
Sebetulnya ini pertama kalinya Putri mengunjungi salah satu resto yang sedang hits di Kota Hujan. Ia hanya mendapatkan referensi dari teman-teman dan dari para pencinta kuliner di internet. Nampak bangunan yang sangat artistik dari depan dengan berbagai material cantik yang pastinya sudah disesuaikan oleh sang perancang bangunan ini.
Putri berjalan berdampingan dengan Yudhis, mereka berjalan tanpa berkata-kata. Bahkan Putri mempercepat langkahnya agar menghindari Yudhis yang mungkin saja akan memulai pembicaraan duluan. Ia sangat menghindari hal itu karena khawatir teman-teman kantornya akan berfikir bahwa kami memiliki kedekatan, apalagi jika hal ini sampai ke telingan Aldi sebelum Putri sendiri yang menceritakan padanya duluan. Aldi bukan seorang yang impulsif, dia bisa sangat mengontrol emosinya dan selalu cermat dalam menentukan langkah ataupun tindakan yang dipilihnya.
Kini ia berjalan di lorong samping yang menghubungkan area parkir dengan pintu masuk resto. Putri masih berjalan dengan cepat hampir tak beraturan karena tentu saja jantungnya masih berpacu tak menentu entah karena ia sudah lama tak berjumpa dengan cinta pertamanya ataukah karena relung kosong dihatinya sedang melompat-lompat karena terlalu girang. Secepat apapun langkah Putri, tidak menghambat Yudhis yang berporstur tinggi tegap untuk tetap berjalan mengimbangi Putri disampingnya dengan langkah panjang kakinya.
Lorong itu hanya muat untuk dua orang dewasa, mungkin jika ia berpapasan dengan pengunjung lain dengan arah yang berlawanan maka ia tidak bisa berjalan berdampingan seperti saat ini. Ketika sedang berjalan dipertengahan lorong, tak sengaja tangan Putri yang sedang bergoyang keatas dan kebawah mengikuti irama kakinya menyenggol tangan besar di sampingnya.
"Eh sorry" refleks Putri menarik tangannya dan mengatakan maaf.
"It doesn't matter, although you want to hold mine it's gonna be pleasure for me babe" ucap Yudhis sambil tersenyum menggoda.
"You're nut!" balas Putri sambil menatap remeh pria tampan di sampingnya.
Mereka berbelok ke kiri ke tempat utama Resto yang sudah nampak sangat keren dari tampilan depannya, ternyata bagian dalamnya sangat indah bahkan Putri yakin akan lebih indah jika malam hari dengan diperindah penerangan lampu-lampu akan menjadi sangat romantis.
"Selamat siang Ka, sudah reservasi?" sapa seorang karyawati resto yang berpakaian hitam dengan list kuning sedang berdiri di depan dengan menggunakan headset dan menggenggam notepad di tangannya.
"Sudah Mbak, rekan-rekan saya sudah di dalam" jawab Putri
"Atas nama siapa Ka?" tanya kembali si pegawai dengan ramah.
"Atas nama Putri dari ZEN Express"
"Baik akan saya antar, silahkan" karyawati tersebut mempersilahkan untuk mengikutinya, lalu kami pun berjalan ke arah indoor di sebelah kiri yang ternyata interiornya sangat cantik.
"Wow bagus banget" lirih Putri rendah yang terdengar oleh Pria tampan di sebelahnya.
"Kamu pertama kali ke sini? tanya Yudhis
"Yap" jawab putri singkat
"Silahkan ini mejanya" ucap sang pegawai sambil menujuk sopan ke arah meja panjang yang sudah terisi oleh enam orang di sana.
"Thanks" jawab Yudhis sambil tersenyum tampan yang dapat putri lihat membuat pegawai itu menjadi merona.
__ADS_1
"Dasar tukang TB" umpat Putri dalam hati.
*) sebutan untuk orang yang suka tebar pesona ya readers, bukan Tuberkulosis yang penyakit itu he..he..he..
Putri melihat pada meja rombongannya, terdapat dua kursi kosong, yakni di sebelah Pak Dadang dan di sebelah antara Mas Iman dan Cindy. Tentu saja Putri lebih memilih di sebelah titisan Edward Cullen itu karena sudah pasti Yudhis sang pejabat terhormat dari kantor pusat ini harus duduk di samping pimpinan cabang.
"Lama banget lo dari mana aja beduaan?" Cindy berbicara sambil mendekatkan dirinya pada Putri agar suara rendahnya bisa terdengar.
"Ya jalanan padet Mbak, belum lagi apes kena lampu merah dua kali lho" jelas Putri sambil menatap sebal pada Cindy.
"Yaelah alesan aja lo, inget pilih satu yang di Jakarta lo lepas dulu kalau mau ama yg ini. Gw sih pilih yang ini aja deh lebih cute senyumnya" goda Cindy sambil menarik dagu putri.
Tak lama datang seorang waiters pria yang dipanggil oleh Yudhis karena ia dan Putri belum memesan makanan. Setelah mereka menyebutkan pesanannya, waiters itu pergi dan tak lama berbagai minuman telah tersaji di depan. Beberapa menit kemudian barulah hidangan makananan tersaji satu persatu dan terlihatlah di atas meja sudah penuh dengan hidangan yang cantik dan lezat.
Mereka semua menikmati hidangan yang sudah dipesannya masing-masing dengan bercakap-cakap hal yang ringan. Seperti biasanya Sandy merupakan pelopor lawakkan yang bisa menghibur tujuh orang penghuni meja di sana.
"Nih makan dim sum nya, kamu suka dim sum kan?" Ucap Iman sambil menyodorkan dua buah dim sum yang baru diantar oleh waiters.
