Putri Kurir

Putri Kurir
7


__ADS_3

Setelah makan siang dan salat zuhur, Putri dan teman-teman Customer Service sedang mempersiapkan bahan laporan update dua bulan terakhir.


Sebenarnya tidak ada permintaan data dari atasan maupun kantor pusat, akan tetapi Mbak Cindy mengingatkan bahwa Pak Dadang itu sangat detail dan sering menanyakan hal yang berkenaan dengan update kasus mapun hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan secara mendadak.


“Mbak Cindy, pernah ga kalau Pak Bos nanya terus kita ga bisa jawab?” tanya Putri sambil merapikan berkas update incoming call kedalam satu business file.


“Pernah” jawab Cindy sambil menoleh ke arah Nyonya Sandra.


“Terus gimana kalau ga bisa jawab Mba?” tanya Putri lagi.


“Ya untung-untungan sih, kalau mood Pak Bos lagi bagus ya paling disuruh email atau cek dulu terus nanti bisa infoin dia. Nah kalau lagi bad mood atau emang mungkin dia harus tau secara cepat ya siap-siap aja masuk keluarga fauna.” Mbak Cindy menjawab sambil sedikit terkekeh.


“Maksudnya keluarga fauna gimana Mbak?” Putri yang memang belum paham maksud dari rekannya.


“Ntar juga kamu paham Put, dah santai aja ini kan kerjaan kita sehari-hari bakal lebih hafal detailnya. Siapin aja yang bakal kira-kira ditanyain, kalau ada case yang urgent atau nominal klaimnya tinggi dan butuh tindaklanjut sama departemen operasional, bisa kamu siapkan juga ya biar sekalian masalahnya” pinta Mbak Cindy sambil merapikan berkas yang akan dibawa dan yang ia tinggal di atas meja kerjanya.


“Sudah hampir jam 2 siang nih, yuk kita turun.” Ajak Ibu Sandra sambil melihat ke arah timnya.


“Baik Bu” Jawab tim Customer Service lalu berjalan mengekor dibelakang Ibu Pimpinannya.


Tok tok tok


Ibu Sandra mengetuk pintu ruangan Kepala Cabang “Assalamu’alaikum, permisi Pak”. Kemudian membuka pintu dan menujukan setengah badan sambil mengangguk.


“Wa’alaikumsalamsalam, ya silahkan masuk dan duduk” jawab Pak Dadang sambil menujuk ke arah sofa di depan meja kerjanya. “Tunggu sebentar ya saya harus tanda tangan cash count ini dulu”.


“Baik Pak” jawab Ibu Sandra mewakili tim.


5 menit berlalu


Terlihat Pak Dadang sudah menyelesaikan penandatanganan cash count, kemudian ia meraih hp-nya untuk menelepon seseorang.


“Doy ke ruangan saya sekarang”. Perintahnya pada orang di seberang telepon.


Tak lama kemudian, seseorang yang dikenal yakni Pak Romi alias Romdoy masuk.


“Ya Pak” ucap Romi.


“Cash Count-nya sudah” Pak Dadang sambil menepuk setumpuk berkas di depan.


“Baik Pak, terima kasih” Pak Romi berbalik dari hadapan Pak Dadang dengan sedikit memberikan mimik wajah meringis, seperti pura-pura memberikan kengerian ke arah kami. Ya dia sedang mengejek kami, sepertinya mood Bos besar sedang kurang baik.


Hari ini merupakan hari pertama Putri dipanggil langsung oleh Kepala Cabang. Walau dipanggil secara bersamaan dengan timnya, namun hal ini cukup buat Putri sangat gugup. Bagaimana kalau pimpinannya menanyakan hal pekerjaan yang tidak bisa dijawabnya dengan baik? Putri yakin bukan hanya Pak Dadang yang akan marah, tetapi sang Nyonyah akan lebih sering menunjukan nyanyian seriosanya untuk Putri.


Tak hentinya Putri berzikir dan berdoa dalam hati. Putri ingat doa Nabi Musa ketika akan menghadapi Raja Fir’aun.


"Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii" [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku]” (QS. Thoha: 25-28)


Keheningan dipecahkan oleh suara Pak Dadang

__ADS_1


“Ya Terima kasih sudah menunggu, Melly bantu saya untuk buat MOM ya” perintah Pak Dadang.


*)MOM itu minutes of meeting, semacam hasil pembahasan meeting atau seperti notulensi ya.


