Putri Kurir

Putri Kurir
45


__ADS_3

Sudah tiga hari Putri menjalani rawat inap di Rumah sakit. Hasil visit dokter tadi pagi sudah membolehkan Putri pulang.


Hari ini Mama Julie bersama supirnya menjemput kepulangan Putri dari Rumah Sakit. Putri merasakan ada sumber kekuatan yang ditularkan melalui ketegaran Mama Julie.


Sesekali Mama Julie terlihat berkaca-kaca, namun senyum cantiknya seakan mengajarkan untuk menerima segala yang terjadi dengan berlapang dada. Mama Julie juga selalu mencoba menjawab segala pertanyaan Putri dengan baik.


Putri jadi merasa malu, bagaimana bisa seorang Ibu yang lebih dari separuh usianya mencurahkan kasih sayang pada putranya, bisa begitu tegar menerima bagian keras dari kehidupan. Kehilangan yang begitu menyakitkan bagi Putri seakan tak sebanding dengan rasa cinta dan sayangnya Mama kepada Yudhis.


"Ma, bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?" tanya Putri saat mobil sudah melaju di jalanan yang basah setelah terguyur hujan.


"Selepas magrib, mobil yang ditumpangi rombongan mereka terguling karena longsor" sesaat Mama terdiam lalu melanjutkan lagi ucapannya "Mama diberi kabar oleh pihak perusahaan tempat Yudhis bekerja. Sekitar pukul 7 malam, Mama menghubungi Ibu untuk memberi kabar ini. Jenazah Yudhis diantarkan dari kabupaten Lampung dan tiba di rumah pukul 4 subuh. Jadi, Mama meminta pada Ibu untuk memberi tahu kamu esok pagi saja" ucap Mama yang berucap sambil mengelap air mata yang akan turun diujung matanya.


"Putri tidak cukup kuat seperti Mama. Putri sangat lemah kehilangan Yudhistira Ma" Putri berucap disertai derai air mata.


"Kamu yang hebat dalam masalahmu! Aku yang terhebat dalam masalahku! Bukankah kita meyakini bahwa Tuhan menciptakan kita dalam kondisi terbaik untuk mengarungi sampai sisi terkeras sepanjang hidup kita?" ucap Mama sambil menyetuh pipi Putri dengan kedua tangannya dan memeluk Putri.


Ibu yang melihat pun tak kuasa untuk menahan cucuran air dari matanya. Ia mengusap punggung putrinya dengan lembut.


Mobil sudah berhenti di depan sebuah gang di Jalan Ahmad Yani. Mama Julie turun mengantar Putri dan Ibu. Pak Supir membantu membawa bawaan Putri.


"Sayang, Mama permisi dulu. Kamu boleh masih bersedih, tapi ingat kita semua juga akan menyusul Yudhis. Kapan dan bagaimananya juga sudah ada sejak kita belum lahir kan? Pastilah Yudhis juga bukan orang yang ditakdirkan menemani sisa hidupmu" Mama berucap sambil memeluk dan mencium kening Putri.


"Mama permisi dulu ya" ucap Mama yang diikuti ciuman tangan dari Putri.


Mama dan Ibu berpelukan dan berbincang sedikit.


Hari ini masih sangat melelahkan. Dimanakah keikhlasan jika masih terpikirkan? dimanakah bisa kutemukan kelapangan dada jika sakitnya tak kunjung reda?


Hai sang waktu, bantu aku perlahan mengikis kepedihan ini.


Bukankah teori dibuat untuk menuntun pelaksanaan teknis?


Ini tak semudah membaca atau menghafal sebuah teks.


Ini tentang hati yang belajar untuk terbiasa menerima sebuah keputusan garis Semesta.

__ADS_1


Garis terbaik yang ditarik dari segala sudut sumbu yang tak kasat mata.


Hai hati belajarlah sungguh-sungguh! Sampai saat kita sama-sama terbiasa untuk berjalan tanpa mempertanyakan arah.


Karena kita sama-sama sudah tahu, semua hanya tentang menunggu.


Menunggu sampai waktu menjemput kita pada tujuan.


......................


