
Putri menuruni tangga menuju lantai dasar tempat space kosong menuju pintu luar, namun pada malam harinya tempat ini berubah menjadi area kerja operasional outbound. Terlihat beberapa kurir yang sudah selesai melalukan pick up barang sedang melakukan serah terima dengan admin checker, kemudian mereka akan mensortir barang tersebut ke keranjang yang sudah di tuliskan kode destinasinya. Setelah barang penuh per destinasi maka keranjang tersebut akan dislerekan ke lantai basement melalui tangga yanga sebagian sisinya diubah menjadi papan seluncur, agar keranjang dapat meluncur dengan baik. Tentunya sudah ada PIC lain yang siap menangkap di basement bawah.
Putri menyapa beberapa pekerja area outbound yang ia lalui, kemudian berjalan melakukan absensi pada alat absen finger print yang tergantung di sisi kanan sebelum lorong keluar ruko.
Setelah memastikan mesin mengucapkan "Thank you" ia berjalan menuju arah pintu keluar ruko, lalu pandangannya mengarah ke arah area parkir sebelah kiri. Tak lama kemudian dilihatnya cahaya lampu mobil yang menyorot keluar dari sisi kiri area parkir dan mobil tersebut berjalan ke arah tempat Putri berdiri. Sebelum ia berjalan, Putri memastikan kondisi depan kantor tidak ada satu pun karyawan tidak yang sedang berada di depan kantor, kemudian ia bergegas berlari kecil dan masuk ke dalam mobil Pajero hitam yang sudah berhenti di depannya.
Brug
Pintu mobil sudah Putri tutup. Kemudian ia memegang dadanya dengan nafas yang memburu.
"Kamu ngapain sih mesti lari-larian segala, kayak lagi dikejar apaan aja" ucap Yudhis yang menatap Putri keheranan.
"Udah majuin cepetan mobilnya mumpung gak ada orang kantor di depan" jawab Putri sambil menengok ke arah depan kantor dan gerbang keluar ruko.
"Iya.. iya babe" Yudhis berkata sambil menggelengkan kepalanya lalu melajukan mobilnya ke arah luar ruko.
"Kita mau kemana?" Tanya Putri sambil menoleh ke arah Yudhis saat mobil berhenti tertahan lampu merah depan area ruko kantor.
Yudhis mendekatkan dirinya ke arah Putri untuk memakaikan safety belt. Dengan posisi yang masih dekat malahan sangat dekat, mungkin mereka saat ini hanya sebatas jengkal tangan Putri. Yudhis menjawab "Ke tempat favorit kamu babe" sambil tersenyum dan memandang wajah Putri dengan seksama. Terlihat di sorot matanya begitu hangat namun sarat akan kerinduan di sana.
Putri menjadi sedikit salah tingkah. Ia merasakan telapak tangannya dingin dengan tabuhan di dadanya semakin kencang seakan enggan untuk berhenti.
"Oookaay Thanks, itu bentar lagi jalan udah lampu kuning" Putri hanya sanggup menjawab itu dengan mengarahkan telunjuknya ke arah traffic light depan.
Yudhis menarik tubuhnya sambil tersenyum kemudian melajukan kembali kendarannya dan berjalan dengan kecepatan sedang menuju tempat yang sudah dia rencakan.
Mobil berjalan di jalan Padjajaran yang masih dekat dengan daerah Warung Jambu, kemudian berbelok arah ke arah berlawanan lalu mobil menepi ke sisi kiri dan masuk ke area parkir resto Pizza terkenal.
Wajah Putri terlihat sangat bersei-seri, ada kebahagiaan karena Yudhis masih sangat memahami dirinya yang sangat menyukai hidangan Pizza dan Pasta di sini. Yudhis tahu bahwa Putri bukan berasal dari keluarga berada dan ia juga pasti mengatur pengeluarannya dengan bijak sehingga makan ke tempat seperti ini menjadi moment yang langka bagi Putri.
"Hope you'll enjoy babe" ucap Yudhis selesai memarkirkan mobilnya di bagian yang dekat dengan pintu masuk resto.
Putri menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis "iya thanks".
"Udah bilang thanks aja, emangnya aku mau bayarin kamu?" jawab Yudhis menggoda Putri.
