Putri Kurir

Putri Kurir
60


__ADS_3

Selesai berkemas dan pamit kepada Ibu serta keluarga yang masih berkumpul di rumah, Putri dan Arjuna berjalan menuju mobil Arjuna yang terparkir di depan gang.


Putri sering mengamati ke arah suaminya. Iya merasa ada sesuatu yang berbeda dengan A Juna sejak pembicaraan menegenai tugas lisensinya itu, ataukah ini hanya perasaan Putri saja? karena sejak awal ia mengenal A Juna pun sikapnya memang seperti ini.


Arjuna sudah menaiki mobil, begitu juga dengan Putri. Setelah sabuk pengaman terpasang di depan tubuh mereka, mobil pun melaju depan kecematan yang lumayan membuat Putri was-was.


"A hati-hati ya" Putri sesekali mengingatkan suaminya.


"Iya" jawab Arjuna singkat.


"Ya Alloh, aku harus gimana ini? Masa baru nikah udah buat suami kesel? Dosa nggak ya?" Putri berkata dengan kerisauan hatinya. "Pokoknya harus diomongin sebelum berangkat ke Jakarta!" Putri bertekad kuat dalam dirinya.


Kenyataannya, suasana di dalam mobil sama-sama hening. Hanya suara dari kendaraan maupun jalan luar yang keluar masuk dalam pendengarannya. Radio pun seakan tak sanggup Putri nyalakan, hati dan pikirannya sedang mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan saat ini.


Mobil telah sampai di kediaman Mama Julie, rumah terlihat sangat sepi. Padahal Putri mengira situasi rumah akan sangat ramai dengan keluarga Arjuna yang tadi datang ke acara akad nikah.


"A, keluarga kamu pada kemana?" tanya Putri yang baru saja turun dari mobil.


"Pada kumpul di Villa Om Hardi di Puncak" jawab Arjuna singkat.


"Kamu gak ikut kumpul" tanya Putri yang sudah masuk melalui pintu garasi.


Arjuna menghentikan langkahnya, kemudian berbalik ke arah Putri dan berkata "Isteriku besok sudah bekerja, jadi aku hanya punya waktu singkat dengannya"


Putri terdiam sambil mengerutkan dahi. Ia mencoba memahami maksud dari ucapan suaminya tadi.


"Maksud Aa gimana ya?" Putri bertanya saat ia kembali berjalan.


"Hidup selalu memiliki pilihan, saat ini aku dihadapkan untuk memanfaatkan waktu singkat dengan isteriku atau keluargaku. Aku tidak bisa egois untuk mendapatkan semuanya, maka salah satunya harus ada yang di korbankan" Arjuna yang berdiri mengamati wajah isterinya, lalu berjalan ke lantai atas.


Putri sudah mulai paham dengan maksud suaminya, ada rasa bahagia yang membuncah dalam dadanya. Hingga ia tersenyum sambil mengikuti langkah Arjuna menuju lantai atas.


"Jadi A Juna lebih memilih untuk sama aku ya" batinnya. Putri yang bahagia merasa ingin sekali memeluk suaminya, namun rasa malunya masih lebih besar daripada rasa inginnya.

__ADS_1


Saat Arjuna memasuki kamar yang diikuti Putri, ia membuka lemari dan mengambil sebuah koper kecil.


"A, sini aku yang packing aja" ucap Putri yang berjalan, lalu ia berjongkok berhadapan dengan suaminya. "Tapi Aa kasih tahu ya yang dibawa apa saja dan ambilnya dimana, soalnya aku belum hafal".


"Kamu istirahat aja, biar aku bereskan sendiri" jawab Arjuna yang meraih beberapa pakaian dari lemarinya.


Arjuna melanjutkan kegiatan packing-nya, sedangkan Putri hanya mengamati sambil mengingat apa saja yang biasa dibawa oleh suaminya saat berpergian. Arjuna sudah menutup koper dan meletakkannya di samping lemari.


"A, bisa kita bicara sebentar?" pinta Putri lalu berjalan ke arah sofa di kamar Arjuna.



Ketika mereka sudah duduk dengan saling berhadapkan, Putri memulai pembicaraan.


"A, aku mohon maaf kalau ada perkataan atau tindakan aku yang bikin kamu nggak enak. Tapi aku mohon kamu bisa katakannya sama aku, supaya aku bisa tahu apa yang semestinya aku lakukan. Maaf, aku merasa ada yang berbeda dari dirimu" Putri berucap dengan tatapan sayu memandang pria yang baru saja menjadi suaminya. Sebenarnya ia ingin bertanya sambil mengenggam tangan Arjuna, namun ia masih merasa sangat malu.


