
"Yah trus gimana dong? kan kita mau bantu Putri liat keseharian calon suaminya" ucap Vera sambil berpindah ke sofa di ruang utama.
"Lo ikut seminar di kampus gw aja. Nambah ilmu, apalagi gratis" Yuki menyarankan kepada teman-temannya.
"Seminar apaan?" tanya Putri.
"Nih" Yuki menunjukan ponselnya kehadapan Putri, sejenak Putri memicingkan pandangannya lalu meraih ponsel itu dari tangan Yuki.
"Aaah males ngapain ke sini cuma ikut seminar, apalagi kalau gratis biasanya ga dapet sertifikat. Lagian kan tujuan awal kita buat nemenin putri sambil jalan-jalan" racau Jihan sambil bertolak pinggang dihadapan Vera.
"Ini..ini gaes" ucap Putri sambil menunjukan layar ponsel Yuki ke hadapan teman-temannya.
"Ini apaan put?" tanya Vera.
"Ini salah satu narasumbernya Arjuna!" ucap putri, kemudian Vera langsung merebut ponsel Yuki untuk melihat flyer digital di sana.
"Bener! Ji, kita ubah plan. Siang ini ikut seminar ke National University of Singapore" ucap Vera pada Jihan.
"Aaasyiiap" jawab Jihan yang sekarang terlihat antusias.
"Oke jam 11 kita berangkat dari sini via MRT. Kalian santai dulu aja, gw mau ke apartemen teman. Nanti kita janjian di dalam stasiun Farrer Park" ucap Yuki.
"Thanks Yuki!" ucap Putri disertai senyuman.
......................
Siang ini suasana auditorium kampus yang dikenal dengan NUS ini sudah dipenuhi oleh peserta seminar. Wajar saja, karena seminar ini terbuka untuk umum. Tema seminar kali ini sangat menarik untuk berbagai kalangan karena mengusung tema Digital Marketing.
Putri duduk di barisan atas dengan Yuki di samping kanannya.
"Lo berhutang cerita sama gw ya tentang calon suami lo" ucap Yuki sama Putri.
"Iya nanti gw cerita deh gimana sampe kenal dan dilamar sama dia. Insha Allah Sabtu ini gw nikah" ucap Putri yang direspon Yuki dengan mata yang terbelalak karena terkejut.
"Serius? Ngedadak banget!" respon Yuki yang masih tidak percaya.
"Ibu gw gak mau lama-lama. Katanya niat baik harus disegerakan. Jadi Sabtu ini akad dulu dan respsinya menyusul" ujar Putri sambil melebarkan gerak bibirnya.
"Lo nerima? Sorry maksud gw, lo terima menikah sama dia tanpa ada rasa suka sebelumnya?" tanya Yuki lagi untuk memastikan.
"Gw yakin rasa itu tumbuh seiring dengan waktu kalau kita sama-sama patuh menjalani peran kita masing-masing. Doakan gw ya" ucap putri sambil tersenyum.
__ADS_1
"Insha Allah. Ternyata bersikap lebih dewasa tetap tak bisa menggantikan usia yang lebih tua ya. Semoga bahagia dengan pilihanmu" ucap Yuki dengan senyum kecilnya.
"Aamiin. Yuki, Hani itu sangat baik. Semoga kalian berjodoh" tanggap Putri atas doa Yuki.
"Terima kasih. Aku akan berusaha" ucap Yuki sambil mengepalkan tangan di samping wajahnya. Sementara Putri meresponnya dengan anggukan dengan bibir tersenyum hangat.
Perhatian seluruh peserta seminar hari ini sudah tertuju ke arah stage. seorang MC sudah hadir di sana untuk membuka acara.
Acara sudah berjalan sekitar satu jam, tak disangka mereka sangat menikmati acara yang dikemas dengan menarik. Jihan yang semula bersikap tak acuh, namun saat ini ia yang terlihat paling antusias. Malahan gadis itu berencana untuk mencoba peluang usaha onlineshop.
"Well good friends, it's time to call for the second source speaker. Please welcome..Mr. Arjuna The Chief Information Officer for Techo Innovation Corporation" ucap MC yang diikuti tepuk tangan riuh dari seluruh yang hadir pada ruang seminar ini.
Deg
Deg
Deg
"Masha Allah, betulkah itu calon suamiku?" batin Putri dalam hati yang begitu terkagum dengan pesona Arjuna di depan.
"Woi mingkem! Liur lo ampe netes gitu! Ha..ha..ha" ucap Jihan yang tertawa geli sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Eeh beneran?" kata Putri sambil mengusap area sekitar bibirnya. "Iih Jihan! Gw kan jadi malu!" ucap Putri lagi.
