
Keesokan harinya Putri berangkat ke kantor dengan berjalan kaki. Jarak dari rumah ke kantor berkisar 1,8km. Ia sengaja mencoba kebiasaan baru, karena sejak bekerja Putri sudah tidak pernah berolah raga lagi. Hari Minggu pun hanya ia gunakan untuk beristrahat di rumah atau menghadiri acara keluarga. Selain itu ia sempatkan untuk sekedar hang out dengan teman-temannya.
Putri berangkat pukul 6.40, ia mengenakan celana training berwarna hitam serta kaos putih lengan pendek yang dipadukan dengan outer berwarna hitam. Ia juga mengenakan topi nike kesayangannya yang berwarna hitam serta sepatu running putih. Selain itu, tak lupa Putri membawa outfit untuk bekerja, flatshoes, face wash, dan skincare di dalam ranselnya.
Setelah keluar dari gang rumahnya, Putri belok ke kanan dan berjalan lurus menyusuri trotoar Jalan Ahmad Yani yang rindang dan sejuk. Ia sesekali menemukan banyak buah kenari yang berjatuhan di pinggir jalan. “Duh pengen rasanya ngambilin kenari kayak dulu waktu kecil, tapi siapa yang bisa bukainnya?”batin putri kemudian menaruh kembali kenari itu.
Di jalanan terlihat banyak anak sekolah dan aktivitas lainnya di pinggir jalan, serta lalu lalang kendaraan di Jalan Utama tersebut. Putri teringat masa-masa SMP dulu, hal ini merupakan rutinitas hariannya ketika berangkat sekolah dulu. Jarak dari rumah ke sekolah hanya berjarak sekitar 400 meter.
Jalan kaki adalah satu-satunya cara paling efektif dan efisien karena Jalan Utama Ahmad Yani hanya satu arah, sedangkan arah menuju ke sekolah berlawanan arah dengan kendaraan umum. Jadi daripada harus 2x naik angkutan umum, lebih baik Putri berjalan kaki. Belum lagi uang jajan saat itu terbilang limit, sehingga mengharuskan Putri memilih antara bisa jajan atau menabung untuk membeli komik? Pastinya saat itu prioritas utamanya adalah bisa membeli komik.
Setibanya di kantor, di sana terlihat masih sepi. Hampir semua karyawan back office masuk pukul 9 pagi. Hanya beberapa bagian pelayanan seperti gerai penjualan dan customer service yang memiliki jam kerja bervariasi karena berkaitan dengan pelayanan.
Putri berjalan menuju lantai atas, setelah itu ia duduk sebentar di depan pantry dan meminum air mineral. Ia membawa air mineral dalam botol yang diisi penuh, namun kini hanya tersisa ¼-nya. Ia bergegas menuju toilet yang terletak di depan pantry, kemudian melakukan aktifitas skincare pagi haridan berganti pakaian kerja.
Ia menatap ke arah cermin, lalu dilihatnya wajah yang fresh dan alami sudah siap untuk beraktivitas. Putri memutar handle pintu toilet sampai berbunyi “ceklek” dengan fokus mata yang masih melihat ke arah kaca, tanpa disadarinya ia bergeser cepat menuju keluar toilet dan menabrak seseorang. Orang itu adalah seorang pria yang ternyata sudah berdiri depan pintu toilet.
Brug
“Aduh ngapain sih berdiri di sini” Putri sambil mendonggakkan kepala ke atas.
“Kamu yang harusnya bisa lihat ke depan dulu, mana saya tahu ada orang di dalam" jawab Pria itu sambil berlalu dengan tanpa rasa bersalah dan sama sekali tidak melihat ke arah Putri.
"Ih amit-amit jabang bayik, baru jadi supervisor sales aja udah belagu. Bener kata orang-orang kantor nih kalau dia memang paling banyak musuhnya di sini dan cuma bisa ngasih tampang baik palsunya sama customer aja. Duh jangan sampe deh sering-sering berhubungan kerja sama ini orang" suara batin Putri sambil menaiki tangga menuju lantai ruang customer service.
“Assalamualaikum” sapa Putri sambil membuka pintu ruangan, tanpa diduga sudah ada Melly di sana. Melly adalah salah satu karyawan CS yang bekerja di bagian Undelivery report.
Undelivery report ini secara umum bertugas merekap dan melaporkan barang-barang yang tidak bisa ter-delivery, hal ini bisa terjadi karenakan penerima pindah rumah/ alamat tidak jelas/ nomor telepon tidak dapat dihubungi saat barang dikirim, sehingga perlu penanganan lebih lanjut yang akan di follow up oleh admin di customer service.
