Putri" ucap seorang dibalik hoodie.
"Eh" jawab Putri yang mundur beberapa langkah karena terkejut.
"Ngapain kamu ke sini?! Aku sudah bilang kalau hubungan kita sudah berakhir!" ucap Putri pada pria hoodie tersebut.
"Kita belum membicarakan ini dengan baik Putri. Tolonglah ikut aku dulu!"Pria berhoodie yang mulai nampak memunculkan wajahnya itu menarik tangan Putri untuk masuk ke dalam mobil mazda putihnya.
"Aldi jangan nekat! Turunkan aku!" Putri sedikit berteriak saat mobil terkunci central.
"Putri aku tidak akan melakukan hal buruk padamu! Tenanglah!" ucap Aldi dengan suara keras.
Putri pun terdiam dengan nafas yang masih berburu.
"Baik, bicaralah sekarang! Aku tak punya banyak waktu untukmu" jawab Putri dengan ketus.
"Aku punya masa kecil yang sangat sulit. Ayahku tak pernah mencintai Ibu. Ia menikah karena paksaan orang tuanya. Ayah berselingkuh dengan pacarnya dulu. Ibu yang mengetahuinya kemudian membalas perbuatan Ayah. Ibu berselingkuh dengan banyak pria, Ayah yang mengetahuinya malah membiarkan Ibu" Aldi terdiam sejenak menegakkan kembali posisi duduknya kemudian meneruskan kembali kisahnya.
"Ibu yang kesal kemudian mengajukan perceraian. Namun, kedua eyangku melarangnya dan mengancam akan mengeluarkan Ibu dari daftar keluarga apabila menceraikan Ayah. Keluarga besar tidak mau menanggung malu dari sebuah perceraian. Ibu yang kesal selalu melampiaskan semuanya padaku. Aku yang masih duduk di bangku TK selalu dipukulinya, tak diberi makan hingga 2 hari. Aku saat kecil sering keluar masuk rumah sakit. Bahkan aku sudah terkena gastritis akut saat kelas 2 SD. Keadaan terus memburuk hingga aku SMA. Disana aku terjerumus dalam pergaulan yang salah" ucap Aldi yang menundukan pandangan pada setir dihadapannya.
Putri merasa terenyuh mendengar cerita Aldi.
"Lalu kamu yang sekarang bagaimana?" tanya Putri.
"Aku memang belum bisa seluruhnya menghilangkan kebiasaan burukku. Aku mulai tidak mabuk-mabukan, balapan liar, tapi untuk sex aku belum bisa. Namun, sejak kehilanganmu membuatku lebih gila dari itu! membuatku dengan mudah lebih menginginkan kehadiranmu dari pada kesenangan sesaat itu. Maukah kau memberiku kesempatan kedua?" Pinta Aldi yang menatap Putri dengan lekat.
Putri memalingkan wajahnya ke depan lalu berkata "Aku akan pertimbangkan".
Bersambung,
__ADS_1