"Iya lo pada ribut kenapa sih?" sambut Yuki.
"Si Putri kesambet pesona Aa Arjuna sampe..." ucapan Jihan tertahan oleh tangan Putri yang membekap mulutnya.
"Hussshh udah sih jangan berisik. Tuh ga enak ama peserta lain!" Putri mengingatkan teman-temannya saat beberapa orang peserta disebelah sedang menatap karena merasa terganggu.
"Eh iya sorry" ucap jihan pelan sambil menirukan gerakan meresleting mulut.
Perhatian Putri terfokus pada sesosok pria tampan, tegas, cerdas, dan sangat berkharisma pada penglihatannya. Suaranya mengalun dengan berat namun hangat untuk didengarkan. Kata-katanya mudah dipahami serta bermakna di setiap untaian kalimat yang melesat dari mulutnya. Matanya bersinar seakan memberi tahu kepada semua yang hadir, betapa hebat dirinya.
"Meine Güte! Er ist so süß" lirih Putri diiring degup jantung yang tidak beraturan.
Arjuna memaparkan materi kurang lebih selama 20 menit, kemudian beralih ke sesi tanya jawab. Setelah sesi tanya jawab berakhir, para narasumber terlihat berfoto dengan MC. Kemudian acara berganti pada bagian yang paling di nanti oleh seluruh peserta yakni doorprize, namun hal itu tidak berlaku untuk Putri.
"Yuki, itu narasumbernya mau pulang kan?" tanya Putri yang melihat Arjuna berjalan menuju pintu keluar ruangan.
"Biasanya sih abis dokumentasi ya mereka cabut" jawab Yuki, sementara Putri langsung berdiri lalu berlari kecil menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Eeh si Putri mau ke mana?" ucap Jihan sambil menepuk pundak Hani.
"Nyusul Arjuna kali, kan tadi speaker-nya udah beres foto-foto pada pulang" jawab Hani.
"Buruan ikutin Putri!" sambung Hani lagi sambil berjalan cepat untuk menyusul Putri yang diikuti oleh para sahabat lainnya di belakang.
Setelah berjalan cepat sambil menoleh ke segala arah di luar auditorium, Putri menangkap sesosok yang ia kenali sedang melaju menuju luar kampus di atas sebuah skateboard.
Putri mematung menatap Arjuna yang meluncur di jalanan depan yang berjarak cukup jauh dari pandangannya saat ini.
"Put, itu dia" tunjuk Vera dengan tangan lainnya menepuk bahu Putri.
"Iya Ver, gw tau" jawab Putri.
"Masha Allah keren banget Put" kagum Jihan sambil menepuk kedua pipinya.
"Tapi kenapa CIO nggak pake mobil ya?" tanya Vera.
"Gw nggak tahu, tapi setahu gw Mama Arjuna itu humble dan ngedidik anak-anaknya untuk mandiri juga tidak membedakan orang dari status sosial" Putri berkata sambil mengontrol degup jantungnya yang belum kembali normal.
"Karena kita juga nggak tahu kemana perginya Arjuna, so what's the next plan to go?" tanya Hani pada Putri.
"Jalan-jalan gaeeees!" ucap Putri dengan riang yang disambut oleh sahabat-sahabatnya.
"Selamat bersenang-senang, maaf gw ga bisa temenin kalian hari ini. Gw balik ke dalam ya. Hati-hati" ucap Yuki sambil mundur ke belakang dan melambaikan tangannya.
......................
"Fiuh.. ga kerasa gaes udah jam 10 malam aja" ucap Jihan kepada teman-temannya yang sedang berjalan bersama-sama menuju kediaman Yukito.
"Eh Put, itu..." Hani meraih lengan Putri dan menunjuk dengan bibirnya ke arah pintu depan kawasan apartemen.
Hani menunjuk pada seorang pria berkemeja dengan lengan kemeja yang sudah digulung hingga sikut. Si tampan itu sedang bersandar pada tiang dinding dekat pintu masuk. Sorot matanya tajam seakan pupilnya sudah mengunci mangsa dihadapannya. Wajahnya datar, seolah hanya ingin menunggu dan tak ingin terbaca gerakannya.
Deg
"A Juna??" ucap Putri terkejut, namun kini mulutnya yang terbuka telah ditutup oleh salah satu tangannya.
"Bukankah SIM card milikku tidak aktif di sini?! Bagaimana bisa dia tau keberadaanku!" suara hati Putri.
Bersambung,
__ADS_1