
Author says:
Hi readers, pada bingung nggak kenapa tiba-tiba Arjuna bisa tertarik sama Putri?
Yuks simak chapter ini yang mengulas Point of View (POV) dari Arjuna. Kita mulai dari meneruskan chapter 27 ya..
...****************...
...POV Arjuna Nataprawira...
"Shit!" Arjuna terdiam selama beberapa detik sampai ia tersadar dengan apa yang nampak dihadapannya, seketika ia pun langsung menutup pintu kembali. Pria itu sangat syok dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.
"Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku" racau Arjuna dalam hati. Ia segera menuruni tangga sambil mengacak-acak rambutnya dan berjalan ke arah kolam renang.
Sejenak Arjuna terduduk sambil memijat kening yang tidak sakit namun sekujur tubuhnya terasa tersiksa. Ia pun segera membuka kaos tipisnya dan turun ke kolam renang untuk meredakan kejantanannya yang harus terbangun dipagi hari.
Selesai berenang, Arjuna memutuskan untuk mandi lalu menyibukan dirinya dengan melakukan monitoring pekerjaannya dari rumah.
Siang sudah berganti petang, suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya dari kitab suci yang sedang dilantunkannya.
tok tok tok
ceklek
"Juna, koq belum siap-siap? kamu janjian jam 8 malam kan?"tanya Mama dari ambang pintu yang terbuka.
"Nanti abis isya, Juna siap-siap Ma. Jangan khawatir, Juna sudah pertimbangan timingnya. Insha Allah nggak akan telat Ma" jawab sang Putra dengan senyum hangat pada Mama.
"I believe in you my dear" ucap Mama yang kemudian menutup pintu kamar itu kembali.
Selepas sholat Isya, Arjuna segera bersiap kemudian turun kebawah.
"Anak Mama tambah ganteng nih. Jadi kamu janjian dimana sama Else?" tanya Mama yang memang menyerahkan waktu pertemuan kepada anaknya dan anak tante Mira.
Mama dan Tante Mira hanya memberi jalan kepada mereka untuk saling mengenal, walau pada akhirnya semua diserahkan kembali pada anaknya masing-masing.
"Di Under Sky ma, kayak rooftop cafe gitu Ma. Juna berangkat dulu ya Ma" Arjuna mencium tangan Mamanya.
"Ingat, Mama nggak maksa kamu. Mama serahkan pilihannya pada kamu ya" Mama berucap sambil mengelus lengan putranya.
"Iya Ma" ucap Arjuna sambil tersenyum lalu keluar menuju garasi dan keluar dengan motornya.
......................
...Under Sky - Rooftop Cafe...
Arjuna dan Else sepakat untuk janjian di lokasi yang sudah Else booking.
Arjuna sudah tiba lebih dulu dan memutuskan untuk melihat-lihat menu sambil menunggu Else tiba.
"Halo, Arjuna?" sapa seorang wanita yang diduga Arjuna merupakan Else.
"Betul, Else?" tanya Arjuna balik.
"Iya, bolehkah saya duduk?" tanya Else dengan sopan.
"Silakan" ucap Arjuna dengan ramah.
"Silakan kamu pesan dulu" Arjuna memberikan daftar menu pada Else dan membiarkan wanita tersebut memesan terlebih dahulu.
Setelah Arjuna dan Else menentukan pesanannya, mereka menyerahkan pesanan pada waiters. Else memulai pembicaraan.
"Kamu sudah baca CV saya?" tanya Else pada pria dihadapannya.
"Sudah" jawab Arjuna singkat.
__ADS_1
Sambil makan malam, mereka melakukan percakapan yang didominasi oleh Else. Else banyak bercerita mengenai profesinya sebagai dokter gigi di salah satu rumah sakit dan klinik daerah Kabupaten Bogor. Ia juga bercerita tentang keluarga, bahkan sedikit masa lalunya. Sebaliknya dengan Arjuna yang lebih banyak diam dan berperan sebagai pendengar yang baik. Ia hanya berbicara untuk menjawab saat Else mengajukan pertanyaan.
"Shit! disaat seperti ini kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan dia. Bodohnya aku malah membandingkan Else dengan Putri! Ini semua gara-gara kejadian tadi pagi. Kenapa sejak itu aku selalu terbayang lekuk tubuhnya! Parah! Ya Tuhan maafkan aku!" racau Arjuna dalam hati, yang entah tidak fokusnya ini bisa disadari oleh Else atau tidak.
Ini bukan pertama kalinya Arjuna melihat lekuk tubuh wanita. Ia lama tinggal di luar negeri yang mungkin masalah buka-bukaan sudah menjadi hal yang biasa, terutama di tempat umum seperti pantai. Namun entah hal ini juga menjadi pertanyaan dari dirinya sendiri, kenapa baru sekarang ia tidak bisa melupakannya. Padahal kejadiannya hanya sekejap.