"Ya nggak apa-apa aku bayar sendiri bisa koq" jawab Putri sambil sedikit memanyunkan bibirnya, kemudian langsung membuka handle dalam mobil dan bergegas keluar karena merasa sebal dengan candaan Yudhis yang sudah membuat dirinya terlalu berharap kemudian direndahkan.
"Jangan ngambek dong babe" Ucap Yudhis yang berjalan menyusul Putri di belakang.
Putri tak mengindahkan Yudhis, ia terus berjalan secepat mungkin ke dalam. Sebenarnya ia tidak marah hanya malu dengan candaan Yudhis tadi.
"Selamat malam Ka, take away atau dine in? " tanya waiters yang berjaga di pintu masuk.
Putri mengalihkan pandangan ke arah Yudhis di samping kirinya. Seperti memberikan kode "kamu yang jawab deh. Secara dia yang ngajak kan? jadi terserah deh mau makan di sini atau dibungkus" ucap Putri dalam hati.
"Dine in untuk 2 orang" jawab Yudhis kepada waiters.
"Smoking atau non smoking Ka?" tanya waiters itu lagi.
"Non *smoking *aja" jawab Yudhis.
"Mari saya antar, bisa di area situ atau situ Ka" waiters tersebut menunjuk ke sisi bawah dekat dengan salad bar, dan sisi yang sedikit naik ke atas dengan view kaca ke arah smoking room.
"Kita ke situ aja Mbak" jawab Putri menunjuk ke arah tempat duduk dekat salad bar dengan tempat duduk sofa berwarna merah yang berhadapan.
Yudhis mendudukkan bokongnya berhadapan dengan posisi Putri yang sudah duduk terlebih dahulu. Kemudina seorang waiters kembali menghampiri mereka.
"Permisi sudah siap pesan ka?" tanya sang waiters dengan senyuman yang hangat.
"Belum mbak, kita mau liat-liat dulu" jawab Putri.
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu nanti jika pesanannya sudah siap, silahkan bisa panggil kami kembali" ucap waiters tersebut setelah mendapatkan persetujuan anggukkan kepala dari kami berdua.
"Kamu mau pesan apa babe?" tanya Yudhis
"Yudhis, bisa nggak jangan panggil aku babe? nanti orang bakal salah paham. Jangan samain di sini dengan kebiasaan kamu di Luar Negeri" ucap Putri sambil menatap sayu pada Yudhis.
__ADS_1
"Oke Putri" jawan Yudhis singkat sambil menunjukkan lingkaran dengan melengkungkan jempol dan telunjuk kanannya.
Kemudian mereka berdua disibukan dengan membolak-balik buku menu yang diberikan waiters tadi.
"Pizza nya kamu yang pilih aja Put. Aku mau Cheese Beef Fusilli minumnya Chocolate Blast " ucap Yudhis lalu menutup buku menu yang dipegangnya.
Putri melambaikan tangannya pada waiters yang berada tak jauh dari mejanya, kemudian sang waiters itu tersenyum dan berjalan menuju meja mereka dengan membawa notes dan pulpen yang sudah tersemat di saku afronnya.
"Sudah siap pesanannya Ka?" tanya waiters tersebut dengan ramah.
"Sudah" jawab Putri.
"Baik ka apa pesanannya?"
"Cheese Beef Fusilli, Oriental chicken spaghetti, dan american favourite. Minumnya Chocolate Blast dan Vanilla Milkshake" jawab Putri sambil menutup buku menu dihadapannya.
"Baik Kak, saya ulangi pesanannya" waiters itu mengulangi pesanan dengan sempurna. "Ada tambahan lainnya Kak? Mungkin salad atau cream soup yang sedang promo harga spesial untuk pembelian sepaket" tawar waiters itu dengan sopan.
"Nggak Mbak, terima kasih" jawab Putri sambil tersenyum.
"Baik Kak, mohon ditunggu pesannya. Bisa saya bawa kembali buku menunya?" kemudian Putri memberikan dua buku menu yang digeletak di atas mejanya lalu memberikannya pada waiters. " Jika memerlukan bantuan silahkan memanggil waiters yang berjaga ya Kak, saya mohon permisi" waiters itu permisi dengan gasture yang sangat sopan.