“Baik Pak” jawab Melly sambil membuka lembaran kosong pada notebook kemudian meletakkan dipangkuannya. Kemudian, ia menlanjutkan dengan membuka penutup pulpennya.


“Saya perhatikan performance operasional kita sedang stabil dan pencapaiannya masih di atas target. Tentunya hal ini tidak lepas dari kerja sama yang dilakukan oleh tim Customer Service sebagai nilai purna jualnya. Untuk itu, saya ucapkan terima kasih atas support-nya kepada tim Ibu Sandra”. Ulas Pa Dadang


Terlihat senyum tipis yang dimanis-maniskan oleh Nyonya.


“Namun....”sambung Pak Dadang.


Deg


"Duh kayaknya".. batin Putri menuju insting negatif.


“Saya melihat beberapa PIC masih bekerja lambat bahkan tidak dapat mengimbangi kerja dari timnya. Saya tidak mau ada alasan masih baru atau belum terbiasa. Dengan modal attitude yang baik serta diiringi kerja keras maka hasilnya akan baik. Saya sangat kecewa dengan kinerja Putri yang belum bisa melaksanakan pekerjaannya dengan baik" ucap Pak Dadang dengan nada bicara yang keras sambil menatap ke arah Putri lalu berganti kepada Nyonya.


“Kamu coba pikir zaman sekarang itu cari kerja sulit, kamu lulusan SMA, belum ada pengalaman bekerja, apakah akan mudah mendapatkan pekerjaan? Kalau Melly keluar ngundurin diri dia bisa nyanyi, dia masih ada pemasukan dari manggung. Nah kalau kamu? Coba kamu mau dapet uang dari mana? Percuma nilai di kertas UJIAN NASIONAL kamu bagus-bagus kalau kamu gak bisa kerja? Nilai kamu cuma bagus di teori ga ada manfaatnya” Tatap Pak Dadang masih ke arah Putri dengan nada bicara sedikit lebih rendah dari sebelumnya.


"Astagfirullahaladzhim Ya Allah sakit banget, Ya Allah kuatkan hambamu ini. Please Putri jangan nangis, kamu kuat, kamu bisa melaluinya.. Apa salahku? Kenapa aku tidak ditegur dahulu lalu dinasihati dengan baik, sehingga aku bisa memperbaiki dan tahu letak kekuranganku. Kenapa mesti langsung ditegur keras di depan orang-orang?" batin Putri saat mendengar kata-kata yang dilontarkan Pak Dadang. Putri merasakan sesak di dada serta emosi yang membuat kepala berdenyut-denyut.


“Kamu masih mau kan kerja di sini? Atau hanya kamu anggap main-main saja?” Tanya Pak Dadang sambil menatap tajam ke arah Putri.


“Bisimillah” ucap Putri dalam hati.


“Mohon maaf Pak sebelumnya jika memang hasil kerja saya selama ini sangat tidak memuaskan di mata pimpinan (sambil melirik ke arah Nyonya) dan perusahaan. Saya masih ingin bekerja di sini karena saya juga harus membiayai hidup keluarga saya, mohon bimbingannya Pak Bu.” Putri berkata dengan sedikit terdengar getir sambil memandang ke arah Pak Dadang dan Nyonya.


“Ya, saya harapkan ini jadi motivasi kamu untuk bisa memperbaiki dan meningkatkan kinerja kamu saat ini dan seterusnya”. Ucap Pak Dadang


“Kalian semua juga jangan pernah merasa puas atau nyaman pada suatu titik. Zaman berubah begitu cepat, kalau kalian selalu memilih pada zona nyaman dan tidak mau beradaptasi dengan hal-hal yang baru, maka kalian akan tertinggal. Bekerjalah dengan hati” Pak Dadang berkata sambil memadang ke arah kami bergantian.


“Baik Pak” Jawab tim Customer Service bersamaan.


“Oh ya, setelah ini saya bisa bicara dulu dengan Bu Sandra sebentar” Pinta Pak Dadang kepada Nyonya.


“Baik Pak” Nyonya menjawab.


“Putri” Ucap Pak Dadang dan menunjuk ke arah ruang disebelahnya. ”Kamu tunggu dulu di ruang sales”.


“Baik Pak, terima kasih” Jawab Putri.


Kemudian yang lainnya berlalu keluar dengan Putri tetap di ruang sales. Ruang itu terletak tepatnya disebelah ruang Kepala Cabang, di mana ruang sales ini bersatu dengan ruang HRD.


