Putri Kurir

Putri Kurir
63


__ADS_3

Hari berganti hari, tak terasa sudah tiba hari kepulangan Arjuna ke Singapura. Mama Julie pun sudah pulang diantar oleh anak sulung Om Hardi. Keponakannya itu kebetulan akan dinas luar ke Kota Hujan.


Pagi ini, mereka sedang sarapan bersama di meja makan. Aneka hidangan yang disiapkan oleh asisten rumah sudah tersaji di sana. Kecuali Putri yang masih berada di kamar karena sedang mengecek ulang bawaan suaminya yang akan berangkat ke bandara pukul 2 siang nanti.


"Jun, emang sanggup jauh sama isteri? Gak lo bawa aja tuh bini ke Singapura?" tanya Alvin pada Arjuna sambil menikmati sarapannya.


"Ya pengennya sih gak jauhlah Bang, tapi kita kan nikahnya ngedadak jadi tinggal nunggu saat yang tepat aja" jawab Arjuna.


"Yaelah nikah apa enaknya jauh-jauhan? Nikah kan buat pelepasan, kalau tempat pelepasan lo jauh kan sama aja kayak ngebujang Jun. Apa enaknya nikah kalau gitu?" Alvin berkata dengan gaya provokasinya.


"Do'akan kita saja Bang, semoga nanti nggak jauh lagi" jawab Arjuna yang santai. Seperti biasa, keusilan kakak sepupu ini tidak mampu merubah kestabilan emosi seorang Arjuna Nataprawira. Bagaimana pun juga, Arjuna sangat bisa terlihat tenang dan datar dalam menghadapi berbagai macam pembicaraan. Sekali pun tujuan pembicaraannya itu tidak ia sukai, Arjuna sangat sulit untuk ditebak.


"Alah lo penganten baru kan lagi Hot-hot nya Jun! Kagak ketagihan apa?" Alvin masih terus berusaha meruntuhkan pertahanan ketenangan seorang Arjuna. Namun sepertinya ia harus kalah karena adik sepupunya ini hanya menjawab dengan senyuman.


"Sudah-sudah tuh ada Putri, gak enak kalau kalian ngomongin kayak gitu di depan wanita kan?" Mama Julie menghampiri meja makan dengan membawakan pitcher minuman yang berisi jus jambu merah, lalu menaruhnya di samping tumpukan roti bakar.


Putri menuruni tangga sambil tersenyum.


"Habis salat duha ya sayang?" tanya Mama Julie yang sedang menuangkan jus ke dalam gelasnya.


"Nggak Ma, aku lagi nggak salat. Tadi lagi mastiin bawaan A Juna aja" Putri menjawab sambil berjalan menuju meja makan.


"Kamu baru datang bulan? perutnya sakit nggak?" tanya Mama dengan raut khawatir.


"Udah nggak sakit koq, kan aku dapetnya dari hari Minggu Ma" Putri tersenyum lalu duduk di sebelah Arjuna.


"BUAHAHAHAHAHAHAHA" suara tawa Alvin meledak. Semua mata tertuju pada pria berambut pendek dibelah pinggir dengan kulit hitam manis dan berlesung pipit itu.


"Pantesan lo datar-datar aja! Belum masuk ke zona surga dunia lo ya! Apes banget Jun nasib lo! Nanti beres Minggu, eh Senin lo udah balik Singapura lagi! Hahahaha" Alvin dengan lepasnya mengejek adik sepupunya, sementara Arjuna hanya tersenyum namun tak membalas ejekan itu sedikit pun.


Mama Julie hanya menggelengkan kepala, sepertinya ia sudah terbiasa dengan sikap keponakannya yang senang menjaili Putranya, namun berbeda dengan Putri.

__ADS_1


"Ih Bang Alvin rese banget ngejeknya! Kalau aku jadi A Juna mah udah abis aku bacotin pake jurus tapak dewa!" suara batin Putri.


"Hati-hati lho Jun, kalau cewek udah dinikahin biasanya keliatan lebih glowing di mata para lelaki" ucap Alvin yang sebenarnya ia hanya asal bicara demi mematahkan ketenangan sepupunya. Benar saja, jurusnya kali ini sedikit membuahkan hasil. Arjuna memberikan tatapan elang pada isterinya.


"Apes deh, Bang Alvin yang iseng lah aku yang kena imbas" Putri menunduk untuk menghindari serangan dari tatapan pria di sampingnya.


Arjuna berdiri sambil membawa piring kotornya, lalu berjalan ke tempat pencucian. Setelah selesai dengan urusan cuci piringnya, ia berjalan menuju lantai atas tanpa sepatah katapun. Putri dengan cepat menghabiskan sarapannya, lalu mencuci piring dan melangkah mengikuti suaminya.


Putri melihat Arjuna masuk ke dalam kamar.


