Putri Kurir

Putri Kurir
44


__ADS_3

Pagi harinya, Putri tiba pukul 8 pagi di kantor. Ia menempati ruangan basement bersama operasional.


Ia disibukkan oleh data-data over SLA serta analisa penyebabnya. Kegiatan pagi ini cukup menyita perhatiannya hingga lupa untuk menanyakan kabar Yudhis.


Menjelang makan siang, pekerjaannya sudah berangsur berkurang. Putri sampai terlupa minum karena kesibukannya tadi hingga dia menengguk setengah botol minumnya


Putri meregangkan tubuh di atas kursi kerja. Kemudian, ia membuka ponselnya untuk mengecek pesan masuk.


5 pesan masuk dari Yudhistira


Yudhistira :


✔Aku berangkat ya. Nanti aku kabari lagi.


✔Aku sudah di atas kapal.


✔Aku sudah tiba di bakauheni


✔kamu lagi sibuk banget?


✔ Aku lagi makan siang, kamu jangan telat makan ya!


Putri : Maaf banget baru sempat balas. Aku monitoring POD project dari tadi pagi. Alhamdullilah kamu sudah sampai. Iya ini mau makan siang dulu.


Yudhis : Kalau nggak ada hambatan, 6 jam lagi aku sampai.


Putri : Semoga selamat sampai tujuan. Aku lanjut kerja lagi ya. Kabari aku kalau sudah sampai.


Yudhis : Selamat bekerja. I love you Putri.


Putri : I love you too Yudhistira


Putri meletakkan kembali ponselnya di meja, kemudian berjalan menuju pantry untuk makan siang.


......................


"Assalamua'alaikum" salam Putri yang baru pulang kerja. Dilihatnya Ibu dan Bika sedang duduk dalam diam di sofa ruang tamu.


"Koq ga dijawab" ucap Putri lagi.


"Wa'alaikumsalam" ucap Ibu dan Bika bersamaan.


"Teh makan malam dulu gih. Ibu udah masak cumi kesukaan kamu" jawab Ibu dengan ramah, namun terlihat ada kegelisahan di wajahnya.

__ADS_1


"Ibu sakit?" tanya Putri


"Nggak, Ibu sehat. Cuma agak masuk angin kali ya. Ibu masuk kamar dulu" ucap Ibu kemudian masuk ke kamar.


"Ibu nggak apa-apa Bika?" tanya Putri pada adiknya.


"Nggak teh, udah teteh makan terus langsung tidur aja. Kasian pulang kerja pasti capek" jawab Bika sambil memeluk kakaknya.


"Ih so sweet amat kamu de" ucap Putri.


"Nggak apa-apa dong, kan Bika sayang teteh"


"Kamu salah makan? Apa abis kesetrum?" tanya Putri sambil meledek.


"Nggak teh, udah sana makan. Mau Bika ambilin makannya?"


"Nggak usah, nanti ambil sendiri aja. Ih serem deh kalau kamu tiba-tiba baik kayak gini" ujar Putri dengan mimik meringis.


Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Yudhis belum juga memberi kabar. Sesaat Putri merasa sangat ingin menghubunginya, tetapi ia urungkan dan mencoba untuk tidur saja. Berharap ada kabar darinya esok pagi.


......................


"Bu, ada apa sih koq pagi-pagi ke rumah Yudhis? kan ga enak bertamu pagi begini" Putri bertanya dengan pertanyaan yang sama untuk yang ketiga kalinya, namun Ibu hanya menjawab "diminta Mama Julie".


"Bika! kamu tau kan ada apa? Ayo bilang ama teteh" paksa Putri pada Bika.


Akhirnya taxi online telah tiba di pintu gerbang perumahan tempat kediaman Mama Julie. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah Yudhis yang sudah dipenuhi oleh banyak orang.


Sesaat terlintas dalam benak Putri sesuatu yang buruk telah terjadi. Namun, sekuat dirinya meyakinkan bahwa semua baik-baik saja.


Putri, Ibu, serta Bika sudah turun dari taxi online. Terlihat ada bendera kuning di depan kediaman Mama Julie.


"Bu, siapa yang meninggal?" tanya Putri yang masih berdiri di depan pagar.


"Ibu, Teteh ayo kita masuk" ajak Bika pada kedua wanita disampingnya.