Putri terdiam dan hanya menunduk, kemudian melihat ponselnya walau sebenarnya tidak ada yang perlu ia lakukan pada ponselnya itu. Ia terlalu bingung pada situasi saat ini, belum lagi rasa bersalah pada Aldi karena bagaimana pun juga ia sedang makan malam dengan pria lain di luar jadwal kerjanya. Aldi sebenarnya tipe kekasih yang pengertian, namun Putri tidak terbiasa menutupi atau berbohong pada hal yang sebenarnya memang ia lakukan.
"Kamu ada yang dipikirin?" tanya Yudhis.
"Nggak koq biasa aja" jawab Putri sambil tetap menunduk.
"Muka sama mulut koq gak sinkron gitu jawabnya" ucap Yudhis sambil tersenyum.
"Udah deh, kita di sini awalnya mau bahas apa?" tanya Putri balik mengalihkan pembicaraan karena tidak mungkin ia menceritakan isi pikirannya pada Yudhis.
Yudhis menegakkan posisi duduknya, menengadah ke atas beberapa saat kemudian menatap Putri dengan tatapan sendunya dan meletakan kedua tangannya saling menggenggam di atas meja.
"I'm so sorry for what I've done to You. Saat itu aku masih terlalu muda, egois dan sangat emosional. Aku hanya tidak bisa menerima kamu sering berinteraksi dengan teman-temanmu tertutama teman laki-laki. Ya kamu tahu aku dulu bagaimana posesifnya kan?" Yudhis berkata sambil menaikan kedua alisnya yang dijawab dengan anggukan oleh Putri.
"Aku juga saat itu tidak suka kamu menjadi pusat perhatian dengan aktifnya menjadi pengurus bahkan berprestasi di sana. Sangat bodoh sekali aku saat itu Put. Sebenarnya saat itu aku hanya butuh menenangkan diri. Setiap hari selalu saja aku ingin mencoba menghubungimu bahkan menemuimu. Namun ketika aku mencoba untuk menemuimu di waktu pulang sekolah, aku melihat senyummu sangat bahagia ketika sedang latihan Kateda dan terlihat berbakat di sana. Akhirnya, aku hanya memperhatikanmu dari jarak yang mungkin nggak akan terlihat oleh kamu. Aku merasa sebagai pengganggu yang bisa menghambat prestasi juga masa mudamu yang seharusnya bisa digunakan untuk melakukan berbagai hal-hal positif. Saat itu aku masih belum bisa berdamai dengan diriku. Aku belum bisa kembali bersamamu tapi juga harus meredam sikap posesifku. Dengan bodohnya aku malah mencoba menjauh dan menghilang begitu saja agar kamu bisa terus berprestasi tanpa terbebani oleh sikapku dulu" Yudhis berkata kemudian menunduk dan menatap sendu ke arah Putri.
"Selfish persons are incapable of loving others, but they are not capable of loving themselves either, isn't it?" Putri menatap sinis Yudhis yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan, karena ia ingin terlihat tak mengacuhkan penjelasan Yudhis itu. Namun hatinya tidak bisa dibohongi, ia merasa kesal, kecewa, dan rasanya ingin memukul orang dihadapannya. Yudhis tidak tahu seberapa berat hari-hari yang Putri lalui saat itu, setiap hari ia bersikap ceria namun ruang hatinya terasa sakit merindu karena kehilangan seorang yang meninggalkannya tanpa penjelasan apa pun. Ia teringat bagaimana seringnya ia menangis ketika sedang sendiri, bagaimana juga ia selalu mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka berdua dengan secercah harapan untuk bisa bertemu kembali. Putri mengingat kembali harus berapa lama ia bisa bangkit dan akhirnya mencoba menbuka hatinya untuk dapat menerima seseorang selain Yudhistira.
Mereka makan dalam diam hanya sesekali saling melirik. Saat mata mereka melirik bersamaan Yudhis hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"Kelilipan?" tanya putri.
"Iya nih tiupin dong" pinta Yudhis sambil berakting kelilipan.
"Bentar aku minta tolong mas-mas yang lagi bawa pel-an itu ya buat tiupin kamu"ucap putri sambil menunjuk karyawan yang sedang mengepel di area smoking dengan garpunya.