"Arjuna, sepertinya kamu tidak tertarik padaku kan?" tanya Else tepat sasaran.
"Maaf Else, sepertinya aku bukan pria yang tepat untukmu" jawab Arjuna dengan sopan.
"Tidak apa, jodoh sudah terpahat abadi dari yang Maha Kuasa. Mungkin aku harus mencari pemilik tulang rusuk di tempat yang lain" ucap Else sambil tertawa.
"Aku doakan semoga kau cepat menemukan pemilik itu" jawab Arjuna.
"Aamiin, semoga kamu juga segera menemukan seorang yang tercipta dari tulang rusukmu Arjuna. Aku permisi dulu. Selamat malam" ucap Else lalu berdiri, sementara Arjuna yang masih terduduk kemudian mengikuti Else berdiri.
"Kau bawa kendaraan sendiri? kalau tidak biar aku antar" Tawar Arjuna pada Else.
"I'm driving, biar aku yang bayar ke kasir" ucap Else.
"No, as a gentlement let me pay for dinner" Arjuna berjalan menuju kasir.
"Tulang rusuk ya? hmm.." gumam Arjuna yang tersenyum sambil menunggu pembayarannya.
......................
...Aplikasi Arjuna...
Seorang pria tampan sedang duduk diatas kursi samping jendela kaca apartemennya. Langit gelap malam di Singapura, menemani kesendiriaannya yang masih terfokus pada laptop dihadapannya.
Sambil sesekali mengesap jasmine tea hangat favoritnya, ia terlihat serius mengamati layar laptop.
Yah, pria bernama Arjuna ini punya kesibukaan lain setelah memberikan aplikasi hasil pengembangannya kepada Yudhistira. Tepatnya, aplikasi itu diberikan sang pemiliknya untuk membantu Putri. Kini, pencipta aplikasi canggih itu punya "kewajiban" untuk meretas ponsel dan mengecek keberadaan Putri kapan pun ia inginkan.
"Shit! kenapa aku selalu ingin melakukan hal ini!" sesal Arjuna sambil mengacak-acak rambutnya.
Semakin lama aktifitas baru ini menjadi candu baginya. Hingga pada suatu saat, ia menemukan sesuatu yang membuat dirinya begitu terpukul dan menyesali candu barunya ini.
"Ada apa ini? Yudhistira bermalam di tempat yang sama dengan Putri? Mereka tidur di hotel yang sama?Shit!" Arjuna melampiaskan keselahannya dengan mengadukan kepalan tangannya dengan dinding apartemen. Retakan terjadi di sekitar tempat pukulan, sementara ia mendapati kepalan tangan yang memar dan berdarah. Namun, sakit dalam dada serta hawa panas dalam tubuhnya mengalihkan rasa sakit pada bagian tangannya yang terluka.
drrrt
Panggilan masuk Mama
"Ya Ma, Eh maaf Ma.. Baik.. Assalamua'alaikum" Arjuna ditegur Mama karena tidak mengucapkan salam. Ia masih berusaha mengontrol emosi sambil memijat keningnya yang berkeringat.
"Salam untuk tante Norma ya Ma. Hmm.. Yudhistira dimana Ma? Acara kantor? Jadi dia sedang menginap di Jakarta karena acara kantor? Oh baik, iya Ma. Wa'alaikumsalam" Arjuna mendapati kelegaan setelah mengetahui bahwa mereka bermalam di tempat yang sama dikarenakan hal pekerjaan.
"Aawww" Arjuna merasakan sakit pada tangannya. Ia mencoba meraih kotak P3K, kemudian mengoleskan antiseptik dibeberapa lukanya.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini!" ia merutuki dirinya sendiri yang sudah termakan emosi tanpa mengeceknya dengan teliti.
Arjuna kembali ke hadapan laptopnya, kemudian meretas keamanan hotel untuk mengecek nomor kamar Putri dan Yudhis. Kebahagiaan meliputi dirinya bahwa Yudhis dan Putri terpisah dengan kamar yang berbeda.
......................
...Lamaran Yudhistira...
Semalaman Arjuna tidak bisa terpejam, ia mendapati lingkaran hitam di sekitar matanya. Sekuat hatinya meyakinkan bahwa perasaannya tak boleh terus berkembang, karena kini adiknya akan melamar wanita yang selalu ada dalam pikirannya.
tok tok
"Arjuna!" Panggil Mama dari luar pintu kamar.
ceklek
"Iya Ma, maaf tadi agak mules" Arjuna berbohong untuk menutupi kegalauannya menghadapi acara sore ini.