“Wa’alaikumsalam” Jawab Melly sambil fokusnya tetap pada monitor di meja kerjanya.
“Mel tumben jam segini udah di kantor? Bukannya lo masuk jam 10 ya?” Tanya Putri dengan santai karena Melly tidak suka diperlakukan seperti senior. Melly meminta untuk berkomunikasi secara santai supaya lebih akrab.
“Aduh pusing gw nih Put, paket yang masuk undel minggu lalu ternyata belum gw follow up, kayaknya kelewat nih. Haduuh ini udah over SLA makanya tadi malem Nyonyah telp gw nyuruh dateng lebih pagi dan cepet-cepet beresin case ini sebelum jadi hard complain. Jawab Melly sambil tetap menatap monitor dan memegang runsheet kurir di tangannya.
“Walah, sini ada yang mau gw bantu ga? Biar cepet beres Mel”
__ADS_1
Belum sempat Melly menjawab terdengar seorang berkata “Ga usah sok-sokan bantu deh kalau kerjaan kamu sendiri aja belum tentu bener”.
Putri menoleh ke belakang dan dilihatnya Nyonyah alias Ibu Sandra Wiryostuti Rahadining Sang Supervisor Customer Service yang baru datang.
“Udah sana kamu kerjain aja kerjaan kamu sebentar lagi udah jam kerja kamu kan? Nanti yang ada kerjaan Melly ga beres kerjaan kamu tambah ga beres lah saya yang pusing kena damprat Bos, nah kamu.. “ sambil menunjuk ke arah Putri kemudian melanjutkan kata-katanya “Cuma enak-enakan masuk on time pulang on time” Ibu Sandra tersenyum genit yang malah membuat Putri kesal.
"Duh nenek sihir" ujar Putri dalam hati. Rasanya ia ingin melakukan pembelaan dan mengeluarkan berbagai argumen yang sedang meluap-luap di ubun-ubunnya. Namun kewarasannya masih dalam kondisi stabil, sehingga berulang kali mengucapkan istigfar dalam hati dan meyakinkan dirinya bahwa diam itu lebih baik dari pada menambah masalah. Putri menyadari penuh kalau kehadirannya di sini bukan dari usahanya sendiri yang melalui proses rekrutmen yang normal, tapi karena mendapatkan kebijakan dari kantor untuk menggantikan Bapaknya.
Melly yang mendengar hal tersebut merasa jadi tidak enak kepada Putri.
“Dah Put, ntar lagi kelar koq lo kerjain aja kerjaan lo kya biasanya” sambil memberikan ekspresi iba dan mengeluskan telapak tangan di dadanya sebagai rasa empati Melly kepada Putri, semenara Putri hanya menjawab dengan senyuman sambil mengangguk.
Putri duduk di depan meja kerjanya, lalu menarik nafas panjang dan mengucapkan basmallah sebelum memulai aktivitas seperti biasanya.
Dari pagi sampai menjelang makan siang, jumlah incoming call lebih sedikit dari biasanya, hal ini Putri manfaatkan untuk belajar hal lain yang berkenaan dengan bagian Customer Service. Ia menghampiri atasan langsungnya Mbak Cindy.
“Mbak Cindy lagi sibuk ga?” tanya Putri menghampiri Mbak Cindy yang kebetulan duduk bersebrangan dengan Putri.
“Ya biasa aja Put, kenapa?" jawab Cindy.
“Aku mau belajar dong Mbak Proses Tracing dan Klaim itu kayak gimana?” ucap Putri.
“Mbak Cindy ga capek kalau laporannya terus-terusan kayak begini? Mbak nulis manual di buku dari rekapan frontline, terus buat ngecek follow up yang belum beres kemarin-kemarin Mbak mesti buka bukunya satu persatu lagi. Nanti kan bisa terlewat Mbak?" Putri berkata sambil membuka buku besar rekapan Tracing kemudian menatap Mbak Cindy.
“Ya sih Put, kalau dipikir-pikir emang rentan kelewat sama aku. Tapi jangan salah aku jarang lho buat kelewatan dan nimbulin hard complain akibat ini. Aku selalu berusaha untuk cek lagi dan lagi.” Jawab Cindy.