Putri menempati bokongnya duduk di atas kursi kosong terdekat dengan pintu ruangan Kepala Cabang, karena dia tidak ingin jika nanti namanya dipanggil kembali dia tidak mendengarnya.


Putri menunggu dengan perasaan masih tidak keruan, was-was, dan tentu saja ada ketakutan di sana.


Dilihatnya ruangan sales tesebut sedang sepi karena sedang ada visit dari sales ke gerai-gerai penjualan mitra di Bogor. Meja kerja Yunita juga terlihat kosong, tetapi terdapat tas miliknya yang ditaruh di bawah meja, serta botol air mineral di samping meja kerjanya. Hal ini menandakan kemungkinan ia sedang ke toilet atau keluar sebentar.

__ADS_1


Putri masih menatap sekitar ruangan Sales, tiba-tiba seseorang yang tidak ia inginkan kehadirannya, masuk lalu menegurnya.


“Kamu gak tau duduk di meja kerja siapa?” Sang Supervisor Sales Bapak Iman Hidayatullah yang baru Putri ketahui namanya kemarin dari Mbak Cindy. Ketika hari orientasi Putri, pimpinan sales ini sedang menjalani dinas luar.


“Oh ini meja Bapak ya? Maaf Pak saya nggak tau” jawab Putri kemudian berdiri dan duduk di kursi tanpa meja yang letaknya lebih jauh.


“Duh ni orang gak bisa apa ngomongnya baik-baik. Ga pantes amat jadi sales kalau jutek begini mah” protes Putri dalam hati.


“Kamu ngomong apa?walau dalam hati saya bisa denger loh! Hati-hati kamu!” ucap Iman sambil sedikit tersenyum sinis menatap monitor.


“Sial dah apes gw! Ni orang muridnya Edward Cullen kali ya bisa baca pikiran orang” batin Putri.


Untunglah Nyonya keluar dari ruangan Kepala Cabang dan langsung meminta Putri masuk kembali ke ruangan Pak Dadang, sehingga Putri tidak perlu menanggapi ucapan orang bar-bar di depannya.


“Permisi Pak Dadang” Putri berkata sambil masuk keruangan dengan sedikit menganggukan kepala sebagai hormatnya kepada pimpinan.


“Ya duduk”  Pak Dadang mempersilahkan Putri Duduk di sofa. “Sebelumnya saya mohon maaf apabila tadi perkataan saya keras dan kurang berkenan buat kamu.”


“Tidak apa-apa Pak, jika memang itu harus diperbaiki dari diri saya, sudah seharusnya disampaikan dan jadi motivasi saya untuk lebih baik kedepannya.” jawab Putri sambil tersenyum walau sebenarnya belum bisa menerima judgement dadakan secara sepihak tersebut.


“Berapa usia kamu?” Tanya Pak Dadang.


“OMG PAK ENGGA LIAT CV GW KEMAREN?” Tapi umpatan ini cuma berani dalam hati aja ya Put.


“18 tahun Pak” Jawab Putri.


“Masih sangat muda” sambil mengangguk-anggukkan kepala kemudian berkata lagi “Apa cita-cita kamu?”


“Dulu saya ingin jadi seorang psikolog atau ahli gizi, tetapi saya tau diri untuk kondisi dan kenyataan saya saat ini, sepertinya saya akan fokus bekerja dan mendaftar kuliah tahun depan”.


“Oh jadi kamu tahun depan akan kuliah sambil bekerja?” tanya Pak Dadang sambil sedikit tersenyum, entah apa arti senyuman itu.


“Iya Pak, saya akan mendaftar di kampus dekat-dekat sini saja dan mengambil jurusan manajemen atau akuntansi”


“Jangan akuntansi! Kamu gak akan cocok” sanggah Pak Dadang.


“Idih sotoy amat lo! Kenal gw aja kagak? Ngapa lo berani bilang gt?” lagi-lagi cuma bisa ngedumel dalam hati.


“Iya Pak” Ucap Putri.


“Sepertinya keputusan saya harus memutasikan kamu sudah tepat” ucap Pak Dadang datar tapi cukup membuat Putri sangat sangat terkejut.


Deg


Ya Tuhan apa salah hambamu sampai harus dimutasikan disaat baru masuk beberapa bulan.


Bersambung


^_^ Mohon like dan comments ya readers

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2