"Mau nya sama kamu nih ditiupin" jawab Yudhis menggoda.
"Bentar aku ambil sedotan ini, nanti ditiupnya pake sedotan ini aja ya" ucap Putri sambil mencabut sedotan di minumannya.
"Waduh gak jadi kelilipannya klo gitu sih"
"Dasar ngibul mulu nih!" ucap Putri sambil memonyongkan bibirnya.
"Setidaknya aku nggak ngibulin kamu kalau dari dulu sampai sekarang aku masih mencintai kamu Putri Bella Atmamihardja" jawab Yudhis yang menatap Putri dengan tatapan mata cokelat yang hangat dan tampan.
"Maaf aku sudah punya kekasih sekarang, jadi kita hanya bisa berteman. Itu pun jika pacarku mengizinkan" ucap Putri sambil menatap ke arah sampingnya. Ia tak berani melihat ke dalam tatapan mata Yudhis yang bisa membuat jantungnya serasa berpacu kencang.
"Orang sales tadi kah pacarmu?" tanya Yudhis.
"Sales? siapa?" tanya putri dengan wajah berfikir sejenak.
"Yang tadi kasih kamu dim sum" tanya Yudhis yang tetap menatap Putri dengan tatapan seperti meninterogasi.
"Oh mas Iman? Bukan dia koq" jawab Putri datar kemudian melahap Pizzanya.
"Terus siapa?" tanya Yudhis kembali dengan tatapan dan ekspresi yang sama.
"Di kantor Pusat" jawab Putri dengan ragu, haruskah dia memberi tahunya? apa hak Yudhis kalau dia tahu?
__ADS_1
"Namanya siapa? Bagian apa?" tanya Yudhis dengan nada bicara yang tenang namun tegas.
"Perlu gitu aku kasih tau kamu sejelas-jelasnya?" tanya Putri sambil menatap dengan ekspresi skeptis.
"Ya sudah kalau kamu gak mau kasih tau, gak apa-apa" jawab Yudhis dengan senyum ramahnya.
"Yudhis sudah berubah, sepertinya sudah bisa mengontrol emosinya jauh lebih baik dari yang terakhir Putri kenal. Dia sudah dewasa dan banyak berubah" ucap Putri dalam hati.
"Kamu masih suka berenang?" tanya Putri yang sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja, hampir setiap hari aku berenang" Jawab Yudhis enteng.
"Ternyata tetap ya tiada hari tanpa berenang, tapi kalau kamu pulang kerja malam gimana? Tetap renang gitu? tanya Putri kembali.
"Yap, untuk menjaga kebugaran aku tetap harus berenang dan itu juga sebagai salah satu cara untuk menghilangkan kelelahan dan stress dalam keseharian"
"Ya kamu enak ada kolam renang di rumah, kalau aku sih harus repot-repot ke kolam renang umum".
"Kalau mau renang malam main aja ke rumah, Mama pasti senang kalau ada temannya juga".
"Oh ya Mama apa kabar?" sebenarnya Putri belum pernah ketemu dengan Mamanya Yudhis, hanya saja jika Yudhis sedang apel malam minggu dulu, Mamanya selalu menitipkan pada Yudhis masakan, kue-kue, ataupun oleh-oleh sehabis travelling untuk Putri.
"Alhamdulillah Mama sehat, mainlah ke rumah. Berenang juga boleh. Oh ya kamu masih aktif olah raga sekarang?" tanya Yudhis.
"Sejak kerja apalagi sambil kuliah juga, aku udah jarang banget olah raga. Renang juga palingan sebulan sekali, sisanya palingan jogging aja itu juga kalau lagi nggak capek".
"Olah raga itu harus dibiasakan, kalau nemu capek mulu ya gak bakal jadi-jadi olah raganya. Oh ya kalau renang masih pake baju yang kaya dulu?" tanya Yudhis santai.
"Idih ngapain sih nanya-nanya baju renang aku segala" batin Putri.
"Iya, emang kenapa? aku belum beli lagi sejak SMA" jawab Putri datar.