“Ya Mbak tapi kalau kiriman kita makin banyak, customer complain juga makin banyak nah apa bisa kita pakai yang manual kaya gini terus? Apalagi Mbak bakal capek banget nih buat laporan bulanannya. Belum lagi misahin per category, origin, destinasi, dan prentelan kategori lainnya yang ada di dashboard laporan kantor pusat ini lho mbak.”
“Kamu ada ide ga nih supaya mempermudah kerjaan aku? Aku sih seneng-seneng aja kalau kerjaan nanti bakal lebih mudah.” Jawab Cindy menanggapi ucapan Putri.
“Gimana kalau aku buatin dashboard report harian Mbak. Aku namain Trace and Tracing Daily Report. Untuk tanggal dan setting waktu lainnya aku kasih rumus otomatis jadi per tanggal dan jam mbak input aja. Terus habis Mbak dapet report excel-an dari frotline, Mbak tinggal masukin kelaporan harian aja. Nih kita lihat excel-an dari aku sama dashboard dari kantor pusat, supaya kita tahu mau nulis apa aja di tiap-tiap kolom excel-an Mbak.”
Putri dan Cindy masih berdiskusi mengenai apa saja yang perlu dimunculkan di dashboard laporan hariannya.
“Nah Mbak udah beres nih, coba Mbak input yang hari ini” pinta Putri pada Cindy.
“Oke Put, Mbak coba ya.” Cindy menginput contoh salah satu dari laporan case hari ini.
__ADS_1
“Nah abis itu aku bantu masukin rumus supaya laporan ini bisa nge-link ke laporan bulanan Mbak. Jadi Mbak ga perlu buat laporan bulan dimasukin satu-satu.” Kata Putri sambil memasukkan rumus disetiap kolom-kolom excel.
Setelah semua rumus di masukan,
“Tadaaaaa” ucap Putri sambil menunjuk ke monitor dengan kedua telapak tangan berada di bawah dagun, seperti sedang beragaya akan difoto.
“Ya Ampun Put ini keren banget! Kerjaan aku bisa cepet kelar nih... wah bener-bener kebangetan nih coba dari kemarin-kemarin aku udah tahu ga bakal deh lembur-lembur sampai tiga hari buat input kayak begini doang” Cindy dengan antusias dan agak kencang bersuara.
“Napa sih ka? Lo seneng banget!” Kata Melly sambil berdiri dan berjalan ke arah Mbak Cindy.
“Ini lho Mel, Putri bantuin gw kelarin report yang biasanya bisa gw kelarin tiga hari, sekarang bisa gw kelarin dalam satu jam aja!” Cindy menjawab Melly dengan sangat bersemangat.
“Parah nih! gw juga mau dong Put” kata Melly sambil menatap dan merangkul Putri.
“Boleh Mel, with pleasure” Putri tersenyum dan hendak berpindah ke meja Melly.
Belum satu menit Putri membantu Melly sang Nyonyah berjalan ke arah Cindy.
“Cin, nanti bilangin ya ke anak-anakmu jam 2 siang kita di Panggil Pak Dadang di ruangannya.”
“Ya ampun Bu kenapa ga ngomong langsung aja sih di sini, kan mereka juga ada di sini. Lagipula bukan anak-anak aku aja tapi anak-anak Ibu juga.” Jawab Cindy dengan beraninya. Sepertinya Cindy juga sudah sangat sebal dengan tingkah laku Ibu Negara Customer Service ini.
“Ya udahlah kalian udah pada denger kan?” tanya Ibu Sandra sambil menyapu pandangan ke arah team customer sevice.
“Iya Bu” Jawab tim customer service kompak.
Kemudian Ibu Sandra keluar ruangan.
Setelah Pintu tertutup, seluruh tim kompak tertawa terbahak-bahak.
“Hey anak-anakku, kalian lupa siapa aku hah? Aku ini bos kaliah hah!” canda Mbak Astria salah satu staf finance yang memang seruangan dengan kami. Ia belagak berjalan di depan kami sambil bertolak pinggang dan ternyum sinis.
“Sontoloyo lo gw banjur air jadi duyung!” astria dibalas candaan oleh Pak Romi yang kebetulan keluar dari ruangan kasirnya, ia melempar kertas ke arah Mba Astria.
Kami semua tertawa sampai tiba-tiba pintu ruangan terbuka lagi lalu dilihatnya Sang Nyonyah yang tadi dibicarakan masuk ke ruangan dan ruangan menjadi hening seketika.
Bersambung
__ADS_1
^_^ Mohon like dan comments ya readers
Terima kasih