"Entahlah, aku bukan seorang yang akan bersikap egois. Aku memahami kondisi kamu yang tiba-tiba menikah dan bersamaan dengan itu kamu mendapatkan tugas lisensi. Tapi, aku juga merasa kecewa karena aku sangat ingin mengenalmu lebih dekat dengan menghabiskan banyak waktu denganmu" Arjuna menarik nafas panjang lalu meraih tangan Putri dan menggenggamnya.


"Tidak, kalaupun kau keluar tidak dengan cara seperti ini. Kau harus meninggalkan kesan yang baik" jawab Arjuna.


"Lalu bagaimana aku bisa membuatmu nyaman kalau hatimu menyimpan rasa kecewa A?" tanya Putri lagi dengan tatapan yang sendu.


"Coba kau pikirkan bagaimana supaya aku bisa menerima kekecewaan ini, karena aku sendiri belum pernah merasakan hal seperti ini. Biasanya aku selalu bisa dengan mudah melewati hal yang tidak aku inginkan, namun ini berbeda" Arjuna mengusap pipi isterinya, tatapannya meneliti mengikuti setiap sentuhan lekuk wajah wanita yang dulu hanya bisa dipandanginya saja.


Putri memejamkan mata dan menikmati sentuhan Arjuna. Tangannya bergerak menyentuh bagian punggung tangan Arjuna.


Arjuna mendekatkan tubuhnya ke arah sang isteri hingga mereka dapat saling merasakan hangatnya hembusan nafas satu sama lain. Tangan Arjuna membelai pipi kanan Putri, kemudian ia mengecup sisi kirinya, sementara Putri hanya bisa memejamkan mata untuk mengurangi kegugupannya.


Putri merasakan kegugupan yang luar biasa hingga ia merasa sangat mulas, namun sebisa mungkin ia menahan agar tidak merusak suasana. Bagaimana tidak gugup, ia belum lama mengenal pria yang menjadi suaminya ini.


Arjuna yang memahami kegugupan Putri, mulai menjauhkan wajahnya. "Kita mulai pelan-pelan ya, aku ingin kamu juga menikmatinya" Arjuna berucap kemudian mencium kening Putri sambil memeluknya, dan dibalas pelukan juga oleh Putri.


Sebenarnya Putri merasa senang dengan perlakuan lembut Arjuna saat ini, namun pikirannya sedang terbagi. Satu pikirannya sangat menikmati setiap sentuhan Arjuna, namun pikiran lainnya sangat cemas. Ia merasa khawatir karena kebiasaan masalah perutnya sedang kambuh.

__ADS_1


"Ya Tuhan aku butuh pelepasan, aku sudah tidak bisa menahannya!" batin Putri.


"Maaf A, aku mau ke kamar mandi dulu" Putri seketika mendorong dada Arjuna dan berlari menuju kamar mandi.


Blam


Pintu kamar mandi ditutup.


Pruuuuut


"Aahh lega" Putri merasa kelegaan sesaat, namun ia teringat "Duh suaranya kedengaran A Juna gak ya? Ampun deh malu banget kalau kedengaran" Putri meragu untuk keluar kamar mandi atau tidak. Ia hanya mondar mandir sambil mempersiapkan mental jikalau suaminya tadi mengetahui hal memalukan itu.


Sampai beberapa menit kemudian, Putri memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi. Ia mulai membuka pintu perlahan lalu menoleh ke arah sofa dan penjuru kamar, tapi ia tidak menemukan Arjuna di sana. "Fiuh aman" Putri berucap sambil mengelus-elus dadanya.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.


Ceklek


Arjuna masuk sambil membawakan sebuah botol berwarna hijau bening. Ia mengulurkan tangannya di depan Putri.


"Kamu masuk angin? coba dibalur pakai ini!" ucapan Arjuna membuat Putri terkejut.


"Aa tahu aku tadi kentut?" tanya Putri sambil menutup wajahnya karena malu.


"Kenapa mesti malu?" ucap Arjuna yang malah menertawakan tingkah isterinya saat ini.


"Iih tetep aja kan malu A!" jawab Putri yang masih menutup wajahnya.


"Mau dibalurin apa balur sendiri nih?" ucap Arjuna dengan tampang usil.


"Sendiri aja A" Putri meraih botol itu kemudian masuk lagi ke dalam kamar mandi.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2