Putri menoleh ke arah karangan bunga yang berdiri di garasi rumah.


Seketika tubuhnya terjatuh tak berdaya. Terdengar sayup-sayup Ibu serta beberapa orang memanggilnya. Namun tubuh Putri seakan menekan dirinya untuk menjauh dari suara-suara dan membungkam raganya.


Samar-samar seberkas cahaya memasuki celah penglihatan Putri. Perlahan ia mencoba membuka mata yang terasa sangat berat. Keningnya basah oleh peluh, kedua lengan dan kakinya terasa lemah.


"Teh, udah bangun?" dilihatnya Ibu berkata sambil duduk disisi tempat tidur.

__ADS_1


Terlihat air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ibu menyeka air matanya, namun tak kuasa menahan derai air yang terus turun dari matanya.


Putri tak kuasa menahan segala kepedihan yang sedari tadi terbungkus di dadanya. Air matanya turun diiringi irama isakan dari kepahitan yang telah meluap.


Ibu memeluk tubuh Putrinya yang kini semakin keras isakannya. Belaian sang Ibu pun tak mampu meredakan kepedihannya saat ini.


Ada banyak pertanyaan yang ingin Putri utarakan, namun mulutnya tak kuasa berkata-kata.


"Yudhis mana Bu? Putri mau ketemu Yudhis Bu!" hanya itu kata-kata yang bisa Putri ucapkan. Kata-kata yang terus berulang ditemani suara isakan yang entah sudah berapa kali terulang dari bibirnya.


Ibu pun tak kuasa menjawab, hanya belaian lembut dipunggung yang masih bisa ia lakukan untuk menenangkan buah hatinya.


Putri melepaskan pelukan dari Ibu lalu mencoba untuk bertanya lagi "Yudhis sekarang dimana Bu? ayo jawab Putri Bu".


"Yudhis sudah dimakamkan Put. Kamu harus ikhlas. Ini semua kehendak Allah Put." Ibu berkata sambil menggenggam kedua tangan Putri.


"Nggak Bu, Putri mau ketemu Yudhis dulu. Jangan dulu dikubur Bu" Putri berusaha berdiri dan berjalan keluar kamar.


Putri berjalan di lantai 2 menuju ruang keluarga di bawah. Terlihat banyak keluarga serta kerabat yang masih berada di rumah duka.


Putri menuruni tangga dengan tubuh yang masih lemah, tak dia sangka kaki yang menapaki tangga di atas tak mampu menopang tubuhnya. Putri pun jatuh dan pandangannya menjadi gelap.


......................


Sayup-sayup terdengar suara percakapan, semakin lama semakin jelas dipendengaran Putri.


"Anak saya nggak apa-apa dok?" tanya Ibu kepada dokter.


"Insha Allah, bisa lekas sehat. Lukanya juga tidak parah. Hanya butuh asupan makanan untuk penyembuhan anemia dan darah rendahnya" ucap dokter kemudian berjalan menjauh.


Putri masih merasakan berat untuk membuka matanya, namun ia berusaha untuk mencobanya lagi semampunya.


Tangannya sudah bisa digerakkan, matanya pun sudah bisa terbuka sempurna.


"Ibu" ucap Putri pada Ibu yang terduduk di samping tempat tidur Rumah Sakit.


"Eh teteh udah bangun, yang mana yang sakit teh?" ucap Ibu sambil mengusap pucuk kepala Putrinya.


"Maafin Putri ya Bu, karena Putri gak bisa ngontrol emosi. Akhirnya Ibu yang susah harus ngurusin aku" ucap Putri disertai cucuran air mata.


"Nggak teh, Ibu yang salah. Ibu yang minta kamu cepat-cepat nikah sama Yudhis. Maafin Ibu yang sudah egois karena Ibu kesal sama ulah Aldi. Harusnya Ibu nggak minta cepat-cepat" jawab Ibu sambil menangis.


"Putri sadar ini memang jalan hidup putri. Takdir ini udah pasti terjadi diluar kuasa kita. Putri akan mencoba melaluinya dengan baik Bu. Doakan Putri ya Bu" tangisan Putri kembali pecah.

__ADS_1


Ibu berdiri memeluk Putrinya, mencoba meringankan kesedihan serta kepiluan buah hatinya.


Bersambung,


__ADS_2