Putri Kurir

Putri Kurir
41


__ADS_3

Belaian angin memyentuh kedua insan yang sedang berjalan ditrotoar jalanan ibu kota. Keramaian kendaraan di jalan raya menemani langkah mereka. Berjalan dalam diam ditemani oleh suara pikiran masing-masing.


"Kita mau ke apartemen siapa?" tanya Putri saat mereka sudah memasuki area sebuah apartemen mewah di Jakarta Pusat.


"Ini apartemen tante Norma adiknya Mama" jawab Yudhis.


Mereka berdua menunggu konfirmasi dari petugas di bawah kepada penghuni yang dituju. Tak menunggu lama, mereka pun diperbolehkan masuk.


Apartemen ini terlihat sangat mewah. Desain interiornya menambah kemewahan yang sudah nampak dari luar.


Putri dan Yudhis sudah tiba di depan pintu sebuah kamar apartemen di lantai 36.


ting nong


Yudhis menekan bel. Tak lama kemudian muncul seseorang yang Putri kenal membuka pintu.


"Mama!" sapa Putri pada Mama Julie. Sementara Mama Julie mendekat dan memeluk Putri. Saat pelukan terlepas, Putri mencium tangan Mama.


"Selamat datang sayang, mari masuk" Mama Julie mempersilahkan Putri masuk.


" Anaknya gak disambut nih Ma?" ucap Yudhis yang masih diluar pintu.


"Ah sayang Mama, sini masuk. Dikira udah bosen dipeluk Mama" Mama berkata sambil memeluk putranya.


"Gak bakal bosen dong Ma" Yudhis berucap dan mencium tangan Mama.


"Halo.. halo Yudhis bawa siapa nih" seorang wanita datang dari arah kamar.


"Tante Norma" Yudhis menghampiri Tante Norma dan mencium tangannya, lalu Putri mengikutinya.


"Calon kamu ini Yud?" tanya Tante Norma sambil melirik Putri.


"Doakan ya Tan, Yudhis lagi berusaha" jawab Yudhis santai.


"So pasti, tante doakan!" jawabnya pada Yudhis. "Tante doakan juga supaya kamu bisa resmi menjadi keponakan Tante ya Cantik" ucap Tante sambil menatap Putri dengan hangat.


"Aamiin" jawab Putri dan Yudhis bersamaan.


"Ayo kita makan dulu, Tante Norma udah masakin makan malam nih buat kita" ajak Mama Julie sambil merangkul Putri dan membawanya ke arah meja makan.


Mereka berempat makan malam dengan bercakap santai. Sampai suatu pembicaraan tante Norma yang menanyakan tentang Arjuna.


"Ka, gimana itu Arjuna ama anaknya Mira?" tanya Tante Norma pada Mama Julie.


"Aku sih hanya jadi jembatan aja, suka atau tidaknya terserah anak-anak. Kan mereka yang ngejalanin" jawab Mama Julie dengan bijak.


"Wanita orang Singapura itu betul kekasih Arjuna?" tanya lagi Tante Norma.


"Juna bilang sih bukan, mereka hanya berteman. Aku sudah sampaikan syarat mutlak dariku adalah harus seiman. Aku yakin Arjuna memahami itu" jawab Mama Julie.

__ADS_1


"Kalian serius? kapan diresmikan?" tanya Tante Norma pada Yudhis.


"Secepatnya aku akan menemui keluarganya" jawab Yudhis sambil menoleh pada Putri.


"Ya ampun Yudhis, tadi pagi aku bilang apa! Masa kamu lupa!" batin Putri.


Pada kenyataannya Putri hanya bisa menanggapi dengan senyuman.


Malam sudah semakin larut, Yudhis dan Putri berpamitan kepada Mama dan Tante Norma.


Kini Putri dan Yudhis sudah berjalan lagi di trotoar pinggir jalan raya yang sudah nampak sepi.


"Put, aku serius mengenai perasaanku. Aku hanya bisa melepaskanmu pada orang yang tepat. Orang yang benar-benar mencintaimu. Orang yang benar-benar akan menjagamu. Jika tidak, aku tak akan pernah melepasmu. Percayalah" ucap Yudhis yang seketika berhenti dan menatap Putri.


Deg


Deg


Deg


Putri hanya bisa mengangguk, namun tak dapat dipungkiri hatinya merasa hangat dan bahagia.


"Jika ibu menerimamu, maka tak ada alasan lagi bagiku untuk menolakmu" ucap Putri sambil menatap lekat Yudhis.


Terukir senyuman lepas yang menghiasi wajah tampan. Mahakarya Sang Pencipta yang nampak nyaris sempurna ini telah meluluhkan dan menyusun kembali kepingan serpihan hati Putri.


