Putri Kurir

Putri Kurir
33


__ADS_3

"Jadi A Juna memang luar biasa cerdas dari kecil. Mama cerita sejak kecil Aa punya energi yang sangat besar. Awalnya mama kewalahan tapi Mama dan Papaku adalah orang yang luar biasa. Mereka begitu sabar dan selalu berpikiran positif pada anak-anaknya. Mama sampai diskusi dan beli buku-buku psikologi anak. Jadi walau notaris, Mamaku paham ilmu psikologi".


"Aa disarankan untuk mengikuti berbagai kegiatan seperti berenang, memanah, bela diri, sampai kegiatan melukis dan kegiatan-kegiatan bermain di atas meja. Tapi hebohnya saat anak lain bermain Puzzle, Aa malah membuat puzzle dari poster yang dia gunting-gunting sendiri" ucap Yudhis sambil tertawa ringan.


"Luar biasa. lanjutkan" ucap Putri singkat menanggapi cerita Yudhis.


"Saat SD ketika anak-anak lain sangat lelah dengan berbagai aktifitas belajar dan les, A Juna malah sebaliknya. Ia sangat antusias dengan berbagai kegiatan baik pelajaran di sekolah, maupun kegiatannya di luar. Dia sudah sangat multitalented di usia yang sangat muda. Mama cerita kalau A Juna sudah bisa menguasai sampai pelajaran kelas 6 di usia 8 tahun. Namun Mama tidak mau A Juna kehilangan masa kanak-kanaknya, sehingga A Juna di biarkan tetap menjalani sekolah dasar selama 6 tahun".


"SMP dan SMA nya?"tanya Putri lagi.


"Ikut kelas akselerasi di Sekolah Jakarta" jawab Yudhis.


"Makanya sikapnya kaku seperti semen" ucap Putri lagi.


"Ha..ha...kamu berani ngomong gitu depan orangnya?" tantang Yudhis pada Putri.


"Nggaklah!" ucap Putri serius.


"Ya, Aa orangnya sangat fokus dan banyak berpikir daripada berbicara. Saat kita merasa terbebani untuk berusaha mengerti pelajaran di sekolah, Aa malah merasa sangat bahagia dengan rasa ingin tahunya. Dia begitu enjoy seperti kalau kita baca komik one piece "ucap Yudhis sambil tertawa pendek.


"Aku gak salah denger kan? baca buku pelajaran sama dengan baca komik? itu dimana letak samanya!" ucap Putri kemudian berdiri sambil bertolak pinggang saking syoknya dengan perkataan Yudhis.


"Ha..ha... kamu tanya aja orangnya langsung nanti" ucap Yudhis yang tertawa melihat respon Putri.


"Duh makasih deh ..nggak" jawab Putri menggeleng cepat.


"Mau lanjut lagi?"tanya Yudhis pada Putri.


"Trus apa hubungannya sama teknologi gitu? sejak kapan Aa suka sama dunia komputer?" tanya Putri.


"Sejak SD Aa sudah bisa merakit dan menganilisa permasalahan software,hardware, bahkan sudah bisa memecahkan masalah dengan alogaritma. Makanya ayah yang punya banyak relasi sering mengajak Aa liburan sambil terlibat dalam penelitian, salah satunya Ke Lab di MIT US"ucap Yudhis dengan antusias.


"Maksud kamu Massachusetts Institue of Technology?"tanya Putri untuk meyakinkan.


"Yap" jawab Yudhis sambil menganggung setengah.


"Amazing. Entah Mama waktu hamil makan apa aja dulu. Aku harus tanya Mama nanti!" ucap Putri yang masih sangat terkagum-kagum dengan apa yang di dengarnya.


"Aku rasa ini sudah cukup buat kamu paham kenapa Aa sampai bisa punya aplikasi canggih seperti itu dan itu miliknya pribadi. Ia tidak akan menjual ini pada siapa pun" ucap Yudhis.


"Kenapa? itu pasti akan sangat mahal harganya" ucap Putri yang keheranan.


"Ia ingin hidup normal, aman , dan nyaman. Dunia ini terlalu banyak kepentingan dan sandiwara dari orang-orang bertopeng di media" ucap Yudhis dengan senyum kecut.


"Yah, aku paham. Well, sekarang kamu harus bantu aku MENGHAPAL user juga password itu" ucap Putri sambil menepuk tangannya di jidat.


"Ha..ha.. sebaiknya sekarang aku ajarin kegunaannya dulu" jawab Yudhis sambil menopang dagu dan menatap Putri lembut.

__ADS_1


"Baik Bapa Yudhistira, waktu dan tempatnya saya persilahkan" ucap Putri bergaya sopan seperti penyambutan.


"Ha..ha.. lucu kamu nih" Yudhis mencubit hidung Putri.


"Duuh.. sakit" ucap Putri sambil mengusap-usap pucuk hidungnya.


"Gak apa-apa biar jadi lebih mancung" ucap Yudhis sambil tersenyum.


"Mentang-mentang hidungmu mancung gitu, ngeledek yang pesek kayak gini" ucap Putri dengan sinis.


