
“Sepertinya keputusan saya harus memutasikan kamu sudah tepat” Ucap Pak Dadang datar tapi cukup membuat Putri sangat terkejut.
Deg
"Ya Tuhan apa salah hambamu sampai harus dimutasikan disaat baru masuk beberapa bulan" batin Putri dengan risau.
"Kamu saya mutasikan mulai minggu depan ke posisi Staf HRD menggantikan Yunita" Ucap Pak Dadang.
"Bu Yunita akan mutasi juga Pak?" Tanya balik Putri kepada Sang Pimpinan.
"Nggak, Yunita akan resign dua minggu lagi. Mulai Senin kamu akan menerima handover pekerjaan Yunita dan minggu depannya lagi, kamu akan on job training di HRD pusat. Teknisnya, nanti kamu bisa tanyakan sama Yunita." Pak Dadang seperti paham bahwa ada banyak hal yang pasti akan dipertanyakan oleh Putri padanya, sehingga dia meminta Putri untuk langsung menanyakan hal teknis kepada Yunita.
"Baik Pak. Tetapi apakah Bu Sandra sudah tau akan hal ini? saya khawatir dengan pekerjaan yang nanti saya tinggalkan Pak"
"Kamu ga usah khawatir, tadi saya sudah menyampaikan terlebih dahulu kepada Ibu Sandra. Dia seorang pimpinan sudah pasti harus siap dengan kondisi apa pun untuk menjaga stabilitas timnya" jawab Pak Dadang datar tetapi meyakinkan. Putri hanya mengangguk paham.
"Baik, saya rasa cukup untuk hari ini. Terima kasih" Ucap Pak Dadang sambil sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Terima kasih kembali Pak, saya mohon permisi dahulu. Assalamu'alaikum" pamit Putri dengan sedikit menganggukan kepala lalu berjalan keluar dan menutup kembali pintu ruangan pimpinan cabangnya.
Putri melihat Yunita yang sudah duduk di kursi kerjanya dan sedang menatap ponsel. Kemudian kehadiran Putri mengalihkan perhatiannya dari ponsel kepada Putri.
"Hi Putri" sapa Yunita sambil tersenyum, lalu melanjutkan perkataannya "Pak Dadang udah bilang soal mutasi kamu Put?" tanya Yunita.
"Iya Mbak tadi Bapak udah bilang. Apa Putri boleh menanyakan beberapa hal tentang mutasi ini? karena ini sangat dadakan dan kenapa mesti aku yang dipilih Mbak? sedangkan Bapak sebelumnya bilang kalau kinerja aku itu buruk di posisi sekarang" ucap Putri dengan nada yang lebih tinggi karena akibat manifestasi emosinya tadi.
"Kita bicara di pantry aja yuk" ajak Yuni sambil melirik ke arah Pak Iman. Sepertinya pembicaraan ini bukan untuk diketahui oleh pihak lain.
Putri mempersilahkan Yunita berjalan di depan, kemudian Putri mengikuti di belakangnya. Keduanya duduk di pantry lalu Yunita melanjutkan pembicaraan yang tadi tertunda.
"Jadi aku akan resign karena mendapatkan beasiswa S2 di UGM. Itu impianku sebenarnya bisa lanjut S2, kemudian menjadi dosen seperti mamaku" terang Yunita sambil tersenyum.
"Barakallah... Selamat ya Mbak Yuni, aku senang banget dengernya. Insha Allah berkah dan sukses selalu ya" Ucap Putri sambil tersenyum lebar.
"Makasih ya Put"
"Oh ya Mbak, kenapa aku yang dipilih gantiin Mbak? sebenernya tadi aku kena marah Pak Dadang katanya kinerja aku gak bagus" Putri berkata dengan tatapan sedih dan sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Kalau masalah kinerja kamu sih Mbak ga tau ya, karena Pak Dadang juga ga cerita apa-apa sih sama Mbak. Tapi kenapa kamu yang dipilih gantiin Mbak, itu karena nilai psikotes kamu yang jauh lebih tinggi dari yang lain" Jawab Yuni sambil memandang serius kepada Putri.
"Masa sih Mbak gara-gara psikotes aja? aku ga yakin deh" tanggap Putri dari jawaban Yuni tadi.
"Kalau itu Mbak ga tau. Ya kamu harus paham kalau pimpinan itu mengambil keputusan pasti ada alasannya, tugas kita adalah berprasangka baik dengan keputusannya selagi itu tidak melanggar perintah agama maupun norma-norma di masyarkat. Aku yakin kamu pasti bisa diposisi baru nanti" Jawab Yunita sambil menyemangati Putri dengan gaya tangan kirinya dikepal kemudian dinaikan dan diturunkan sambil mengucapkan "SEMANGAT".
__ADS_1
"Siap Mbak, makasih banyak lho udah semangatin aku" Jawab Putri sambil memegang kedua tangan Yunita.
"Sama-sama Putri" jawab Yunita sambil mengangguk dan tersenyum ramah seperti biasanya.
......................