"Hari Sabtu sore, aku akan menemui Ibu" ucap Yudhis dengan mantap.


......................


Sabtu pagi Ibu sudah disibukkan dengan belanja beberapa kue dan makanan ringan untuk menyambut kedatangan keluarga Yudhis.


Semula kedatangan Yudhis hanya untuk mengutarakan maksud keseriusannya pada Putri, namun Ibu malah memintanya secara resmi melamar.


Hal ini membuat Putri terkejut, sebab dulu Ibu pernah bilang bahwa Putri harus menyelesaikan kuliahnya dulu baru diizinkan menikah. Tapi saat ini, Ibu malah berkata lain.


Acara lamaran dibuat dengan sangat sederhana, hanya ada beberapa keluarga dekat Putri dan keluarga Inti Yudhis yang hadir.


Acara makan-makan yang disuguhkan pun berupa cemilan sore yang sederhana. Hidangan tersebut di sajikan diatas meja pendek dan beberapa lainnya diletakkan di atas piring beralaskan karpet.


"Neng, nanti sore biar ga terlalu polos di make up ya" ujar Bi Yati.


"Muhun Bi" jawab Putri dengan patuh.


Bi Yati adalah adik kandung Ibu yang tinggal di Ciranjang. Ia sangat dekat dan menyanyangi Putri seperti anaknya sendiri. Bi Yati sering memberikan nasihat yang baik bagi Putri. Hal itu membuatnya sangat menyayangi sang Bibi.


Beberapa keluarga Ibu dan Bapak sudah hadir di rumah. Mang Iyus ialah adik kandung Bapak, ia yang akan mendampingi Bika untuk menyambut lamaran Yudhis.


"Neng mandi dulu udah jam 3, sekalian sholat aja ya" ucap Bi Yati sambil mengelus pundak ponakannya

__ADS_1


"Muhun Bi, nanti yang dandanin Icha?" tanya Putri.


"Iya Icha aja udah makin jago sekarang dia. Senengnya nonton Youtube terus buat belajar dandan" cerita Bi Yati.


"Bagus Bi, berarti bakatnya Icha tersalurkan. Gratis juga kan tinggal belajar dari Youtube"


"Iya sih Neng, tapi adiknya si Echa jadi ikutan. Mau sekolah aja dandan dulu" Bi Yati berkata sambil menggelengkan kepala.


"Ha..ha.. Bi, aku mandi dulu ya" izin Putri pada Bibi.


"Iya sana mandi yang wangi" jawab Bibi sambil tersenyum.


Selesai mandi dan sholat, Putri segera duduk di depan meja rias untuk dipoleskan make up.


"Teh, mau make up yang gimana?" tanya Icha sambil menatap wajah Putri dari pantulan kaca.


"Natural aja Cha, jangan menor ya" jawab Putri.


"Ashiaap, teteh mah tipis juga udah cuantik deh" jawab Icha sambil mulai melakukan tugasnya.


Tak memerlukan waktu yang lama bagi Icha untuk memolea Putri. Ia hanya memberi sentuhan make up sederhana yang membuat kecantikan alami Putri tetap terasa.


"Tuh cantik banget teh" ucap Icha di akhir pekerjaannya.


"Icha jago banget.. ini beneran natural tapi koq bagus banget ya!" puji Putri pada adik sepupunya.



"Tinggal ganti baju aja teh, mau pake baju yang digantung itu?" tanya Icha sambil menunjuk ke arah baju yang tergantung di pintu lemari.


"Iya Cha" jawab Putri yang berdiri lalu meraih baju yang dimaksud.


Putri mulai mengganti pakaian setelah Icha keluar dari kamar. Kini ia mengenakan sebuah dress panjang dengan lengan 3/4 berwarna biru tua. Kemudian Putri menyemprotkan beberapa body mist ke tubuhnya.


Putri terduduk di atas tempat tidur, sejenak teringat Bapak yang telah tiada. Rasanya seperti ada desiran dalam dada yang memaksa Putri untuk meneteskan air mata, namun sebisa mungkin ia tahan. Putri memejamkan mata dan berdoa untuk Bapak.


Tok tok


ceklek


"Teh, keluarga Yudhis udah datang" ucap Ibu mengalihkan sedihnya.


Deg


Deg


Deg


"Ya Tuhan, apakah memang akhirnya aku ditakdirkan untuk menghabiskan sisa usiaku bersama Yudhistira? Berikanlah yang terbaik bagi hamba. Hamba pasrahkan segala pilihanmu ya Tuhan. Bismillah" do'a Putri dalam hati sebelum ia berdiri menuju ruang tamu.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2