__ADS_1
"A, udah siapin kan kata-kata pengantarnya?" ucap Yudhistira aambil merangkul Kakaknya.
"Udah" jawab Arjuna singkat.
Betapa kacaunya perasaan Arjuna ketika ia diminta sang Mama untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan Yudhistira kepada keluarga Putri. Namun, seorang level Chief Information Officer seperti Arjuna tentu saja bisa menguasai diri di depan orang banyak.
Acara lamaran telah selesai, kini keluarga Mama Julie sudah kembali di rumah. Anak sulung dari pasangan Aryadi Nataprawira dengan Julieta Kristiana Dewi ini sedang merutuki dirinya di dalam kamar.
Arjuna menautkan kedua tangan dan meletakkan di atas tengkuknya "Ya Tuhan, hentikan rasa ini! Dia calon adik iparku! Ini berbahaya".
......................
...Hari Berduka...
Setelah jam makan siang, seluruh jajaran TOP manajemen sedang melakukan meeting evaluasi. Meeting ini sangat penting, hingga hampir seluruh para pemegang saham turut hadir di sana.
Seorang CIO berusia 30 tahun asal Indonesia sedang serius mengikuti jalannya meeting ditemani hot dolce coffee.
Sesaat ini menatap layar laptop dihadapannya, kemudian menemukan sebuah pesan masuk dari Yudhistira. Arjuna mengernyitkan dahinya sekilas.
"Tumben dia email" Arjuna membuka pesan masuknya.
Assalamua'alaikum
Kakaku terhormat, jikalau usia ini tidak sampai. Aku mohon jagalah Mama dan Putri.
Wass..
Apakah selama ini adiknya mengetahui perasaannya pada calon istrinya itu? Padahal Arjuna tidak pernah mengutarakan hal ini selain kepada Sang Pencipta dalam curhatnya di setiap malam.
Arjuna mengklik icon reply, namun aktifitasnya terhenti oleh diskusi pada meeting yang melibatkan topik tentang bagian yang dipimpinnya. Ia pun menunda balasan tersebut dengan bermaksud membalasnya setelah meeting selesai.
Meeting masih berjalan hingga pukul 6 sore, kemudian ia terkejut dengan pesan singkat dari Mama melalui aplikasi whatsapp.
Mama : Yudhistira meninggal sore ini karena kecelakaan.
Arjuna terkejut hingga ponsel yang sedang digenggamnya itu terlepas membentur lantai tepat diantara kedua kakinya.
Hampir semua peserta meeting terkejut dengan perbuatannya.
"Excuse me, I'm sorry for leaving this important meeting. My brother pass away in the accident tonight" ucap Arjuna sambil memberi hormat kepada para petinggi, kemudian pergi keluar ruangan meeting. Ia segera menghubungi sekretarisnya untuk memesankan tiket penerbangan ke Jakarta malam ini.
Setelah kepergian Yudhistira, Arjuna selalu pulang ke rumah Mama Julie pada hari Jumat malam dan kembali ke Singapura di hari Minggu.
Suatu saat ketika, ia dan Mama sedang bersantai di halaman belakang sambil menikmati jasmine tea favoritnya.
"Ma, ada yang harus kubicarakan" ucap Arjuna sambil memandang lalu tertunduk saat akan bicara kepada Mamanya.
"Naikan pandanganmu Juna, biacaralah pada Mama. Apa pun yang akan kamu bicarakan, dengan senang hati Mama akan selalu mendengarkannya" ucap Mama sambil mengelus punggung tangan putranya. Sebagai seorang Ibu, Mama sangat memahami sorot mata Putranya. Saat ini ia merasakan ada keraguan dari putranya untuk mengutarakan keinginannya.
Arjuna tersenyum lalu ia mulai berbicara " Aku ingin menikahi Putri, apakah Mama akan mendukungku?"
Sang Mama belum menjawab pertanyaannya. Arjuna merasa ada kecemasan dalam dirinya, apakah sang Mama akan marah padanya yang tak tahu diri ini akan menikahi mantan calon istri adiknya?
"Kamu sudah memikirkan hal ini dengan matang?" tanya Mama.
"Sudah Ma" jawab Arjuna singkat.
"Adakah keraguan dengan pilihanmu?" tanya Mama lagi.
"Tidak ada Ma" jawab Arjuna lagi.
"Baiklah, Mama akan mendukungmu. Namun, kamu harus berusaha sendiri. Menyakinkan wanita itu tidak mudah, apalagi kamu itu berhubungan dengan cinta masa lalunya. Apakah kamu sendiri sudah siap dengan resikonya?
"I will" jawab Arjuna mantap.
Bersambung,
__ADS_1