"Kamu yang pesen Mas? Buat aku atau punya kamu cuma bagi aja sama aku?" tanya Putri yang merasa tidak memesan dim sum.
"Aku pesan buat kamu, tapi kalau kamu ngasih buat aku ya gak apa-apa"
"Yey, thanks ya tadi aku gak liat ada menu ini Mas" ucap Putri dengan senyum kegirangan yang tidak sadar sedang diperhatikan oleh pria tampan yang duduk di depannya.
"Jadi aku ga dikasih nih?" tanya iman sambil memperhatikan Putri yang melahap dim sum nya dengan sumpit.
"Sumpitnya cuma satu" jawab Putri sambil mengacungkan sumpitnya.
"Ya nggak apa-apa lah emangnya kamu punya penyakit menular?" tanya iman sambil tersenyum jail.
Putri meraih garpuh yang berada di atas piring bekas iman, kemudian menacapkan dim sum nya dan menyuapinya pada iman. "Nih pake garpu punya mu aja ya".
Iman menanggapinya dengan mengacungkan dua jempol pada Putri.
"Enak kan mas?" tanya Putri
"Enaklah dibayarin kantor pula" timpal Iman.
"Eh Bu Putri, koq milkshakenya nggak diminum?" tanya Yudhis dengan tatapan penuh intimidasi di depannya.
"Saya...." belum selesai Putri berkata, Yudhis sudah meraih milkshake vanilla di hadapannya.
__ADS_1
"Buat saya aja yah, minuman saya sudah habis" ucap Yudhis yang langsung menyedot milkshake vanilla yang menggiurkan itu.
"Sial bener! Gak mungkin gw marah sama BOS besar ini di depan teman-teman kantor" umpat Putri dalam batinnya.
"Yah pak minum aja" jawab Putri dengan tampang pasrah.
"Kamu mau?" sambil menyodorkan milkshake bekasnya ke arah Putri.
"Nggak usah Pak"
"Mau saya pesenin lagi aja ya?"
"Nggak usah Pak, saya udah minum air putih aja" walau sebenarnya dalam hati Putri sangat kesal dengan tingkah Yudhis.
"Awas aja ya, berani begini karena posisinya lagi jadi bos. Pokoknya gak terima itu milkshakenya dia minum! Gak ikhlas! sengaja belum aku minum karena ingin menikmati di akhir-akhir setelah makan" batin Putri.
"Sudah jam 1 siang nih, kita balik ke kantor deh belum sholat juga" ucap pak Dadang yang kemudian mendapat persetujuan dari kami semua.
Sebelum pulang, rombongan menyempatkan untuk berfoto bersama di spot terbaik menurut pegawai di sana.
Seperti saat berngkat tadi, Putri tetap ikut dengan mobil Yudhis. Namun kali ini ia meminta Cindy menemaninya dan mempersilahkan seniornya itu untuk duduk di kursi depan. Putri merasa sedikit lega, karena perjalanan menuju kantor hanya disertai dengan obrolan seputar pekerjaan antara mereka bertiga.
Mungkin saat ini Putri bisa lega karena terhindar dari pembahasan pribadinya dengan Yudhis, namun ia yakin sepulang kerja ia tidak bisa lagi menghindar darinya.
"Aku mesti izin sama Mas Aldi nggak ya? rasanya nggak tenang. Tapi kalau aku minta izin sedangkan aku belum menceritakan kondisinya, malah bisa buat Mas Aldi salah paham. Susah pula jelasin kalau nggak lagi ketemu langsung. Udahlah, nanti aja cerita sama Mas Aldinya kalau nanti ketemu. Sekarang yang wajib adalah izin dulu sama Ibu buat makan malam di luar sepulang dari kantor nanti" ucap Putri dalam hati yang kemudian mulai mengirimkan pesan kepada Ibunya.
Sesampainya di kantor, Putri beserta yang lainnya melaksanakan sholat zuhur di musola dekat ruang sales. Setelah solat berjamaah, mereka melanjutkan meeting yang mulai diisi dengan sesi presentasi dari setiap Departemen mengenai pencapaian-pencapaian dari awal tahun hingga bulan terakhir. Selain presentasi, para perwakilan Departemen pun melakukan diskusi atas permasalahan yang dihadapinya. Saat itu Putri sangat kagum dengan sisi lain Yudhis sebagai pimpinan yang bisa menunjukan karakter kepemimpinannya melalui solusi-solusi maupun arahan yang diberikannya kepada kami.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore yang menandai berakhirnya meeting hari ini. Selesai meeting, Pak Dadang mengajak Yudhis berkeliling kantor dan melihat proses kerja di sana.
Saat Putri sudah kembali ke ruangannya dan duduk di depan PC nya muncul notifikasi whatsapp pada ponselnya.
trrt
Dilihatnya pesan dari nomor yang belum tersimpan.
"Sehabis magrib aku tunggu di depan ruko. Yudhistira" Putri membuka lebar mulutnya dan menutupnya dengan tangan.
"Dia dapet nomor aku dari mana? kayaknya tadi nggak nanya ke aku deh" pikir Putri yang kemudian segera kembali berkutat pada pekerjaannya, melanjutkan mengecek emailnya kembali yang sudah menumpuk karena sedari pagi ia belum sempat membuka inbox pada outlooknya.
Tak terasa sudah terdengar adzan magrib. Putri sengera keluar ruangan lalu menuju ke toilet untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat magrib. Selesai sholat, ia masuk kembali ke ruangannya, mengecek email yang masuk sekilas lalu mematikan PC nya dan bersiap pulang.
Bersambung
__ADS_1
^_^ Mohon dukungannya untuk memberikan, like dan comment ya.. kalau suka silahkan klik favorit dan berikan vote ya reader