Sudah seminggu Putri tidak masuk kerja. Pak Dadang dan mungkin hampir seluruh karyawan PT. ZEN Express Cabang dan Pusat akhirnya mengetahui hubungan Putri dan Yudhistira.


Hampir seluruh jajaran Top Manajemen serta bawahan Yudhis di kantor Cabang, terutama karyawan Cabang Bogor hadir ke rumah duka. Yudhis terkenal sebagai pimpinan yang dekat dengan para karyawan. Ia bisa menempatkan diri dan pandai dalam berkomunikasi.


Beberapa diantara karyawan ada yang bersimpatik terhadap musibah yang dihadapi oleh Putri, ada pula yang mencibirnya dengan kejam.


Gosip bahkan mungkin fitnah sedang Putri alami dilingkungan kerjanya. Berbagai spekulasi buruk berkembang dengan subur dikalangan para karyawan. Entah bermula dari mana, namun semakin lama cibiran itu semakin berkembang liar.


Berita tidak benar itu mengklaim Putri yang tega meninggalkan Aldi, hanya karena ingin mendapatkan Yudhis yang lebih kaya dan tampan.


"Put, cuekin ajalah orang julid kayak mereka. Walau gw ga tau kejadian sebenarnya, tapi gw percaya lo itu seperti apa" ucap Cindy sambil menepuk pundak Putri.


"Iya Mbak, makasih banyak" ucap Putri yang masih lesu sambil mengaduk bekalnya dengan sendok.


"Kalau lo butuh berbagi, gw siap koq dengerinnya. Gw gak bisa bantu banyak. Tapi gw bisa lo percaya untuk jadi pendengar yang baik. Semoga itu bisa mengurangi beban di hati lo" ucap Cindy lagi sambil menatap Putri dengan sayu.


Sekuat hati ia menahan pecahan kepedihan, namun cucuran air mata tak mampu tertahan lalu jatuh membasahi pipi Putri.


"Bukannya aku tak mempercayaimu, namun aku ragu untuk membuka aib orang lain. Sedangkan aku sangat malu pada Tuhan yang selalu menutupi aib-aibku Cindy. Do'akan aku saja" ucap Putri sambil mengelap wajahnya yang basah.


"Baik Putri, aku pasti mendo'akan yang terbaik untukmu. Jangan bersedih lagi ya" ucap Cindy dengan memeluk Putri.


"Terima kasih Cindy"


"Sama-sama"

__ADS_1


drrtt


Panggilan masuk dari Christy


"Selamat siang Mbak Christy.. Iya saya paham.. Tidak apa-apa Mbak.. Bagaimana kalau hari ini pukul 7 malam.. Baik saya akan ke sana. Sama-sama Mbak" Ucap Putri yang berbincang dengan Christy.


"Cin, hari ini aku akan bertemu dengan WO yang harusnya mengurusi pernikahanku. Bisakah kamu menemaniku sepulang kerja?" harap Putri pada Cindy.


"Siap sayangku, aku akan menemani kamu" jawab Cindy sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak Cin. Maaf malah merepotkan" ucap Putri dengan senyuman.


Waktu istirahat dan makan siang telah usai. Mereka berdua kembali ke aktivitasnya masing-masing.


Selesai melaksanakan sholat magrib, Putri segera merapihkan meja kerja dan bersiap pulang. Ia melihat Cindy yang sudah menunggunya di depan ruang HR.


"Put bawa motor nggak?" tanya Cindy.


"Nggak Cin, aku masih belum fit" jawab Putri.


"Oke kita pake taxi online aja ya" ucap Cindy lalu keduanya berjalan menuju parkiran ruko sambil memesan taxi melalui aplikasi online.


"Cin, itu mobilnya udah diparkiran" ucap Putri sambil menunjuk sebuah sedan putih dengan nomor plat yang tertera pada aplikasi.


"Yuk kita samperin ke sana" tanggap Cindy sambil berjalan ke arah taxi tersebut.


Mereka pun masuk ke dalam mobil pada baris kursi kursi kedua penumpang.


"Mbak sudah siap?" tanya Pak supir yang terlihat seperti sudah berusia senja.


"Iya pak" jawab Putri.


"Baik, kita mulai perjalanan ya" Pak supir berkata lalu melajukan kendaraan menuju jalan raya.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2