"Aku bilang dari dulu jangan pake yang model gitu Putri, nanti jadi pemandangan gratis buat orang-orang. Jangan dipakai lagi ya, nanti aku beliin deh yang model hijaber gitu" ucap Yudhis dengan tenang.
"Sekarang dia juga bisa tenang gini kalau ngomong ya, kalau dulu bawaannya udah marah-marah aja. Kadang kasih instruksi yang gak masuk akal. Suruh aku ke sekolah pakai stocking lah supaya kakinya ga keliatan, pakai cardigan di dalam kelas walau nggak lagi sakit, gak boleh natap mata cowok, ah banyak lagi deh perintah aneh-anehnya dulu" Putri geli sendiri dengan ingatannya.
"Iya nanti aku beli" Ucap Putri sambil menahan senyumnya.
"Good girl" Yudhis tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya dan melakukan aktifitas pribadi seperti sedang membalas chat seseorang.
"Oh ya kamu tau nomor aku dari mana? tadi koq bisa kirim whatsapp?" tanya Putri yang teringat akan kejadian sore tadi.
"Oh aku nanya sama Pak Dadang" jawab Yudhis yang sebentar mengalihkan pandangannya pada Putri saat menjawab, lalu beralih ke ponselnya lagi.
"Nanya nomor aku doang? nanti Pak Dadang curiga gimana?" tanya Putri dengan nada keresahan di sana.
"Aku nanya semua nomor yang hadir tadi, kan ada di daftar absensi meeting"
"Oh"jawab Putri yang hatinya menjadi tenang.
"Putri, tadi aku udah jelasin semuanya ke kamu. Apakah ada yang mau kamu sampaikan ke aku?" tanya Yudhis kemudian menaruh ponselnya di samping piring yang ada di hadapannya.
"Entahlah, semua sudah berlalu. Alasan kamu sungguh tidak adil buatku dulu. Tapi tak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Kam begitu saja meninggalkanku tanpa penjelasan sampai lima tahun kemudian lalu kamu baru kirim email sama aku" Putri menjeda sesaat lalu melanjutkan kembali perkataannya "itupun karena akan mengucapkan duka cita atas kepergian Bapak, mungkin jika tidak ya belum tentu juga kamu email aku. Perlakuan kamu dulu ke aku itu sangat jahat Yudhistira". ada sedikit kelegaan dalam hati Putri karena beban berat dalam dadanya bisa sedikit terlepas.
"Maaf saja memang terasa terlalu mudah jika dibandingkan kekecewaanmu. Aku kirim email sama kamu, bukan hanya karena ingin mengucapkan duka cita itu saja Put, tapi saat itu aku memang merasa siap untuk menjadi Yudhistira yang baru yang bisa membawa kebahagiaan untukmu".
"Yap, but you're late" jawab Putri sambil tersenyum dengan tatapan kosong.
"No, I am not late. Memberikan kebahagiaan untukmu bukan berarti harus menjadikanmu milikku lagi. Tapi kalau akhirnya dapetin kamu lagi ya itu namanya bonus buat aku" Ucap Yudhis sambil menatap hangat ke arah mata Putri.
"Kalau nggak jadi sama kamu gimana?" tanya Putri balik.
"Itu udah jadi konsekuensi atas keputusan yang aku ambil dulu, itu hukum sebab akibat dan aku menerima itu" jawab Yudhis walau saat ini tatapannya sedikit berubah entah mengapa membuat Putri sangat ingin memeluknya.
Ringtone ponsel Putri berdering
"Assalamu'alaikum. Ya Halo, apa? di mana sekarang? oke bentar saya ke sana Pak, sekarang Bapak dampingi dulu aja. Oh ya Tolong bantu kabarin Wijaya juga ya untuk ke sana" terdengar pembicaraan Putri dengan seseorang di seberang sana dengan suara yang cemas.
"Yudhis sorry sekarang aku harus pergi ke rumah sakit umum, tadi ada korwil yang telepon kalau kurirnya kecelakaan dan harus segera di operasi" ucap Putri dengan nada yang panik lalu berdiri.
"Aku temani kamu" jawab Yudhis sambil berdiri dari bangkunya.
__ADS_1
Bersambung
^_^ Mohon dukungannya untuk memberikan, like dan comment ya.. kalau suka silahkan klik favorit dan berikan vote ya reader