Hari sudah menunjukan pukul 8 malam.
Putri pulang telat karena sore tadi Nyonya mengadakan meeting internal yang membahas tentang mutasinya Putri. Nyonya menyampaikan kepada tim bahwa kerjaan yang biasanya dipegang oleh Putri akan diserahkan kepada Melly dan Nisa, hal itu berlangsung sampai nanti karyawan pengganti Putri sudah tersedia.
Sebenarnya meeting telah selesai pada saat magrib, akan tetapi Putri memilih mempersiapkan berkas-berkas dan files untuk handover pekerjaannya. Hal ini bermaksud agar nanti sisa pekerjaan tidak menumpuk dan terburu-buru disiapkan. Sekarang saja sudah hari Kamis, sedangkan Putri harus sudah pindah pada hari senin nanti.
tok tok tok
"Assalamu'alaikum" sahut Putri dari luar pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam" jawab ibu dari dalam sambil memutar kunci.
Kemudian Putri salam dengan mencium tangan Ibu.
"Tumben Teh baru pulang" Ucap Ibu.
"Iya Bu, tadi ada meeting sebelum magrib. Terus Teteh dapet info dadakan untuk mutasi ke Staf HRD, jadi tadi harus beresin sisa kerjaan yang nanti bakal diterusin sama PIC yang gantiin Teteh" jelas Putri pada Ibu.
"Nah kalau alasan mutasinya mah Teteh ga tau Bu" jawab Putri, kemudian ia duduk di kursi ruang tamu dikarenakan tatapan mata ibu seolah meminta penjelasan lebih.
"Kamu hati-hati ya Teh, namanya orang ga tau hatinya gimana. Ibu mah takutnya ada yang iri sama kamu" Ibu menatap lembut Putri.
"Sirik gimana maksud Ibu?" tanya balik Putri karena tak paham.
"Kamu kan anak baru Teh, baru masuk berapa bulan coba? sedangkan posisi HRD itu staf yang kayaknya lebih keliatan dibandingkan posisi staf lainnya. Belum lagi kamu cuma anak lulusan SMA yang belum ada pengalaman kerja dan kamu masuk karena tawaran menggantikan Bapak" terang Ibu yang dibalas anggukkan oleh Putri.
"Ya udah, Ibu mah doain Teteh aja ya. Insha Allah niat baik selalu dilindungi oleh-Nya" jawab Putri yang menenangkan Ibu.
"Pasti atuh Ibu mah selalu mendoakan anak-anak Ibu" jawab Ibu sambil tersenyum dan menyentuh pipi kanan Putri.
"Teteh mau masuk kamar dulu ya bu, capek banget ini pegel" Ucap Putri kepada Ibu.
"Ya udah Teh sana istirahat aja. Udah salat isya kan?"
"Udah salat bu tadi di kantor sebelum pulang" Putri berjalan menuju kamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Putri segera mengganti baju, lalu ia keluar kamar sebentar menuju kamar mandi. Di sana ia melakukan ritual sebelum tidurnya, yakni sikat gigi, cuci muka, dan berwudhu.
__ADS_1
Putri melanjutkan ritual skincare-nya mulai dari toner hingga moisturizer, kemudian ia naik ke tempat tidur. Saat akan memejamkan mata, terdengar notifikasi emailnya.
ting
"Ah palingan juga newsletter atau notif sosmed" batin Putri dalam hati.
15 menit kemudian
Walau tubuhnya terasa sangat lelah, tetapi Putri masih belum bisa terlelap. Putri mengambil ponselnya di meja samping tempat tidur, kemudian mengecek pesan Whatsapp dan email masuk tadi.
Deg
Sebuat pesan masuk dari yudhistira.nataprawira@xxx.com
"Yudhis email gw??? kenapa baru sekarang sejak dua tahun lalu" ucap Putri dalam hati. Secarik keraguan di hatinya untuk membuka pesan masuk tersebut, namun dorongan rasa penasarannya lebih kuat dari keenganannya.
Putri membuka pesan dan membacanya
Assalamu'alaikum Putri
Apakabar? Aku harap kamu selalu bahagia dan dalam lindungan-Nya.
Mohon maaf mungkin terlambat, tapi aku mau mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Bapak Sodiq. Semoga ama-amal ibadah beliau diterima disisinya dan diberikan ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan. Aamiin..
Mungkin kamu masih membenciku, namun perlu kamu tahu bahwa aku selalu mendoakanmu untuk mendapatkan masa depan dan pendamping hidup yang terbaik untukmu.
Tolong maafkan kebodohanku dulu.
Maafkan aku Putri
Wa'alaikumsalam,
Yudhistira
"Duh Bales ga ya??"kemudian Putri mengetik, lalu menghapusnya lagi, mengetik, lalu jarinya menyentuh tombol back, sehingga tersimpanlah dalam draf. "Mending tidur dulu deh, biar besok bisa mikir harus balas apa" gumam Putri dalam hati.
Bersambung
^_^ Mohon like dan comments ya readers
__ADS_1
Terima kasih