"Duh kayaknya dia bete nih. Asem banget sih Bang Alvin"batin Putri.


ceklek


"Aa" panggil Putri saat masuk ke dalam kamar. Ia melihat Arjuna sedang berdiri di depan lemari pakaian yang terbuka sambil memegang sesuatu yang kurang jelas dalam pandangannya saat ini.


Putri melangkah mendekati Arjuna. Sementara Arjuna yang menyadari kehadiran isterinya, ia segera membalikkan tubuh.


"Selain cincin nikah, kamu harus selalu memakai ini. Terutama saat jauh dariku" Arjuna membuka sebuah kotak berwarna biru navy dengan sebuah hiasan berwarna putih pearl. Ia membuka isi kotak itu dan nampak sebuah kalung dengan liontin yang sangat cantik.



Putri merasakan kegelian namun ia sangat menyukai perlakuan suaminya tadi. Ia membalikkan badan dan segera memeluk pria di depannya. "Terima kasih A, kalungnya aku suka".


"Sama-sama" ucap Arjuna sambil membalas pelukan Putri dan memberi kecupan di pucuk kepala isterinya.


"Kamu balik lagi ke sini kapan?" tanya Putri sambil menengadahkan kepalanya. Arjuna memang memiliki postur tubuh yang tinggi. Dengan perbedaan tinggi badan 30cm membuat Putri harus sering menengadah ke atas saat berdiri berdekatan seperti sekarang.


"Insha Allah Sabtu aku sampai di sini, karena Jumat masih kunjungan ke Hongkong" jawab Arjuna.


"Minggunya balik lagi ke Singapura?" tanya Putri lagi.

__ADS_1


"Iya" Arjuna berkata lalu berjongkok dan mengangkat bokong Putri dan mulai mencium bibirnya dengan posisi itu.


Awalnya Putri merasa terkejut dan mengkhawatirkan berat badan tubuhnya yang bisa menyusahkan Arjuna, namun perlakuan lembut yang diiringi dalamnya ciuman Arjuna mampu mengalihkan pikiran akan kecemasannya itu.


Arjuna berjalan ke arah sofa dengan tidak melepaskan ciumannya. Ia melebarkan kaki Putri dan mendudukannya di atas paha. Tangannya mulai bergerilya perlahan dan lembut, hingga Putri bisa larut dan menikmatinya dengan perlahan.


Tangan kanannya menyusup ke balik kemeja dan memainkan berbagai sentuhan-sentuhan nakal mengikuti naluri kelaki-lakiannya. Ciumannya mulai turun ke leher, kemudian terus turun ke bawah hingga dua bagian yang masih tertutup kemeja biru muda itu ia buka. Cukup lama Arjuna bermain di area favorit barunya itu hingga ia tersadar dan menatap isterinya dengan tatapn sayu penuh gairah. Ia menyatukan kening dengan isterinya, kemudian mengatur nafas dan berakhir pada kecupan di sana.


"Kamu harus kerja kan? kalau diteruskan nanti bisa-bisa aku gak sanggup balik ke Singapura" Arjuna berucap masih dengan posisi Putri mengangkang dipangkuannya.


"Iya A, tapi aku harus ganti baju dulu" Putri menoleh ke arah bawah yang nampak pakaian kerjanya kini sudah kusut.


"Maaf ya"


"Nggak apa-apa A, cuma kusut doang" Putri bangkit dan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian kerja barunya.


"Aku tunggu di bawah ya, sekalian panasin mobil dulu" Arjuna berkata sambil merapikan kaosnya.


"Nggak naik motor aja A? Cuaca juga lagi cerah" ujar Putri sambil memilih pakaian kerjanya. Ia menarik salah satu blouse berwarna navy.


"Bukannya perempuan lebih suka pakai mobil ya? Lebih nyaman dan gak mesti panas-panasan?" tanya Arjuna balik.


"Aku cuma terbiasa menggunakan sesuatu secara tepat guna dan tepat sasaran. Kita cuma berdua, hari ini cerah, bisa lebih hemat waktu, dan hemat bahan bakar juga" ucap Putri yang kini sedang menunggu suaminya keluar kamar karena akan berganti pakaian.


"Baiklah kalau kamu nggak keberatan. Kamu gak cepat-cepat ganti baju?" Arjuna berkata sambil melirik jam tangan digitalnya.


"Nunggu Aa keluar dulu, malu" ucap Putri sambil menutup wajahnya dengan blouse yang sedang ia pegang.


"Ha..ha..ha.. Ngapain malu? Kan aku udah liat. Jumlah tahi lalat kamu di dada aja aku sudah hafal" Arjuna tertawa sambil menyilangkan lengan di dada.


"Iih Aa! Udah ah sana cepetan panasin motor dulu!" Putri mendorong tubuh suaminya yang masih tertawa untuk keluar kamar.

__ADS_1


"Nyebelin! tapi sisi lainnya ini lucu juga sih. Apalgi cuma aku yang tahu" batin Putri, kemudian ia mulai mengganti baju kerjanya.


Bersambung,


__ADS_2