"Ha..ha.. ya udah aku jelasin nih kegunannya ya. Kamu lihat sini, di tempat ini kamu bisa menginput sampai dengan 50 alamat, nanti aplikasi ini dengan otomatis mengarahkan kamu ke tempat yang harus kamu kunjungi dari nomor 1 sampai 50" ucap Yudhistira.


"Oh paham, jadi aku tinggal ngikutin saran dari aplikasi ini?" tanya Putri.


Yudhis menggeleng "A Juna pernah bilang teknologi terbaik adalah pemberian Tuhan. Jadi kamu coba ikutin sesuai pemikiranmu dulu, kecuali kalau kamu nggak tahu lokasinya maka aplikasi ini bisa membantu" Yudhis berkata sambil menatap lekat menunggu pertanyaan Putri selanjutnya.


"Oke baik, aku akan menggunakan aplikasi ini tapi dengan persetujuan pemikiranku" ucap Putri sambil tersenyum manis.


"Sekarang silahkan menghafalkan passwordnya" ucap Yudhis tertawa.


"Hadeuuh" ucap Putri sambil melotot dan mengembungkan pipinya.


...1 jam kemudian...


"Akhirnyaaaaaa aku bisa hapal" ucap Putri sambil loncat kegirangan.


"Ih apaan sih" ucap Putri dengan ekspresi sebal.


"Lah kamu kan yang tadi bilang, makanya optimis dong masa cuma ngapal gitu aja udah ciut. Kita makan siang dulu yuk" ajak Yudhis pada Putri.


Mereka berdua makan bersama di meja makan keluarga Yudhis.


"Mama ke kondangan sendiri?" tanya Putri yang mencari topik agar tidak terlalu sepi.


"Nggak, sama tante Dina adiknya Papa" jawab Yudhis.


"Emang yang nikah masih sodara?"


"Iya anaknya sepupu jauh Papa"


Putri dan Yudhis telah menyelesaikan makan siangnya, lalu mereka mencuci piring dan menuju ruang keluarga lagi.


"Aku mau pulang ya, makasih banget lho udah bantuin buat besok sama bolehin makan siang juga" ucap Putri pada Yudhis.


"Bentar Put" Yudhis mengambil sebuah shopping bag yang dia beli di mall tadi, kemudian memberikannya pada Putri. "Ini buat kamu, besok wajib dipakai terutama saat ngurir".


"Ini yang kamu beli tadi?" tanya Putri.

__ADS_1


"Iya" jawab Yudhis singkat.


Putri membuka isi shopping bag tersebut, kemudian dilihatnya gift box yang berisi 2 buah sun protections.


Satu buah berbentuk lotion sun block dengan tulisan spf50+ PA++++, dan satu lagi berbentuk face mist spf45 PA++.


"Yudhis ini kan mahal" ucap Putri yang masih membaca tulisan pada produk-produk tersebut "Aku aja masih mikir-mikir buat beli ini kalau lagi sale".


"Kalau dikasih itu disyukuri, diterima aja" jawab Yudhis enteng, kemudian berdiri dan meraih kunci mobil yang ia taruh di atas meja makan tadi.


"Yuk, aku antar pulang" ajak Yudhis pada Putri.


"Gak usah dianter, aku pake ojol aja. Ini kan rumah kamu ntar malah bolak-balik" ucap Putri sambil memasukkan hadiahnya ke dalam shopping bag lagi.


"Kamu datang aku jemput, maka harus aku kembalikan lagi kamu pulang dengan aman" ucap Yudhis sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Okelah Pak Bos" ucap Putri kemudian berjalan mengikuti Yudhis.


......................


Jam dinding di kamar Putri sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sang penghuni kamar masih berkemas menyiapkan peralatan untuk bertempur di jalanan besok.


"Jas hujan, jaket, handuk kecil, pakaian ganti, pembalut dan cadangan pakaian dalam" ucap Putri sambil merapihkan perlengkapannya di dalam tas ransel.


Putri sengaja membawa beberapa barang yang tak lazim kurir bawa saat bekerja, karena ia mengantisipasi akan hal-hal yang bisa terjadi di luar dugaan.


tok tok tok


"Teh.. ada paket nih" ucap Bika dari luar pintu kamar Putri.


ceklek


"Paket? dari siapa?" tanya Putri dengan wajah heran karena ia tidak merasa berbelanja online.


"Hmm.. dari Mas Aldi nih" ucap Bika sambil membaca tulisan yang tertera di paket.


"Oke, makasih adikku" ucap Putri sambil mengambil paketnya dari tangan Bika.


Putri menutup pintu dan duduk di atas tempat tidurnya. Ia membuka isi paket yang dibungkus rapi oleh bubble wrap.


Satu persatu bungkus paket terbuka dan nampaklah isi paket tersebut adalah sebuah gift box yang persis dengan yang tadi Yudhistira berikan kepada Putri.


Putri terkejut dengan posisi satu tangan memegang gift box, satu tangan lagi menutup mulutnya yang terbuka.


"Ya ampun, besok aku harus pakai yang dari siapa?"


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2